Pemilihan Lokasi Landfilling Dengan Cara SNI 19-3241-1994

1.  PRINSIP PEMILIHAN CALON LOKASI

Salah satu kendala pembatas dalam penerapan metoda pengurugan limbah dalam tanah (landfilling atau lahan-urug) adalah bagaimana memilih lokasi yang cocok baik dilihat dari sudut kelangsungan pengoperasian, maupun dari sudut perlindungan terhadap lingkungan hidup. Aspek teknis sebagai penentu utama untuk digunakan adalah aspek yang terkait dengan hidrologi dan hidrogeologi site.

Limbah merupakan kumpulan dari beberapa jenis buangan hasil samping dari kegiatan, yang akhirnya harus diolah dan diurug dalam suatu lokasi yang sesuai. Permasalahan yang timbul adalah bahwa sarana ini merupakan sesuatu yang dijauhi oleh masyarakat sehingga persyaratan teknis untuk penempatan sarana ini perlu didampingi oleh persyaratan non teknis. Apalagi bila yang akan diurug adalah jenis limbah yang berbahaya. Persyaratan non teknis yang utama ialah kecocokan sarana tersebut dalam lingkungan sosial budaya masyarakat di sekitarnya. Lebih luas lagi, kecocokan lokasi ini dipengaruhi oleh kebijaksanaan daerah yang dalam bentuk formal dinyatakan dalam rencana tata ruang. Dalam rencana tersebut biasanya sudah dinyatakan rencana penggunaan lahan.

Secara ideal, pertimbangan utama dalam pemilihan lokasi sebuah landfill adalah didasarkan atas berbagai aspek, terutama:

  • Kesehatan masyarakat,
  • Lingkungan hidup,
  • Biaya, dan
  • Sosio-ekonomi

disamping aspek-aspek lain yang sangat penting, seperti aspek politis dan legal yang berlaku disuatu daerah atau negara.

Aspek kesehatan masyarakat berkaitan langsung dengan manusia, terutama kenaikan mortalitas (kematian), morbiditas (penyakit), serta kecelakaan karena operasi sarana tersebut. Aspek lingkungan hidup terutama berkaitan dengan pengaruhnya terhadap ekosistem akibat pengoperasian sarana tersebut, termasuk akibat transportasi dan sebagainya. Aspek biaya berhubungan dengan biaya spesifik antara satu lokasi dengan lokasi yang lain, terutama dengan adanya biaya ekstra pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan. Aspek sosio-ekonomi berhubungan dengan dampak sosial dan ekonomi terhadap penduduk sekitar lahan yang dipilih. Walaupun dua lokasi yang berbeda mempunyai pengaruh yang sama dilihat dari aspek sebelumnya, namun reaksi masyarakat setempat dengan dibangunnya sarana tersebut bisa berbeda.

Pertimbangan utama yang harus selalu dimasukkan dalam penentuan loaksi site adalah [EPA 530-R-95-023]:

  • Mempertimbangkan penerimaan masyarakat yang akan terkena dampak
  • Konsisten dengan land-use planning di daerah tersebut
  • Mudah dicapai dari jalan utama
  • Mempunyai tanah penutup yang mencukupi
  • Berada pada daerah yang tidak akan terganggu dengan dioperasikan landfill tersebut
  • Mempunyai kapasitas tampung yang cukup besar, biasanya 10 sampai 30 tahun
  • Tidak memberatkan dalam pendanaan pada saat pengembangan, pengoperasian, penutupan, pemeliharaan setelah ditutup, dan bahkan biaya yang terkait dengan upaya remediasi.
  • Rencana pengoperasian hendaknya terkait dengan upaya kegiatan lain yang sangat dianjurkan, yaitu kegfiatan daur-ulang.

Suatu metodologi yang baik tentunya diharapkan bisa memilih lahan yang paling menguntungkan dengan kerugian yang sekecil- kecilnya. Dengan demikian metodologi tersebut akan memberikan hasil pemilihan lokasi yang terbaik, dengan pengertian:

  • Lahan terpilih hendaknya mempunyai nilai tertinggi ditinjau dari berbagai aspek
  • Metode pemilihan tersebut dapat menunjukkan secara jelas alasan pemilihan.

