Teknologi dan Pengelolaan Sampah Kota Di Indonesia

oleh : Prof. Dr. Enri Damanhuri
Teknik Lingkungan – FTSL ITB

Potret Persampahan di Daerah Urban di Indonesia

Penanganan sampah khususnya di kota-kota besar di Indonesia merupakan salah satu permasalahan perkotaan yang sampai saat ini merupakan tantangan bagi pengelola kota. Pertambahan penduduk dan peningkatan aktivitas yang demikian pesat di kota-kota besar, telah mengakibatkan meningkatnya jumlah sampah disertai permasalahannya. Diprakirakan rata-rata hanya sekitar 40% – 50% yang dapat terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) oleh institusi yang bertanggung jawab atas masalah sampah dan kebersihan, seperti Dinas Kebersihan.

Kemampuan pengelola kota menangani sampahnya dalam 10 tahun terakhir cenderung menurun, antara lain karena era otonomi dan kemampuan pembiayaan yang rendah. Berdasarkan Laporan Kementerian Lingkungan Hidup (2004), pada tahun 2001 diperkirakan pengelola sampah kota hanya mampu melayani sekitar 32% penduduk kota, dari 384 kota di Indonesia. Hanya sekitar 40% dari sampah yang dihasilkan oleh daerah urban yang dapat diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPS). Sisanya ditangani oleh penghasil sampah dengan berbagai cara, seperti dibakar (35%), ditimbun dalam tanah (7,5%), dikomposkan (1,61%), dan beragam upaya, termasuk daur-ulang, atau dibuang di mana saja seperti di tanah kososng, drainase atau badan air lainnya.

Paradigma umum yang dijumpai sampai saat ini dalam pengelolaan sampah kota di Indonesia adalah kumpul – angkut – buang. Seiring dengan pertambahan penduduk, tambah lama akan tambah banyak jumlah sampah yang harus ditangani. Defisit anggaran dalam penanganan sampah kota merupakan hal yang biasa terdengar, sehingga agak sulit bagi pengelola sampah untuk berfikir ke depan dalam upaya pengembangan. Prasarana yang tersedia tambah lama akan tambah tua dan tambah terbatas kemampuannya. Disamping itu, sebagian besar PEMDA sampai saat ini menganggap bahwa penanganan sampah belum menjadi prioritas yang penting, apalagi dengan kondisi ekonomi yang sulit. Dengan demikian beban pengelola sampah kota menjadi tambah berat, kecuali bila cara pandang dalam pengelolaan sampah diperbaiki. Perbaikan ini tidak dapat dilakukan dalam waktu sekejap, karena menyangkut pula cara pandang masyarakat penghasil sampah, dan yang juga penting adalah cara pandang pengambil keputusan baik eksekutif maupun legislatif.

Sampai saat ini andalan utama sebuah kota dalam menyelesaikan masalah sampahnya adalah pemusnahan dengan landfilling pada sebuah TPA. Biasanya pengelola kota cenderung kurang memberikan perhatian yang serius pada TPA tersebut, sehingga muncullah kasus TPA Bantar Gebang di Bekasi, TPA Keputih di Surabaya, TPA Leuwigajah di Cimahi-Bandung, dan TPA-TPA lain yang terungkap di mass media. Aktivitas utama pemusnahan sampah di TPA adalah dengan landfilling. Beragam tingkat teknologi landfilling, diantaranya yang paling sering disebut adalah sanitary landfill. Dapat dipastikan bahwa yang digunakan di Indonesia adalah bukan landfilling yang baik, karena hampir seluruh TPA di kota-kota di Indonesia hanya menerapkan apa yang dikenal sebagai open-dumping, yang sebetulnya tidak layak disebut sebagai sebuah bentuk teknologi penanganan sampah.

