MSW, MRF, IPS, WTE dan, RDF

Terdapat berbagai cara untuk melakukan pengolahan sampah. Pengolahan sampah dari minimalisasi jumlah timbulan sampah, reuse, recycling, incineration, sampai pada land disposal. Daur ulang sampah merupakan alternatif pengolahan sampah yang sekarang mulai dilaksanakan dalam pengolahan sampah.

Gambar Hirarki pengolahan sampah (ISWM, 1980)

Sampah yang dihasilkan kota selain sampah industri, atau yang biasa dikenal dengan istilah Municipal Solid Waste (MSW). Sampah merupakan sumber bahan baku dari Material Recovery Facility (MRF) atau Instalasi Pengolahan Sampah (IPS) yang bisa dilakukan secara manual dan/atau mekanis yang kemudian bisa digunakan untuk proses daur ulang sampah.

Indonesia sampai saat ini masih belum memiliki IPS dengan pemanfaatan teknologi tinggi. Pemilahan yang dilakukan selama ini hanyalah secara manual dengan tenaga manusia dan proses sistem pengolahan yang sederhana. Hal ini yang membuat masih terbengkalainya tumpukan-tumpukan sampah.

Dengan mengambil contoh data sampah dari kota Bandung, diketahui bahwa sampah kota Bandung memiliki jumlah timbulan mencapai 2.437,5 ton per hari. Dengan komposisi : 63,56% sampah basah, 9,76% sampah plastik, 10,42% sampah kertas, 1,70% sampah tekstil (kain), 1,45% sampah kaca, 0,95 logam, dan 12,16% lain-lain (BPS-Bandung, 2003; Ashanapuri,2005). Data tersebut dapat digunakan menjadi dasar pertimbangan pembangunan IPS sebagai alternatif pengolahan sampah kota Bandung.

Dalam IPS terdapat proses pemilahan material untuk daur ulang, pengomposan dan recovery energi sampah atau biasa disebut waste to energy (WTE). Material daur ulang sampah dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif bagi industri, sehingga terbuka peluang pasar yang cukup besar dalam usaha daur ulang sampah. Composting juga merupakan alternatif pengolahan sampah yang bisa dilakukan setelah dilakukannya pemilahan sampah. Hasil dari composting  berguna bagi industri pertanian dan perkebunan. Pasar untuk melakukan usaha composting juga cukup terbuka. WTE dilakukan dengan memilih beberapa material yang tidak bisa didaur ulang tapi memiliki nilai kalori sebagai bahan bakar untuk merecovery energinya sebagai refuse derived fuel (RDF) .

Advertisements

Surat Balasan Permintaan Informasi Produk atau Jasa Bahasa Inggris

Buat agan agan yang mendapatkan surat bisnis mengenai permintaan informasi tentang produk atau jasa dalam bahasa Inggris, yang harus dilakukan adalah sbb:

  1. Berterimakasih atas minat pembeli atau pelanggan.
  2. Lengkapi surat atau email dengan brosur tentang produk yang ditawarkan.
  3. Beritahukan bahwa produk yang ditawarkan bisa dibeli secara online melalui web.
  4. Buatlah pernyataan untuk dapat berhubungan lagi pada urusan yang akan datang.

Contoh surat balasan permintaan informasi produk atau jasa bahasa inggris

Contoh 1 – memberikan informasi produk tenda gunung

Surat Balasan Permintaan Informasi Produk atau Jasa C1

contoh 2 – memberikan informasi peralatan camping

Surat Balasan Permintaan Informasi Produk atau Jasa C2

Contoh 3 – memberikan informasi produk treadmill

Surat Balasan Permintaan Informasi Produk atau Jasa C3

Contoh 4 – memberikan informasi jasa servis AC

Surat Balasan Permintaan Informasi Produk atau Jasa C4

Cara pengolahan sampah organik dengan metode biologi (PSOMB)


1.  Bahan baku pengomposan

Bahan baku pengomposan adalah sebagai berikut :

  • Sampah organik rumah tangga dan sampah pasar
  • Usia sampah tidak lebih dari 2 hari
  • Nilai C/N sampah  30 : 1
  • Penambahan bahan penunjang (penambahan Carbon) dapat dilakukan sampai  mencapai C/N 30 : 1
  • Kadar air maksimal sampah 50 %

