Menjaga Kualitas Air Dari Pengaruh Sampah

Kali ini kita akan berbicara mengenai pengaruh sampah terhadap kualitas air. Membuang sampah di sungai masih menjadi kebiasaan buruk banyak warga, terutama mereka yang berada di daerah padat penduduk seperti Jakarta. Sungai menjadi tempat pembuangan sampah yang cepat dan dekat, tapi mereka tidak sadar resiko jangka panjang, bahkan jangka dekatnya. Sampah yang terbawa memenuhi badan sungai tentu bisa membuat air sungai berwarna keruh, bau, mampet, dan pada musim hujan meluap menjadi banjir. Air sungai yang sudah tercemar itu jadi tidak bisa lagi digunakan untuk kebutuhan warga. Bahkan sumur-sumur warga yang berada di sekitar sungai juga bisa ikut tercemar oleh rembesan air sungai tersebut.

Coba perhatikan, warga yang tinggal di sekitar sungai yang tercemar sampah pasti mudah sakit-sakitan. Berbagai jenis penyakit bisa menyerang kapan saja, terutama saat musim penghujan datang. Contoh yang sering muncul adalah penyakit-penyakit seperti tifus, diare, ataupun kolera yang penyebarannya bisa sangat cepat. Penyebabnya adalah air minum yang kotor yang telah dihinggapi virus. Begitu juga demam berdarah karena banyaknya nyamuk bersarang dan bertelur di air kotor tersebut. Selain itu, penyakit jamur seperti jamur kulit juga dapat menyebar dari air yang tercemar dan digunakan untuk mandi. Jika sudah begini, warga tentu harus mengeluarkan uang lebih untuk berobat. Lingkungan mereka juga jadi tidak nyaman lagi untuk ditinggali. Bahkan jika pencemar yang masuk ke air tanah berupa sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun) misalnya air raksa (merkuri), chrom, timbale, cadmium, maka bisa menyebabkan kerusakan sel dan syaraf tubuh sehingga menimbulkan cacat atau bahkan kematian. Ini berarti terjadi penurunan sosial ekonomi warga gara-gara pengaruh sampah.

Bagaimana cara untuk mulai menanggulangi pencemaran sungai dan air warga karena sampah? Yang pertama tentu kita harus memiliki kesadaran mengenai ketersediaan air dengan cara tidak merusak ataupun menggunakan sumber air dengan salah. Tujuannya adalah agar sumber air tersebut tidak tercemar. Tularkan pemahaman ini kepada keluarga dan teman agar mereka juga tidak membuang dan melempar sampah sembarangan, terutama di sungai. Kemudian, mulailah mengurangi intensitas sampah rumah tangga dari rumah kita. Dalam mencuci pakaian, usahakan tidak memakai detergen secara berlebihan karena busa detergen itu bisa mencemari air dan tanah.

Selanjutnya, perbaiki sanitasi di sekitar rumah agar sumber-sumber air yang masih bersih tidak ikut tercemar. Bekerja baktilah bersama warga untuk membersihkan got atau saluran air yang tersumbat. Cara ini bisa menghindarkan banjir saat musim hujan dan mencegah sumur warga menjadi tercemar. Cara lain menanggulangi pengaruh sampah terhadap kualitas air adalah dengan melakukan penanaman pohon. Cara mengatasi pencemaran air yang juga dapat dilakukan adalah dengan menanam beberapa pohon. Selain bisa berfungsi untuk mencegah longsor, pohon juga mampu menyerap pencemaran dalam tanah akibat sampah. Hasilnya air tanah tidak ikut tercemar.

Selain itu, akar pohon juga bisa menyimpan cadangan air untuk musim kemarau. Efek baik lainnya, daerah yang ditanami pohon menjadi lebih asri dan bisa dijadikan tempat wisata. Untuk rumah tangga yang air sumurnya sudah terlanjur tercemar, air tersebut perlu disaring dan diendapkan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk keperluan mandi, cuci, kakus, dan minum agar seluruh keluarga tidak terserang penyakit. Jika perlu, gunakan tawas, kapur, dan kaporit dengan takaran per 1000 liter air: 5 sendok tawas, 5 sendok kapur, dan 1 sendok kaporit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s