Pengelolaan Sampah Kota Bandung

Wilayah Cekungan Bandung

Sebagai pusat kegiatan nasional, kawasan Cekungan Bandung memiliki kawasan-kawasan dengan aktifitas tinggi. Timbulan sampah perkotaan kawasan ini termasuk katagori timbulan sangat tinggi melebihi 3000 m3/hari dengan sumber terbesar adalah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.

Tingkat pelayanan yang diukur berdasarkan jumlah timbulan sampah terangkut ke TPA menunjukkan tingkat pelayanan tertinggi dicapai oleh Kota Sumedang yaitu 96%. Sedangkan terendah adalah Kabupaten Bandung yang hanya mencapai 23% dan Kota Cimahi 37%. Adapun Kota Bandung dengan timbulan kota mencapai 7.500 m3/hari, tingkat pelayanan baru mencapai 60%. Tabel 1 menunjukkan jumlah proyeksi sampah di Metropolitan.

Pola pengelolaan sampah yang diterapkan di kota-kota di wilayah ini masih pola operasi konvensional, yaitu konsep kumpul-angkut-buang. Pola ini menyebabkan  tingginya beban penimbunan sampah di TPA. Berdasarkan luas lahan TPA yang dimiliki oleh setiap kota/kabupaten, beban penimbunan tertinggi adalah Kota Bandung sebesar 3,55 m3/m2 sampah. Semakin besar rasio timbulan sampah per satuan unit lahan penimbunan, menunjukkan beban penimbunan semakin tinggi, dan merupakan salah satu indikasi diperlukannya lahan baru.

Tabel 1. Proyeksi Timbulan sampah di Metropolitan Bandung (BPLHD, 2008)

Beban penimbunan sampah di kawasan Cekungan Bandung paling tinggi adalah Kota Bandung yaitu 3,35 m3/m2. Kota lain dengan beban penimbunan relatif tinggi adalah Kab. Bandung dan Kota Cimahi, dengan beban penimbunan >2 m3/m2.

Wilayah Bandung

Pengelolaan kebersihan di Bandung ditangani oleh Perusahaan Daerah Kebersihan (PD. Kebersihan), yang didirikan pada tahun 1985 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 02/PD/1985. Perusahaan daerah ini dibentuk untuk menggantikan peran dan fungsi pelayanan pengelolaan sampah atau kebersihan kota yang sebelumnya diselenggarakan oleh Dinas Kebersihan Kota. Gambar 1 memperlihatkan pola pelayanan sampah di kota Bandung.

Gambar 1. Pola pelayanan sampah di Kota Bandung (PT. MLDC, 2004)

Walaupun fluktuatif, jumlah timbulan sampah Kota Bandung cenderung meningkat, sedangkan pengkategorian lain adalah data jumlah timbulan sampah Kota Bandung berdasarkan sumber timbulannya, jumlah sampah terangkut, serta persentase pengangkutannya. Berdasarkan data sampah terangkut, dapat dilihat bahwa persentase pengangkutan sampah di Kota Bandung rata-rata baru mencapai 60%. Timbulan sampah (limbah padat domestik) dari berbagai sumber di Kota Bandung diperlihatkan pada Tabel 2 dan timbulan limbah padat B3 diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 2. Jumlah timbulan dan sampah terangkut (PD. Kebersihan, 2008)

Berdasarkan perhitungan di atas. maka rata-rata sampah terangkut di kota Bandung adalah sebesar 60% dari jumlah perkiraan timbulan sampah. Tabel 4 memperlihatkan komposisi sampah Kota Bandung.

Tabel 3. Timbulan limbah B3 di kota Bandung (PD. Kebersihan. 2008)

Tabel 4. Komposisi sampah Kota Bandung (PD. Kebersihan. 2008)

Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap terselenggaranya sistem pengangkutan sampah secara efektif dan efisien sehingga mampu mencapai hasil seluruh sampah di TPS dan titik komunal lainnya yang terangkut ke TPA di antaranya adalah jumlah armada angkutan yang memadai sesuai dengan kemampuan daya angkut masing-masing jenis armada dan beban volume sampah yang harus diangkut. Fasilitas pengumpulan sampah yang tersedia di kota Bandung adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 5 dan jumlah peralatan pengangkutan sampah ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 5. Fasilitas pengumpulan sampah kota Bandung (PD. Kebersihan. 2008)

Tabel 6. Peralatan pengangkutan sampah kota Bandung (PD. Kebersihan. 2008)

Kondisi kebersihan Kota Bandung saat ini ditinjau dari permasalahan pengelolaan sampah menunjukan kondisi belum bersih hal ini dapat dilihat dari daerah sentra kegiatan umum seperti pasar. jalan-jalan protokol yang digunakan untuk kegiatan berdagang (pedagang kaki lima dan pasar tumpah) terminal dan tempat-tempat umum lainnya. Fenomena umum yang sering terlihat adalah bertumpuknya sampah di beberapa lokasi TPS atau TPS liar. Adapaun permasalahan yang dihadapi untuk dapat mewujudkan kota yang bersih adalah keterbatasan tersedianya prasarana dan sarana operasional dan masih kurangnya sumber daya manusia baik kualitas maupun kuantitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s