2.  Bahan penunjang

Bahan penunjang pengomposan adalah :

  • Mikroorganisme tambahan (inokulum)
  • Larutan gula (sebagai bahan makanan mikroorganisme)
  • Bahan-bahan yang dapat meningkatkan nilai Carbon dan C/N

3.  Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan dalam pengoperasian meliputi :

  • Thermometer
  • Cetakan
  • Saringan kasa
  • Alat pencacah (manual atau mesin)
  • Sekop dan gacok
  • Emrat
  • Ember
  • Pakaian kerja lengkap
  • Tabung aerasi

4.  Cara kerja pengomposan

4.1.  Pemilahan sampah

  • Lakukan pemilahan pada sampah yang masuk pada awal proses dengan membagi sampah menjadi :

 Gambar 32. Pemilahan Sampah

    • Sampah organik yang dapat dikomposkan terdiri dari daun-daunan, rumput, sampah pasar, sampah dapur (sisa makanan, sisa ikan, sayur-sayuran, dan kulit buah-buahan  dan lain-lain )
    • Sampah yang tidak dapat dikomposkan yaitu : barang berbahaya : bekas pisau cukur, bekas alat suntik, infus, benda tajam lainnya (paku, tusuk sate), obat kadaluarsa dan lain-lain
    • Residu : daun yang keras dan  berserat, sabut tempurung kelapa, sekam tulang, kayu dan lain-lain
    • Barang lapak : kaleng, kardus, plastik, gelas, kaca, besi tua, logam,  dan lain-lain.
  • Jual atau sisihkan barang lapak ke pemulung atau bandar lapak
  • Jika ada insenerator disebelah PSOMB, bakarlah residu
  • Buang  sisa pembakaran dan barang berbahaya yang dibungkus dalam wadah tersendiri ke TPA khusus B3 seminggu sekali.
  • Jika tidak ada insenerator, bungkus barang berbahaya dalam kantong tersendiri dan bersama residu dibuang ke TPA seminggu sekali.

4.2.  Penumpukan bahan kompos

  • Siapkan bahan tambahan, EM4 dengan dosis 0,75%, 10 sendok makan gula putih dalam  2,5 – 10 liter  air setiap 200 kg sampah
  • Siapkan sampah yang telah terpilah
  • Lakukan penumpukan sampah organik (hasil pemilahan) yang dapat dikomposkan dengan bahan tambahan (dedak/yang lainnya) atau tanpa bahan tambahan dan microorganisme dosis yang telah ditentukan
  • Lakukan pencetakan dengan cetakan 1,45 m x 0,75 m x 0,5 m dengan ketinggian sesuai dengan perencanaan (0,8 -1 m)

4.3.  Pengukuran suhu dan kelembaban

  • Lakukan pengukuran suhu dengan termometer alkohol pertama kali setelah pemupukan berumur 3 hari untuk mengetahui suhu tumpukan.
  • Setelah itu setiap 2 – 4 hari lakukan pengukuran suhu tumpukan pada sekitar 5 lubang dengan suhu rata-ratanya, bila temperatur > dari 50° C lakukan pembalikan.
  • Cara mengukur suhu adalah dengan melubangi atau tusuk sisi tumpukan (sekitar 5 lubang) dengan alat bantu berupa sebatang besi atau kayu keras. Kedalaman lubang adalah 2/3 tinggi dari tebal tumpukan.
  • Masukan termometer tersebut, lalu lubang ditutup kembali. Setelah 1 – 2 menit termometer dicabut dengan menarik talinya, lalu secepatnya dibaca suhunya pada termometer, agar tidak dipenuhi suhu lingkungan
  • Lakukan pengukuran kelembaban tumpukan pada saat yang sama dengan pengukuran suhu. Kelembaban tumpukan yang diinginkan sesuai dengan ketentuan  yang berlaku ( ± 50%).
  • Cara mengukur kelembaban adalah ambil bahan tumpukan dari bagian yang dalam, kemudian remaslah dengan kepalan tangan.
  • Jika air remasan mengalir cukup banyak dari sela-sela jari, berarti tumpukan tersebut terlalu lembab atau diatas 50 %
  • Jika air remasan tidak keluar dari sela jari, berarti tumpukan tersebut terlalu kering atau kelembaban  dibawah 50%
  • Jika air remasan menetes dari sela-sela jari, berarti tumpukan tersebut mempunyai kelembaban sesuai yang dibutuhkan.

