Ayo, Ikut Gerakan Bank Sampah Demi Kebersihan

Bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan istilah Bank Sampah. Sebenarnya apa itu Bank Sampah? Memang terdengar aneh, tapi ternyata dibalik namanya yang aneh itu, Gerakan Bank Sampah merupakan salah satu gerakan nasional untuk kebersihan. Mari kita telusuri dari mana sebenarnya kata Bank Sampah itu berasal, dan bagaimana ceritanya sehingga bisa dikatakan sebagai salah satu gerakan nasional untuk kebersihan. Pada dasarnya prinsipnya sangat sederhana sekali, yaitu mengumpulkan sampah dan setelah itu menukar sampah itu dengan uang tentunya. Dan setelah itu sampah-sampah yang sudah dikumpulkan tersebut diolah ulang, atau juga ada yang digunakan kembali.

Jika kita telusuri lebih lanjut, awal mula terjadinya Gerakan Bank Sampah berasal dari daerah Bantul, sebuah Kabupaten yang terletak dibagian selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat itu yang terlintas dibenak warga masyarakat Bantul bukanlah mengumpulkan dan menjual sampah tersebut. Tetapi mereka mengumpulkan untuk diolah kembali menjadi sebuah kerajinan tangan. Sehingga sampah yang pertamanya dianggap tidak mempunyai arti menjadi sebuah barang yang mempunyai nilai daya jual, dan termasuk nilai jual yang tinggi. Bertambahnya permintaan pasar akan keberadaan barang kerajinan tangan itu, tentunya dibutuhkan lebih banyak sampah yang digunakan sebagai bahan dasarnya. Oleh sebab itu, muncullah Bank Sampah yang menampung sampah, dan membelinya dari para penjual.

Apakah semua sampah bisa disetorkan ke Bank Sampah ini? Apakah ada aturan untuk mengikuti Gerakan Bank Sampah ini? Tentu saja iya. Tidak semua jenis sampah bisa Anda uangkan disini. Disini sampah dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu kantong I,II dan kantong III. Dimana kantong satu di isi dengan sampah dari bahan plastik, kantong II dengan sampah dari bahan kertas. Dan kantong yang ke III adalah kantong yang di isi dengan sampah berupa kaleng atau botol. Seperti Bank-Bank pada umumnya nanti para penyetor akan diberikan tanda setor yang diberikan oleh teller setelah sampah yang dibawa ditimbang terlebih dahulu.

Dari bukti setoran itulah, nanti akan ada perhitungan nilai rupiah yang akan dimasukkan ke dalam buku tabungan yang telah disediakan Bank Sampah. Jika dirasa sampah yang terkumpul di Bank Sampah sudah banyak, maka pihak Bank Sampah akan menjual sampah-sampah tersebut kepada tukang rongsok. Dan kantong-kantong yang dikumpulkan masyarakat akan diganti dengan uang dimana kantong I, II dan kantong III mempunyai nilai jual yang berbeda. Contohnya adalah harga jual untuk kantong kertas bisa mencapai Rp 2.000,- perkilogram, tetapi untuk kantong III yang berisi kaleng dan botol bisanya harganya menyesuaikan dengan besar kecilnya botol tersebut. Dari situ baru akan dicocokkan dengan bukti setoran ketika adanya transaksi di Bank Sampah saat pertama kali sampah itu dimasukkan. Sungguh sebuah Gerakan Bank Sampah yang patut ditiru oleh daerah manapun.

Dari hasil penjualan ketiga jenis kantong sampah tersebut, Bank Sampah akan mendapatkan keuntungan sebesar 15%. Dimana dana tersebut digunakan sebagai operasional dari Gerakan Bank Sampah tersebut. Sekarang bisa kita bayangkan, sungguh bermanfaatnya sampah tersebut jika kita bisa mengolahnya menjadi barang kerajinan tangan yang mempunyai nilai seni dan nilai jual yang tinggi. Dari sampah-sampah tersebut akan tercipta barang kerajinan tangan seperti asesoris rumah tangga, tas, dompet, topi dan yang lainnya. Dan barang itu bisa dijual dengan bekisaran harga diatas Rp 20.000,-. Melihat hal tersebut alangkah sayangnya jika sampah yang masih bisa kita manfaatkan kita buang begitu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s