Arsip Kategori: Limbah

Pewadahan, Pengumpulan dan Pemindahan Sampah

Pewadahan Sampah

Pewadahan sampah merupakan cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal. Wadah sampah individual umumnya ditempatkan di muka rumah atau bangunan lainnya. Sedangkan wadah sampah komunal ditempatkan di tempat terbuka yang mudah diakses. Sampah diwadahi sehingga memudahkan dalam pengangkutannya. Idealnya jenis wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dikelola agar memudahkan dalam penanganan berikutnya, khususnya dalam upaya daur-ulang. Di samping itu, dengan adanya wadah yang baik, maka:

  • Bau akibat pembusukan sampah yang juga menarik datangnya lalat, dapat diatasi.
  • Air hujan yang berpotensi menambah kadar air di sampah, dapat kendalikan
  • Pencampuran sampah yang tidak sejenis, dapat dihindari

Berdasarkan letak dan kebutuhan dalam sistem penanganan sampah, maka pewadahan sampah dapat dibagi menjadi beberapa tingkat (level), yaitu:

  1. Level-1 : wadah sampah yang menampung sampah langsung dari sumbernya. Pada umumnya wadah sampah pertama ini diletakkan di tempat-tempat yang terlihat dan mudah dicapai oleh pemakai, misalnya diletakkan di dapur, di ruang kerja, dsb. Biasanya wadah samp ah jenis ini adalah tidak statis, tetapi mudah diangkat dan dibawa ke wadah sampah level-2.
  2. Level-2: bersifat sebagai pengumpul sementara, merupakan wadah yang menampung sampah dari wadah level -1 maupun langsung dari sumbernya. Wadah sampah level-2 ini diletakkan di luar kantor, sekolah, rumah, atau tepi jalan atau dalam ruang yang disediakan, seperti dalam apartemen bertingkat . Melihat perannya yang berfungsi sebagai titik temu antara sumber sampah dan sistem pengumpul, maka guna kemudahan dalam pemindahannya, wadah sampah ini seharusnya tidak bersifat permanen, seperti yang diarahkan dalam SNI tentang pengelolaan sampah di Indonesia. Namun pada kenyataannya di permukiman permanent, akan dijumpai wadah sampah dalam bentuk bak sampah permanen di depan rumah, yang menambah waktu operasi untuk pengosongannya.
  3. Level-3: merupakan wadah sentral, biasanya bervolume besar yang akan menampung sampah dari wadah level-2, bila sistem memang membutuhkan. Wadah sampah ini sebaiknya terbuat dari konstruksi khusus dan ditempatkan sesuai dengan sistem pengangkutan sampahnya. Mengingat bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah tersebut, maka wadah sampah yang digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut : kuat dan tahan terhadap korosi, kedap air, tidak mengeluarkan bau, tidak dapat dimasuki serangga dan binatang, serta kapasitasnya sesuai dengan sampah yang akan ditampung.

Wadah sampah hendaknya mendorong terjadinya upaya daur-ulang, yaitu disesuaikan dengan jenis sampah yang telah terpilah. Di negara maju adalah hal yang umum dijumpai wadah sampah yang terdiri dari dari beragam jenis sesuai jenis sampahnya. Namun di Indonesia, yang sampai saat ini masih belum berhasil menerapkan konsep pemilahan, maka paling tidak hendaknya wadah tersebut menampung secara terpisah, misalnya:

  1. Sampah organik, seperti daun sisa, sayuran, kulit buah lunak, sisa makanan, dengan wadah warna gelap seperti hijau
  2. Sampah anorganik seperti gelas, plastik, logam, dan lain-lainnya, dengan wadah warna terang seperti kuning
  3. Sampah bahan berbahaya beracun dari rumah tangga dengan warna merah, dan dianjurkan diberi lambang (label) khusus

Di Indonesia dikenal pola pewadahan sampah individual dan komunal. Wadah individual adalah wadah yang hanya menerima sampah dari sebuah rumah, atau sebuah bangunan, sedang wadah komunal memungkinkan sampah yang ditampung berasal dari beberapa rumah atau dari beberapa bangunan. Pewadahan dimulai dengan pemilahan baik untuk pewadahan individual maupun komunal, dan sebaiknya disesuaikan dengan jenis sampah. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

  • Pada umumnya wadah sampah individual level-2 ditempatkan di tepi jalan atau di muka fasilitas umum, dan wadah sampah komunal terletak di suatu tempat yang tebuka, sehingga memudahkan para petugas untuk mengambilnya dengan cepat, teratur, dan higienis.
  • Wadah sampah dari rumah sebaiknya diletakkan di halaman muka, dianjurkan tidak di luar pagar, sedang wadah sampah hotel dan sejenisnya ditempatkan di halaman belakang
  • Tidak mengambil lahan trotoar, kecuali bagi wadah sampah untuk pejalan kaki
  • Didesain secara indah, dan dijamin kebersihannya, khususnya bila terletak di jalan protokol
  • Tidak mengganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya.
  • Mudah untuk pengoperasiannya, yaitu mudah dan cepat untuk dikosongkan.
  • Jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m.
  • Mudah dijangkau oleh petugas sehingga waktu pengambilan dapat lebih cepat dan singkat.
  • Aman dari gangguan binatang ataupun dari pemungut barang bekas, sehingga sampah tidak dalam keadaan berserakan.
  • Tidak mudah rusak dan kedap air.

Penentuan ukuran volume biasanya berdasarkan jumlah penghuni tiap rumah/sumber, timbulan sampah per pemakai, tingkat hidup masyarakat, frekuensi pengambilan atau pengumpulan sampah dan cara pemindahan sampah, manual atau mekanik.

Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, maka:

Pola pewadahan individual: diperuntukkan bagi daerah pemukiman berpenghasilan tinggi dan daerah komersial. Bentuk yang dipakai tergantung selera dan kemampuan pengadaannya dari pemiliknya, dengan kriteria:

  • Bentuk: kotak, silinder, kantung, kontainer.
  • Sifat: dapat diangkat, tertutup.
  • Bahan: logam, plastik. Alternatif bahan harus bersifat kedap terhadap air, panas matahari, tahan diperlakukan kasar, mudah dibersihkan.
  • Ukuran: 10-50 liter untuk pemukiman, toko kecil, 100-500 liter untuk kantor, toko besar, hotel, rumah makan.
  • Pengadaan: pribadi, swadaya masyarakat, instansi pengelola.

Pola pewadahan komunal: diperuntukkan bagi daerah pemukiman sedang/kumuh, taman kota, jalan, pasar. Bentuk ditentukan oleh pihak instansi pengelola karena sifat penggunaannya adalah umum, dengan kriteria:

  • Bentuk: kotak, silinder, kontainer.
  • Sifat: tidak bersatu dengan tanah, dapat diangkat, tertutup.
  • Bahan: logam, plastik. Alternatif bahan harus bersifat kedap terhadap air, panas matahari, tahan diperlakukan kasar, mudah dibersihkan.
  • Ukuran: 100-500 liter untuk pinggir jalan, taman kota, 1-10 m3 untuk pemukiman dan pasar.
  • Pengadaan: pemilik, badan swasta (sekaligus sebagai usaha promosi hasil produksi), instansi pengelola.