4.4.  Perlakuan pada proses pelapukan

Berikan perlakuan berikut sesuai hasil pengukuran suhu dan kelembaban yaitu :

  • Jika suhu dan kelembaban tumpukan selama proses sesuai dengan ketentuan maka pembalikan dapat dilakukan seminggu sekali bersamaan dengan perlakuan penyiraman
  • Jika suhu tumpukan < 50° C, maka lakukan pembalikan dengan  membongkar tumpukan dan langsung memindahkannya ke tempat baru disebelahnya
  • Jika kelembaban tumpukan  > 50% ( basah),  maka  lakukan pembalikan pada tumpukan tanpa penyiraman
  • Jika kelembaban tumpukan  < 50% (kering), maka lakukan penyiraman  baik pada  saat pembalikan atau secara langsung diatas tumpukan

4.5.  Pematangan kompos

Lakukan proses pematangan pada tumpukan yang telah berumur sesuai ketentuan 14 – 18 hari, dengan cara membiarkan selama kurang lebih 33 hari.

Cara pengujian tumpukan memasuki masa pematangan sebagai berikut:

  • Warna tumpukan telah menunjukan kompos matang (sesuai ketentuan)
  • Jika tumpukan dibalik, suhu terukur < 45° C dan siram dengan air apabila kering, maka tercatat sebagai hari pertama pematangan
  • Hari selanjutnya, jika tumpukan dibalik, suhu terukur < 45° C dan siram dengan air apabila kering, maka tercatat sebagai hari kedua pematangan
  • Selanjutnya, jika tumpukan dibalik, suhu terukur < 45° C dan siram apabila kering, maka hari  – hari berikutnya tercatat sebagai pertama pematangan

4.6.  Pemanenan dan pengemasan

Panen dan kemaslah kompos yang telah matang dengan cara diayak (ukuran)kompos sesuai pembeli) dan masukan dalam kantong-kantong plastik.

Pada saat pemanenan akan diperoleh kompos halus ( lolos saringan 1 cm) dan kompos kasar.

Kompos halus peruntukannya pada tanaman didalam pot dan apotik hidup dan kompos kasar untuk pemupukan tanaman keras.

Sumber: Lya m Taufik Kamil, Pengelolaan  Sampah Terpadu 3R dan Berbasis Masyarakat (Reduce, Reuse, Recycle), PU

Sampah Plastik

Polimer atau dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai plastik merupakan material yang saat ini ‘membanjiri’ kehidupan kita. Benda-benda disekitar kita yang dahulunya dibuat dari material alam seperti logam, kayu, serat, mineral-mineral, atau pun batu saat ini telah disubstitusikan oleh material yag terdiri dari ikatan karbon ini.

Walaupun plastik masih dianggap sebagai material yang secara cita rasa dianggap rendah, secara fungsional plastik dapat mengcover sifat fisik material-material lain itu. Selain itu tuntutan budaya modern yang lebih mengutamakan sifat fungsional suatu produk di atas cita rasa turut memposisikan material polimer sebagai material yang sesuai karena memiliki ciri fungsional tersebut.

    Gambar 2.2. Material plastik yang semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan sampah plastik yang semakin melimpah serta susah terkendali (www.kpdnhq.gov.my)

Di sisi lain, seiring dengan semakin besarnya penggunaan material  ini, sampah material yang tidak bisa diuraikan oleh makhluk hidup ini melimpah pula (Staudinger,1974). Langkah-langkah pengolahan kembali telah dilakukan namun masih sedikit sekali pengusaha yang berhasil, mampu, dan mau melakukan usaha pengolahan kembali dari plastik. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat mengenai proses pengolahan plastik dan keuntungan moril maupun materil dari usaha daur ulang plastik. Usaha daur ulang plastik sekarang ini dilakukan oleh industri kecil sampai menengah.

Gambar 2.3. Tempat Pengolahan Sampah Plastik

Indonesia sebagai negara yang bertumpu pada kompetensi ekonomi kerakyatan berupa industri kecil padat karya seharusnya mengembangkan kompetensinya dalam mengolah kembali dan menghasilkan polimer yang bermutu hampir sama dengan asalnya.

