Stasiun Transfer #Sistem Pengelolaan Sampah

 

Dalam sistem pengelolaan persampahan, stasiun transfer berfungsi sebagai penghubung antara tahap pengumpulan dan fasilitas pembuangan akhir. Tujuan dasar dari stasiun transfer adalah memadatkan dan menyatukan sampah dari kendaraan-kendaraan pengumpul ke suatu kendaraan pemindah dengan volume yang lebih besar seperti truk trailer, kereta, atau kapal (EPA, 2001). Operasional pemindahan dan pengangkutan pada stasiun transfer menjadi sangat penting ketika jarak lokasi TPA meningkat sehingga pengangkutan langsung tidak lagi memungkinkan secara ekonomis. Operasional tersebut juga menjadi sangat penting ketika TPA berada di lokasi yang sangat jauh dan tidak dapat dicapai langsung menggunakan jalan raya (Tchobanoglous, 1993). Stasiun transfer dapat digunakan sebagai stasiun antara yang menampung dan mengolah sampah sebelum sampai TPA pada jarak yang lebih dari 25 km (Damanhuri, E dan Padmi,T. 2004). Stasiun transfer menangani berbagai macam sampah dari sumber komersial maupun non komersial (sampah rumah tangga). Secara umum, sampah yang akan masuk Stasiun Transfer dikelompokkan menjadi Sampah Organik, Sampah B3, dan Sampah Yang Dapat Didaur Ulang, juga Sisa Konstruksi.

Gambar 2.1 Skema Aliran Stasiun Transfer

 

1.  Jenis Stasiun Transfer

Terdapat berbagai pengelompokan jenis stasiun transfer. Stasiun transfer dapat dikelompokkan menurut kapasitas jumlah sampah yang ditangani (Tchobanoglous, 1993) yaitu :

  • Kapasitas Kecil, kurang dari 100 tpd
  • Kapasitas Sedang, 100 hingga 500 tpd
  • Kapasitas Besar, lebih dari 500 tpd

1.1.  Pengelompokan stasiun transfer menurut perpindahan moda kendaraannya:

1.1.1.  Stasiun Transfer Konvensional.

Stasiun ini melayani pemindahan sampah dari truk sampah konvensional (misalnya dump truck dan arm-roll truck) ke truk trailer. Pada jenis stasiun transfer ini tidak ada perpindahan moda kendaraan.

1.1.2.  Stasiun Transfer Intermoda.

Alternatif perpindahan moda bisa dari truk sampah konvensional ke keretaapi atau kapal laut. Lokasi stasiun transfer intermoda yang berada di perairan dan memfasilitasi moda kapal, biasanya diistilahkan dengan Marine Transfer Station.

 

1.2.  Pengelompokan Stasiun transfer menurut teknik pemindahan sampahnya (Biffaward, 2005):

 

1.2.1.  Direct Dump

Pada stasiun transfer tipe ini, sampah di kendaraan pengumpul biasanya dikosongkan lalu dipindahkan langsung ke kendaraan pemuat sampah yang akan mengangkut menuju TPA. Karenanya, stasiun transfer tipe ini dibangun dua tingkat sehingga kendaraan pengumpul sampah memiliki keleluasaan untuk melepaskan sampah menuju trailer atau peti kemas melalui unloading dock platform yang ditinggikan maupun melalui tanjakan(ramp).

 Gambar 2.2 Stasiun Transfer Dengan Direct Dump

1.2.2.  Platform atau Pit

Untuk jenis platform, Sampah yang sampai di stasiun transfer dikosongkan dari truk, kemudian dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara yang berbentuk lantai (tipping floor) dengan perkerasan sehingga mencegah terjadinya pelindian yang tak terkendali. Selanjutnya sampah didorong menggunakan traktor langsung ke kendaraan pengangkut atau ke feeder pemilahan sampah. Sedangkan pada jenis pit, sampah dari kendaraan pengumpul dikosongkan ke tempat penyimpanan sementara, namun bentuknya adalah lantai dengan ketinggian lebih rendah daripada lantai letak kendaraan pengumpul.

Gambar 2.3 (a) Tipping Floor

Gambar 2.3  (b) Surge Pit

1.2.3.  Hopper Compaction

Sampah dikeluarkan dari kendaraan pengumpul lalu melewati hopper. Setelah itu, sampah dimuatkan ke kendaraan pengangkut dengan menggunakan kompaktor.

