Teknis Konstruksi Sistem Pengelolaan Persampahan

Sampah didefinisikan sebagai limbah yang bersifat padat terdiri atas zat organik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. Besarnya penduduk dan keragaman aktivitas di kota-kota metropolitan di Indonesia seperti Jakarta mengakibatkan munculnya persoalan umum dalam pelayanan prasarana perkotaan, seperti masalah persampahan saat ini. Diperkirakan hanya sekitar 60 % sampah kota-kota besar di Indonesia yang dapat terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang operasi utamnya sebesar 80.235,87 ton setiap hari, penanganan sampah yang diangkut  dan dibuang ke TPA adalah sebesar 4,2 % yang dibakar sebesar 37,6 % ,yang dibuang ke sungai 4,9 % dan tidak tertangani sebesar 53,3 %.

Sampai saat ini paradigma pengelolaan persampahan yang digunakan di Indonesia adalah : KUMPUL – ANGKUT – BUANG, dan andalan utama sebuah kota dalam menyelesaikan masalah sampahnya adalah pemusnahan dengan landfill pada sebuah TPA. Pengelola kota cenderung kurang memberikan perhatian serius pada konstruksi TPA, sehingga muncul kasus TPA bantar Gebang di Bekasi, TPA Keputih di Surabaya dan TPA Leuwi Gajah di Cimahi dan mungkin beberapa kasus TPA lainnya di Indonesia yang tidak terekspos oleh media masa. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? , pertanyaan klise yang setiap saat terlontarkan akibat implementasi perencanaan di lapangan tidak diikuti oleh pihak pengelola atau pelaksana.

Pengelola kota tampaknya beranggapan bahwa TPA yang dipunyainya dapat menyelesaikan persoalan sampah, tanpa harus memberikan perhatian yang proporsional terhadap sarana tersebut.

Penyingkiran dan pemusnahan sampah atau limbah padat lainnya ke dalam tanah merupakan cara yang selelu digunakan, karena alternative pengolahan lain belum dapat menuntaskan permasalahan yang ada. Cara ini mempunyai banyak resiko, terutama akibat kemungkinan pencemaran air tanah.

Sampah yang dibuang ke lingkungan akan menimbulkan masalah bagi kehidupan dan kesehatan lingkungan, terutama kehidupan  manusia. Masalah tersebut dewasa ini menjadi isu yang hangat dan banyak disoroti karena memerlukan penanganan serius. Beberapa permasalahan yang berkaitan dengan keberadaan sampah diantaranya adalah sebagai berikut

  • Masalah estetika(keindahan) dan kenyamanan yang merupakan gangguan bagi pendangan mata
  • Sampah yang terdiri atas berbagai bahan organic dan organik apabila telah terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar, merupakan sarang atau tempat berkumpulnya berbagai binatang yang dapat menjadi vektor penyakit
  • Sampah yang berbentuk debu atau bahan membusuk dapat mencemari udara.Bau yang timbul akibat adanya dekomposisi materi organik dan debu yang beterbangan akan mengganggu saluran pernafasan, serta penyakit lainnya.
  • Timbulan lindi(leachate) sebagai efek dekomposisi biologis dari sampah memiliki potensi yang besar dalam mencemari badan air sekelilingnya, terutama air tanah di bawahnya.
  • Sampah yang kering akan mudah beterbangan dan mudah terbakar
  • Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran-saluran air buangan dan drainase, kondisi seperti ini dapat menimbulkan bahaya banjir alibat terhambatnya pengaliran air buangan dan air hujan
  • Beberapa siifat dasar dari sampah, seperti kemampuan termampatan yang terbatas, keanekaragaman komposisi, waktu untuk terdekomposisi sempurna yang cukup lama dan sebagainya dapat menimbulkan beberapa kesulitan dalam pengelolaannya.
  • Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kurangnya lkemauan dari Pemerintah Daerah, kurangnya kesadaran penghasil sampah akan pentingnya penanganan sampah yang baik merupakan masalah tersendiri dalam pengelolaan sampah, khususnya di kota-kota besar.

Peningkatan jumlah penduduk yang demikian pesat di daerah perkotaan(urban) telah meningkatkan jumlah timbulan sampah. Dari studi evaluasi yang telah dilaksanakan di kota-kota di Indonesia, dapat di identifikasi masalah-masalah pokok dalam pengelolaan persampahan kota, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Bertambah kompleksnya masalah persampahan sebagai konsekuensi logis dari pertambahan penduduk kota
  • Peningkatan kepadatan penduduk menuntut pula peningkatan metode/pola pengelolaan sampah yang lebih baik
  • Keheterogenan tingkat sosial budaya penduduk kota menambah kompleksnya permasalahan
  • Situasi dana serta prioritas penanganan relatif rendah dari pemerintah daerah merupakan masalah umum skala nasioanl
  • Pergeseran teknik penanganan makanan, misalnya menuju ke pengemas yang tidak dapat terurai seperti plastik
  • Keterbatasan sumber daya manusia yang sesuai yang tersedia di daerah untuk menangani masalah sampah
  • Pengembangan peranganan peralatan persampahan yang bergerak sangat lambat
  • Partisipasi masyarakat yang pada umumnya masih kurang terarah dan terorganisasi secara baik
  • Konsep pengelolaan persampahan yang kadangkala tidak cocok untuk diterapkan, serta kurang terbukanya kemungkinan modifikasi konsep tersebut di lapangan

Permasalahan yang dihadapi dalam teknis operasional di lapangan dalam pengelolaan persampahan kota di antaranya :

  • Kapasitas peralatan yang belum memadai
  • Pemeliharaan alat yang kurang
  • Sulitnya pembinaan tenaga pelaksana khususnya tenaga harian lepas
  • Sulit memilih metode operasional yang sesuai dengan kondisi daerah
  • Siklus operasi persampahan tidak lengkap/terputus karena berbedanya penanggungjawab
  • Tidak diterapkan perencanaan secara benar
  • Koordinasi sektoral antar birokrasi pemerintah seringkali lemah
  • Manajemen operasional lebih di titikberatkan pada aspek pelaksanaan, sedangkan aspek pengendalian lemah
  • Perencanaan operasional seringkali hanya untuk jangka pendek

Kondisi pada perkotaan yang diuraikan tersebut diatas relatif berbeda dengan kondisi di perdesaan yang umumnya tidak menghadapi permasalahan dalam penanganan persampahan. Ketersediaan lahan di perdesaan masih cukup luas mempermudah masyarakat desa mengelola sendiri persampahan yang ditimbulkannya. Uraian ditas merupakan kondisi saat ini yang tidak bisa dilepaskan dari perencanaan dan konstruksi yang benar, pelaksanaan dan pengawasan penanganan sampah yang telah dilakukan oleh pemerintah pada masa lalu.

