Sampah Plastik

Polimer atau dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai plastik merupakan material yang saat ini ‘membanjiri’ kehidupan kita. Benda-benda disekitar kita yang dahulunya dibuat dari material alam seperti logam, kayu, serat, mineral-mineral, atau pun batu saat ini telah disubstitusikan oleh material yag terdiri dari ikatan karbon ini.

Walaupun plastik masih dianggap sebagai material yang secara cita rasa dianggap rendah, secara fungsional plastik dapat mengcover sifat fisik material-material lain itu. Selain itu tuntutan budaya modern yang lebih mengutamakan sifat fungsional suatu produk di atas cita rasa turut memposisikan material polimer sebagai material yang sesuai karena memiliki ciri fungsional tersebut.

    Gambar 2.2. Material plastik yang semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan sampah plastik yang semakin melimpah serta susah terkendali (www.kpdnhq.gov.my)

Di sisi lain, seiring dengan semakin besarnya penggunaan material  ini, sampah material yang tidak bisa diuraikan oleh makhluk hidup ini melimpah pula (Staudinger,1974). Langkah-langkah pengolahan kembali telah dilakukan namun masih sedikit sekali pengusaha yang berhasil, mampu, dan mau melakukan usaha pengolahan kembali dari plastik. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat mengenai proses pengolahan plastik dan keuntungan moril maupun materil dari usaha daur ulang plastik. Usaha daur ulang plastik sekarang ini dilakukan oleh industri kecil sampai menengah.

Gambar 2.3. Tempat Pengolahan Sampah Plastik

Indonesia sebagai negara yang bertumpu pada kompetensi ekonomi kerakyatan berupa industri kecil padat karya seharusnya mengembangkan kompetensinya dalam mengolah kembali dan menghasilkan polimer yang bermutu hampir sama dengan asalnya.

Dalam konteks pengolahan sampah polimer ini tentunya sangat besar peluang aplikasinya jika lebih menggunakan pendekatan industri kerakyatan itu. Sesuai dengan keunggulannya bahwa sampah polimer ini sangat banyak jumlahnya dan mudah untuk mendapatkannya, maka tantangan industri kecil adalah bagaimana mengolah sampah polimer tersebut menjadi produk baru yang mempunyai nilai lebih tinggi dari pada seonggok sampah atau bahkan mampu menyaingi produk polimer hasil manufakturing.

Plastik sebagai polimer memiliki dua sifat yang dapat direkayasa, yaitu sifat fisis plastik dan sifat kimia plastik. Sifat fisik plastik identik dengan sifat lentur material polimer –thermoplastic– bila dipanaskan. Sedangkan sifat kimia plastik identik dengan molekul-molekul penyusun plastik. Rekayasa sifat fisik yang digabung dengan sedikit rekayasa pada sifat kimia dari plastik dapat membuahkan hasil daur ulang plastik yang memuaskan.

1.  Material Plastik

Plastik yang dalam bahasa ilmiahnya disebut sebagai polimer banyak dikenal sebagai material sintetik atau bahan kimia yang memiliki karekteristik yang khas. Karakteristik plastik dianggap khas karena selain bisa menjadi substitusi bagi material lain, plastik juga mempunyai karekter tersediri sebagai material alternatif selain material yang sudah ada.

2.  Polimer

Polimer adalah material yang molekul-molekulnya berupa pengulangan atau gabungan ikatan-ikatan kovalen partikelnya yang lebih kecil. Satu molekul terdiri dari kombinasi molekul-molekul monomer. Hal tersebut dapat kita lihat pada salah satu contoh polimer polyethene berikut ini:

Gambar 2.4 Ikatan karbon polimer yang  terbentuk dari rangkaian monomer-monomer (sumber :http://www.btinternet.com)

3.  Klasifikasi Polimer

Berdasarkan strukturnya polimer diklasifikasikan menjadi 3 kategori (Ramsden,1995):

  • Plastik, yaitu polimer yang strukturnya permanen
  • Elastomer, yaitu polimer yang strukturnya elastis
  • Fibre, yaitu polimer yang strukturnya berupa serat

Dari pembagian di atas dapat diketahui bahwa material plastik adalah salah satu jenis polimer yang strukturnya permanen atau dengan kata lain bahwa istilah material plastik marupakan sebuah istilah spesifik dari berbagai macam jenis polimer.

3.1.  Klasifikasi plastik berdasarkan proses pembentukannya

3.1.1.  Thermoplastic.

plastik yang dapat dilunakkan kembali dengan proses pemanasan.

Gambar 2.5 Skema proses thermoplastic (sumber : TA, Waluyo, SR, 1999)

Hal ini biasanya digunakan untuk keperluan pembentukan material plastic menjadi bentuk-bentuk tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Plastik-plastik yang tergolong thermoplastic biasanya berupa jenis-jenis plastik yang tidak tahan panas misalnya (Ramsden,1995):

    • ABS Plastic
    • Acetal Rasin
    • Acrylic (Methyl  Metha Crylate)
    • Cellulosic
    • Fluorocarbon
    • Ionomers
    • Parylene
    • Phenoxy
    • Polyamide (nylon)
    • Poly Carbonate
    • Resin
    • Polyethylene
    • Polyimide
    • Polyphenylene oxide
    • Polyprophylene

3.1.2.  Thermosetting plastic

plastic yang tidak dapat dilunakkan lagi dengan proses pemanasan.