Pengumpulan Sampah

Jenis Pengumpulan sampah

Pengumpulan sampah adalah proses penanganan sampah dengan cara pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke (1) tempat pembuangan sementara atau ke (2) pengolahan sampah skala kawasan, atau (3) langsung ke tempat pembuangan atau pemerosesan akhir tanpa melalui proses pemindahan. Operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah mulai dari sumber sampah hingga ke lokasi pemerosesan akhir atau ke lokasi pembuangan akhir, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung (door to door), atau secara tidak langsung (dengan menggunakan Transfer Depo/Container) sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPS), dengan penjelasan sebagai berikut:

  1. Secara Langsung (door to door): Pada sistem ini proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dilakukan bersamaan. Sampah dari tiap-tiap sumber akan diambil, dikumpulkan dan langsung diangkut ke tempat pemrosesan, atau ke tempat pembuangan akhir.
  2. Secara Tidak Langsung (Communal): Pada sistem ini, sebelum diangkut ke tempat pemerosesan, atau ke tempat pembuangan akhir, sampah dari masing-masing sumber akan dikumpulkan dahulu oleh sarana pengumpul seperti dalam gerobak tangan (hand cart) dan diangkut ke TPS. Dalam hal ini, TPS dapat pula berfungsi sebagai lokasi pemrosesan skala kawasan guna mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut ke pemerosesan akhir.

Pada sistem communal ini, sampah dari masing – masing sumber akan dikumpulkan dahulu dalam gerobak tangan (hand cart) atau yang sejenis dan diangkut ke TPS. Gerobak tangan merupakan alat pengangkutan sampah sederhana yang paling sering dijumpai di kota-kota di Indonesia, dan memiliki kriteria persyaratan sebagai berikut:

  • Mudah dalam loading dan unloading
  • Memiliki konstruksi yang ringan dan sesuai dengan kondisi jalan yang ditempuh Sebaiknya mempunyai tutup

Jenis Pewadahan dan Sumber Sampahnya

Pola dan Karakteristik Pewadahan Sampah

Contoh Wadah dan Penggunaannya

Bagan Proses Pengumpulan dan Pengangkutan secara Langsung

 

Bagan Proses Pengumpulan dan Pengangkutan secara Tidak Langsung

Tempat penampungan sementara merupakan suatu bangunan atau tempat yang digunakan untuk memindahkan sampah dari gerobak tangan (hand cart)ke landasan, kontainer atau langsung ke truk pengangkut sampah. Tempat penampungan sementara ini berupa:

Transfer Station I / Transfer Depo, biasanya terdiri dari:

  • Bangunan untuk ruangan kantor.
  • Bangunan tempat penampungan/pemuatan sampah.
  • Pelataran parkir.
  • Tempat penyimpanan peralatan.

Untuk suatu lokasi Transfer Depo, atau di Indonesia dikenal sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPS) seperti di atas diperlukan areal tanah minimal seluas 200 m 2. Bila lokasi ini berfungsi juga sebagai tempat pemerosesan sampah skala kawasan, maka dibutuhkan tambahan luas lahan sesuai aktivitas yang akan dijalankan.

Kontener besar (steel Container) volume 6 – 10 m3:

Diletakkan di pinggir jalan dan tidak mengganggu lalu lintas. Dibutuhkan landasan permanen sekitar 25-50 m2untuk meletakkan kontainer. Di banyak tempat di kota-kota Indonesia, landasan ini tidak disediakan, dan kontainer diletakkan begitu saja di lahan tersedia. Penempatan sarana ini juga bermasalah karena sulit untuk memperoleh lahan, dan belum tentu masyarakat yang tempat tinggalnya dekat dengan sarana ini bersedia menerima.

Bak komunal yang dibangun permanen dan terletak di pinggir jalan:

Hal yang harus diperhatikan adalah waktu pengumpulan dan frekuensi pengumpulan. Sebaiknya waktu pengumpulan sampah adalah saat dimana aktivitas masyarakat tidak begitu padat, misalnya pagi hingga siang hari. Frekuensi pengumpulan sampah menentukan banyaknya sampah yang dapat dikumpulkan dan diangkut perhari. Semakin besar frekuensi pengumpulan sampah, semakin banyak volume sampah yang dikumpulkan per service per kapita. Bila sistem pengumpulan telah memasukkan upaya daur- ulang, maka frekuensi pengumpulan sampah dapat diatur sesuai dengan jenis sampah yang akan dikumpulkan. Dalam hal ini sampah kering dapat dikumpulkan lebih jarang.

Untuk menjaga kebersihan dan keindahan jalan-jalan, maka perlu diatur kegiatan penyapuan jalan. Pada umumnya, sampah hasil penyapuan jalan berupa daun-daunan kering, dahan/ranting dan debu jalan. Penyapuan jalan sebaiknya dilakukan secara simultan oleh juru sapu, yaitu menyapu sampah di jalan, mengumpulkannya dalam wadah serta mengangkutnya ke tempat penampungan sementara dengan menggunakan gerobak tangan. Untuk memudahkan pengawasan dan untuk menjaga kebersihan kawasan, penyapuan jalan dilakukan dengan pembagian kelompok kerja (shift).

Pola Pengumpulan Sampah

Bersama dengan kegiatan pewadahan, maka pengumpulan sampah merupakan kegiatan awal dalam rangkaian pengelolaan sampah. Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian adalah:

  • Pengumpulan sampah harus memperhatikan:
    • Keseimbangan pembebanan tugas.
    • Optimasi penggunaan alat, waktu, dan petugas.
    • Minimasi jarak operasi.
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi pola pengumpulan sampah:
    • Jumlah sampah terangkut.
    • Jumlah penduduk.
    • Luas daerah operasi.
    • Kepadatan penduduk dan tingkat penyebaran rumah.
    • Panjang dan lebar jalan.
    • Kondisi sarana penghubung (jalan, gang).
    • Jarak titik pengumpulan dengan lokasi.
  • Jenis/pola pengumpulan sampah dapat dibagi menjadi:
    • Individual langsung.
    • Individual tidak langsung.
    • Komunal langsung.
    • Komunal tidak langsung.
    • Penyapuan jalan dan taman.

Pola pengumpulan sampah terdiri atas:

Pola individual langsung oleh truk pengangkut menuju ke pemrosesan:

  • Bila kondisi topografi bergelombang (rata-rata > 5%), hanya alat pengumpul mesin yang dapat beroperasi, sedang alat pengumpul non-mesin akan sulit beroperasi.
  • Kondisi jalan cukup lebar dan operasi tidak mengganggu pemakai jalan lainnya.
  • Kondisi dan jumlah alat memadai.
  • Jumlah timbulan sampah > 0,3 m3/hari.
  • Biasanya daerah layanan adalah pertokoan, kawasan pemukiman yang tersusun rapi, daerah elite, dan jalan protokol.
  • Layanan dapat pula diterapkan pada daerah gang. Petugas pengangkut tidak masuk ke gang, hanya akan memberi tanda bila sarana pengangkut ini datang, misal dengan bunyi-bunyian.