Dalam konteks pengolahan sampah polimer ini tentunya sangat besar peluang aplikasinya jika lebih menggunakan pendekatan industri kerakyatan itu. Sesuai dengan keunggulannya bahwa sampah polimer ini sangat banyak jumlahnya dan mudah untuk mendapatkannya, maka tantangan industri kecil adalah bagaimana mengolah sampah polimer tersebut menjadi produk baru yang mempunyai nilai lebih tinggi dari pada seonggok sampah atau bahkan mampu menyaingi produk polimer hasil manufakturing.

Plastik sebagai polimer memiliki dua sifat yang dapat direkayasa, yaitu sifat fisis plastik dan sifat kimia plastik. Sifat fisik plastik identik dengan sifat lentur material polimer –thermoplastic– bila dipanaskan. Sedangkan sifat kimia plastik identik dengan molekul-molekul penyusun plastik. Rekayasa sifat fisik yang digabung dengan sedikit rekayasa pada sifat kimia dari plastik dapat membuahkan hasil daur ulang plastik yang memuaskan.

1.  Material Plastik

Plastik yang dalam bahasa ilmiahnya disebut sebagai polimer banyak dikenal sebagai material sintetik atau bahan kimia yang memiliki karekteristik yang khas. Karakteristik plastik dianggap khas karena selain bisa menjadi substitusi bagi material lain, plastik juga mempunyai karekter tersediri sebagai material alternatif selain material yang sudah ada.

2.  Polimer

Polimer adalah material yang molekul-molekulnya berupa pengulangan atau gabungan ikatan-ikatan kovalen partikelnya yang lebih kecil. Satu molekul terdiri dari kombinasi molekul-molekul monomer. Hal tersebut dapat kita lihat pada salah satu contoh polimer polyethene berikut ini:

Gambar 2.4 Ikatan karbon polimer yang  terbentuk dari rangkaian monomer-monomer (sumber :http://www.btinternet.com)

3.  Klasifikasi Polimer

Berdasarkan strukturnya polimer diklasifikasikan menjadi 3 kategori (Ramsden,1995):

  • Plastik, yaitu polimer yang strukturnya permanen
  • Elastomer, yaitu polimer yang strukturnya elastis
  • Fibre, yaitu polimer yang strukturnya berupa serat

Dari pembagian di atas dapat diketahui bahwa material plastik adalah salah satu jenis polimer yang strukturnya permanen atau dengan kata lain bahwa istilah material plastik marupakan sebuah istilah spesifik dari berbagai macam jenis polimer.

3.1.  Klasifikasi plastik berdasarkan proses pembentukannya

3.1.1.  Thermoplastic.

plastik yang dapat dilunakkan kembali dengan proses pemanasan.

Gambar 2.5 Skema proses thermoplastic (sumber : TA, Waluyo, SR, 1999)

Hal ini biasanya digunakan untuk keperluan pembentukan material plastic menjadi bentuk-bentuk tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Plastik-plastik yang tergolong thermoplastic biasanya berupa jenis-jenis plastik yang tidak tahan panas misalnya (Ramsden,1995):

    • ABS Plastic
    • Acetal Rasin
    • Acrylic (Methyl  Metha Crylate)
    • Cellulosic
    • Fluorocarbon
    • Ionomers
    • Parylene
    • Phenoxy
    • Polyamide (nylon)
    • Poly Carbonate
    • Resin
    • Polyethylene
    • Polyimide
    • Polyphenylene oxide
    • Polyprophylene

3.1.2.  Thermosetting plastic

plastic yang tidak dapat dilunakkan lagi dengan proses pemanasan.

Gambar 2.6 Skema proses thermosettting plastic (sumber : TA, Waluyo, SR, 1999)

Hal ini biasanya digunakan untuk keperluan produk yang dibuat berhubungan dengan panas sehingga produk tidak meleleh, terbakar atau berubah bentuk ketika kontak dengan panas. Produk-produk dari bahan plastik yang berhubungan dengan panas misalnya berupa produk-produk plastik isolator kelistrikan. Plastik-plastik yang tergolong thermosetting plastic adalah :

  • Alkyd
  • Allylic
  • Amino plastic (melamine &urea)
  • Casein
  • Epoxy
  • Phenolic
  • Polyester
  • Silicone
  • Urethane (foams and elastomer)