Minimasi Sampah yang Diangkut ke TPA

Reduce-Reuse–Recycling (3-R) merupakan konsep yang digunakan dalam Draft RUU sampah yang sedang disiapkan oleh Pemerintah Indonesia. Konsep ini merupakan pendekatan yang telah lama diperkenalkan di Indonesia dalam upaya mengurangi sampah mulai dari sumbernya sampai di akhir pemusnahannya. Kerhasilan konsep ini membutuhkan kemauan politis pengelola kota, disertai keterpaduan dengan sistem penanganan sampah secara keseluruhan. Berdasarkan pengalaman di negara maju, upaya pengurangan sampah dengan 3-R ini belum dapat menghilangkan sampah secara keseluruhan.

Pengurangan (reduksi) sampah menjadi prioritas utama dalam mengurangi timbulnya sampah, dan ini hanya dapat dilakukan bila penghasil sampah itu sendiri menyadarinya. Salah satu penyebab tambah banyaknya timbulan sampah adalah karena pola konsumsi masyarakat itu sendiri. Tambah banyak bahan dikonsumsi, akan tambah banyak pula sampah yang akan dihasilkan. Perubahan pola hidup yang mendunia juga membawa permasalahan persampahan. Sebagian besar sampah yang terlihat mengotori kota adalah pengemas atau pembungkus (packaging). Hal yang sudah rutin telihat adalah ketergantungan masyarakat kota akan pengemas, yang umumnya berupa plastik berbagai jenis yang menghasilkan sampah yang biasanya dibuang di mana saja. Minimasi pembungkus, pengurangan penggunaan bahan terbuang, pengembangan pembungkus baru, penerapan penggunaan label bahan yang dapat didaur-ulang dan yang paling penting adalah pemisahan sampah berdasarkan jenisnya sejak awal, merupakan upaya yang umum dijumpai di negara-negara maju.

Langkah kedua dalam penanganan sampah adalah penggalakan recovery sampah untuk didaur-ulang. Upaya recovery bahan terbuang ini harus dimulai sejak awal sampai ke titik akhir dalam penanganan sampah. Keberadaan aktivitas ini perlu dimasukkan dalam kebijakan penanganan sampah kota, dan merupakan bagian dari sistem pengelolaan yang perlu diterapkan di sebuah kota. Upaya penggalakan daur-ulang sampah perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan sampah di Indonesia, guna mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut di sebuah TPA. Upaya-upaya ini sebetulnya telah dikenal, khususnya di kota-kota besar di Indonesia yang melibatkan sektor informal. Secara teoritis banyaknya sampah yang dapat didaur-ulang dengan cara ini, termasuk yang ada di TPA, paling banyak adalah 10 %. Namun pemantauan yang ada di Jakarta dan Bandung ternyata besaran ini tidak sampai mencapai 5 %.

Dilihat dari komposisi sampah, maka sebagian besar sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati, atau secara umum dikenal sebagai sampah organik. Sampah yang tergolong hayati ini untuk kota-kota besar bisa mencapai 70 % (volume) dari total sampah, dan sekitar 28 % adalah sampah non-hayati yang menjadi obyek aktivitas pemulung yang cukup potensial. Sisanya (sekitar 2%) tergolong macam-macam, termasuk limbah berkatagori B3 yang perlu dikelola tersendiri. Berdasarkan hal itulah di sekitar tahun 1980-an Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) ITB memperkenalkan konsep Kawasan Industri Sampah (KIS) dengan sasaran meminimalkan sampah yang akan diangkut ke TPA, dengan melibatkan swadaya masyarakat dalam daur-ulang sampah. Konsep sejenis sudah dikembangkan di Jakarta yaitu Usaha Daur-ulang dan Produksi Kompos (UDPK) yang dimulai sekitar tahun 1991. Tetapi seperti biasa, konsep ini tidak berjalan lancar karena konsep ini membutuhkan kesiapan semua fihak untuk merubah cara fikir dan cara pandang dalam penanganan sampah, termasuk cara pandang Pemerintah Daerah. Pendekatan yang sejenis akhir-akhir ini diperkenalkan di Indonesia oleh BPPT dengan konsep zero-waste nya. Sejak terjadinya lonsor pada TPA Leuwuigajah pada bulan 21 Februari 2005 lalu, konsep ini mulai diterapkan di Kota Cimahi, yang mentargetkan sebagai kota kompos, dimana aktivitas dan daur-ulang kompos didorong untuk dilaksanakan di tingkat RW secara swadaya.