Pola individual tidak langsung, dengan menggunakan pengumpul sejenis gerobak sampah, dapat diterapkan bila:

  • Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. Lahan ini dapat difungsikan sebagai tempat pemerosesan sampah skala kawasan
  • Kondisi topografi relatif datar (rata-rata < 5%), dapat digunakan alat pengumpul non-mesin (gerobak, becak).
  • Alat pengumpul masih dapat menjangkau secara langsung.
  • Lebar jalan atau gang cukup lebar untuk dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya.
  • Terdapat organisasi pengelola pengumpulan sampah, dengan sistem pengendaliannya.

Pola komunal langsung oleh truk pengangkut dilakukan, bila :

  • Alat angkut terbatas
  • Kemampuan pengendalian personil dan peralatan relatif rendah.
  • Alat pengumpul sulit menjangkau sumber-sumber sampah individual (kondisi daerah berbukit, gang/jalan sempit).
  • Peran serta masyarakat tinggi.
  • Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan di lokasi yang mudah dijangkau oleh alat pengangkut (truk).
  • Pemukiman tidak teratur.

Pola komunal tidak langsung, dengan persyaratan sebagai berikut :

  • Peran serta masyarakat tinggi.
  • Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan di lokasi yang mudah dijangkau alat pengumpul.
  • Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. Lahan ini dapat difungsikan sebagai tempat pemerosesan sampah skala kawasan
  • Bagi kondisi topografi yang relatif datar (rata-rata < 5%), dapat digunakan alat pengumpul non mesin (gerobak, becak) dan bagi kondisi topografi > 5% dapat digunakan cara lain seperti pikulan, kontainer kecil beroda dan karung.
  • Lebar jalan/gang dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya.
  • Harus ada organisasi pengelola pengumpulan sampah.

Pola penyapuan jalan, dengan persyaratan sebagai berikut :

  • Juru sapu harus mengetahui cara penyapuan untuk setiap daerah pelayanan (diperkeras, tanah, lapangan rumput, dan lain-lain).
  • Penanganan penyapuan jalan untuk setiap daerah berbeda tergantung pada fungsi dan nilai daerah yang dilayani.
  • Pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan diangkut ke lokasi pemindahan untuk kemudian diangkut ke pemrosesan akhir.
  • Pengendalian personel dan peralatan harus baik.

Perencanaan operasional pengumpulan harus memperhatikan:

  • Ritasi antara 1 – 4 rit per hari.
  • Periodisasi: untuk sampah mudah membusuk maksimal 3 hari sekali namun sebaiknya setiap hari, tergantung dari kapasitas kerja, desain peralatan, kualitas kerja, serta kondisi komposisi sampah. Semakin besar persentase sampah organik, periodisasi pelayanan semakin sering. Untuk sampah kering, periode pengumpulannya dapat dilakukan lebih dari 3 hari 1 kali. Sedang sampah B3 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
  • Mempunyai daerah pelayanan tertentu dan tetap.
  • Mempunyai petugas pelaksana yang tetap dan perlu dipindahkan secara periodik.
  • Pembebanan pekerjaan diusahakan merata dengan kriteria jumlah sampah terangkut, jarak tempuh, kondisi daerah, dan jenis sampah yang akan diangkut.

Beberapa Kriteria yang Berlaku di Indonesia

Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, maka:

  • Kriteria alat pengumpul (ukuran/ kapasitas, jenis):
    • Sesuai dengan kondisi jalan.
    • Bila tidak bermesin disesuaikan dengan kapasitas tenaga kerja maksimal yaitu 1,5 m3, dan hanya untuk daerah datar.
    • Bermesin untuk daerah yang berbukit.
  • Frekuensi pengumpulan ditentukan menurut lokasi pelayanan/ pemukiman,pasar, dan lain-lain, pada umumnya 2-4 kali sehari.
  • Jadwal pengumpulan adalah di saat tidak mengganggu aktivitas masyarakat terpadat, sebelum jam 7.00, jam 10.00–15.00, atau sesudah jam 17.00.
  • Periodisasi pengumpulan 1 hari, 2 hari, atau maksimal 3 hari sekali, tergantung dari beberapa kondisi seperti:
    • Komposisi sampah (semakin besar persentase organiknya, semakin kecil periodisasi pelayanan, contoh: untuk pasar 0,5-1 hari, tetapi perkantoran 3 hari).
    • Kapasitas kerja.
    • Desain peralatannya.
    • Kualitas pelayanan yang diinginkan.
  • Pengumpulan secara terpisah
    • Pemisahan dengan warna gerobak, misalnya sampah organik warna hijau.
    • Diatur dengan jadwal dan periode pengumpulan.
    • Himbauan bahwa sampah non organik hanya dikeluarkan pada hari tertentu (misalnya setiap hari sabtu).
    • Gerobak dengan 2 kontainer terpisah.
    • Pengumpulan sampah organik dilaksanakan 1-2 hari sekali, sampah non organik dilaksanakan 4-8 hari sekali.
  • Pengumpulan langsung
    • Pengumpulan langsung dilakukan di daerah pemukiman teratur dengan lebar jalan memadai untuk dilalui truk.
    • Pengumpulan langsung menggunakan truk dengan kapasitas 6-10 m3.
    • Pengumpulan langsung mengumpulkan sampah dari wadah sampah individual atau wadah sampah komunal dengan kapasitas 120-500 liter.
    • Untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan, truk dapat dilengkapi dengan alat pengangkat wadah sampah otomatis (lifting unit ).
    • Dilaksanakan untuk titik komunal, dan daerah protokol, serta sumber sampah besar, seperti: pasar, pusat perbelanjaan, pusat perkantoran, rumah susun, hotel, dan restoran besar, serta sumber sampah > 1 m3.
  • Rasio tenaga pengumpulan terhadap jumlah penduduk/volume sampah
    • Pengumpulan dengan menggunakan gerobak, 2 petugas dengan 1 gerobak kapasitas 1 m3, satu hari 2 trip, melayani 1000 penduduk untuk radius pelayanan tidak lebih dari 1000 meter.
    • Pengumpulan langsung dengan menggunakan truk kapasitas 6 m3, 1 truk dengan crew 2 orang dengan wadah sampah berupa tong atau kontainer maksimum 120 liter dapat melayani 10.000 penduduk.
  • Penyapuan/ Kebersihan jalan merupakan tanggung jawab pemilik atau pengguna persil, termasuk saluran air hujan, tidak terkecuali perkantoran (pemerintah/non pemerintah), bangunan besar, rumah sakit, pusat ibadah, dan sebagainya.
  • Klasifikasi jalan menurut kerawanan sampah.
    • Jalan pusat kota area perbelanjaan.
    • Jalan di area pasar, jalan utama pusat kota.
    • Jalan pinggir kota pusat perbelanjaan. Jalan kolektor pusat kota.
    • Jalan pemukiman pendapatan rendah.
    • Jalan pemukiman pendapatan tinggi.
  • Rasio kebutuhan personil penyapuan/panjang jalan = 1 orang petugas untuk 1 km jalan

Klasifikasi Jalan Menurut Frekuensi Penyapuan

Pemindahan Sampah

Pemindahan sampah merupakan tahapan untuk memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pemrosesan atau ke pembuangan akhir. Lokasi pemindahan sampah hendaknya memudahkan bagi sarana pengumpul dan pengangkut sampah untuk masuk dan keluar dari lokasi pemindahan, dan tidak jauh dari sumber sampah. Pemerosesan sampah atau pemilahan sampah dapat dilakuykan di lokasi ini, sehingga sarana ini dapat berfungsi sebagai lokasi pemerosesan tingkat kawasan. Pemindahan sampah dilakukan oleh petugas kebersihan, yang dapat dilakukan secara manual atau mekanik, atau kombinasi misalnya pengisian kontainer dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul, sedangkan pengangkutan kontainer ke atas truk dilakukan secara mekanis (load haul).

Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, maka:

  • Kriteria Titik Komunal untuk lokasi pengumpulan (1m3, 6m3, 10m3)
    • Dikosongkan setiap hari minimal dengan frekuensi 1 kali.
    • Untuk memaksimalkan kebersihan lokasi transfer, perlu ada penjadwalan pengisian dan pengosongan.
    • Mudah dijangkau, tidak mengganggu arus lalu lintas, atau kenyamanan pejalan kaki.
    • Terisolasi, tetap bersih.
    • Pembongkaran titik pemindahan sebaiknya memperhatikan kaidah isolasi pencemaran dan diatur jadwalnya yang tidak mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat pemakai jalan dan sekitarnya
  • Kriteria tipe tempat penampungan sementara (tipe landasan kontainer, tipe transfer dipo):
    • Pelataran berdinding: Ukuran panjang dan lebar dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan keluar masuk dan pemuatan truk. Bila pemuatan tidak langsung dilakukan dari gerobak maka harus tersedia tempat khusus penimbunan sampah sementara. Dinding dibuat cukup tinggi sehingga dapat berfungsi sebagai isolator terhadap daerah sekitarnya. Isolasi bertujuan menghilangkan kesan kotor dari kerja pemindahan.
    • Kontainer muat-hela: Berupa kontainer yang umumnya bervolume 8-10 m3. Gerobak langsung menumpahkan muatannya ke dalam kontainer ini. Setelah penuh maka kontainer ini akan dibawa ke lokasi pembuangan akhir. Metode ini membutuhkan biaya modal yang cukup besar karena dibutuhkan truk dengan tipe khusus (load hauled truck).

Pengumpulan Sampah di Negara Maju

Terminologi pengumpulan (collection) sampah di negara maju adalah mengumpulkan sampah dari beragam sumber sampah, kemudian membawanya ke tempat pemindahan atau ke tempat pemerosesan. Dibedakan antara sistem pengelolaan untuk:

  1. Sampah tidak dipilah (commingled wastes )
  2. Sampah dipilah

Berdasarkan jenis permukiman yang biasa digunakan, maka pengumpulan sampah juga mempertimbangkan jenis bangunan yang akan dilayani, yaitu:

  1. Rumah tinggal yang tidak bertingkat
  2. Apartemen sampai tingkat menengah (sampai 7 tingkat)
  3. Apartemen bertingkat tinggal lebih dari 7 tingkat

Tipe Pemindahan (Transfer)

Sampah yang berasal dari masing-masing penghuni rumah tinggal biasa sampai rumah tinggal berbentuk apartemen tingkat menengah, biasanya dibawa sendiri oleh penghuni ke kontainer yang lebih besar di lantai dasar. Sedang bila berbentuk apartemen tinggi, maka mekanisme transfer sampah ke kontainer pengumpul di btingkat dasar dapat berupa:

  • Sampah dikumpulkan di tiap tingkat, lalu kontainer berisi sampah dari tiap tingkat dibawa ke kontainer pengumpul di lantai dasar.
  • Sampah, biasanya telah terbungkus plastik, dijatuhkan melalui sistem yang berada disetiap tingkat, menuju kontainer pengumpul di lantai dasar
  • Sistem pelayanan yang sering dijumpai, khususnya bila sampah berasal dari apartemen bertingkat,, adalah secara langsung-individual (door-to-door), yang dikenal sebagai sistem curb. Dengan cara ini, penghuni atau penanggung jawab apartemen membawa wadah sampah yang penuh ke pinggir jalan di depan apartemen atau rumahnya, dan membawa kembali ke halaman apartemen atau rumahnya bila telah diambil sampahnya oleh petugas. Untuk itu perlu kepastian dan kejelasan jadwal pengumpulan. Sistem pemindahan dari kontainer ke truk pengumpul sebaiknya mekanis, sehingga tumpahan sampah dapat dihindari. Bila bersifat mekanis, maka kontainer di setiap rumah harus standar. Terdapat variasi pelayanan yang mirip dengan sistem komunal yang biasa diterapkan di Indonesia. Dalam kompleks apartemen yang luas, yang terdiri dari beberapa apartemen tingkat tinggi, sampah dari masing-masing apartemen disalurkan melalui sistem pneumatis menuju ke tempat penampungan komunal, atau menuju tempat pemerosesan komunal.

Bila pengelolaan sampah di daerah tersebut telah mengenal sistem pemilahan berdasarkan jenis sampahnya, maka tata-cara pengumpulan yang sering dijumpai adalah:

  • Pengumpulan sampah dilakukan dengan dengan sistem curb, dengan menggunakan kendaraan pengumpul yang berbeda, atau kendaraan yang sama tetapi dengan jadwal pengumpulan yang berbeda
  • Pengumpulan sampah terdaur-ulang, biasanya sampah kering, dengan sistem curb, dan pengumpulan sampahnya dilakukan oleh organisasi kemanusiaan yang khusus mengumpulkan bahan -bahan tidak terpakai seperti baju bekas, kertas bekas, dsb.
  • Barang-barang yang tidak terpakai lagi, seperti kasur, mebel, TV, kulkas, limbah B3, dsb dibawa secara sendiri oleh penghasil ke lokasi penampungan sementara, dan dimasukkan sendiri ke masing-masing kontainer terpisah atau ruangan khusus bila limbah berbahaya, yang telah tersedia di lokasi tersebut. Seseorang yang berminat dengan barang bekas tersebut secara gratis dapat mengambilnya untuk digunakan kembali. Barang-barang tersebut sesuai jadwal yang ditentukan kemudian diangkut ke tempat pemerosesan lebih lanjut sesuai jenisnya oleh pengelola sampah kota.