1.2.4.  Push Pit Compaction

Seperti pada tipe pit di atas, tetapi sampah dimuatkan ke kendaraan pengangkut tidak dengan traktor melainkan dengan kompaktor.

 

2.  Pertimbangan Pembangunan Stasiun Transfer

Berikut akan dijelaskan beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan pembangunan stasiun transfer. Pertimbangan tersebut bisa dijadikan sebagian dasar perencanaan (Biffaward, 2005 dan EPA,2001), yaitu :

2.1.  Lokasi

Masyarakat sekitar memiliki kecenderungan untuk menerima stasiun transfer jika lokasi pembangunan dipilih dengan hati-hati dan landscapenya dirancang sesesuai mungkin dengan kondisi eksisting

2.2.  Kedekatan dengan Area Pengumpulan Sampah

Kedekatan stasiun transfer dengan area pengumpulan aka memaksimalkan saving dari pengurangan waktu dan jarak kendaraan pengumpul

2.3.  Rute

2.4.  Dampak Visual

Operasional stasiun transfer tidak boleh terlihat dengan mata telanjang oleh penduduk sekitar sehingga menimbulkan polusi visual. Dengan demikian, dibutuhkan buffer zone untuk menjaga penampakan bangunan

2.5.  Site Zoning

Lokasi lahan stasiun transfer harus diperiksa terlebih dahulu kesesuaiannya dengan peraturan yang berlaku, misalnya tentang tinggi maksimum bangunan dan pengecualian area larangan pembangunan.

Tabel 2.1 Pengecualian Area Larangan Pembangunan

Kriteria

Uraian

Pengecualian

Wetland atau daerah resapan
Habitat flora dan fauna yang hampir punah
Situs sejarah, arkelologis, atau budaya
Sawah atau ladang primer
Taman dan area preservasi

 

2.6.  Material

Bangunan harus dibangun dengan menggunakan betonan atau baja dan tidak menggunakan kayu yang sulit dibersihkan, tidak tahan lama, dan berpotensi menimbulkan kebakaran.

2.7.  Penutup

Bangunan harus memiliki penutup yang memadai terutama jika jenis sampah yang ditangani adalah sampah yang mudah membusuk.

 

3.  Perencanaan Stasiun Transfer

Ukuran fisik stasiun transfer yang direncanakan secara tipikal ditentukan berdasarkan faktor-faktor berikut :

  • Besarnya area pelayanan
  • Jumlah timbulan sampah pada area pelayanan, termasuk perubahan di masa yang akan datang karena pertumbuhan penduduk dan program daur ulang yang ada
  • Jenis kendaraan  yang mengantar sampah, seperti truk pick-up atau truk yang khusus diperuntukkan mengangkut sampah
  • Tipe material sampah yang dipindahkan termasuk variasi bulanannya
  • Pola hantaran sampah per-jam dan harian. Hantaran sampah per-jam memiliki kecenderungan untuk mengelompok pada tengah hari dengan waktu puncak sebelum dan sesudah jam makan siang. Puncak hantaran per-jam memiliki kecenderungan untuk menentukan rancangan fasilitas dibandingkan dengan hantaran sampah rerata harian
  • Ketersediaan moda pengangkut seperti trailer, peti kemas antar moda, dan kecepatan pemindahannya
  • Perkiraan peningkatan tonase hantaran sampah pada umur pakai fasilitas. Sebagai contoh daerah dengan pertumbuhan penduduk 3 sampai 4 persen, fasilitas yang mampu mengantisipasi umur pengoperasian 20 tahun akan dirancang dengan kapasitas dua kali lipat tahun pertama pengoperasian
  • Hubungan antara fasilitas pengelolaan sampah eksisting seperti lahan urug, fasilitas daur ulang, dan fasilitas WTE

 

Faktor yang digunakan untuk menentukan ukuran fitur pada Stasiun Transfer, adalah:

  • Jumlah antrian kendaraan pengangkut sampah. Pada waktu puncak, kendaraan akan mengantri pada pintu masuk sehingga penting agar antrian tidak menghambat jalan umum atau lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki
  • Jumlah dan ukuran ruangan bongkar-muat dan hubungannya dengan posisi trailer
  • Area pengolahan dan penyimpanan untuk menahan sampah sebelum dimasukkan ke dalam kendaraan pemindah