Proses pemilihan lokasi lahan-urug idealnya hendaknya melalui suatu tahapan penyaringan. Dalam setiap tahap, lokasi-lokasi yang dipertimbangkan akan dipilih dan disaring. Pada setiap tingkat, beberapa lokasi dinyatakan gugur, berdasarkan kriteria yang digunakan di tingkat tersebut. Penyisihan tersebut akan memberikan beberapa calon lokasi yang paling layak dan baik untuk diputuskan pada tingkat final oleh pengambil keputusan. Di negara industri, penyaringan tersebut paling tidak terdiri dari tiga tingkat tahapan, yaitu:

  • penyaringan awal,
  • penyaringan individu, dan
  • penyaringan final.

Penyaringan awal biasanya bersifat regional biasanya dikaitkan dengan tata guna dan peruntukan yang telah digariskan di daerah tersebut. Secara regional, daerah tersebut diharapkan dapat mendefinisikan secara jelas lokasi-lokasi mana saja yang dianggap tidak/kurang layak untuk lokasi pengurugan limbah. Pada taraf ini parameter yang digunakan hanya sedikit.

Tahap kedua dari tahap penyisihan ini adalah penentuan lokasi secara individu, kemudian dilakukan evaluasi dari tiap individu. Pada tahap ini tercakup kajian-kajian yang lebih mend alam, sehingga lokasi yang tersisa akan menjadi sedikit. Parameter beserta kriteria yang diterapkan akan menjadi lebih spesifik dan lengkap. Lokasi-lokasi tersebut kemudian dibandingkan satu dengan yang lain, misalnya melalui pembobotan.

Tahap terakhir adalah tahap penentuan. Penyaringan final ini diawali dengan pematangan aspek-aspek teknis yang telah digunakan di atas, khususnya yang terkait dengan aspek sosio-ekonomi masyarakat dimana lokasi calon berada. Tahap ini kemudian diakhiri dengan aspek penentu, yaitu oleh pengambil keputusan suatu daerah. Aspek ini bersifat politis, karena kebija- ka n pemerintah daerah/pusat akan memegang peranan penting. Kadangkala pemilihan akhir ini dapat mengalahkan aspek teknis yang telah disiapkan sebelumnya. 

2.  BEBERAPA PARAMETER PENENTU

Beberapa alasan mengapa sebuah parameter serta kriterianya penting untuk dipertimbangkan dalam pemilihan sebuah calon lokasi akan diuraikan di bawah ini. Biasanya parameter yang digunakan dalam pemilihan awal dapat digunakan lagi pada pemilihan tingkat berikutnya dengan derajad akurasi data yang lebih baik. Jumlah parameter pemilihan awal yang digunakan umumnya lebih sedikit, dan dipilih yang paling dominan dalam menimbulkan dampak. Parameter-parameter tersebut biasanya sudah terdata ( data skunder) dengan baik, dan langsung dapat dimanfaatkan sehingga dapat disebut sebagai parameter penyisih.

Beberapa parameter penyaring awal yang sering digunakan adalah: Geologi

  • Hidrogeologi
  • Hidrologi
  • Topografi
  • Ketersediaan tanah
  • Tataguna lahan
  • Kondisi banjir
  • Aspek-aspek penting yang lain 

Geologi:

Fasilitas landfilling tidak dibenarkan berlokasi di atas suatu daerah yang mempunyai sifat geologi yang dapat merusak keutuhan sarana tersebut nanti. Daerah yang dianggap tidak layak adalah daerah dengan formasi batu pasir, batu gamping atau dolomit berongga dan batuan berkekar lainnya. Daerah geologi lainnya yang penting untuk dievaluasi adalah potensi gempa, zone volkanik yang aktif serta daerah longsoran.