Sumber:
Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104 (2008)
Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

Konsep Minimasi Limbah

Dilihat dari keterkaitan terbentuknya limbah, khususnya limbah padat, ada 2 (dua) pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan akibat adanya limbah, yaitu:

  1. Pendekatan proaktif: yaitu upaya agar dalam proses penggunaan bahan akan dihasilkan limbah yang seminimal mungkin, dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin.
  2. Pendekatan reaktif: yaitu penanganan limbah yang dilakukan setelah limbah tersebut terbentuk

Pendekatan proakatif merupakan strategi yang diperkenalkan pada akhir tahun 1970-an dalam dunia industri, dikenal sebagai proses bersih atau teknologi bersih yang bersasaran pada pengendalian atau reduksi terjadinya limbah melalui penggunaan teknologi yang lebih bersih dan yang akrab lingkungan. Konsep ini secara sederhana melingkupi:

  • Pengaturan yang lebih baik dalam manajemen penggunaan bahan dan enersi serta limbahnya melalui good house keeping
  • Penghematan bahan baku, fluida dan enersi yang digunakan
  • Pemakaian kembali bahan baku tercecer yang masih bisa dimanfaatkan
  • Penggantian bahan baku, fluida dan enesi
  • Pemodivikasian proses bahkan kalau perlu penggantian proses dan teknologi yang digunakan agar emisi atau limbah yang dihasilkan seminimal mungkin dan dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin
  • Pemisahan limbah yang terbentuk berdasarkan jenisnya agar lebih mudah penanganannya

Pendekatan reaktif, yaitu konsep yang dianggap perlu diperbaiki, adalah konsep dengan upaya pengendalian yang dilakukan setelah limbah terbentuk, dikenal sebagai pendekatan end of­ pipe. Konsep ini mengandalkan pada teknologi pengolahan dan pengurugan limbah, agar emisi dan residu yang dihasilkan aman dilepas kembali ke lingkungan. Konsep pengendalian limbah secara reaktif tersebut kemudian diperbaiki melalui kegiatan pemanfaatan kembali residu atau limbah secara langsung (reuse), dan/atau melalui sebuah proses terlebih dahulu sebelum dilakukan pemanfaatan (recycle) terhadap limbah tersebut.

Secara ideal kemudian pendekatan proses bersih tersebut dikembangkan menjadi konsep hierarkhi urutan prioritas penanganan limbah secara umum, yaitu:

  1. Langkah 1 Reduce (Pembatasan): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin
  2. Langkah 2 Reuse (Guna-ulang): bila limbah akhirnya terbentuk, maka upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung
  3. Langkah 3 Recycle (daur-ulang): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat dimanfaatkan secara langsung, kemudian diproses atau diolah untuk dapat dimanfaatkan, baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi
  4. Langkah 4 Treatment (olah): residu yangdihasilkan atau yang tidak dapat dimanfaatkan kemudian diolah, agarmemudahkan penanganan berikutnya, atau agar dapat secara aman dilepas ke lingkungan.
  5. Langkah 5 Dispose (singkir): residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu dilepas ke lingkungan secara aman, yaitu melalui rekayasa yang baik dan aman seperti menyingkirkan pada sebuah lahan-urug (landfill) yang dirancang dan disiapkan secara baik.
  6. Langkah 6 Remediasi: media lingkungan (khusunya media air dan tanah) yang sudah tercemar akibat limbah yang tidak terkelola secara baik, perlu direhabilitasi atau diperbaiki melalui upaya rekayasa yang sesuai, seperti bioremediasi dan sebagainya.

Konsep proses bersih di atas kemudian diterapkan lebih spesifik dalam pengelolaan sampah, dengan penekanan pada reduce, reuse dan recycle, yang dikenal sebagai pendekatan 3R. Upaya R1, R2 dan R3 adalah upaya minimasi atau pengurangan sampah yang perlu ditangani. Selanjutnya, usaha pengolahan atau pemusnahan sampah bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan bila residu tersebut dilepas ke lingkungan. Sebagian besar pengolahan dan/atau pemusnahan sampah bersifat transformasi materi yang dianggap berbahaya sehingga dihasilkan materi lain yang tidak mengganggu lingkungan. Sedangkan penyingkiran limbah bertujuan mengurangi volume dan bahayanya (seperti insinerasi) ataupun pengurugan dalam tanah seperti landfilling (lahan-urug). Gambar dibawah adalah skema umum yang sejenis seperti dibahas di atas melalui pendekatan 3R, yang diperkenalkan di Jepang sebagai Masyarakat Berwawasan Bahan-Daur (Sound Material Material-Cycle Society) dengan langkah sebagai berikut:

  1. Langkah 1: Penghematan penggunaan sumber daya alam
  2. Langkah 2: Pembatasan konsumsi penggunaan bahan dalam kegiatan sehari-hari, termasuk dalam proses produksi di sebuah industri
  3. Langkah 3: Penggunaan produk yang dikonsumsi berulang-ulang
  4. Langkah 4a: Pendaur-ulangan ba han yang tidak dapat digunakan langsung
  5. Langkah 4b: Pemanfaatan enersi yang terkandung dalam sampah, yang biasanya dilakukan melalui teknologi insinerasi
  6. Langkah 5: Pengembalian residu atau limbah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi melalui disposal di alam secara aman dan sehat

Gambar Konsep Sound Material-Cycle Society

Konsep Pengurangan dalam Pengelolaan Sampah menurut UU-18/2008

Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, terdapat 2 kelompok utama pengelolaan sampah, yaitu:

  • Pengurangan sampah (waste minimization), yang terdiri dari pembatasan terjadinya sampah, guna -ulang dan daur-ulang
  • Penanganan sampah (waste handling), yang terdiri dari:
    • Pemilahan: dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah
    • Pengumpulan: dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu
    • Pengangkutan: dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir
    • Pengolahan: dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah
    • Pemrosesan akhir sampah: dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

UU-18/2008 ini menekankan bahwa prioritas utama yang harus dilakukan oleh semua fihak adalah bagaimana agar mengurangi sampah semaksimal mungkin. Bagian sampah atau residu dari kegiatan pengurangan sampah yang masih tersisa selanjutnya dilakukan pengolahan (treatment) maupun pengurugan (landfilling). Pengurangan sampah melalui 3R menurut UU-18/2008 meliputi:

  1. Pembatasan (Reduce): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin.
  2. Guna-ulang (Reuse): bila limbah akhirnya terbentuk, maka upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung.
  3. Daur-ulang (Recycle): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat dimanfaatkan secara langsung, kemudian diproses atau diolah untuk dapat dimanfaatkan, baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi.

Ketiga pendekatan tersebut merupakan dasar utama dalam pengelolaan sampah, yang mempunyai sasaran utama minimasi limbah yang harus dikelola dengan berbagai upaya agar limbah yang akan dilepas ke lingkungan, baik melaui tahapan pengolahan maupun melalui tahan pengurugan terlebih dahulu, akan menjadi sesedikit mungkin dan dengan tingkat bahaya sesedikit mungkin.

Gagasan yang lebih radikal adalah melalui konsep kegiatan tanpa limbah (zero waste). Secara teoritis, gagasan ini dapat dilakukan, tetapi secara praktis sampai saat ini belum pernah dapat direalisir. Oleh karenanya, gagasan ini lebih ditonjolkan sebagi semangat dalam pengendalian pencemaran limbah, yaitu agar semua kegiatan manusia handaknya berupaya untuk meminimalkan terbentuknya limbah atau meminimalkan tingkat bahaya dari limbah, bahkan kalau muingkin meniadakan.