 

Secara umum, rancangan terbaik fasilitas adalah untuk mengakomodasi proyeksi volume maksimum sampah dan aliran puncaknya

 

4.  Jumlah Stasiun Transfer

Jika kapasitas perancangan ditentukan oleh jarak maksimum pemindahan sampah ke stasiun transfer secara ekonomis, maka area efisien yang dapat dicapai akan menentukan volume sampah yang akan ditangani stasiun transfer. Jika melewati jarak tertentu, stasiun transfer lain akan dibutuhkan, atau kemungkinan lain sampah lebih baik diangkut langsung ke fasilitas pembuangan akhir.

Stasiun transfer yang melayani area pedesaan akan cenderung lebih kecil dibandingkan dengan yang melayani wilayah perkotaan. Lokasi optimalnya adalah masih di dalam jangkauan kendaraan yang feasible dari pusat konsentrasi perumahan dan komersial dalam area pelayanan. Sebagai contoh, dua buah stasiun transfer dapat diletakkan di area jangkauan 30 mil dengan 50 tpd untuk masing-masing melayani 6 area kecil. Alternatifnya, stasiun transfer yang lebih sedikit dapat digunakan dengan konsekuensi jarak yang lebih jauh, sehingga stasiun transfer yang disebutkan di atas dapat digantikan oleh sebuah stasiun transfer yang  berkapasitas 12 tpd untuk melayani 12 area kecil. Saat menentukan pertimbangan pemilihan stasiun transfer, hal-hal yang harus diperhatikan adalah dampak stasiun transfer pada area yang mengelilinginya, masalah tata guna lahan, dan biaya konstruksi dan operasional stasiun transfer. Tiap-tiap pertimbangan tersebut akan membawa keuntungan dan kerugian yang harus disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

Gambar 2.4 Stasiun Transfer (Derby and Derbyshire Waste Sites Consultation, June 2006)

Keuntungan terbesar pembuatan stasiun transfer dengan ukuran besar adalah pengurangan biaya konstruksi dan operasional secara signifikan. Pemusatan operasi stasiun transfer memungkinkan pengurangan biaya peralatan, konstruksi, penangan sampah, biaya pengangkutan yang akan ditanggung oleh masyarakat. Fasilitas dengan ukuran besar juga kondusif untuk penggunaan kapal laut atau kereta api sebagai moda pengangkut sehingga akan mengurangi dampak penambahan kemacetan lalu lintas. Walaupun begitu, satu fasilitas dengan ukuran besar berpotensi menimbulkan persepsi ketidakadilan penanganan sampah, terutam pada area yang sangat timpang kondisi perekonomiannya. Fasilitas tunggal juga akan mengakibatkan jarak tempuh yang lebih jauh, sehingga meningkatkan kelelahan bagi petugas pengumpul dan peningkatan kerusakan pada kendaraan pengumpul sampah. Pertimbangan lain adalah, fasilitas tunggal tidak mampu mengalihkan sampah pada fasilitas cadangan jika terjadi kondisi-kondisi khusus. Fasilitas tunggal harus harus memiliki peralatan tambahan untuk mengantisipasi kerusakan mendadak ataupun keadaan darurat.

Pada situasi lain, stasiun transfer yang lebih banyak dengan ukuran lebih kecil akan mampu mengatasi kebutuhan masyarakat dengan lebih baik. Desentralisasi operasi pemindahan sampah akan membagi dampak hingga lebih kecil pada area yang lebih luas. Walaupun biaya konstruksi dan operasionalnya akan lebih mahal, akan ada biaya yang dapat dihemat dari pengurangan jarak pemindahan yang mampu melebihi biaya investasi sehingga biaya secara keseluruhan pun akan dihemat. Stasiun transfer yang lebih banyak juga mampu melayani sebagai cadangan jika terjadi kerusakan dan keadaan darurat. Masalah terbesar pada penggunaan stasiun transfer yang lebih banyak adalah kesulitan yang dihadapi saat siting karena harus menghadapi masalah tata guna lahan lebih dari satu buah.