Lokasi dengan kondisi lapisan tanah di atas batuan yang cukup keras sangat diinginkan. Biasanya batu lempung atau batuan kompak lainnya dinilai layak untuk lokasi landfill. Namun jika posisi lapisan batuan berada dekat dengan permukaan, operasi pengurugan/penimbunan limbah akan terbatas dan akan mengurangi kapasitas lahan tersedia. Disamping itu, jika ada batuan keras yang retak/patah atau permeabel, kondisi ini akan meningkatkan potensi penyebaran lindi ke luar daerah tersebut. Lahan dengan lapisan batuan keras yang jauh dari permukaan akan mempunyai nilai lebih tinggi.

Hidrogeologi:

Hidrogeologi adalah parameter kritis dalam penilaian sebuah lahan dan merupakan komponen penyaring yang paling pent ing, terutama untuk mengevaluasi potensi pencemaran air tanah di bawah lokasi sarana, dan potensi pencemaran air pada akuifer di sekitarnya. Sistem aliran air tanah akan menentukan berapa hal, seperti arah dan kecepatan aliran lindi, lapisan air tanah yang akan dipengaruhi dan titik munculnya kembali air tersebut di permukaan. Sistem aliran air tanah peluahan (discharge) lebih diinginkan dibandingkan yang bersifat pengisian (recharge). Lokasi yang potensial untuk dipilih adalah daerah yang dikontrol oleh sistem aliran air tanah lokal dengan kemiringan hidrolis kecil dan kelulusan tanah yang rendah.

Lahan dengan akuitard, yaitu formasi geologi yang membatasi pergerakan air tanah, pada umumnya dinilai lebih tinggi dari pada lokasi tanpa akuitard, karena formasi ini menyediakan per­lindungan alami guna mencegah tersebarnya lindi. Tanah dengan konduktivitas hidrolis yang rendah (impermeabel) sangat diinginkan supaya pergerakan lindi dibatasi. Pada umumnya lahan yang mempunyai dasar tanah debu (silt) dan liat (clay) akan mempunyai nilai tinggi, sebab jenis tanah seperti ini memberikan perlindungan pada air tanah. Lahan dengan tanah pasir dan krikil memerlukan masukan teknologi yang khusus untuk dapat melindungi air tanah sehingga akan dinilai lebih rendah.

Hidrologi:

Fasilitas pengurugan limbah tidak diinginkan berada pada suatu lokasi dengan jarak antara dasar sampai lapisan air tanah tertinggi kurang dari 3 meter, kecuali jika ada pengontrolan hidrolis dari air tanah tersebut. Permukaan air yang dangkal lebih mudah dicemari lindi. Disamping itu, lokasi sarana tidak boleh terletak di daerah dengan sumur-sumur dangkal yang mempunyai lapisan kedap air yang tipis atau pada batu gamping yang berongga.

Lahan yang berdekatan dengan badan air akan lebih berpotensi untuk mencemarinya, baik melalui aliran permukaan maupun melalui air tanah. Lahan yang berlokasi jauh dari badan air akan memperoleh nilai yang lebih tinggi dari pada lahan yang berdekatan dengan badan air.

Iklim setempat hendaknya mendapat perhatian juga. Makin banyak hujan, makin besar pula kemungkinan lindi yang dihasilkan, disamping makin sulit pula pegoperasian lahan. Oleh karenanya, daerah dengan intensitas hujan yang lebih tinggi akan mendapat penilaian yang lebih rendah dari pada daerah dengan intensitas hujan yang lebih rendah.

Topografi:

Tempat pengurugan limbah tidak boleh terletak pada suatu bukit dengan lereng yang tidak stabil. Suatu daerah dinilai lebih bila terletak di daerah landai agak tinggi. Sebaliknya, suatu daerah dinilai tidak layak bila terletak pada daerah depresi yang berair, lembah-lembah yang rendah dan tempat-tempat lain yang berdekatan dengan air permukaan dengan kemiringan alami > 20 %.

