Aspek Sosial PLH

Aspek sosial Lingkungan Hidup = lingkungan sosial

  • Lingkungan hidup: kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk manusia & perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan & kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (UU PPLH No 32/ 2009).
  • Manusia adalah makhluk sosial, selalu memerlukan kerjasama dengan orang lain untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan, sehingga terbentuklah pengorganisasian sosial, yakni suatu jaringan interaksi sosial antara sesama untuk menjamin ketertiban sosial. Proses interaksi sosial itu memunculkan konsep lingkungan sosial.
  • Lingkungan sosial adalah bagian dari Lingkungan Hidup (unsur culture) : “wilayah yang merupakan tempat berlangsungnya bermacam-macam interaksi sosial antara berbagai kelompok beserta pranatanya dengan simbol dan nilai serta norma yang sudah mapan, serta terkait dengan lingkungan alam & lingkungan buatan (tata ruang)” (Purba et al, 2002: 13-14)
  • Contoh lingkungan sosial: keluarga inti, keluarga luas, kelompok masyarakat, dll

Komponen-konsumen pokok lingkungan sosial

  • Pengelompokan sosial – berdasarkan hubungan kekerabatan, kesamaan wilayah pemukiman, dst
  • Penataan sosial – pengaturan untuk terciptanya tujuan bersama
  • Media sosial – wahana untuk mewujudkan kepentingan bersama
  • Pranata sosial – pedoman bersama untuk mengembangkan & menghadapi kehidupan bersama (dalam bidang ekonomi, politik, agama, dll)
  • Pengendalian sosial – upaya untuk menciptakan & menjaga ketertiban sosial
  • Kebutuhan sosial – kebutuhan untuk hidup bersama, untuk bersosialisasi, untuk membentuk kelompok, dll

Keragaman Lingkungan Sosial

  • Berdasarkan lokalitas/ geografis : lingkungan sosial pesisir & pedalaman – masyarakat nelayan, masyarakat perairan, masyarakat pesisir tradisional
  • Berdasarkan mata pencaharian: lingkungan sosial berburu, meramu, berladang berotasi atau bertani tidak menetap, bertani menetap, industri, jasa – masyarakat pemburu & peramu, masyarakat peladang berotasi, masyarakat peladang menetap, masyarakat petani, masyarakat industrial
  • Berdasarkan administrasi pemerintahan & ciri sosiologis: lingkungan sosial pedesaan, sub-urban, dan perkotaan – masyarakat pedesaan, masyarakat sub-urban, masyarakat perkotaan
  • Masing-masing kelompok masyarakat yang mendiami lingkungan sosial tersebut memiliki perbedaan dalam:
    • Pola pemanfaatan sumberdaya yang terdapat dalam lingkungan hidupnya, dan
    • Masalah-masalah yang dihadapi bersama

Pentingnya Aspek Sosial dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup

  • Sifat Dinamika Lingkungan (Mitchell et al, 2000: 7):
  • Perubahan : Pengelola LH harus selalu siap menghadapi perubahan, baik perubahan LH itu sendiri maupun perubahan aspek sosial, ekonomi & politik terutama sebagai akibat proses pengambilan keputusan publik
  • Kompleksitas: dampak aktivitas terhadap LH bersifat kompleks & tidak mudah dipahami secara utuh
  • Ketidakpastian: LH dipenuhi oleh ketidakpastian sehingga diperlukan sikap kehati-hatian dalam pengambilan keputusan
  • Konflik: perbedaan & pertentangan kepentingan cenderung muncul dalam pengalokasian sumberdaya & pengambilan keputusan

Pengelolaan Lingkungan H idup

Definisi Umum:

  • “Pengelolaan Lingkungan adalah satu proses intervensi publik yang sistematis dan terus-menerus dalam pengalokasian dan pemanfaatan lingkungan dan sumber daya alam untuk memecahkan persoalan-persoalan lingkungan saat ini dan untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan” (Setiawan, 2000)
  • “Upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan” (UU No.23, 1997)

Definisi khusus:

“upaya penanganan dampak penting terhadap LH yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan” (Peraturan Meneg LH, No.08/2006)

Lingkup: pencegahan & penanggulangan dampak negatif, dan peningkatan dampak positif