Konsep penanganan sampah di sumber seperti dibahas di atas memang sangat dianjurkan, khususnya bila sampah dianggap sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali, atau sebagai bahan yang dapat dipakai kembali maupun sebagai sumber enersi. Keberhasilan cara ini banyak tergantung pada bagaimana memilah dan memisahkan sampah seawal mungkin. Tanpa upaya ini, dapat dipastikan usaha ini kurang begitu efisien. Di negara, maju teknologi pemisahan dan pemilahan sampah telah banyak diterapkan pada unit-unit daur-ulang, seperti pemilahan dengan menggunakan prinsip perbedaan densitas fluida dan perbedaan ukuran butiran, perbedaan sifat magnetis, atau berdasarkan perbedaan sifat optik dsb.

Tambah ke hilir alur perjalanan sampah, maka akan tambah sulit dan tambah kompleks penanganan sampah. Sampah yang baru dihasilkan di dapur, akan lebih sederhana karakaternya, lebih segar dan lebih homogen karena belum bercampur dengan yang lain, dibandingkan dengan sampah yang telah berada di bak sampah di depan rumah. Sampah yang diangkut oleh petugas pada gerobak sampah, mempunyai karakter yang lebih rumit dan lebih bermasalah dibandingkan sampah di bak sampah di rumah. Sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang menerima sampah secara bercampur dari berbagai sumber yang berbeda dari berbagai penjuru, yang dibiarkan terbuka berhari-hari, akan mempunyai karakter yang sudah jauh berbeda bila dibandingkan dengan sampah di rumah. Penanganan sampah di titik ini tidaklah semudah penanganan sampah di rumah. Keberhasilan cara penanganan sampah di tingkat rumah, dapat dikatakan sulit diharapkan untuk mempunyai hasil yang sama bila diterapkan di tingkat TPS, apalagi di TPA. Oleh karenanya, pemilahan dan pengolahan sampah di hulu merupakan kunci keberhasilan upaya 3R.

Sampah sebagai Sumber Daya dan Enersi

Berdasarkan data dari berbagai Dinas Kebersihan seperti di Jakarta, Bandung dan lain-lain tempat, terdapat beberapa MOU yang telah ditandatangani oleh Pemda sedjak awal tahun 2000 dengan fihak swasta seperti pembuatan ethyl alkohol dengan teknologi pirolisa dan bio-oxidation, pembuatan kompos, pembuatan pupuk cair dan pupuk padat dengan teknologi fermentasi, konversi sampah menjadi enersi. Namun sampai saat ini, belum satupun terlihat realisasinya, karena berbagai alasan dan hambatan, baik teknis maupun birokrasi, khususnya finansial.

Melihat komposisi sampah di Indonesia yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan, khususnya sampah dapur, maka sampah jenis ini akan cepat membusuk, atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini. Cara inilah yang sebetulnya dikembangkan oleh manusia dalam bentuk pengomposan dan biogasifikasi. Di Indonesia, dengan kondisi kelembaban dan temperatur udara yang relatif tinggi, maka kecepatan mikroorganisme dalam ‘memakan’ sampah yang bersifat hayati ini akan lebih cepat pula.

Pengomposan merupakan salah satu teknik pengolahan limbah organik yang mudah membusuk. Teknik ini sudah dikenal sejak lama di khususnya di daerah pedesaan. Pengomposan merupakan salah satu alternatif yang selalu dianjurkan untuk digunakan untuk menangani sampah kota. Tetapi permasalahan utamanya adalah belum adanya sinkronisasi antara pengelola pengomposan dengan program kebersihan yang dilakukan Pemerintah Daerah. Kementerian Lingkungan Hidup dengan bantuan Bank Dunia sejak beberapa tahun yang lalu memperkenalkan subsidi kompos yang dihasilkan, untuk merangsang pertumbuhan penanganan sampah melalui pengomposan.