Konsep pembatasan (reduce) jumlah sampah yang akan terbentuk dapat dilakukan antara lain melalui:

  • Efisiensi penggunaan sumber daya alam
  • Rancangan produk yang mengarah pada penggunaan bahan atau proses yang lebih sedikit menghasilkan sampah, dan sampahnya mudah untuk diguna-ulang dan didaur-ulang
  • Menggunakan bahan yang berasal dari hasil daur-ulang limbah
  • Mengurangi penggunaan bahan berbahaya Menggunakan eco-labeling

Konsep guna-ulang (reuse) mengandung pengertian bukan saja mengupayakan penggunaan residu atau sampah terbentuk secara langsung, tetapi juga upaya yang sebetulnya biasa diterapkan sehari-hari di Indonesia, yaitu memperbaiki barang ynag rusak agar dapat dimanfaatkan kembali. Bagi prosdusen, memproduksi produk yang mempunyai masa-layan panjang sangat diharapkan. Konsep daur-ulang (recycle) mengandung pengertian pemanfaatan semaksimal mungkin residu melalui proses, baik sebagai bahan baku untuk produk sejenis seperti asalnya, atau sebagai bahan baku untuk produk yang berbeda, atau memanfaatkan enersi yang dihasilkan dari proses recycling tersebut.

Beberapa hal yang diatur dalam UU-18/2008 terkait dengan upaya minimasi (pembatasan) timbulan sampah adalah:

  • Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan:
    • menetapkan target pengurangan sampah
    • secara bertahap dalam jangka waktu tertentu
    • memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan
    • memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan
    • memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang
    • memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang.
  • Pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan menggunakan bahan produksi yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin, dapat diguna ulang, dapat didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam.
  • Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam
  • Pemerintah memberikan:
    • insentif kepada setiap orang yang melakukan pengurangan sampah
    • disinsentif kepada setiap orang yang tidak  melakukan pengurangan sampah

Ketentuan tersebut di atas masih perlu diatur lebih lanjut dalam bentuk Peraturan Pemerintah agar dapat dilaksanakan secara baik dan tepat sasaran.

Sebagai pembanding, Jepang membagi stakeholders utama dalam pengelolaan sampah yang berbasis 3R dalam 5 kelompok, yang masing-masing mempunyai peran utama dalam membatasi sampah yang akan dihasilkan, yaitu:

  • Masyarakat penghasil sampah:
    • Memahami dampak akibat sampah yang dihasilkan
    • Mempertimbangkan ulang pola hidupnya
    • Memilih barang dan pelayanan yang berwawasan lingkungan
    • Berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah, misalnya pemilahan sampah Berpartsipasi dalam pengembangan pengelolaan sampah berbasis 3R
  • LSM:
    • Mempromosikan kegiatan-kegiatan positif 3R dalam level masyarakat
    • Mempromosikan peningkatan kesadaran
    • Menyiapkan-melakukan training dan sosialisasi
    • Memantau upaya-upaya yang dilakukan oleh kegiatan bisnis dan pemerintah
    • Memberikan masukan kebijakan yang sesuai
  • Fihak Swasta:
    • Menyiapkan barang dan jasa yang berwawasan lingkungan
    • Melaksanakan kegiatan ’take-back’, guna-ulang dan daur-ulang terhadap produk bekas-nya
    • Mengelola limbah secara berwawasan lingkungan
    • Mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan
    • Memberi informasi yang jujur kepada konsumen melalui label dan laporan
  • Pemerintah Daerah:
    • Memastikan diterapkannya peraturan dan panduan
    • Menyiapkan rencana tindak
    • Mendorong ’green purchasing’, dan peningkatan pemahaman masyarakat
    • Menjamin masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan
    • Bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan 3R dan fihak bisnis
    • Bertindak sebagai koordinator lokal dalam pengembangan masyarakat berwawasan daur-bahan
    • Menyediakan ruang dan kesempatan untuk saling bertukar barang-bekas dan informasi antar stakeholders
    • Promosi kerjasama internasional
  • Pemerintah Pusat:
    • Mengembangkan sistem, termasuk aspek legal yang dibutuhkan
    • Memberikan subsidi dan pengaturan pajak untuk fasilitas, penelitian dan pengembangan untuk membangun masyarakat yang berwawasan daur-ulang
    • Memberikan dorongan dan infoirmasi bagi warga dan LSM yang akan melaksanakan kegiatan secara sukarela
    • Menyiapakan dasar yang dibutuhkan bagi kegiatan seluruh stakeholders
    • Mempromosikan kerjasama dan dialog internasional terkait dengan kegiatan 3R

Pembatasan (Reduce) Timbulan Sampah

Di Eropa dan USA, sekitar 30 % sampah kota merupakan bahan pengemas (packaging). Diestimasi pula bahwa sepertiga dari seluruh produk plastik adalah untuk penggunaan jangka pendek, yaitu sebagai pengemas produk. Pengemas untuk makanan merupakan residu yang paling banyak dijumpai di tingkat konsumen. Beberapa negara industri telah menerapkan program kemasan yang ramah lingkungan, yang mensyaratkan penggunaan kemasan yang kandungan terdaur-ulangnya maksimum, tidak mengandung bahan berbahaya, serta volume/massanya yang sesedikit mungkin.

Terdapat berbagai tingkat fungsi pengemasan, yaitu:

  • Produk yang tanpa pengemas sama sekali
  • Pengemas level-1 (primary packaging): pengemas yang kontak langsung dengan produk
  • Pengemas level-2 (secondary packaging): pengemas suplementar dari primary packaging
  • Pengemas level-3(tertiary packaging ): pengemas yang dibutuhkan untuk pengiriman.

Beberapa jenis produk kadang membutuhkan kemasan yang komplek, terdiri dari beragam komponen dengan pengemasan yang berbeda karena mempunyai fungsi yang berbeda. Dengan mengurangi pengemas ini, maka akan mengurangi sampah yang harus ditangani serta akan mengurangi biaya pengangkutan. Namun dermikian, tidak semua pengemas otomatis akan menghasilkan limbah yang harus ditangani, karena beberapa di antaranya berupa kemasan yang dapat dipakai berulang-ulang, seperti botol minuman.

Pengemas yang diinginkan adalah yang mudah dipisahkan satu dengan lain. Pengemas yang sulit dipisah misalnya bahan polyethylene yang dilapis karton, disatukan dengan lem secara kuat dan sebagainya, yang sulit untuk dipisahkan satu dengan lainnya. Dengan demikian dalam konsep reduksi sampah, tingkatan pengemas yang diinginkan adalah:

  • Tanpa packaging
  • Minimal packaging
  • Consumable, returnable, reusable packaging
  • Recyclable packaging

Bahan buangan berbentuk padat, seperti kertas, logam, plastik adalah bahan yang biasa didaur-ulang. Bahan ini bisa saja didaur-pakai secara langsung atau harus mengalami proses terlebih dahulu untuk menjadi bahan baku baru. Bahan buangan ini banyak dijumpai, biasanya merupakan bahan pengemas produk. Bahan inilah yang pada tingkat konsumen kadang menimbulkan permasalahan, khususnya dalam pengelolaan sampah kota. Di negara industri, pengemas yang mudah didaur-ulang akan menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan nilai saing produk tersebut di pasar.