1.  ASPEK KEBIJAKAN.

1.1.  Peraturan Perundangan .

Secara umum beberapa perundang-undangan dan peraturan yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan persampahan nasional maupun regional adalahj sebagai berikut :

  • Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
  • Undang-Undang No.18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah
  • Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah
  • Undang-Undang No.25 Tahun 1999 Tentang Primbangan Keunagan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Peraturan Pemerintah No.66 Tahun 2001 Tentang Retribusi  Daerah
  • Peraturan Pemerintah No.16 tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air minum
  • Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampah Lingkungan (AMDAL)
  • Peraturan Menteri PU No.69/PRT/1995 Tentang Pedoman Teknis Mengenai Dampak Lingkungan Proyek Bidang Pekerjaan Umum
  • Keputusan Menteri PU No.296/1996 Tentang Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Dep.PU
  • Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.KEP-02/MENKLH/1998 Tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan
  • Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.377/1996 Tentang Petunjuk tata Laksana UKL dan UPL Proyek Bidang PU
  • Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.KEP-12/MENLH/3/1994 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan.
  • Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.296/1996 Tentang Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum
  • Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.KEP-3/MENLH/2000 Tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan analisis Mengenai Dampak Lingkungan

Disamping perundang-undangan, peraturan dan kebijakan diatas maka pengelolaan persampahan secara operasional harus mengacu pada standarisasi yang sudah ada seperti :

  • SK-SNI 19-2454-1991 dan SK-SNI 19-3242-1994 tentang Cara Pengelolaan Sampah Perkotaan
  • SNI S 19-3964-1995 dan SNI M 19-3964-1995 Tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan
  • SK SNI 91 dan SNI 19-3241-1994 tentang Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah.

1.2.  Millenium Development Goals (MDGs)

      Indonesia adalah salah satu negara yang menandatangani Deklarasi Millenium dan karenanya sepakat untuk mengikatkan diri mencapai MDG di tahun 2015, secara prinsip, Indonesia telah mengakui nilai-nilai luhur yang terkandung dalam MDG, yaitu pemenuhan hak-hak dasar manusia, sejak kemerdekaannya.Pembukaan UUD 1945, walaupun dengan redaksional yang berbeda jelas memuat nilai-nilai tersebut dalam empat alineanya.Program-program pembangunan yang telah dilaksanakan selama puluhan tahunpun pada hakikatnya mengacu pada upaya pembangunan manusia

MDG merupakan seruan pengngat(wake up call) bagi semua negara, khususnya negara-negara yang masih harus berjuang keras untuk mencapai pembangunan manusia yang lebih baik, dengan 18 sasaran dan 48 indikator yang jelas dan terukur, MDG menyederhanakan, mengeksplisitkan dan mengkonkritkan bentuk-bentuk program pembangunan. Dengan demikian, pembangunan dapat dan harus dilaksanakan dengan lebih terfokus.

Indonesia bertekad untuk memegang komitmen mencapai MDG, hal ini dibuktikan dengan penetapan prioritas kerja Kabinet untuk mengurangi kemiskinan.Konsekwensinya segala perhatian dan sumbernya harus dikerahkan untuk penyediaan pelayanan dasar bagi masyarakat miskin. Akses pada pelayanan dasar, seperti sumber-sumber keuangan, fasilitas pendidikan, kesehatan dan lingkungan permukiman yang baik, vital untuk mengangkat derajat kemanusiaan, sehingga penyediaannya tidak dapat ditunda-tunda lagi.

MDG mencakup 8 goals yang dijabarkan lebih lanjut dalam 18 target, setiap target dilengkapi dengan indikator pencapaian yang secara keseluruhan mencalup 48 indikator.

Kesepakatan dalam MDG dinyatakan dalam pernyataan ”BY THE YEAR 2015, ALL 191 UNITED NATIONS MEMBERS STATES HAVE PLEDGED TO MEET THESE GOALS”:

  1. Eradicated extreme poverty and hunger
  2. Achieve universal primary education
  3. Promote gender equality and empower women
  4. Reduce child mortality
  5. Improve maternal health
  6. Combat HIV/AIDS, malaria and other deseases
  7. Ensure environmental sustainability ( Menjamin Keberlanjutan Lingkungan)
  8. Develop a Global partnership for development

Dalam kaitannya dengan goal tersebut diatas, pengelolaan air minum dan sanitasi merupakan bagian dari goal ke 7 yang didalamnya terdapat 3 target yaitu :

  1. Target 9 : Integrated the principles of sustainability development into country policies and programs and reverse the loss of environmental resources
  2. Target 10 :  Halve by 2015 the proportion of people without sustainable acces to safe drinking water and basic sanitation
  3. Target 11 : By the 2020, to have achieved a significant improvement in the lives of slum dwellers.

Sektor persampahan dalam kenyataanya belum secara eksplisit dinyatakan dalam kesepakatan MDG 2015, hanya sektor air minum , air limbah yang secara tegas disebut baik sektor, target maupun indikator. Namun demikian, telah disusun suatu Rencana Aksi Nasional (National Action Plan) yang telah merumuskan indikator pengelolaan persampahan di Indonesia dan target pencapaian MDG tahun 2015 .

Beberapa literatur mengenai advancing the MDG menguraikan tentang konstribusi air minum dan sanitasi dalam pencapaian goal ke 7 , menyatakan bahwa air minum dan sanitasi sangat berperan dalam memberi kontribusi sebagai berikut :

Pengolahan pembuangan air limbah yang baik akan memberikan dampak positif bagi tercapainya :

  • Pelestarian ekosistem yang lebih baik
  • Berkurangnya tekanan terhadap sumberdaya air

Pemanfaatn sumber air yang bertanggung jawab akan berdampak pada :

  • Pencegahan kontaminasi air tanah
  • Membantu meminimalkan biaya pengolahan air.

Penanganan sampah dalam hal ini memiliki kontribusi yang selaras dengan pengelolaan air minum dan air limbah dalam kaitan dengan MDG, sehingga secara logis penanganan persampahan merupakan bagian yang setara dengan air limbah.