 

5.  Penambahan Fasilitas Pengolahan / Daur ulang

Secara material flow, daur ulang akan menambah waktu perjalanan sampah. Walaupun demikian, penambahan fasilitas daur ulang pada stasiun transfer akan memberikan keuntungan yaitu pengurangan biaya pembuangan akhir karena jumlah sampah yang diangkut telah berkurang juga. Fasilitas daur ulang akan menambah kebutuhan lahan stasiun transfer sehingga kesulitan yang mungkin muncul ketika menambahkan fasilitas daur ulang ke dalam stasiun transfer adalah permasalahan lahan. Selain itu, fasilitas daur ulang membutuhkan peralatan tambahan selain peralatan pemindahan sehingga akan meningkatkan biaya peralatan.

 Gambar 2.5 Fasilitas Daur-Ulang RUAG, AG Swiss (Curry, 2005)

 Untuk pemilahan, peralatan yang digunakan dapat dioperasikan secara mekanis maupun manual seperti eddy current separator, magnetic roller, dan conveyor. Sedangkan untuk pengolahan, peralatan yang dapat digunakan adalah baler, glass crusher, dan lain-lain. Peralatan pemilahan dan pengolahan bisa bervariasi tergantung komposisi sampah, pilihan teknologi, dan pembiayaan. Pada stasiun transfer, peralatan yang paling sering digunakan adalah compactor yang berfungsi untuk memadatkan sampah sehingga mengurangi volume secara keseluruhan. Jenis compactor bisa bervariasi tergantung kebutuhan pengurangan densitas sampah, jenis peti kemas, dan jenis moda pengangkut.

Pengolahan Kompos dengan Silo #Instalasi Pengolahan Sampah

Pengolahan kompos dilakukan dengan sistem aliran vertikal. Sistem aliran vertikal tersebut terutama untuk menghemat luas lahan yang diperlukan. Salah satu pengolahan kompos dengan aliran vertikal adalah pengolahan dengan aerated silo.  Pengolahan dengan aerated silo cocok untuk material sampah organik yang telah dipilah dari material pengotor lainnya. Aerated silo menggunakan silo sebagai tempat fermentasi dan pematangan kompos. Material masuk dan keluar dari silo dengan laju aliran tetap. Material masuk melalui bagian atas silo, kemudian akan turun seiring dengan pengambilan kompos yang dibawahnya. Proses pengomposan yang terjadi berlangsung lebih cepat karena material yang masuk akan dipanasi suhunya oleh material di bawahnya. Akibatnya material tersebut akan lebih cepat dalam mencapai suhu optimun, sehingga waktu proses pengomposan lebih cepat. Suhu material akan turun saat semakin mendekati dasar silo.

Gambar 3‑8.  Ilustrasi aliran material dan udara di aerated silo (Alberta, 1999)

Proses berikutnya adalah proses pematangan kompos. Kompos dari silo pertama akan dimasukkan dalam silo berikutnya. Setelah proses tersebut kompos siap dilakukan penyaringan untuk mendapatkan ukuran efektif dan menghilangkan pengotor-pengotor yang masih berada dalam kompos. Waktu yang diperlukan berkisar antara 8 – 21 hari.

Unit-unit Instalasi Pengomposan

1.  Pencacah

Ukuran kompos yang efektif diperlukan untuk mempercepat proses pematangan kompos. Semakin kecil ukuran material organik maka proses pengomposan akan berjalan labih baik.

2.  Silo

Silo digunakan untuk proses pengomposan dan pematangan kompos, serta penampungan sementara sebelum kompos di kemas dalam wadah untuk di distribusikan.

Dengan kriteria desain sebagai berikut :

  • Menampung kompos dalam jangka waktu pengomposan 10 hari.

3.  Aeration system

Unit aerasi terletak di bagian bawah tumpukan kompos di dalam silo yang berfungsi untuk memberikan aliran udara terus-menerus sehingga kondisi aerob dapat tercapai. Aliran udara yang digunakan adalah 2 m3/menit.

4.  Air Conveyor

Air conveyor digunakan sebagai sarana transportasi material. Seperti aliran air dalam pipa, kompos akan dialirkan ke dalam dan keluar silo dengan menggunakan aliran udara.

5.  Trommel screen

Penyaringan dilakukan utuk memisahakan material pengotor lain dari kompos. Pemilahan sebelumnya masih menghasilkan material yang mengotori kompos, dengan demikian kemurnian kompos bisa tercapai.