Topografi dapat menunjang secara positif maupun negatif pada pembangunan saranan ini. Lokasi yang tersembunyi di belakang bukit atau di lembah mempunyai dampak visual yang menguntungkan karena tersembunyi. Namun suatu lokasi di tempat yang berbukit mungkin lebih sulit untuk dicapai karena adanya lereng-lereng yang curam dan mahalnya pembangunan jalan pada daerah berbukit. Nilai tertinggi mungkin dapat diberikan kepada lokasi dengan relief yang cukup untuk mengisolir atau menghalangi pemandangan dan memberi perlindungan terhadap angin dan sekaligus mempunyai jalur yang mudah untuk aktivitas operasional.

Topografi dapat juga mempengaruhi biaya bila dikaitkan dengan kapasitas tampung. Suatu lahan yang cekung dan dapat dimanfaatkan secara langsung akan lebih disukai. Ini disebabkan volume lahan untuk pengurugan limbah sudah tersedia tanpa harus mengeluarkan biaya operasi untuk penggalian yang mahal. Pada dasarnya, masa layan 5 sampai 10 tahun atau lebih sangat diharapkan.

Ketersediaan Tanah:

Tanah dibutuhkan baik dalam tahap pembangunan maupun dalam tahap operasi sebagai lapisan dasar (liner), lapisan atas, penutup antara dan harian atau untuk tanggul-tanggul dan jalan-jalan dengan jenis tanah yang berbeda. Beberapa kegiatan memerlukan tanah jenis silt atau clay, misalnya untuk liner dan penutup final, sedangkan aktifitas lainnya memerlukan tanah yang permeabel seperti pasir dan krikil, misalnya untuk ventilasi gas dan sistem pengumpul lindi. Juga dibutuhkan tanah yang cocok untuk pembangunan jalan atau tanah top soil untuk vegetasi.

Tata guna tanah:

Landfilling yang menerima limbah organik, dapat menarik kehadiran burung sehingga tidak boleh diletakkan dalam jarak 300 meter dari landasan lapangan terbang yang digunakan oleh penerbangan turbo jet atau dalam jarak 1500 meter dari landasan lapangan terbang yang digunakan oleh penerbangan jenis piston.

Disamping itu, lokasi tersebut tidak boleh terletak di dalam wilayah yang diperuntukkan bagi daerah lindung perikanan, satwa liar dan pelestarian tanaman. Jenis penggunaan tanah lainnya yang biasanya dipertimbangkan kurang cocok adalah konservasi lokal dan daerah kehutanan. Lokasi sumber-sumber arkeologi dan sejarah merupakan daerah yang juga harus dihindari.

Daerah banjir:

Sarana yang terletak di daerah banjir harus tidak membatasi aliran banjir serta tidak mengurangi kapasitas penyimpanan air sementara dari daerah banjir, atau menyebabkan terbilasnya limbah tersebut sehingga menimbulkan bahaya terhadap kehidupan manusia, satwa liar, tanah atau sumber air yang terletak berbatasan dengan lokasi tersebut. Suatu sarana yang berlokasi pada daerah banjir memerlukan perlindungan yang lebih kuat dan lebih baik. Diperlukan pemilihan periode ulang banjir yang sesuai dengan jenis limbah yang akan diurug.

Aspek penentu lain:

Semua lokasi lahan-urug dapat mempengaruhi lingkungan biologis. Penilaian untuk kategori ini didasarkan pada tingkat gangguan dan kekhususan dari sumberdaya yang ada. Bila sejenis habitat kurang berlimpah di lokasi tersebut, maka lokasi tesebut dinilai lebih rendah. Lokasi yang menunjang kehidupan jenis-jenis tanaman atau binatang yang langka akan dinilai lebih tinggi. Jalur perpindahan mahluk hidup yang penting, seperti sungai yang digunakan untuk ikan, adalah sumber daya yang berharga. Lahan yang berlokasi di sekitar jalur tersebut harus dinilai lebih rendah dari pada lokasi yang tidak terletak di sekitar jalur tersebut.