UU-18/2008 menggaris bawahi bahwa pengurangan sampah dilakukan sebelu m sampah tersebut terbentuk, misalnya melalui penghematan penggunaan bahan. Kewajiban pengurangan sampah ditujukan bukan saja bagi konsumen, tetapi juga ditujukan pada produsen produk. Di Indonesia, upaya mereduksi sampah masih belum mendapat perhatian yang baik karena dianggap rumit dan tidak menunjukkan hasil yang nyata dalam waktu singkat. Upaya mereduksi sampah sebetulnya akan menimbulkan manfaat jangka panjang seperti:

  • Mengurangi biaya pengelolaan dan investasi.
  • Mengurangi potensi pencemaran air dan tanah.
  • Memperpanjang usia TPA.
  • Mengurangi kebutuhan sarana sistem kebersihan.
  • Menghemat pemakaian sumber daya alam.

Salah satu upaya sederhana, namun sangat sulit dibiasakan di Indonesia khususnya pada masyarakat urban, adalah pembatasan adanya sampah sebelum barang yang kita gunakan menjadi sampah, melalui penggunaan bahan berulang-ulang, seperti penggunaan kantong plastik yang secara ’manja’ disediakan secara berlimpah bila kita berbelanja di toko. Membawa kantong sendiri adalah salah satu upaya yang sangat dianjurkan agar timbulan sampah dapat dikurangi. Di Jepang, terdapat seni membuat kantong dari kain biasa untuk membawa barang keperluan sehari-hari termasuk barang yang dibeli dari toko atau pasar, yaitu Furoshiki. Kain tersebut sebelum digunakan, biasanya dilipat secara rapi, dan disimpan dalam tas tangan yang digunakan sehari-hari. Jepang termasuk negara dengan kebijakan Pemerintahnya yang sangat mendorong upaya 3R, termasuk upaya pembatasan limbah, bukan saja terhadap penghasil sampah rumah tangga, juga terhadap kegiatan industri dan pengusaha lainnya.

Gambar Seni Furoshiki dalam Pembatasan Sampah melalui 3R di Jepang
(Wolfgang H. Wögerer, Wien, Austria, 2012)

Terkait dengan pengemas produk yang dibahas di atas, maka peran produsen yang menggunakan pengemas untuk memasarkan produknya menjadi mata rantai awal yang diatur oleh UU tersebut. Dikenal konsep Extended Producer Responsibility (EPR), yaitu strategi yang dirancang dengan menginternalkan biaya lingkungan ke dalam biaya produksi sebuah produk, tidak terbatas pada produk utamanya, tetapi termasuk pula pengemas dari produk utama tersebut. Dengan demikian biaya lingkungan, seperti biaya penangan residu atau limbah yang muncul akibat penggunaan produk tersebut menjadi bagian dari komponen harga pasar produk yang dipasarkan tersebut. Langkah EPR yang diterapkan di Jepang, melalui beberapa langkah:

  • Langkah 1: penghematan bahan baku di proses produksi
  • Langkah 2: memproduksi barang yang berumur panjang, mendorong reparasi pada barang yang rusak, termasuk servis bergaransi
  • Langkah 3: menerima pengembalian produk bekas termasuk pengemas, mennggunakan bahan baku atau menghasilkan produk yang berasal dari hasil daur-ulang serta mengupayakan penggunaan dan pengembangan teknologi daur -ulang

Disamping mendorong produsen untuk menerapkan EPR, di beberapa negara maju, peran dan tanggung jawab produsen dimasukkan dalam pengelolaan limbah secara menyeluruh yang dikenal sebagai internalisasi biaya lingkungan dalam biaya produk. Dengan demikian, biaya penanganan limbah dan dampaknya sudah termasuk di dalamnya.

Bila di Indonesia baru tersedia sebuah UU yang mengatur pengelolaan sampah, maka di Jepang tersedia paling tidak 9 (sembilan) UU yang terkait dengan sampah, yaitu Undang-undang tentang:

  • Masyarakat bebasis Daur-Bahan (Material‑cycle society)
  • Pengelolaan Limbah dan Kebersihan
  • Penggunaan secara Efektif Sumberdaya Recycling Wadah dan Pengemas
  • Recycling Peralatan Rumah Tangga Recycling Sisa Makanan
  • Recycling Puing Bangunan
  • Recycling End-of-life Kendaraan
  • Promosi Produk Hijau

60% sampah kota di Jepang merupakan wadah dan pembungkus. Berdasarkan UU-tentang Recycling Wadah dan Pengemas, maka yang diatur untuk didaur-ulang adalah:

  • Gelas/botol (tidak berwarna, coklat dan hijau)
  • Botol PET (untuk minuman beralkohol dan non alkohol, serta botol saus kedele)
  • Wadah dan pembungkus dari kertas
  • Wadah dan pembungkus dari plastik 

Gambar Kaitan 3R dengan Extended Producer Responsibility (EPR)

Mekanisme EPR di Jepang untuk wadah dan pengemas adalah sebagai berikut:

  • Pemerintah kota bertanggung jawab untuk membiaya pengumpulan, pemilahan dan penyimpanan, sedang pengusaha bertanggung jawab untuk biaya recycling dan pemerosesan
  • Pengusaha bertanggung jawab terhadap pengemas atau wadah yang mereka buat atau mereka jual bersama produknya
  • Untuk melaksanakan kewajiban tersebut, Pemerintah Jepang menugaskan Japan Containers and Packaging Recycling Association (JCPRA) untuk melaksanakan aktivitas daur-ulang atas nama pengusaha yang membayar recycling -fee kepada JCPRA

Dalam hal alat -alat elektronik rumah tangga, berdasarkan UU-tentang peralatan rumah tangga, maka setiap pengusaha yang memproduksi atau menjual mempunyai kewajiban untuk mendaur-ulang paling tidak 60% AC, 55% TV set, 50% refrigerataor dan 50% mesin cuci untuk di – reproduksi. Mekanisme yang diterapkan adalah sebagai berikut:

  • Konsumen membayar biaya pengumpulan barang bekasnya: TV (2.835 Yen), AC (3.675 Yen), kulkas (4.830 Yen) dan mesin cuci (2.520 Y). Kurs 1 Yen = Rp. 85
  • Pengusaha retailer yang menjual barang tersebut sebelumnya bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mengangkut menuju titik pengumpulan yang telah ditentukan
  • Pabrik dan importir bertanggung jawab mendaur-ulang barang yang mereka buat atau import yang telah dikumpulkan oleh retailer.