6.  Bagging

Bagging mengisi secara otomatis kantong-kantong kompos, mempercepat proses pewadahan.

Instalasi pengolahan Sampah

Instalasi pengolahan memerlukan unit-unit untuk mencatat jumlah berat material yang diolah, penampungan material, pengangkutan material, dan unit pemisahan material. Awal proses adalah penimbangan untuk mencatat jumlah kapasitas pengolahan harian. Kemudian material tersebut akan ditampung dalam satu area. Instalasi pengolahan ini menggunakan unit-unit pemilahan secara mekanis dan secara manual dengan tenaga manusia. Unit-unit pengolahan yang digunakan dan proses yang terjadi adalah sebagai berikut :

1.  Tempat penimbangan

Penimbangan digunakan untuk mencatat jumlah material yang masuk dan dari instalasi.

Dengan kriteria desain sebagai berikut :

  • Digunakan 2 pasang tempat penimbangan, 1 pasang untuk antrian truk material sampah. 1 pasang untuk truk material hasil dari pengolahan.

Gambar 3‑2. Ilustasi proses penimbangan dan pos pencatatan

2.  Storage yard

Storage yard digunakan untuk menampung material yang akan masuk ke dalam proses, penampungan digunakan karena jumlah material yang masuk lajunya lebih besar dari laju proses pengolahan.

Dengan kriteria desain sebagai berikut :

  • Storage yard digunakan sebagai tipping floor, tempat bongkar material sampah yang datang.
  • Kapasitas yang digunakan cukup untuk menampung material yang datang dalam 12 jam untuk operasional 24 jam.

3.  Feeder

Feeder merupakan penampungan untuk menyalurkan material dari storage yard ke dalam aliran proses pengolahan.

Dengan kriteria desain sebagai berikut :

  • Kapasitas feeder adalah untuk setiap 2 jalur pemilahan (untuk setiap 2 conveyor belt sorting digunakan 1 feeder).

Gambar 3‑3. Ilustrasi penampungan dan feeder

Gambar 3‑4. Ilustrasi proses sampah dari pengangkutan traktor di storage yard, dan ilustrasi pendistribusian sampah oleh feeder

4.  Conveyor Belt

Conveyor belt digunakan sebagai transportasi material dari unit-unit pengolahan, maupun tempat pemilahan material sampah.

Dengan kriteria desain sebagai berikut :

4.1.  Conveyor belt transposrtasi

  • Hanya sebagai sarana transportasi tidak terjadi pemilahan di tengah maupun di ujung conveyor.
  • Kecepatan berubah-ubah sesuai kebutuhan.
  • Digunakan belt yang bermotif atau memiliki kontur, untuk memberikan tambahan nilai gesekan terhadap material dan permukaan.
  • Belt conveyor untuk transposrtasi material di gunakan yang membentuk cekungan untuk memperoleh kapasitas material yang terangkut lebih banyak, disamping itu untuk mencegah terjadinya tumpahan material.

Gambar 3‑5. Ilustrasi material di atas conveyor belt

4.2.  Belt conveyor Sorting

  • Selain digunakan sarana transporasi, dilakukan pemilahan pada bagian tengah ataupun akhir dari belt conveyor.
  • Kecepatan tetap.
  • Belt conveyor untuk proses sorting digunakan tipe flat untuk mempermudah sorting karena material akan lebih terdistribusi merata dan menyebar dengan baik.

Gambar 3‑6. Ilustrasi kondisi material di flat conveyor belt

5.  Magnetic Conveyor

Magnetic conveyor digunakan untuk memisahkan material yang bersifat tertarik magnet seperti besi dari material lain.

Dengan kriteria desain sebagai berikut :

  • Kekuatan magnet menarik harus lebih besar dari gaya berat material.
  • Medan magnet bekerja dalam area tertentu yang lebih luas dari area aliran material sampah lain, menarik logam kemudian menjatuhkan di area yang ditentukan.
  • Belt terbuat dari bahan yang tidak terpengaruh oleh gaya magnet, sehingga logam besi bisa terlepas tepat di area yang diinginkan.

6.  Eddy current separator

Eddy current separator memisahkan material logam non besi dari aliran material dengan induksi muatan listrik dengan perubahan medan magnet dalam logam sehingga mempunyai sifat magnet sementara yang kemudian akan tertolak kembali oleh medan magnet yang menginduksi itu sendiri.