Penerimaan masyarakat sekitar atas sarana ini merupakan tantangan yang harus dieselesaikan di awal sebelum sarana ini dioperasikan. Penduduk pada umumnya tidak bisa menerima suatu lokasi pembuangan limbah berdekatan dengan rumahnya atau lingkungannya. Oleh karenanya, kriteria penggunaan lahan hendaknya disusun untuk mengurangi kemungkinan pembangunan sarana ini di daerah yang mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi, atau daerah-daerah yang digunakan oleh masyarakat banyak. Lahan dengan pemilik tanah yang lebih sedikit, akan lebih disukai dari pada lahan dengan pemilik banyak.

Tersedianya jalan akses pada lokasi sarana ini akan menguntungkan bagi operasional pengangkutan limbah ke lokasi. Lahan yang berlokasi di sekitar jalan yang dapat ditingkatkan pelayanannya karena adanya operasi lahan-urug tanpa modifikasi sistem jalan yang terlalu banyak, akan lebih disukai. Modifikasi pada sistem jalan yang sudah ada, terutama pembangunan jalan baru atau perbaikan yang terlalu banyak, akan meningkatkan biaya pembangunan sarana tersebut. Namun tidak diinginkan bahwa lokasi tersebut terletak di jalan utama yang melewati daerah perumahan, sekolah dan rumah sakit. Sarana yang berlokasi lebih dekat ke pusat penghasil limbah mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada yang berlokasi lebih jauh. Makin dekat jarak lokasi ke sumber limbah, makin rendah biaya pengangkutannya. Utilitas seperti saluran air buangan, air minum, listrik dan sarana komunikasi diperlukan pada setiap lokasi pengurugan limbah.

Rancangan lahan-urug meliputi rencana tapak dan rencana perbaikan sistem dengan rekayasa yang digunakan untuk pengelolaan lindi, air permukaan, air tanah dan gas. Sistem pengelolaan dirancang untuk mengurangi dampak yang disebabkan oleh kehadiran atau ketidak hadiran bermacam-macam faktor. Dari sudut kriteria, yang perlu dipertimbangkan adalah faktor biaya operasional kelak. Pada umumnya, lahan yang memerlukan modifikasi rekayasa yang paling sedikit merupakan yang paling murah untuk pengembangannya, dan lebih disukai dari pada lahan yang memerlukan modifikasi banyak.

3.  PENILAIAN TPA DENGAN CARA SNI 19-3241-1994

Tahapan dalam proses pemilihan lokasi TPA adalah menentukan satu atau dua lokasi terbaik dari daftar lokasi yang dianggap potensial. Kriteria-kriteria yang telah dibahas di atas digunakan semaksimal mungkin guna proses penyaringan. Kegiatan pada penyaringan secara rinci tentu akan membutuhkan waktu dan biaya yang relatif besar dibanding kegiatan pada penyaringan awal, karena evaluasinya bersifat rinci dan dengan data yang akurat. Guna memudahkan evaluasi pemilihan sebuah lahan yang dianggap paling baik, digunakan sebuah tolak ukur untuk merangkum semua penilaian dari parameter yang digunakan. Biasanya hal ini dilakukan dengan cara pembobotan. Tata cara yang paling sederhana yang digunakan di Indonesia adalah melalui SNI 19-3241-1994 (sebelumnya: SNI T-11-1191-03, tidak ada perbedaan dengan versi 1994) yaitu tentang tata cara pemilihan lokasi TPA. Cara ini ditujukan agar daerah (kota kecil/sedang) dapat memilih site-nya sendiri secara mudah tanpa melibatkan tenaga ahli dari luar seperti konsultan. Data yang dibutuhkan hendaknya cukup akurat agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.

Prinsip yang digunakan adalah dengan menyajikan parameter-parameter yang dianggap dapat berpengaruh dalam aplikasi landfilling, seperti:

  • Parameter umum: batas administrasi, status kepemilikan tanah dan, kapasitas lahan, pola partisipasi masyarakat
  • Parameter fisika tanah: permeabilitas tanah, kedalaman akuifer, sistem aliran air tanah, pemanfaatan air tanah, ketersediaaan tanah penutup
  • Parameter fisik lingkungan fisik: bahaya banjir, intensiutas hujan, jalan akses, lokasi site, tata guna tanah, kondisi site, diversitas habitat, kebisingan dan bau, dan permasalahan estetika.