Pengomposan yang sering dilakukan adalah secara aerobik (tersedia oksigen dalam prosesnya), karena berbagai kelebihan, seperti tidak menimbulkan bau, waktu lebih cepat, bertemperatur tinggi sehingga dapat membunuh bakteri patogen dan telur lalat sehingga kompos yang dihasilkan higienis. Pengomposan sampah kota bersasaran ganda, yaitu memusnahkan sampah kota dan sekaligus memperoleh bahan yang bermanfaat. Bila berbicara tentang kompos sampah kota, maka perlu mendapat perhatian:

  • Sumber sampah : bila langsung dari rumah, atau dari sumber yang sejenis, maka akan jauh lebih mudah ditangani dibandingkan bila telah berada di TPS
  • Upaya pemilahan : khususnya pemilahan antara bagian sampah yang biodegradabel dengan bagian sampah yang non-degradabel, juga antara bagian sampah biodegradabel yang kurang baik sebagai bahan kompos dengan bagian sampah yang mudah terdegradasi.
  • Waktu menunggu pengangkutan : sampah yang sudah lebih dari 2-3 hari dibiarkan dan kekurangan udara segar, akan menghasilkan asam-asam organik yang menimbulkan bau. Pada kondisi ini, upaya pengomposan akan menghasilkan keluhan bagi masyarakat sekitar, bila tidak ditangani secara tepat untuk mengembalikan posisi pengomposan dalam kondisi yang sehat.
  • Kualitas kompos : komposisi sampah kota sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dari waktu ke waktu, dsb maka sangat berlebihan bila mengharap kompos yang dihasilkan dari sampah kota akan mempunyai kualitas sebaik kompos dari sumber yang lebih homogen, seperti dari limbah pertanian.

Berdasarkan hal tersebut, akan menimbulkan harapan yang berlebihan bila pengomposan sampah kota diposisikan sebagai penambah penghasilan pemerintah daerah. Pengomposan sampah kota hendaknya diposisikan sebagai upaya untuk menangani sampah kota agar lebih baik dari sekedar hanya dibuang di sebuah open dumping, dan bila dilakukan di hulu, akan mengurangi biaya transportasi pengelolaan persampahan. Produk kompos dihasilkan tetap bermanfaat, dan diposisikan sebagai nilai lebih dalam pengelolaan sampah kota.

Pengomposan secara aerob melibatkan aktivitas mikroba aerobik. Pengomposan aerob ditandai dengan temperatur tinggi, relatif tidak menimbulkan bau dan lebih cepat dibanding anaerob. Guna mempercepat proses, dikenal pula pengomposan cepat (accelerated composting) yang banyak diterapkan di negara industri dalam bentuk highly mechanized composting, yaitu dengan cara mempercepat pembuatan kompos setengah matang, misalnya dengan suplai udara, kelembaban, pengaturan temperatur, dsb. Pengomposan yang diterapkan di Indonesia dapat dikatakan masih sederhana, seperti dengan cara diangin-angin (windrow), atau pembalikan tumpukan kompos secara manual. Beberapa upaya untuk mempengaruhi percepatan biodegradasi, seperti penambahan miro-organisme/enzym seperti EM (effective microorganisme), termasuk dengan memasukkan bakteri pengurai bau (seperti Acetobacter) banyak dilakukan. Tetapi pada dasarnya, alam sudah menyediakan mikrorganisme yang berlimpah pada sampah, dan bila proses pengomposan telah berjalan baik, sistem tersebut akan menyediakan secara terus menerus mikro-organisme yang dibutuhkan.