2.  PERSYARATAN.

2.1.  Umum.

      Persyaratan umum dalam pengelolaan persampahan dalam kaitannya dengan yang telah diuraikan diatas meliputi :

Hukum;

Ketentuan perundang-undangan mengenai pengelolaan lingkungan hidup, analisis mengenai dampak lingkungan, ketertiban umum, kebersihan kota/lingkungan, pembentukan instituasi/organisasi/retribusi dan perencanaan tata ruang kota serta peraturan-peraturan pelaksanaannya.

  Kelembagaan ;

Pengelola di permukiman harus berfokus pada peningkatan kinerja institusi pengelola sampah dan perkuatan fungsi dan operator. Sasaran yang harus dicapai adalah sistem dan institusi yang mampu sepenuhnya mengelola dan melayani persampahan di lingkungan dengan mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan dan retribusi/iuran serta semaksimal mungkin melaksanakan konsep 3 R di sumber

  Teknik Operasional;

Menerapkan sistem penanganan sampah setempat dengan :

  • Menerapkan pemilahan sampah setempat dan non organik
  • Menerapkan teknik 3 R di sumber dan TPS
  • Penanganan residu oleh pengelola sampah kota

 

Pembiayaan.

Memperhatikan peningkatan kapasitas pembiayaan untuk menjamin pelayanan dengan pemulihan biaya secara bertahap supaya sistem dan institusi, serta masyarakat dan dunia usaha punya kapasitas cukup untuk memastikan keberlanjutan dan kualitas lingkungan untuk warga

 

Aspek peran serta masyarakat :

  • Melakukan pemilahan di sumber
  • Melakukan pengolahan sampah dengan konsep 3 R skala rumah tangga
  • Berkewajiaban membayar iuran retribusi sampah
  • Mematuhi aturan pembuangan sampah yang ditetapkan
  • Turut menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya
  • Berperan aktif dalam sosialisasi pengelolaan sampah lingkungan.

 

Aspek Peran Serta Developer/Swasta ;

  • Penyediaan lahan untuk pembangunan pengolah sampah organik berupa pengomposan rumah tangga dan daur ulang skala lingkungan serta TPS
  • Penyediaan peralatan pengumpulan sampah
  • Pengelolaan sampah selama masa konstruksi sampai dengan diserahkan ke pihak yang berwenang
  • Bagi developer yang membangun minimum 80 rumah harus menyediakan wadah komunal dan alat pengumpul

3.  Teknis.

3.1.  Data Perencanaan :

  • Peta penyebaran rumah
  • Luas daerah yang dikelola
  • Jumlah penduduk berdasarkan klasifikasi pendapatan tinggi, menengah dan rendah
  • Jumlah rumah berdasarkan tipe
  • Besaran timbulan sampah per hari
  • Jumlah bangunan fasulitas umum
  • Kondisi jalan(panjang,lebar dan konsisi fisik)
  • Kondisi topografi dan lingkungan
  • Ketersediaan lahan untuk lokasi TPS dan daur ulang sampah skala lingkungan dan pengomposan rumah tangga.

3.2.  Jumlah Sampah yang Akan Dikelola berdasarkan :

  • Jumlah penduduk
  • Sumber sampah yang ada di lingkungan permukiman (Toko, pasar, sekolah, rumah sakit, taman dsb.)
  • Besaran timbulan sampah untuk masing-masing sumber sampah

3.3.  Klasifikasi Pengelolaan, tipe bangunan dan TPS.

Klasifikasi pengelolaan :

  • 1 RT dgn jumlah penduduk 150-250 jiwa (30-50 rumah)
  • 1 RW : 2000 jiwa ( 400 rumah)
  • 1 Kelurahan ; 30.000 jiwa ( 6000 rumah)
  • 1 Kecamatan : 120.000 jiwa ( 24.000 rumah)

Klasifikasi tipe bangunan sebagai berikut :

  • Tipe rumah (mewah,sedang dan sederhana)
  • Sarana Umum/sosial
  • Bangunan komersial

Klasifikasi TPS :

  • TPS tipe I dengan luas lahan 10 – 50 m2 ( Ruang pemilahan, gudang,tmpt pemindahan sampah dgn landasan kontainer)
  • TPS tipe II dengan luas 60-200 m2
  • TPS tipe III dengan luas lahan > 200 m2

3.4.  Spesifikasi peralatan dan Bangunan.

Spesifikasi peralatan dan bangunan minimal yang dapat digunakan untuk pengelolaan sampah dapat dilihat dibawah ini :

  • Wadah komunal / individual, vol: 0,5-1,0 m3, KK; 40-50, jiwa ; 200-250 org, terbuat dari : kantong plastik, fiberglass, kotak kayu atau pasangan batu bata.
  • Komposter komunal/individual, vol; 0,5-1,0 m3, KK; 10-20, jiwa; 50-100 org, dapat berupa bin beroda yng digunakan harus baru dan kulitas utama dengan stndar baja minimum 42 yang terbuat dari fiberglass atau PVC atau HDPE berwarna dilengkapi dengan tulisan pada bagian depannya warna hitam
  • Gerobak sampah bersekat; vol;6 & 10 m3, KK ; 140, jiwa ;700 org, UT;2-3 thn, terbuat dari gerobak kayu dengan roda sepeda,roda mobil atau dapat juga terbuat dari rangka besi
  • Kontainer amrol truk; vol; 6 & 10 M3 ; KK; 825 & 1375, ; Jiwa;4125 & 6675 org, UT; 5 – 8 thn,
  • TPS tipe I, vol;100 m2, KK;500 , Jiwa; 2500 org, UT; 20 thn
  • TPS tipe II, vol;300 m3, KK; 6000, jiwa; 30.000 org, UT ;20 thn
  • TPS tipe III, vol; 1000 m3, KK ; 24000, Jiwa: 120000 org, UT ;20thn
  • Bangunan daur ulang skala lingkungan, vol; 150 m3, KK ; 600, jiwa ; 3000 org, UT ;20 thn

4.  Sistim Konstruksi.

4.1.  Konstrukasi Bin jalan 120 liter.

Sebelum melaksanakan pekerjaan, penyuplai harus menyerahkan gambar kerja lengkap dengan detail potongan.

Plat dasar bak harus dibuat dengan memakai ring setiap unit sesuai peraturan baut Indonesia. Potongan-potongan baja dikerjakan dengan pengelasan listrik sesuai peraturan Indonesia.