Masing-masing parameter ini ditentukan bobot skala penting-nya dengan besaran 3 sampai 5. Masing-masing parameter tersebut diuraikan lebih lanjut kriteria pembatasnya, dengan menggunakan penilaian antara 0– 10. 

Contoh Penilaian

Nilai tertinggi dari sistem penilaian ini adalah 790, sedang nilai yang terendah adalah 117. Dengan demikian, maka TPA X berada pada posisi 66,71% (= 566-117/790-117) terhadap nilai tertinggi, bila nilai terendah diposisikan sebagai 0% dan nilai tertinggi sebagai 100%.

Tabel Pembobotan Calon TPA dengan Metode SNI Kategori Umum

No.

Parameter

Bobot

Nilai

1

Batas Administrasi

5

– dalam batas administrasi

10

– di luar batas administrasi tetapi dalam satu system pengelolaan TPA sampah terpadu

5

– di luar batas administrasi dan di luar system pengelolaan TPA sampah terpadu

1

– di luar batas administrasi

1

2

Pemilik hak atas tanah

3

– pemerintah daerah/pusat

10

– pribadi (satu)

7

– swasta/perusahaan (satu)

5

– lebih dari satu pemilik hak dan atau status kepemilikan

3

– organisasi soaial/agama

1

3

Kapasitas lahan

5

– >10 tahun

10

– 5 tahun – 10 tahun

8

– 3 tahun – 5 tahun

5

– kurang dari 3 tahun

1

4

Jumlah pemilik tanah

3

– satu kk

10

– 2 – 3 kk

7

– 4 – 5 kk

5

– 6 – 10 kk

3

– lebih dari 10 kk

1

5

Partisipasi masyarakat

3

– spontan

10

– digerakkan

5

– negosiasi

1

Tabel Pembobotan Calon TPA dengan Metode SNI Kategori Lingkungan Fisik

1

Tanah (di atas muka air tanah)

5

– harga kelulusan <10-9 cm/det

10

– harga kelulusan 10-9 cm/det – 10-6 cm/det

7

– harga kelulusan >10-9 cm/det

Tolak (kecuali ada masukan teknologi)

2

Air tanah

5

> 10 m dengan kelulusan < 10-6 cm/det

10

< 10 m dengan kelulusan < 10-6 cm/det

8

> 10 m dengan kelulusan 10-6 cm/det – 10-4 cm/det

3

< 10 m dengan kelulusan 10-6 cm/det – 10-4 cm/det

1

3

Sistem aliran air tanah

3

– discharge area/local

10

– recharge area dan discharge area local

5

– recharge area regional dan local

1

4

Kaitan dengan pemanfaatan air tanah

3

– kemungkinan pemanfaatan rendah dengan batas hidrolis

10

– diproyeksikan untuk dimanfaatkan dengan batas hidrolis

5

– diproyeksikan untuk dimanfaatkan tanpa batas hidrolis

1

5

Bahaya banjir

2

– tidak ada bahaya banjir

10

– kemungkinan banjir > 25 tahunan

5

– kemungkinan banjir < 25 tahunan

Tolak (kecuali ada masukan teknologi)

6

Tanah penutup

4

– tanah penutup cukup

10

– tanah penutup cukup sampai ½ umur pakai

5

– tanah penutup tidak ada

1

7

Intensitas hujan

3

– di bawah 500 mm per tahun

10

– antara 500 mm sampai 1000 mm per tahun

5

– di atas 100 mm per tahun

1

8

Jalan menuju lokasi

5

– datar dengan kondisi baik

10

– datar dengan kondisi buruk

5

– naik/turun

1

9

Transport sampah (satu jalan)

5

– kurang dari 15 menit dari centroid sampah

10

– antara 16 menit – 30 menit dari centroid sampah

8

– antara 31 menit – 60 menit dari centroid sampah

3

– lebih dari 60 menit dari centroid sampah

1

10

Jalan masuk

4

– truk sampah tidak melalui daerah pemukiman

10

–  truk sampah melalui daerah pemukiman berkepadatan sedang (< 300 jiwa/ha)