Dengan kriteria desain sebagai berikut :

  • Penginduksian dilakukan dengan memutar magnet.
  • Kecepatan putaran magnet harus dapat menginduksi logam sehingga bersifat magnet.
  • Terjadi penolakan gaya magnet sementara dari logam non besi dan magnet yang berputar.

Gambar 3‑7. Ilustrasi prinsip kerja eddy current

7.  Baller dan Packaging

Baller digunakan untuk memadatkan logam, kertas, plastik hasil pemilahan dengan ukuran tertentu.

Dengan kriteria desain sebagai berikut :

  • Ukuran standar adalah 1 m3 dengan berat variasi ataupun sesuai dengan permintaan pasar.

Untuk material kaca, kompos dan beberapa material lain pemadatan tidak mungkin dilakukan, maka dari itu diperlukan unit pewadahan yang bisa menampung untuk material yang tidak mungkin dilakukan pemadatan.

Jenis Material di MRF #Instalasi Pengolahan Sampah

1.  Plastik

Plastik terbuat dari berbagai macam jenis resin. Digunakan kode nomor daur ulang plastik untuk mengenali bahan dasar resin yang digunakan untuk membuat plastik. Setiap resin memiliki sifat tersendiri dan kegunaan tertentu berdasarkan kebutuhan penggunaan. Contoh: botol susu dibuat dari bahan High Density Polyethylene (HDPE), mempunyai kode nomor daur ulang #2. Pengkodean tersebut adalah sebagai berikut:

    • #1 PET (Polyethylene Terephalate): botol soda, botol minyak goreng.
    • #2 HDPE (High Density Polyethylene): botol detergent dan sampo, botol susu dan air, wadah pembersih untuk industri, wadah makanan, kantong belanja.
    • #3 PVC (Vinyl/Polyvinyl Chloride): botol sampo, botol oli, wadah kosmetik, pipa, lapisan kemasan.
    • #4 LDPE (Low Density Polyethylene): plastik wrapping pembungkus makanan, kantong dry cleaning, kantong plastik sampah, wadah makanan, kantong belanja.
    • #5 PP (Polypropylene): wadah produk dan kontainer untuk kesehatan, botol syrup, kecap, makanan, sampo, dan kosmetik.
    • #6 PS (Polystyrene): styrofoam, nampan, wadah dan baki, bak mandi, wadah CD.
    • #7 Miscellaneous (Polycarbonate, Nylon, Polyurethane, dll): peralatan masak, emblem/aksesoris mobil, kerangka komputer/produk elektronik, tekstil.

Sampah plastik yang diolah di MRF, hasil akhirnya supaya memiliki nilai biasanya dilakukan pewadahan dalam beberapa bentuk tertentu sesuai dengan permintaan pasar. Hasil akhir material sampah plastik yang diterima pasar adalah sebagai berikut:

    • Dalam bentuk butiran, ataupun utuh.
    • Dipisahkan berdasarkan warna, jenis, ataupun campuran.
    • Kering ataupun bercampur basah.
    • Bersih/murni ataupun bercampur.

2.  Logam /Besi

Hasil akhir logam/besi yang diterima pasar adalah sebagai berikut:

    • Dipres, tanpa pres, atapun cacahan.
    • Bersih/murni ataupun bercampur.
    • Utuh ataupun dipadatkan (berat dan ukuran tertentu).

3.  Aluminium

Hasil akhir aluminium yang diterima pasar adalah sebagai berikut:

    • Dipres, tanpa pres, dipadatkan, atapun cacahan.
    • Bersih/murni dari kotoran, air, dll.

4.  Kertas

Hasil akhir kertas yang diterima pasar adalah sebagai berikut:

    • Dipisahkan berdasarkan warna, jenis, ataupun campuran.
    • Utuh ataupun dipadatkan (berat dan ukuran tertentu).
    • Kering ataupun bercampur basah
    • Bersih/murni ataupun bercampur.

5.  Botol dan Kaca

Hasil akhir kertas yang diterima pasar adalah sebagai berikut:

    • Dipisahkan berdasarkan warna, ataupun campuran.
    • Dengan ukuran potongan/pecahan tertentu.
    • Campuran dari berbagai jenis dengan batas campuran tertentu.