Pedang Jepang dan Proses Penempaannya

Sebuah Pedang Jepang asli harus terbuat dari baja Jepang spesial dengan paduan dua jenis baja yaitu baja dengan kandungan karbon tinggi dan baja dengan kandungan karbon rendah. Setiap tipe baja tersebut masing-masingnya memiliki kualitas baik dan buruknya.

Baja dengan kandungan karbon tinggi lebih keras dan kuat serta mempunyai sisi lebih tajam namun lebih rapuh dan mudah retak bila digunakan dalam pertarungan bila dibandingkan dengan baja karbon rendah. Sedangkan baja dengan kandungan karbon rendah bersifak lebih lunak sehingga membuatnya dapat menyerap serangan tanpa menjadi rusak namun pedang dengan baja jenis ini hasilnya lebih tumpul.

Seorang pandai besi (blacksmith) mengambil keuntungan dari kedua sifat baja terbaik ini. Dimulai dengan menempa kedua jenis baja tersebut untuk membuat kandungan baja menjadi murni dari kotoran-kotoran. Lalu baja dengan kandungan karbon tinggi dibentuk menyerupai huruf U dan potongan baja karbon rendah diletakkan ditengah-tengahnya. Hasil dari proses ini kemudian dipukul-dipukul supaya akhirnya menjadi pedang samurai.

Bila telah sampai pada fase ini pedang hanya memiliki sedikit lengkungan. Kelengkungan pada pedang diperoleh dari proses pemanasan dan pendinginan pedang dalam air atau minyak. Selanjutnya oleh pandai besi pedang dibungkus dengan berbagai macam bahan seperti campuran lumpur basah. campuran bahan-bahan pembungkus pedang ini berbeda-beda atau unik untuk setiap pandai besi dan merupakan resep rahasia setiap pandai besi, namun secara umum kandungannya dapat terdiri dari tanah liat, air, abu (terkadang), bubuk batu gerinda, dan karat. Kemudian pandai besi akan melapisi pedang dengan lapisan tanah liat lebih tipis untuk sisi pedang dibandingkan dengan bagian belakang pedang. Setelah semua proses tersebut lalu pedang dipanaskan dan didinginkan di air atau minyak. Tanah liat berfungsi sebagai isolator sehingga hanya bagian sisi saja dari pedang yang mengeras. Hal inilah penyebab pedang membentuk sedikit lengkungan dikarenakan berkurangnya tegangan pada bagian belakang pedang.

Proses pendinginan juga berfungsi untuk membentuk garis bergelombang pada bagian tengah pedang. Garis ini disebt “hamon” dan hanya bisa dilihat setelah pedang dipoles. “Hamon” merupakan sebuah keindahan dari pedang selain itu juga merupakan penanda dari sang pembuat pedang.

Setelah ditempa, pedang kemudian dikirmkan untuk dipoles. Proses pemolesan pedang ini dapat berlangsung dimana saja dengan jangka waktu antara satu sampai tiga minggu. Pemoles pedang akan memakai batu khusus untuk melakukan proses ini sampai pedang benar-benar tajam dan halus di setiap sisinya (Proses pemolesan ini disebut “glazing”). Sebagai fakta tambahan, kelengkungan pedang menambah kekuatan pedang dalam memotong.

Pedang Jepang dan Proses Penempaannya

Samurai kecil, Photo used under Creative Commons from Chris Gladis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s