Bumi Tak Lagi “Membumi”

Bumi Tak Lagi “Membumi”

Sampah di pantai. Photo used under Creative Commons from epSos .de

Jika anda penggemar film, anda tentu tahu beberapa film fiksi ilmiah yang menjadikan lingkungan sebagai tema utamanya. Tentu saja dari beberapa film yang kritis menjadikan lingkungan sebagai dasar cerita mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Jika anda pernah menonton film Wall-E, anda dapat menyaksikan betapa buruknya situasi lingkungan di dunia, sehingga manusia harus hidup di luar angkasa, tepatnya di sebuah pesawat luar angkasa yang begitu besar. Dan bukan tak mungkin jika suatu saat Bumi tak lagi dapat dihuni manusia, karena lingkungannya yang begitu tercemar.

Jika ditinjau dari segi bahasa, lingkungan adalah perpaduan berbagai elemen mulai dari tanah, air, dan tentu saja udara. Jika kombinasi ketiga hal tadi digabungkan, maka akan tercipta sebuah kondisi dimana mahluk hidup dapat berkembang biak dan melangsungkan hidupnya.

Tiga elemen dasar itu lah yang menjadi syarat utama terciptanya kehidupan, dan tentu saja ketiganya haruslah seimbang. Namun, dewasa ini makin marak isu global yang menyatakan Bumi tak lagi sehat. Layaknya manusia yang sakit-sakitan di hari tuanya, begitu juga dengan Bumi yang sudah berusia miliaran tahun.

Manusia sebagai salah satu kontingen pelaksana kehidupan di bumi, memiliki peranan yang begitu penting dalam kelangsungan hidup semua unsur kehidupan di Bumi. Keputusan manusia tentang bagaimana mengelola lingkunganlah yang akan menentukan seperti apakah Bumi di tahun depan, bahkan ribuan tahun ke depan.

Jika kita menengok ke masa lalu dimana manusianya cenderung memiliki kondisi tubuh yang lebih sehat dan usia yang lebih panjang, itu tidaklah mengherankan karena tingkat pencemaran lima puluh tahun lalu sangat berbeda dengan yang kita rasakan saat ini.

Semakin hari, berbagai pencemaran yang berlangsung di Bumi, tentu saja membuat kondisi Bumi semakin sekarat. Berbagai kemudahan yang kita rasakan saat ini seperti teknologi, transportasi, dan lain sebagainya, tentu memiliki konsekuensi yang sangat besar terhadap kesehatan Bumi itu sendiri.

Misalnya saja, pertumbuhan industry yang begitu pesat, menjadi penyumbang polusi terbesar bagi udara. Tak hanya asap yang menyebabkan polusi, limbah pabrik dan rumah tangga juga mempengaruhi kestabilan air dan udara.

Jika di hulu ada sebuah pabrik yang melepaskan begitu banyak pencemaran, maka akibat yang dirasakan akan menyebar hingga ke hilir. Dampak pertama yang akan dirasakan tentu saja adalah kesehatan. Karena segala kebutuhan hajat hidup kita sudah tercemar dari sumbernya.

Kita membutuhkan makanan baik dari tumbuhan maupun hewan untuk dikonsumsi.

Bagaimana jika tumbuhan dan hewan-hewan itu hidup di lahan yang penuh racun kimia?

Menghirup udara yang tercemar?

Dan meminum air yang sudah terkontaminasi limbah?

Tentu saja manusia yang memakannya, perlahan tapi pasti akan “memindahkan” seluruh partikel racun yang menimbunnya di dalam tubuhnya. Dan lama kelamaan, manusia itu pun akan jatuh sakit.

Siapa yang harus bertanggung jawab atas pencemaran global ini?

Karena manusia yang menyebabkan semua pencemaran itu, maka manusia pulalah yang harus bertanggung jawab untuk mengembalikan kemurnian alam.

Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin hari semakin maju untuk terus memperbaiki kualitas kehidupan kita di bumi. Kita pun dapat memulai segala sesuatunya dengan perilaku yang lebih ramah lingkungan.

Seperti menggunakan barang-barang yang didaur ulang, mengurangi limbah plastik dan Styrofoam yang membutuhkan ratusan bahkan ribuan tahun untuk terurai di dalam tanah. Hal kecil memang, namun ternyata memberi dampak yang baik. Bayangkan, jika semua orang di dunia melakukan itu, dunia lebih baiklah yang akan kita dapatkan sebagai konsekuensinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s