Bin jalan 120 liter tersebut dipasang pada pipa baja diameter 2” yang telah dilengkapi dengan plat penjepit untuk bin jalan tersebut agar dapat dipasang dan dilepas yang terbuat dari baja.

Semua baja harus sama sekali bebas dari karat, sisik, minyak, gemuk dan kotoran-kotoran lain sebelum cat digunakan.

Semua baja harus di cat dengan cat dasar sekali warna merah dewngan sikat kuas. Lapisan selanjutnya dua kali pengecatan warna kuning di kerjakan dengan semprot dengan kualitas cat yang utama. Semua teknis pengerjaan cat harus sesuai dengan petunjuk dari pabrik.Sebelum pengecatan dimulai pembeli akan memeriksa bin jalan tersebut.

Suatu daftar spesifikasi dari suku cadang untuk bin jalan 120 liter harus dilengkapi dengan harga satuan, rincian barang-barang yang tersedia dan beralokasi di Indonesia dimana barang-barang tersebut selalu ada persediaannya. Jaminan suku cadang selama satu tahun pengoperasian.

Contoh-contoh tempat pewadahan yang dapat ditemui di Indonesia diantaranya :

4.2.  Kantong plastik 40 liter.

penempatan :

Rumah tangga/Pasar/Kantor

Keuntungan :

Sehat, Mudah/praktis/cepat dalam operasi, dapat dipakai lebiih dari sekali.

Kelemahan  :

  • Pada kota yang masih banyak’Pemulung Sampah’ nya sering dibongkar kembali, juga oleh binatang.
  • Mengganggu proses dekomposisi sampah pada pembungan akhir
  • Menimbulkan dampak negatif dalam proses pengolahan

 

Bahan : Plastik.

Catatan : telah dipakai antara lain di kota Padang dan Bogor, pada prakteknya banyak memanfaatkan kantong plastik bekas dan bisa dipakai lebih dari sekali.

 

4.3.  Bin Plastik Tertutup Vol.40-60 liter .

     Penempatan : Pekarangan rumah tangga

Bahan/konstruksi : Plastik/Fiberglass

Keuntungan :

  • Bahan tidak mudah berkarat
  • Relatif ringan
  • Bersih dan Sehat
  • Estetika baik
  • Mudah/praktis/cepat dalam operasi

Kelemahan :

  • Tutup sering hilang
  • Tidak Tahan sinar matahari

Catatan : lebih praktis bila didalamnya dilapisi plastik

4.4.  Bin Plastik tertutup dengan Roda vol.120/240 lt.

Penempatan : Pertokoan, jalan-jalan

Bahan/Konstruksi : Plasrtik/fiberglass

Keuntungan :

  • Bahan tidak mudah berkarat
  • Sehat
  • Volume cukup besar
  • Estetika Baik
  • Praktis dan cepat dalam operasi

Kelemahan :

  • Konstruksi roda seringcepat rusak
  • Kurang praktis untuk sampah sampah besar
  • Tutup cepat hilang

4.5.  Bin Plastik Tertutup dengan Plat Besi/Fiberglass,Konstruksi   permanen Vol.70 liter.

Penempatan : Jalan/Tempat umum/daerah pertokoan

Bahan/konstruksi : Plastik/fiberglass/plat baja/beton

Keuntungan :

  • Bahan tidak mudah berkarat
  • Sehat
  • Estetika baik
  • Dapat dipakai baik pribadi maupun umum

Kelemahan :

  • Kurang cepat dalam operasional

Catatan : Penempatan sering menghalangi pejalan kaki

4.6.  Bin Plat Besi tertutup Vol.100 lt.

Penempatan : jalan/tempat umum/pertokoan

Bahan/konstruksi: Plat besi,drum bekas

Keuntungan :

  • Sehat
  • Dapat dipakai umum/pribadi
  • Memanfaatkan drum bekas (murah)

Kelemahan :

  • Bahan mudah berkarat
  • Relatif berat
  • Tutup mudah hilang
  • Estetika kurang
  • Kurang praktis dalam operasional

Catatan : Penempatan sering mengganggu pejalan kaki

4.7.  Bak sampah Permanen dari Pasangan batu bata ( Ukuran bervariasi)

Penempatan : Pasar/lokasi-lokasi dengan jumlah sampah yang besar

Bahan/konstruksi : Pasangan Bata/beton

Keuntungan :

  • Bahan kuat
  • Daya tampung lebih banyak
  • Dapat dipakai umum/pribadi

Kelemahan :

  • Kurang sehat
  • Estetika kurang
  • Menyulitkan dalam operasi selanjutnya

Catatan : sulit dibersihkan.

5.  TPS ( Tempat Pembuangan Sementara).

Pengadaan TPS akan digunakan untuk menanpung sampah dari permukiman yang berpenghasilan rendah dan tidak teratur ( tempat sampah komunal), kemudian diangkut dengan truk-truk sampah ke Tempat Pembuangan Akhir.

 