5

–  truk sampah melalui daerah pemukiman berkepadatan tinggi (> 300 jiwa/ha)

1

11

Lalu lintas

3

– terletak 500 m dari jalan umum

10

– terletak < 500 m pada lalu lintas rendah

8

– terletak < 500 m pada lalu lintas sedang

3

– terletak pada lalu lintas tinggi

1

12

Tata guna tanah

5

– mempunyai dampak sedikit terhadap tata guna tanah sekitar

10

– mempunyai dampak sedang terhadap tata guna tanah sekitar

5

– mempunyai dampak besar terhadap tata guna tanah sekitar

1

13

Pertanian

3

– berlokasi di lahan tidak produktif

10

– tidak ada dampak terhadap pertanian sekitar

5

– terhadap pengaruh negatif terhadap pertanian sekitar

1

– berlokasi di tanah pertanian produktif

1

14

Daerah lindung/cagar alam

2

– tidak ada daerah lindung/cagar alam di sekitarnya

10

–  terdapat daerah lindung/cagar alam di sekitarnya yang tidak terkena dampak negatif

1

– terdapat daerah lindung/cagar alam di sekitarnya yang terkena dampak negatif

1

15

Biologis

3

– nilai habitat yang rendah

10

– nilai habitat yang tinggi

5

– habitat kritis

1

16

Kebisingan dan bau

2

– terdapat zona penyangga

10

– terdapat zona penyangga yang terbatas

5

– tidak terdapat penyangga

1

17

Estetika

3

– operasi penimbunan tidak terlihat dari luar

10

– operasi penimbunan sedikit terlihat dari luar

5

– operasi penimbunan terlihat dari luar

1

Tabel Nilai evaluasi TPA X dengan SNI 19-3241-1994 Kategori Umum

No.

Parameter

Bobot

Nilai

Score

1

Batas Administrasi

5

– dalam batas administrasi

10

50

2

Pemilik hak atas tanah

3

– pemerintah daerah/pusat

10

30

3

Kapasitas lahan

5

– >10 tahun

10

50

4

Jumlah pemilik tanah

3

– lebih dari 10 kk

1

3

5

Partisipasi masyarakat

3

– digerakkan

5

15

Tabel Nilai evaluasi TPA X dengan SNI 19-3241-1994 Kategori Lingkungan Fisik

1

Tanah (di atas muka air tanah)

5

Score

– harga kelulusan 10-9 cm/det – 10-6 cm/det

7

35

2

Air tanah

5

< 10 m dengan kelulusan < 10-6 cm/det

8

40

3

Sistem aliran air tanah

3

– discharge area/local

10

30

4

Kaitan dengan pemanfaatan air tanah

3

– diproyeksikan untuk dimanfaatkan dengan batas hidrolis

5

15

5

Bahaya banjir

2

– kemungkinan banjir > 25 tahunan

5

10

6

Tanah penutup

4

– tanah penutup cukup

10

40

7

Intensitas hujan

3

– di atas 100 mm per tahun

1

3

8

Jalan menuju lokasi

5

– naik/turun

1

5

9

Transport sampah (satu jalan)

5

– antara 31 menit – 60 menit dari centroid sampah

3

15

10

Jalan masuk

4

– truk sampah tidak melalui daerah pemukiman

10

40

11

Lalu lintas

3

– terletak 500 m dari jalan umum

10

30

12

Tata guna tanah

5

– mempunyai dampak sedikit terhadap tata guna tanah sekitar

10

50

13

Pertanian

3

– tidak ada dampak terhadap pertanian sekitar

5

15

14

Daerah lindung/cagar alam

2

– tidak ada daerah lindung/cagar alam di sekitarnya

10

20

15

Biologis

3

– nilai habitat yang rendah

10

30

16

Kebisingan dan bau

2

– terdapat zona penyangga yang terbatas

5

10

17

Estetika

3

– operasi penimbunan tidak terlihat dari luar

10

30

Sumber:
Enri Damanhuri
Diktat Landfilling Limbah – 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s