Sampah juga merupakan sumber biomas sebagai pakan ternak atau sebagai pakan cacing. Sayur-sayuran, sisa buah-buahan dan sisa makanan lainnya sangat cocok untuk makanan cacing. Beberapa jenis cacing yang biasa digunakan adalah seperti halnya budidaya cacing, seperti dari jenis Lumbricus. Namun cacing sensitif terhadap faktor lingkungan, seperti pH, kelembaban dan predator lain yang mungkin tumbuh dalam sampah. Dari upaya ini akan dihasilkan vermi-kompos yang berasal dari casting-nya serta bioamassa cacing yang kaya akan protein untuk makanan ternak serta kegunaan lain. Yang menjadi sasaran dari pengomposan–vermi adalah memusnahkan sampah, sehingga hasil yang diharapkan adalah kascing. Pengalaman ITB pada pembuatan vermi-kompos berkapasitas 20 m3/hari pada tahun 1999 dari sampah yang telah bercampur di TPS menyimpulkan:

  • Metode rak merupakan metode paling cocok untuk dilaksanakan pada skala sebuah kawasan permukiman untuk penanganan sampah kota, karena memiliki daya tampung yang cukup besar, biaya relatif murah, dan mudah dilakukan pengontrolan. 1 m2 cara ini memiliki kapasitas cacing 7,5 kg.
  • Kriteria tambahan untuk air yang digunakan :
    • Bila pH air > 8, perlu penurunan nilai tersebut, misalnya dengan penambahan asam lemah, atau mencampur dengan air hujan
    • Lindi dapat digunakan untuk kegiatan penyiraman sampah yang akan dilapukkan, atau dalam proses perendaman
  • Komponen sampah yang dapat digunakan adalah semua sampah hayati, termasuk kulit jeruk, sisa daging, sisa ikan. Umur sampah tidak lebih dari 2 hari sejak dibuang.
  • Suhu media perlu dipertahankan antara 20-25 oC. Untuk menjaga kestabilan suhu media, perlu dilakukan pembalikan dan penyiraman. Suhu media ini berpengaruh pada pengomposan vermi, sedang suhu lingkungan tidak banyak berpengaruh.
  • Dalam vermi kultur (budi daya cacing), makanan yang diberikan pada cacing relatif terpilih sehingga pertumbuhan cacing sesuai dengan yang diharapkan. Sedang dalam pengomposan vermi dengan sampah, kuantitas serta kualitas cacing tidaklah sebaik dalam vermi-kultur karena makanan yang diberikan adalah sesuai dengan kualitas sampah yang ada.
  • Pertumbuhan cacing adalalah relatif kecil, yaitu 1,5 kali, dengan konsumsi sampah seberat 0,725 kg per berat cacing. Sedang dalam vermi-kultur, pertumbuhan bisa mencapai 4 sampai 20 kali dengan konsumsi berat sampah adalah 1 kg/kg cacing.
  • Jenis cacing yang dapat digunakan adalah Lumbricus rubellus sp, Eisenia foetida, Pheretima asiatica sp dan Perionyx excavatus sp

Sampah yang terbuang, sebetulnya menyimpan enersi yang dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan enersi sampah dapat dilakukan dengan cara (a) menangkap gasbio hasil proses degradasi secara anaerobik pada sebuah reaktor (digestor) atau (b) menangkap gas bio yang terbentuk dari sebuah landfill, dan (c) menangkap panas yang keluar akibat pembakaran, misalnya melalui insinerasi, yang telah diterapkan di beberapa negara industri. Generasi terbaru dari teknologi ini dikenal sebagai waste-to-energy. Penelitian lain khususnya di negara industri seperti Amerika Serikat adalah pembuatan alkohol dari sampah organik ini.

Produk akhir dari proses anaerob bila kondisinya menunjang adalah menuju pembentukan gas metan (CH4). Bila proses ini terjadi pada timbunan sampah di sebuah landfill, akan menyebabkan lindi (leachate) dari timbunan tersebut bercirikan COD atau BOD yang tinggi dengan pH yang rendah, serta penyebab timbulnya bau khas sampah yang membusuk. Bila tahap ini dipersingkat dengan mengkonversi segera asam-asam tersebut menjadi metan, maka beban organik dalam lindi akan menjadi berkurang. Konsep inilah yang digunakan dalam accelerated landfilling.