  • Pekerjaan Lantai.
    • Sebelum dilakukan pekerjaan plesteran lantai, terlebih dahulu dilakukan pekerjaan galian di bawah lantai sesuai dengan keadaan tanah di lapangan, maka untuk pekerjaan pematangan tanah diadakan penggalian dan pengurugan kembali. Semua penggalian harus dilaksanakan menurut apa yang disyaratkan mengenai panjangnya, dalamnya, serokan dan sebagainya yang diperlukan untuk konstruksi.
    • Tanah bekas galian, kecuali yang khusus dapat digunakan kembali untuk menimbun setelah tanah galian tersebut terlebih dahulu dibersihkan. Tanah yang berlebihan harus disingkairkan keluar dari proyek
    • Bekas lubang galian pondasi dan di bawah lantai diisi dengan pasir timbunan yang dipadatkan dengan menyiramkan air serta menumbuk dengan alat penumbuk samapai padat.
    • Di bawah lantai harus diberi lapisan pasir urug setebal 10 cm dan dipadatkan
    • Pasir timbunan harus bersih dari kotoran-kotoran, akar-akaran dan semacamnya.
    • Pekerjaan beton untuk lantai dipergunakan beton cor 1:3:5( 1 semen:3 pasir:5 kerikil) yang tebalnya 15 cm dan diberi tulngan kawat.
    • Pasir pasang kali harus diayak terlebih dahulu, kerikil-kerikil dan kotoran-kotoran yang terdapat didalmnya harus dibuang
    • Bentuk pekerjaan beton berlaku Peraturan Beton Indonesia (PBI 1971) pada umumnya, jika tidak dinyatakan lain dalam rencana kerja dan syarat syarat ini.
    • Air yang digunakan untuk pekerjaan beton harus bersih dari saluran kota yang bersih dari garam mineral dan bahan organik lainnya
    • Air sumur hanya boleh dipergunakan setelah diselidiki dan disahkan oleh laboratorium penyelidikan bahan-bahan
  • Bak TPS terbuat dari kayu kelas I yang baik dan semua ukuran-ukuran kayu sesuai dengan gambar
  • Dimisalkan kapasitas TPS yang akan dibuat dengan ukuran yang digunakan 0,75 M3 dapat digunakan yang mendekati sebagai berikut :
  • Lebar atas bak maksimal 80 cm
  • Lebar bawah bak maksimal 100 cm
  • Tinggi bak 65 cm
  • Lebar landasan beton 150 cm dengan tebal 15 cm
  • Konstruksi bak dari papan kayu 2×20 cm, kelas 1
  • Rangka bak dari besi siku 40x40x4
  • Bak TPS harus dicat dan disiapkan plat nomor urut 3 angka yang dipasang dikedua sisinya.
  • Konstruksi TPS, sebelum melaksanakan pekerjaan, penyuplai harus menyerahkan gambar kerja lengkap dengan detail potongan.Potongan-potongan plat baja harus dikerjakan dengan pengelasan listrik sesuai peraturan Indonesia.
  • Pada setiap sisi sisi luar dari bak TPS dibuat pegangan untuk mengangkat bak pada waktu pemungutan sampah dan pada bagian dalam bak TPS dilapisi dengan seng aluminium.
  • Pengecatan, bak TPS TPS harus di cat dan disiapkan plat nomor urut 3 angka yang dipasang di kedua sisinya, cat TPS harus berwarna dengan tulisan pada bagian sisinya berwarna hitam. Sebelum dilakukan pengecatan kayu-kayu tersebut harus rata, bersih dari kotoran-kotoran, lemak serta lobang-lobang harus ditutup dengan dempul hingga rata. Semua baja harus bebas dari karat,sisik,lemak,gemuk dan kotoran kotoran lain sebelum cat digunakan. Semua baja harus di cat dengan cat dasar sekali warna merah dengan sikat kas. Lapisan selanjutnya dua kali pengecatan dikerjakan dengan semprot dengan kualitas cat yang utama. Semua teknis pengerjaan cat harus sesuai dengan petunjuk dari pabrik. Sebelum pengecatan dimulai pembeli akan memeriksa TPS.

Contoh-contoh TPS yang dapat dilihat dalam gambar-gambar berikut ini :

5.1.  Kontainer, Vol.1 M3 dan 0,5 M3 .

Penempatan : Stasiun Pemindahan

Bahan/konstruksi : Baja dengan roda

Keuntungan :

  • Pengoperasian lebih mudah
  • Volume relatif lebih besar
  • Bahan tidak mudah berkarat
  • Baik untuk sistem komunal

Kelemahan :

  • Harga relatif mahal
  • Hanya digunakan untuk sistem yang spesifik

Catatan : Perlu dimodifikasi agar lebih fleksibel

5.2.  Kontainer Vol.6 M3 – 10 M 3.

Penempatan : Ditempatkan di pinggir jalan besar dengan radius pelayanan tertentu

Bahan/konstruksi : Konstruksi besi/kayu

Keuntungan :

  • Bersih, rapi, estetika baik
  • Membutuhkan tanah tidak terlalu keras
  • Operasi mudah dan cepat
  • Menghambat proses pemulungan yang tak terkendali dengan baik

Kelemahan :

  • Dari besi mudah berkarat
  • Dari kayu berat sendirinya bertambah
  • Biaya investasi dan pemeliharaan lebih mahal

Catatan : Proses pemindahan masih sulit

5.3.  Transfer Station Tipe I (200 M2), tipe II (50 M2), tipe III ( 10 M2).

Penempatan : Di Lingkungan permukiman yang masih mudah diperoleh tanah untuk penempatannya

Bahan/konstruksi : Konstruksi bata/beton/kayu/pelataran

Keuntungan :

  • Daerah pelayanan lebih luas
  • Harga satuan operasi relatif murah
  • Lebih efektif dan efisien
  • Pengendalian mudah

Kelemahan :

  • Membutuhkan tanah yang cukup luas (200 m2)
  • Biaya cukup mahal
  • Operasinya biasanya sesuai dengan maksud semula

Catatan : 1 unit untuk pelayanan 30.000 jiwa ( 1 Kelurahan )

6.  Gerobak Sampah.

  • Tujuan dan Ruang Lingkup.

Pengadaan gerobak sampah akan digunakan untuk mengambil sampah dari tempat permukiman dan tempat komersial, kemudian diangkut ke tempat pengumpulan (pemindahan) yang sudah disediakan di dalam kota

  • Kemampuan, ukuran, bahan dan keperluan-keperluan lainnya.
    • Daya angkut kereta sorong minimal 500 kg beban kotor, ukuran yang digunakan harus mendekati sebagai berikut :
      • Lebar maksimal tidak termasuk roda) 70 cm
      • Panjang bak kereta 125 cm, lebar bak 70 cm dan tinggi bak 70 cm
      • Jarak anatar bawah bak dan permukaan tanah maksimal 27,5 cm
      • Alas bak dari papan kayu 2×20 cm, kelas kuat I
      • Rangka bak dari besi siku 40x40x4
      • Tangki pendorong kereta dari bahan pipa baja diameter 1”
      • Alas kereta sorong dari bahan pipa besi padat diameter 1” dan kedua ujungnya dipasang roda bearing.
  • Roda yang digunakan untuk kereta sorong ; roda angin stadar sepeda motor dengan ban dalam, disediakan 2 buah
  • Bagian belakang bak dengan pintu dapat dibuka ke samping dengan engsel diameter 3”, Kawat harmonika dipasang di sekeliling 3 dinding bak keeta dengan diameter kawat harmonika 0,5 cm dan papan kayu ukuran 2×20 cm, kuat kelas I
  • Bahan pipa yang digunakan harus baru dan kualitas utama dengan standar baja minimum 42, kecuali baja yang digunakan untuk as kereta standar baja minimum 50 mm.
  • Kereta sorong harus di cat dan disiapkan plat nomor urut 3 angka yang dipasang di kedua sisinya
  • Konstruksi gerobak sampah, sebelum melaksanakan pekerjaan, penyuplai harus menyerahkan gambar kerja lengkap dengan detail potongan
  • Plat dasar bak harus dibuat dengan memakai ring setiap unti sesuai peraturan baut Indonesia. Potongan-potongan baja harus dikerjakan dengan pengelasan listrik sesuai peraturan Indonesia.
  • Pengecatan Gerobak sampah, semua baja harus sama sekali bebas karat, sisik, minyak, gemuk dan kotoran-kotoran lain sebelum cat digunakan.