Pendekatan Pengelolaan Lingkungan H idup (Peraturan Meneg LH, No.08/2006)

  • Pendekatan teknologi: cara-cara yg digunakan untuk mengelola dampak penting LH
  • Pendekatan sosial ekonomi: langkah-langkah yang ditempuh oleh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial, & bantuan peran pemerintah
  • Pendekatan Institusi: mekanisme kelembagaan yang ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak penting LH

Catatan:

  • Tidak ada penjelasan yang rinci tentang tiga pendekatan tersebut, karena itu diperlukan eksplorasi pada masing-masing pendekatan
  • Pilihan terhadap suatu pendekatan pengelolaan LH semestinya mempertimbangkan keragaman lingkungan sosial dan empat sifat dinamika LH

Pengelolaan Lingkungan Hidup Adaptif

  • Mengapa diperlukan? “…total pengetahuan kita tentang sistem ekologi & sosial sangat kecil dibandingkan apa yang tidak kita perhatikan. Maka, satu isu kunci untuk perancangan & evaluasi kebijakan adalah bagaimana menghadapi ketidakjelasan, hal-hal yang tidak terduga, serta tak diketahui” (Holding, 1978 via Mitchell et al, 2000)
  • Pendekatan pengelolaan adaptif paling sesuai diterapkan pada situasi ketidakpastian yang tinggi
  • Prasyarat terpenting adalah kemauan untuk belajar dari kesalahan – belajar dari pengalaman

Tabel Strategi Pengelolaan (Rondinelli, 1993 via Mitchell et al, 2000: 229)

Aspek Sosial PLH

Penerapan Strategi Pengelolaan

  • Strategi pengelolaan mekanistik – penerapan terprogram / cetak biru (blue print) : suatu rencana khusus dengan definisi tujuan yang jelas, garis tanggung-jawab yang tegas, partisipasi dibatasi, & kemungkinan penyimpangan diminimalkan
  • Strategi pengelolaan adaptif – penerapan adaptif : suatu rencana yang dapat diubah & disesuaikan sesuai dengan situasi yang berubah; hasil akhirnya tidak diasumsikan muncul secara otomatis sebagaimana yang dimaksudkan
  • Hambatan penerapan pengelolaan adaptif: keengganan banyak perencana dan pengelola untuk mau mengakui kesalahan dan kegagalan serta membuat perubahan dan penyempurnaan yang diperlukan

Model-model Pengelolaan Lingkungan Hidup

  • Model kompensasi – mengganti kerugian yg diakibatkan olh kegiatan/usaha (Hadi, 1995)
  • Model ‘community relation’ – membina hubungan baik dengan masyarakat (setempat) (Hadi, 1995)
  • Model Co-Management – pengelolaan bersama diantara masyarakat setempat, pemerintah, dan pemrakarsa kegiatan (Mitchell et al, 2000)
  • Dsb

Pengelolaan Bersama {Co-management}

  • Prinsip co-management: (1) kemitraan (partnership) & partisipasi; (2) penyatuan antara sistem pengetahuan & kearifan lokal (yang dimiliki oleh masyarakat setempat) dan sistem pengetahuan ‘ilmiah-modern’
  • Biasanya digunakan untuk mengelola sumberdaya yang dapat diperbarui (renewable resources)
  • Mengapa pengelolaan bersama?
    • Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
    • Membantu menyerahkan kekuasaan kepada masyarakat
    • Mengurangi konflik melalui kesepakatan & prinsip-prinsip partisipasi
    • Mengantarkan masyarakat lokal kepada ‘keberdayaan’ (ekonomi)

3 Level Strategi Pengelolaan Bersama

  • Strategi konservasi SDA
  • Strategi pembangunan:
    • pendekatan kewilayahan
    • micro planning: kerjasama & partisipasi aktif masyarakat lokal; PRA-RRA untuk resource assessment
  • Strategi manajemen:
    • Pelibatan organisasi/ institusi lokal – capacity building, kesadaran lingkungan, dll
    • Aktivitas pendukung: kegiatan untuk kesejahteraan, penggalangan dana kolektif, dll
    • Pelatihan untuk capacity building
    • Komunikasi & perluasan: pertemuan, kunjungan, publikasi, dll
    • Marketing produk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s