Gambar 2.6 Skema proses thermosettting plastic (sumber : TA, Waluyo, SR, 1999)

Hal ini biasanya digunakan untuk keperluan produk yang dibuat berhubungan dengan panas sehingga produk tidak meleleh, terbakar atau berubah bentuk ketika kontak dengan panas. Produk-produk dari bahan plastik yang berhubungan dengan panas misalnya berupa produk-produk plastik isolator kelistrikan. Plastik-plastik yang tergolong thermosetting plastic adalah :

  • Alkyd
  • Allylic
  • Amino plastic (melamine &urea)
  • Casein
  • Epoxy
  • Phenolic
  • Polyester
  • Silicone
  • Urethane (foams and elastomer)

4.  Sifat Glass Transition Temperature

Salah satu karakteristik fisik yang nampak dan sering diterapkan pada proses-proses plastic adalah sifat Glass Transition Temperature yaitu titik temperature dimana plastik berubah sifat dari keras, lunak hingga cair (Tres, 2003). Hal ini digunakan sebagai prinsip pembentukan plastik yang ada selama ini. Skema perubahan sifat material itu dapat kita perhatikan pada skema berikut ini :

Gambar 2.7 Skema Glass Transition Temperature (sumber : Ramsden E.N, Materials Science, Stanlev Thornes (Publisher) Ltd, Oxford, 1995)

5.  Istilah Ilmiah Beberapa Jenis Plastik dan Contohnya

Polimer sebagai material gabungan dari monomer-monomer (gugus ikatan karbon) memiliki berbagai macam kemungkinan pola penggabungan monomer-monomer tersebut menjadi polimer. Macam-macam kemungkinan penggabungan monomer tersebut akan menjadikan sifat polimer bermacam-macam. Hal ini diterapkan menjadi plasik dengan jenis-jenis yang banyak sekali dan mempunyai karakter tersendiri sesuai dengan kebutuhan. Disini dapat kita ambil contoh berbagai jenis plastik dalam istilah ilmiahnya beserta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari:

  • Cellulose esters : tekstil, finishing kertas, packaging, selotip
  • Epoxy resin : surface coating, flooring, linings, laminating
  • Phenoxy resin : komponen elektronik, surface coating 
  • Poly ethene low density (LDPE) : kabel, kaca film, packaging
  • Polyethene high density (HDPE) :  pipa, cetakan, mainan, houseware
  • Poly propene (PP) : medical equipment, houseware, mainan, komponen elektronik, pipa, dsb
  • PVC : pipa, tabung, botol, mantel hujan, ubin lantai
  • Poly methyl propenoate: pelindung kaca mobil, lantai rumah
  • Perspex : panel dekorasi
  • Polystyrene : Packaging, instrumen otomotif, foam, cushion
  • Polyamides/nylon : gear, senar pancing, packaging, botol, pipa, tali, pakaian
  • Polyester : senar pancing, botol, komponen pesawat terbang, perahu, plat cetak
  • Polycarbonate : pengaman helm, lensa, komponen elektronik
  • Terylene : tekstil
  • Bakelite : lem, laminating, komponen elektronik, saklar, socket, handle
  • Silicones : cetakan, karet, laminating, antifoam, antiair
  • Urea-methanal : electrical fitting

6.  Istilah Pasar Beberapa Jenis Plastik

Istilah-istilah dalam plastik bermacam-macam tergantung dimana istilah jenis tersebut dipakai termasuk di pasaran yang cenderung berbeda dengan istilah ilmiahnya. Hal ini karena adanya masyarakat yang awam terhadap istilah ilmiah plastik namun juga sebagai pengguna plastik yang membutuhkan pengetahuan pengklasifikasian plastik-plastik tersebut. Dalam prakteknya di lapangan masyarakat awam tersebut mengidentifikasi plastik hanya dengan mencium, membakar, memanasi, memukul-mukul (mengidentifikasi bunyi yang dihasilkan pukulan), merendamnya dalam air, atau menggoresnya dengan benda tajam. Selain identifikasi tersebut mereka juga memberikan nama untuk mempermudah mengingatnya dengan menganalogikan suatu plastik dengan produk plastik yang sejenis namun dominan, misalnya:

  • Plastik ember: plastik sejenis bahan-bahan ember walaupun bukan ember
  • Plastik mainan: plastik sejenis bahan mainan anak-anak
  • Plastik PET (kode 1): plastik sejenis karpet
  • Plastik HDPE (kode 2): plastik sejenis botol air mineral
  • Plastik PVC (3): plastik lembaran yang biasanya digunakan untuk kotak makanan atau botol pembersih rumah tangga
  • Plastik LDPE (kode 4): plastik sejenis kantong plastik
  • Plastik PP (kode 5): plastik lembaran yang biasanya tidak terlalu lentur
  • Plastik PS (kode 6): plastik sejenis botol kosmetik atau styrofoam
  • Multilayer dan lain-2 (kode 7)

jenis plastik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s