Semua baja harus di cat dengan cat dasar sekali warna merah dengan sikat kuas. Lapisan selanjutnya dua kali pengecatan warna dikerjakan dengan semprot dengan kualitas cat yang utama. Semua teknis pengerjaan cat harus sesuai dengan petunjuk dari pabrik.

  • Suku cadang, suatu daftar spesifikasi dari suku cadang untuk gerobak sampah harus dilengkapi dengan harga satuan, rincian barang-barang yang tersedia dan berlokasi dalam kota dimana barang-barang tersebut selalu ada persediaannya.

Jaminan suku cadang selama satu tahun pengoperasian gerobak

Contoh-contoh gerobak sampah yang dapat ditemui di Indonesia antara lain :

6.1.  Gerobak sampah biasa.

Penempatan : Lingkungan permukiman dengan lebar jalan 1 m3 dan relative datar

Bahan/konstruksi : Konstruksi Baja/kayu

Keuntungan :

  • Operasi lebih mudah/luwes/murah
  • Jenis sampah berukuran besar bisa terangkut
  • Pemanfaatan volume cukup besar
  • Mudah dan murah pemeliharaannya

Kelemahan :

  • Estetika kurang
  • Kurang sehat.

Catatan :

  • Sangat efektif dan efisien serta mudah untuk sistem pengumpulan
  • Saat ini banyak dipakai

 

6.2.  Gerobak Sampah dengan Bin.

Penempatan : Lingkungan permukiman dengan jalan-jalan yang relatif datar dan lebar > 1 M.

Bahan/konstruksi : Konstruksi baja/fiber glass

Keuntungan :

  • Gerobak tidak mudah aus/berkarat
  • Lebih sehat terhadap lingkungan maupun pekerja
  • Estetika baik/bersih
  • Operasi lebih cepat

Kelemahan :

  • Efisiensi ruang kurang
  • Sampah berukuran besar tidak terangkut
  • Diperlukan tenaga tambahan
  • Biaya investasi lebih mahal
  • Bin cepat rusak akibat pemadatan dengan paksa oleh petugas

Catatan :

  • Telah dipakai antara lain di kota Bandung dan Denpasar
  • Perlu penyempurnaan lebih lanjut

 

c.  Becak Sampah.

Penempatan : Lingkungan permukiman dengan jalan-jalan yang relatif datar

Bahan/konstruksi : Konstruksi baja/kayu

Keuntungan :

  • Pengoperasian lebih  cepat
  • Hemat tenaga

Kelemahan :

  • Kurang sehat untuk pekerja dan lingkungan
  • Perawatan mahal

Catatan :

  • Dipakai di kota semarang, Padang dan lain-lain

7.  DUMP Truck.

Dump Truck tersebut akan digunakan untuk mengumpulkan sampah dan mengangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bak penampung pada truk-truk dengan ukuran volume 6 – 8 m3 sampah. Berat bersih dari truk-truk tersebut tidak kurang dari 3,5 ton. Truk-truk tersebut terdiri dari chasis cabin, body ditutup dengan anti karat, sistem hidrolik, registrasi.

  • Kemampuan, ukuran, bahan dan keperluan lainnya.

Truk-truk tersebut berupa Dump Truk bertipe standar, setir roda sebelah kanan dengan berat bersih minimum 3,5 ton.

Truk-truk akan dilengkapi dengan 6 roda dan minimal 10 lapis ban dalam. Kedua fungsi roda belakang harus dapat berjalan dengan mantap pada kondisi jalan yang dilalui.

  • Lebar maksimal truk harus 2,10 M (atau sesuai standar LLAJR).

Truk tersebut harus bermuatan dengan kapasitas 6 – 8 m3 sampah dengan body terbuat dari logam dengan perkiraan ukuran sebagai berikut

Panjang : 3,30 – 3,80 meter

Lebar    :  1,80 – 2,10 meter

Tinggi    : 1,00 – 1,20 meter

Ukuran-ukuran tersebut  boleh bervariasi, sesuai dengan volume yang diminta serta memenuhi ketentuan di bawah ini :

Tinggi maksimal dari batas atas body bak tersebut hingga permukaan tanah seharusnya tidak melebihi dari 2,10 m ( sesuai standar)

Body tersebut harus dilengkapi dengan pintu belakang yang digantung pada bagian atasnya dan dipisahkan dengan bagian yang dapat melimpahkan sisi-sisinya. Pintu belakang dan sisi pelimpahan tersebut harus sesuai dan dilengkapi dengan pengunci yang mudah.

Body tersebut harus dilengkapi cantelan dan jaring penutup selama pengangkutan dengan ukuran 10 % lebih besar.

Bak penampung tersebut harus dilengkapi dengan sebuah sistem hidrolik dengan kapasitas angkat mininum 3,5 ton yang dioperasikan dari dalam truk dengan sudut pada waktu pembuangan minimum 45 derajat.

Truk dan body tersebut di cat warna dan bertuliskan warna hitam pada tiap pintunya.

Truk-truk tersebut harus diberi nomor pada tiap pintunya.

  • Konstruksi dan Pengecatan Dump Truck.

Body tersebut harus terbuat dari bahan baja berkualitas baja menurut standar ASTM A36 atau yang sejenis. Sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia.

Plat baja yang digunakan pada bagian bawah harus mempunyai ketebalan minimum 3,6 mm, dinding samping minimum 2,6 mm, kemiringan plat bawah maksimum 1 % dari bagian depan.

Pengelasan body harus mengikuti peraturan las Indonesia dan penggunaan elektroda-elektroda disesuaikan dengan ASTM A-233 E60 atau sejenisnya.

Lubang-lubang pada baut harus dilakukan dengan pemukulan atau pemboran, pembakaran dalam hal ini tidak dibenarkan.