Dari 1 m3 gas bio yang mengadung gas metan 50%, akan terkandung enersi sekitar 5500 Kcal, yang kira-kira ekuivalen dengan 0,58 liter bensin atau ekivalen dengan 5,80 kWH listrik. Dari digestor skala komersial di Valorga (Perancis) yaitu pilot metanisasi sampah kota skala industri, diperoleh produksi biogas sebesar 140 L/kg-kering sampah dengan 65% metan.

Adanya gas metan tidak dapat dihindari dalam suatu proses biodegradasi secara anaerob, yang merupakan hasil akhir dari proses tersebut. Timbulnya gas tersebut dapat menimbulkan dampak negatif bila tidak ditangani secara baik karena akan menimbulkan ledakan bila berada di udara terbuka dengan konsentrasi sekitar 15%. Dari pengalaman di negara industri, produksi gas bio pada landfill yaitu antara 20-25 ml/kg kering sampah/hari. Timbulnya gas metan dapat pula dianggap sebagai nilai tambah dari sebuah landfill, dengan memanfaatkan gas terbentuk sebagai sumber enersi. Upaya konversi CH4 menjadi CO2, karena CH4 dinilai mempunyai efek rumah kaca lebih dari 20 kali yang ditimbulkan CO2, merupakan salah satu subyek menarik dalam Clean Development Mechanism (CDM) sesuai dengan Kyoto Protocol, dan merupakan potensi besar bagi Indonesia dalam perdagangan CO2. Secara teoritis, potensi biogas dari timbunan sampah di Indonesia relatif cukup tinggi dibandingkan di negara industri yang umumnya terletak di daerah beriklim dingin. Potensi tersebut menonjol terutama bila dilihat dari sudut temperatur udara, komposisi sampah dan kelembaban. Tetapi permasalahan umum pada TPA di Indonesia adalah landfill tersebut umumnya dioperasikan secara open dumping atau paling jauh dengan cara controlled landfill, yang dapat mengakibatkan gas tidak terfokus menuju titik-titik pengumpul.

Salah satu jenis pengolah sampah yang sering digunakan sebagai alternatif penanganan sampah adalah insinerator. Untuk sampah kota, sebuah insinerator akan dianggap layak bila selama pembakarannya tidak dibutuhkan subsidi enersi dari luar. Sampah tersebut harus terbakar dengan sendirinya. Sampah akan disebut layak untuk insinerator, bila mempunyai paling tidak nilai kalor sebesar 1500 Kcal/kg kering. Untuk sampah kota di Indonesia, angka ini umumnya merupakan ambang tertinggi. Sampah kota di Indonesia dikenal mempunyai kadar air yang tinggi (sekitar 60%), sehingga akan mempersulit agar terbakar dengan sendirinya. Hambatan utama penggunaan insinerator adalah kekhawatiran akan pencemaran udara.

Insinerasi modular juga sering disebut-sebut sebagai alternatif dalam mengurangi massa sampah yang akan diangkut ke TPA. Biasanya insinerator jenis ini belum dilengkapi dengan sarana pengendali pencemaran udara yang timbul. Persoalan yang timbul adalah bagaimana mencari lokasi yang cocok, dan yang paling penting adalah mengoperasikan dengan temperatur yang sesuai serta bagaimana mengurangi dampak negatif dari pencemaran udara. Dari sekian banyak jenis pencemaran udara yang mungkin timbul, maka tampaknya yang paling dikhawatirkan adalah munculnya Dioxin.

Enersi panas dari sebuah insinerator di negara industri sudah banyak yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti untuk pemanas kota di musim dingin, pembangkit tenaga listrik. Pemanfaatan enersi ini tentu saja membutuhkan kesiapan yang matang, seperti pasar yang akan membeli dan sebagainya, sebab biaya investasinya akan lebih mahal dibandingkan insinerator biasa. Dengan nilai kalor sebesar 1000 Kcal/kg, sebetulnya akan diperoleh overall efficiency sampai menjadi listrik kurang dari 5%, yang besarnya kira-kira 6000 kw untuk 1000 ton sampah. Jenis sampah yang dianggap baik untuk dikonversi menjadi listrik biasanya bila mempunyai overall efficiency paling tidak 10 %. Pemanfaatan enersi panas dari sebuah insinerator sampah kota biasanya dibatasi untuk skala insinerator 100 ton/hari ke atas.