4.  Sifat Glass Transition Temperature

Salah satu karakteristik fisik yang nampak dan sering diterapkan pada proses-proses plastic adalah sifat Glass Transition Temperature yaitu titik temperature dimana plastik berubah sifat dari keras, lunak hingga cair (Tres, 2003). Hal ini digunakan sebagai prinsip pembentukan plastik yang ada selama ini. Skema perubahan sifat material itu dapat kita perhatikan pada skema berikut ini :

Gambar 2.7 Skema Glass Transition Temperature (sumber : Ramsden E.N, Materials Science, Stanlev Thornes (Publisher) Ltd, Oxford, 1995)

5.  Istilah Ilmiah Beberapa Jenis Plastik dan Contohnya

Polimer sebagai material gabungan dari monomer-monomer (gugus ikatan karbon) memiliki berbagai macam kemungkinan pola penggabungan monomer-monomer tersebut menjadi polimer. Macam-macam kemungkinan penggabungan monomer tersebut akan menjadikan sifat polimer bermacam-macam. Hal ini diterapkan menjadi plasik dengan jenis-jenis yang banyak sekali dan mempunyai karakter tersendiri sesuai dengan kebutuhan. Disini dapat kita ambil contoh berbagai jenis plastik dalam istilah ilmiahnya beserta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari:

  • Cellulose esters : tekstil, finishing kertas, packaging, selotip
  • Epoxy resin : surface coating, flooring, linings, laminating
  • Phenoxy resin : komponen elektronik, surface coating 
  • Poly ethene low density (LDPE) : kabel, kaca film, packaging
  • Polyethene high density (HDPE) :  pipa, cetakan, mainan, houseware
  • Poly propene (PP) : medical equipment, houseware, mainan, komponen elektronik, pipa, dsb
  • PVC : pipa, tabung, botol, mantel hujan, ubin lantai
  • Poly methyl propenoate: pelindung kaca mobil, lantai rumah
  • Perspex : panel dekorasi
  • Polystyrene : Packaging, instrumen otomotif, foam, cushion
  • Polyamides/nylon : gear, senar pancing, packaging, botol, pipa, tali, pakaian
  • Polyester : senar pancing, botol, komponen pesawat terbang, perahu, plat cetak
  • Polycarbonate : pengaman helm, lensa, komponen elektronik
  • Terylene : tekstil
  • Bakelite : lem, laminating, komponen elektronik, saklar, socket, handle
  • Silicones : cetakan, karet, laminating, antifoam, antiair
  • Urea-methanal : electrical fitting

6.  Istilah Pasar Beberapa Jenis Plastik

Istilah-istilah dalam plastik bermacam-macam tergantung dimana istilah jenis tersebut dipakai termasuk di pasaran yang cenderung berbeda dengan istilah ilmiahnya. Hal ini karena adanya masyarakat yang awam terhadap istilah ilmiah plastik namun juga sebagai pengguna plastik yang membutuhkan pengetahuan pengklasifikasian plastik-plastik tersebut. Dalam prakteknya di lapangan masyarakat awam tersebut mengidentifikasi plastik hanya dengan mencium, membakar, memanasi, memukul-mukul (mengidentifikasi bunyi yang dihasilkan pukulan), merendamnya dalam air, atau menggoresnya dengan benda tajam. Selain identifikasi tersebut mereka juga memberikan nama untuk mempermudah mengingatnya dengan menganalogikan suatu plastik dengan produk plastik yang sejenis namun dominan, misalnya:

  • Plastik ember: plastik sejenis bahan-bahan ember walaupun bukan ember
  • Plastik mainan: plastik sejenis bahan mainan anak-anak
  • Plastik PET (kode 1): plastik sejenis karpet
  • Plastik HDPE (kode 2): plastik sejenis botol air mineral
  • Plastik PVC (3): plastik lembaran yang biasanya digunakan untuk kotak makanan atau botol pembersih rumah tangga
  • Plastik LDPE (kode 4): plastik sejenis kantong plastik
  • Plastik PP (kode 5): plastik lembaran yang biasanya tidak terlalu lentur
  • Plastik PS (kode 6): plastik sejenis botol kosmetik atau styrofoam
  • Multilayer dan lain-2 (kode 7)

jenis plastik