Engsel-engsel dan penutup dari kedua pintu belakang dan sisi pencurahan harus kokoh dalam perencanaannya dan mudah dalam pengeoprasiannya.

Bagian-bagian dari body tersebut harus  di cat dengan satu lapis cat logam primer dan 2 lapis cat minyak yang berkualitas utama warna sesuai dengan persyaratan dibawah ini.

Cat yang digunakan hanya cat yang berkualitas baik, tahan lama dan tahan terhadap pengaruh cuaca dan tahan terhadap cairan sampah(asam). Cat tersebut harus langsung digunakan dari kaleng cat yang disupplai dari pabrik.

Pemberian lapisan dasar dan tinner harus diproduksi dari pabrik yang sama dengan lapisan akhir. Melakukan pengecatan lapisan bawah, seluruh sistem pengecatan akhir, cat red oxide berisi rd oxide sebagai pigmen utama beserta tambahan lainnya dan memberikan pigment penutup secukupnya pada perlindungan body yang diminta.

Hal-hal lain yang tidak diuraikan disini harus mengikuti metode dari : brushing, rolling, for all coats, airless spraying hanya untuk lapisan akhir.

  • · Suku Cadang.

Suatu daftar spesifikasi dari suku cadang untuk Dump Truck harus dilengkapi dengan harga satuan, rincian barang-barang yang tersedia dan berlokasi di Indonesia dimana barang-barang tersebut selalu ada persediaannya., jaminan suku cadang selama satu tahun pengoperasian.

Contoh-contoh Truk-truk pengangkut sampah yang ada:

7.1.    Truk Biasa Terbuka. Volume 6 M3, 8 M3 dan 10 M3.

Bahan/konstruksi :

  • Bak konstruksi kayu
  • Bak konstruksi plat besi

Keuntungan :

  • Harga relatif murah
  • Perawatan relatif lebih mudah/murah

Kelemahan :

  • Kurang sehat
  • Memerlukan waktu pengoperasian lebih lama
  • Estetika kurang

Catatan :

  • Banyak dipakai di Indonesia
  • Diperlukan tenaga lebih banyak

 

7.2.  Dump Truck/Tipper Truck, volume 6 M3,8 M3 dan 10 M3.

Bahan/konstruksi :

  • Bak plat baja
  • Dump Truck dengan peninggian bak pengangkutnya.

Keuntungan :

  • Tidak diperlukan banyak tenaga pada saat pembongkaran
  • Pengoperasian lebih efektif dan efisien

Kelemahan :

  • Perawatan sulit.
  • Realtif mudah berkarat
  • Estetika kurang
  • Sulit untuk pemuatan

Catatan :

  • Perlu modifikasi bak

 

7.3.  Arm Roll Truck dengan 2 kontainer. volume 6 M3, 8 M3 dan 10 M3.

Bahan/konstruksi :

  • Truk untuk mengangkut/membawa kontainer2 secara hidrolis

Keuntungan :

  • Praktis dan cepat dalam pengoperasian
  • Tidak diperlukan tenaga banyak
  • Estetika baik
  • Lebih bersih dan sehat
  • Penempatan lebih fleksibel

Kelemahan :

  • Hidrolis sering rusak
  • Harga relatif mahal
  • Biaya perawatan lebih mahal
  • Diperlukan  lokasi untuk penempatan dan pengangkatan

Catatan :

  • Cocok untuk lokasi2 dengan produksi sampah yang relatif banyak

 

7.4.  Compactor Truck. volume 6 M3,8 M3 dan 10 M3.

Bahan/konstruksi :

  • Truk dilengkapi dengan pemadat sampah

Keuntungan :

  • Volume sampah terangkut lebih banyak
  • Tidak diperlukan tenaga banyak
  • Estetika baik
  • Lebih bersih dan sehat
  • Praktis dalam pengoperasian

Kelemahan :

  • Biaya investasi dan pemeliharaan lebih mahal
  • Harga relatif mahal
  • Biaya perawatan lebih mahal
  • Waktu pengumpulan lama bila untuk sistem door to door

Catatan :

  • Cocok untuk pengumpulan dan pengangkutan secara komunal.

 

7.5.  Multi Loader, volume 8 M3.

 

Bahan/konstruksi :

  • Trailer dengan dilengkapi kontainer

Keuntungan :

  • Cocok untuk kondisi jalan yang kurang bagus
  • Mudah dalam pengoperasian

Kelemahan :

  • Memerlukan tempat yang luas unutk manuferl
  • Kecepatannya kurang
  • Kurang higienis
  • Estetika kurang

Catatan :

Pernah dipakai di Pontianak.

 

7.6.  Truck with Crain, volume 10 M3.

Bahan/konstruksi :

  • Truck dilengkapi dengan alat pengangkat sampah

Keuntungan :

  • Tidak memerlukan banyak tenaga untuk menaikkan  sampah ke truk
  • Cocok untuk mengangkut sampah besar (bulky waste)

Kelemahan :

  • Hidrolik sering rusak
  • Sulit digunakan di daerah yang jalannya sempit dan tidak teratur

Catatan :

Telah dipergunakan di Jakarta.

 

7.7.  Front Loading, volume 10 M3.

 

 Bahan/konstruksi :

  • Truck dilengkapi dengan alat pengangkat kontainer sampah dari depan

Keuntungan :

  • Tidak memerlukan banyak tenaga untuk menaikkan  sampah ke truk
  • Harga satuan operasioanl relatif lebih murah

Kelemahan :

  • Sulit digunakan di daerah yang jalannya sempit dan tidak teratur

 

7.8.  Mobil Penyapu Jalan ( Street Sweeper)

Bahan/konstruksi :

  • Truk yang dilengkapi dengan pengisap sampah

Keuntungan :

  • Pengoperasian lebih cepat
  • Sesuai untuk jalan-jalan protokol yang memerlukan pekerjaan cepat
  • Estetis dan higienis
  • Tidak banyak memerlukan tenaga

Kelemahan :

  • Harga relatif lebih mahal
  • Perawatan mahal

Catatan :

Jakarta sudah menggunakan mobil penyapu jalan ini.

8.  Tempat Pembuangan Akhir ( TPA )

Pemilihan lokasi TPA sampah harus mengikuti persyaratan hukurn, ketentuan perundang-undangan rnengenai pengelolaan lingkungan hidup, analisis mengenai dampak lingkungan, ketertiban umum, kebersihan kota/lingkungan, peraturan daerah tentang pengelolaan sampah dan perencanaan tata ruang kota serta peraturan-peraturan pelaksanaannya.