Penutup

Pengelolaan sampah pada masyarakat perkotaan bertambah lama bertambah kompleks sejalan dengan kekomplekan masyarakat itu sendiri. Dibutuhkan keterlibatan beragam teknologi dan beragam disiplin ilmu, termasuk di dalamnya teknologi-teknologi yang terkait dengan bagaimana mengontrol timbulan (generation), pengumpulan (collection), pemindahan (transfer), pengangkutan (transportation), pemerosesan (processing), pembuangan akhir (final disposal) sampah yang dihasilkan pada masyarakat tersebut. Pendekatannya tidak lagi sesederhana menghadapi masyarakat di perdesaan. Seluruh proses tersebut perlu diselesaikan dalam rangka bagaimana melindungi kesehatan masyarakat, pelestarian lingkungan hidup, namun secara estetika dan juga secara ekonomi dapat diterima. Beragam pertimbangan perlu dimasukkan, seperti aspek adminsitratif, finansial, legal, arsitektural, planning, kerekayasaan.

Pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan proses kumpul-angkut-buang menyisakan banyak permasalahan antara lain ketersediaan lahan untuk pembuangan akhirnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi beban penanganan sampah adalah dengan reduksi volume sampah yang harus ditangani. Konsep daur ulang sampah merupakan salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan, sehingga nilai ekonomis yang masih terkandung di dalam sampah dapat lebih dimanfaatkan. Saat ini pengelolaan sampah di kota-kota di Indonesia biasanya bukanlah merupakan prioritas penting dari sekian banyak permasalahyan kota yang harus ditangani. Tugas pengelola persampahan bukanlah menjadi ringan di masa datang. Diperlukan sebuah kebijakan yang bersifat menyeluruh dan konsisten dalam penanganan sampah, sehingga arah penanganan sampah tidak bersifat temporer semata. Pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia perlu digalakkan, khususnya yang mudah beradaptasi dengan kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia. Teknologi yang berbasis pada peran serta masyarakat tampaknya perlu mendapat prioritas, agar keterlibatan mereka menjadi lebih berarti dan terarah dalam penanganana sampah.

Bahan Referensi :

  • Enri Damanhuri and Tri Padmi : Reuse and recycling as a solution of urban solid waste problem in Indonesia, Proceedings of the International Symposium and Exhibition on Waste Management in Asian Cities, Hong Kong 23-26 October 2000
  • Enri Damanhuri : Minimasi sampah terangkut dan optimasi TPA, Workshop sehari tentang pengelolaan sampah di kawasan metropolitan – khususnya DKI Jakarta, Dept. Kimpraswil Jakarta, 15 Desember 2001
  • Enri Damanhuri : Pengelolaan sampah dan air limbah perkotaan – Isu strategis, konsep dasar dan peluang investasi, Seminar BPPT : Kebijakan Pengelolaan Pembangunan Perkotaan – Jakarta, 16 Oktober 2002
  • Enri Damanhuri : Paradigma baru pengelolaan sampah kota – Minimasi sampah terangkut dan optimasi TPA, Lokakarya Peningkatan Kapasitas Daerah dalam Pengelolaan Sampah, Kementerian LH, Januari 2003
  • Enri Damanhuri and Tri Padmi : Landfill as a final disposal method for municipal solid waste in Indonesia – the current practiced and research of development, Proceedings of the COE Joint Symposium on Environmental Engineering between Hokkaido University, Chungbuk National University and Institut Teknologi Bandung, Sapporo, Japan, 2-nd Feb. 2005
  • Enri Damanhuri : Some principal issues on municipal solid waste management in Indonesia, Expert Meeting on Waste Management in Asia-Pacific Islands, Tokyo Oct 27-29, 2005

Dipresentasikan pada:

Workshop Nasional Biokonversi Limbah 11-11 April 2006 – Univ. Brawijaya Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s