 

Pemilihan lokasi TPA sampah harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

  • TPA sampah tidak boleh berlokasi di danau, sungai dan laut;
  • disusun berdasarkan 3 tahapan yaitu:
    • tahap regional yang merupakan tahapan untuk menghasilkan peta yang berisi daerah atau tempat dalam wilayah tersebut yang terbagi menjadi beberapa zona kelayakan;
    • tahap penyisih yang merupakan tahapan untuk menghasilkan satu atau dua lokasi terbaik diantara beberapa lokasi yang dipilih dan zona-zona kelayakan pada tahap regional;
    • tahap penetapan yang merupakan tahap penentuan lokasi terpilih oleh instansi yang berwenang;
  • dalam hal suatu wilayah belum bisa memenuhi tahap regional, pemilihan lokasi TPA sampah ditentukan berdasarkan skema pemilihan lokasi TPA sampah ini dapat dilihat pada lampiran kriteria yang berlaku pada tahap penyisih.

8.1.  Kriteria

Kriteria pemilihan lokasi TPA sampah dibagi menjadi tiga bagian:

  • kriteria regional, yai[ kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak atau zona tidak layak sebagai berikut:
  • kondisi geologi.
    • tidak berlokasi di zona holocene fault;
    • tidak boleh di zona bahaya geologi
  • kondisi hidrogeologi.
    • tidak boleh mempunyai muka air tanah kurang dan 3 meter;
    • tidak boleh kelulusan tanah lebih besar dan 10-6cm/det;
    • jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dan 100 meter di hilir aliran;
    • dalarn hal tidak ada zona yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut diatas, maka harus diadakan masukan teknologi;
  • kemiringan zona harus kurang dan 20 %;
  • jarak dan lapangan terbang harus lebih besar dan 3.000 meter untuk penerbangan turbo jet dan harus Iebih besar dan 1.500 meter untuk jenis lain;
  • tidak boleh pada daerah lindung/cagar alam dan daerah banjir dengan periode ulang 25 tahun;
  • kriteria penyisih yaitu kriteria yang digunakan untuk memilih lokasi terbaik yaitu terdiri dan kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut:
    • iklim
    • hujan : intensitas hujan makin kecil dinilai makin baik;
    • angin : arah angin dominan tidak menuju ke pemukiman dinilai makin baik;
  • utilitas : tersedia lebih lengkap dinilai makin baik;
  • lingkungan biologis:
    • habitat : kurang bervariasi, dinilai makin baik;
    • daya dukung : kurang menunjang kehidupan flora dan fauna, dinilai makin baik;
  • kondisi tanah
    • produktifitas tanah : tidak produktif dinilai lebih tinggi;
    • kapasitas dan umur : dapat menampung lahan lebih banyak dan lebih lama dinilai lebih baik;
    • ketersediaan tanah
    • penutup : mempunyai tanah penutup yang cukup, dinilai lebih baik;
    • status tanah : makin bervariasi dinilai tidak baik;
  • demografi : kepadatan penduduk lebih rendah, dinilai makin baik;
  • batas administrasi : dalam batas administrasi dinilai semakin baik;
  • kebisingan : semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik;
  • bau : semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik;
  • estetika : semakin tidak terlihat dan luar dinilai semakin baik;
  • ekonomi : semakin kecil biaya satuan pengelolaan sampah (per m3/ton) dinilai semakin baik;

8.2.  Konstruksi.

TPA harus berdasarkan perencanaan yang sudah dibuat, pihak pelaksana lapangan harus menyiapkan gambar perencanaan untuk diterapkan dilapangan, terutama dalam pemasangan pipa lindi yang diperlukan ketelitian dan perhitungan agar setelah ditimbun dengan sampah, tidak terjadi kebocoran. Perlu di perhatikan juga penempatan tiang-tiang leachate di setiap zonanya. Ketersediaan lahan  penutup juga sangat penting, untuk menerapkan perencanaan yang sudah dibuat, terutama dengan sistem sanitary landfill. Penyediaan jalan masuk ke lokasi TPA hendaknya disesuaikan dengan jenis kendaraan yang akan masuk ke TPA, minimal lebar jalan masuk 3 m dengan perkerasan aspal yang berkualitas baik, Juga ketersediaannya lahan parkir untuk penempatan turk-truk pengangkutan sampah dan tempat cuci truk-truk.

9.  PENUTUP

Dalam rangka melaksanakan sistem pengelolaan persampahan yang memadai, maka tahap konstruksi yang didasarkan pada perencanaan yang benar merupakan langkah penting yang selanjutnya harus selalu diterapkan dalam pembangunan pengelolaan persampahan.. Hasil  konstruksi pengelolaan persampahan tergantung dari kedisiplinan pelaksana dalam membaca perencanaan yang di inginkan dan situasi ,kondisi lingkungan yang akan di bangun., sehingga pembangunan pelaksanaan pengelolaan persampahan tidak akan menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dan menjadi bagian dari kebutuhan dan penyerapan sumber daya manusia.

Gambar – gambar :

Bin terbuat dari kayu

Gerobak Sampah bermesin

Tipper Truck

Arm Roll Truck

Kontainer dengan landasan

Contoh jalan masuk TPA di Mataram

TPA Benowo dengan Control Lanfill

Contoh TPA di Mataram dengan Sanitary Lanfill

TPA di Padang dengan Control Landfill

Bin terbuat dari Fibre Glass di Malaysia

Bin Plastik di Italy

Bin Fibre Glass Tertutup di Mexico

Bin gantung

Compact Truck

Compact Truck

References

  • Undang-Undang  No 32/2004  tentang Pemerintahan Daerah
  • Peraturan Pemerintah No 16/2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
  • Standar Nasional Indonesia (SNI) Bidang Persampahan. Departemen Pekerjaan Umum
  • Rancangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Pedoman Pengelolaan   Persampahan, tahun 2005
  • MDGs Report Indonesia, Bappenas 2004
  • Agenda 21 Indonesia
  • Thobanoglous, G, Theisen, Integrated Solid Waste Management. Mc. Graw-Hill International Edition, 1933

Sumber:

Teknis Konstruksi Sistem Pengelolaan Persampahan. Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman – Direktorat Jenderal Cipta Karya – Departemen Pekerjaan Umum.  2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s