Hal lain yang diatur dalam tanggung jawab EPR antara lain:

  • PC yang mempunyai label, maka bila PC tersebut sudah tidak berfungsi akan bebas biaya recycling, sedang yang tidak mempunyai label harus membayar
  • Pemilik kendaraan bermotor membayar antara 10.000 Y – 65.000 Y untuk setiap kendaraan yang ‘dibuang’ atau yang menurut inspeksi dianggap tidak layak jalan.
  • Salah satu upaya EPR yang biasa diterapkan terhadap produk yang dipasarkan adalah pencantuman eco-labeling, yang menandakan bahwa produk tersebut dibuat dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Guna-ulang (Reuse) dan Daur-ulang (Recycle) Sampah

Daur-ulang limbah pada dasarnya telah dimulai sejak lama. Di Indonesiapun, khususnya di daerah pertanian, masyarakat sudah mengenal daur ulang limbah, khususnya limbah yang bersifat hayati, seperti sisa makanan, daun-daunan dsb. Dalam pengelolaan persampahan di Indonesia, upaya daur-ulang memang cukup menonjol, walaupun umumnya baru melibatkan sektor informal, seperti pedagang sampah (tukang loak), tukang servis alat-alat elektronika, petugas sampah, pemulung, bandar/lapak dsb.

Dalam usaha mengelola limbah atau sampah secara baik, ada beberapa pendekatan teknologi, di antaranya penanganan pendahuluan. Penanganan pendahuluan umumnya dilakukan untuk memperoleh hasil pengolahan atau daur-ulang yang lebih baik dan memudahkan penanganan yang akan dilakukan. Penanganan pendahuluan yang umum dilakukan saat ini adalah pengelompokan limbah sesuai jenisnya, pengurangan volume dan pengurangan ukuran.

Usaha penanganan pendahuluan ini dilakukan dengan tujuan memudahkan dan mengefektifkan pengolahan sampah selanjutnya, termasuk upaya daur-ulang. Dalam pengelolaan sampah, upaya daur-ulang akan berhasil baik bila dilakukan pemilahan dan pemisahan komponen sampah mulai dari sumber sampai ke proses akhirnya.

Upaya pemilahan sangat dianjurkan dan hendaknya diprioritaskan sehingga termasuk yang paling penting didahulukan. Persoalannya adalah bagaimana meningkatkan keterlibatan masyarakat. Pemilahan yang dianjurkan adalah pola pemilahan yang dilakukan mulai dari level sumber atau asal sampah itu muncul, karena sampah tersebut masih murni dalam pengertian masih memiliki sifat awal yaitu belum tercampur atau terkontaminasi dengan sampah lainnya.

Terminologi daur-ulang di Indonesia sudah cukup lama digunakan, namun selama ini pengertiannya bukan hanya identik dengan recycle, tapi digunakan juga untuk menjelaskan aktivitas lain, seperti reuse dsb. Jadi terminologi ’daur-ulang’ di Indonesia digunakan untuk seluruh upaya pemanfaatan kembali. Sebelum terminologi 3R menjadi acuan umum dalam penanganan sampah dikenal beragam terminologi yang menggunakan ”R”, seperti recovery, reduce, reuse, recycle, refurbishment, repair, sampai kepada rethinking dan masih banyak lagi. Dari sebuah literatur, masing-masing kosa kata tersebut mempunya pengertian yang berbeda, yang intinya adalah upaya pemanfaatan limbah, dengan penekanan pada:

  • Reduce: upaya mengurangi terbentuknya limbah, termasuk penghematan atau pemilihan bahan yang dapat mengurangi kuantitas limbah serta sifat bahaya dari limbah
  • Recovery: upaya untuk memberikan nilai kembali limbah yang terbuang, sehingga bisa dimanfaatkan kembali dalam berbagai bentuk, melalui upaya pengumpulan dan pemisahan yang baik.
  • Reuse: upaya yang dilakukan bila limbah tersebut dimanfaatkan kembali tanpa mengalami proses atau tanpa transformasi baru, misalnya botol minuman kembali menjadi botol minuman
  • Recycle: misalnya botol minuman dilebur namun tetap dijadikan produk yang berbasis pada gelas. Bisa saja terjadi bahwa kualitas produk yang baru sudah mengalami penurunan dibanding produk asalnya. Kosa kata inilah yang paling sering digunakan. Mungkin dalam bahasa Indonesia kosa kata yang sepadan adalah daur-ulang.

Reclamation: bila limbah tersebut dikembalikan menjadi bahan baku baru, seolah-olah sumber daya alam yang baru. Limbah tersebut diproses terlebih dahulu, sehingga dapat menjadi input baru dari suatu kegiatan produksi, dan dihasilkan produk yang mungkin berbeda dibanding produk asalnya.

Semua fihak di Indonesia sepakat bahwa program 3R dinilai sangat bermanfaat, tetapi sampai saat ini upaya-upaya nyata belum terlihat. Perlu kemauan semua fihak, bukan hanya penghasil sampah, tetapi juga stakeholders lainnya, termasuk pemerintah untuk secara nyata menerapkan konsep ini. Manfaat dari upaya tersebut dalam jangka panjang antara lain adalah:

  • Berkurangnya secara drastis ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir.
  • Lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan sarana dan prasarana persampahan.
  • Terciptanya peluang usaha bagi masyarakat dari pengelolaan sampah (usaha daur ulang dan pengomposan).
  • Terciptanya jalinan kerjasama antara pemerintah kabupaten/kota dan antara pemerintah dan masyarakat/swasta dalam rangka menuju terlaksananya pelayanan sampah yang lebih berkualitas.
  • Adanya pemisahan dan pemilahan sampah baik di sumber timbulan maupun di tempat pembuangan akhir dan adanya pemusatan kegiatan pengelolaan akan lebih menjamin terkendalinya dampak lingkungan yang tidak dikehendaki.

Daur-ulang limbah tidak selalu harus diartikan bahwa upaya ini adalah yang paling baik, sehingga harus selalu dilaksanakan. Pilihan daur-ulang hendaknya disertai alasan yang rasional., seperti bagaimana aspek biaya, enersi, dan kualitas produk yang dihasilkan. Dari sudut permasalahan sampah di suatu kota atau daerah, maka harus dilihat bahwa sekian ratus atau ribu ton sampah harus ditangani setiap tahun, sebagian besar penanganannya hanya dengan pengurugan sederhana, dan hanya sebagian kecil saja yang didaur-ulang atau dikompos. Daur-ulang akan merupakan salah satu solusi bersama solusi yang lain yang perlu dipertimbangkan.

Secara sederhana, daur-ulang adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dari sampah, seperti kertas koran diproses agar tinta- nya disingkirkan (deink), atau repulping yang akan dihasilkan bahan kertas baru. Dikenal terminology lain, seperti reuse, direct recycling, indirect recycling:

  • Reuse: contoh botol minuman, dipakai ber-ulang dari produsen minuman ke konsumen setelah melalui proses pencucian dan pengisian minuman. Reuse adalah opsi yang paling diinginkan , karena enersi dan biaya yang dibutuhkan paling sedikit
  • Direct recycling: contoh botol minuman, suatu ketika botol tersebut setelah tiba di produsen minuman dianggap kurang layak untuk diteruskan, lalu botol tersebut dikirim ke pabrik pembuat botol untuk dilebur untuk dijadikan bahan pembuat botol baru. Cost yang dibutuhkan akan lebih tinggi dibandingkan reuse. Bila bahan cullet (bahan kaca) ini ternyata lebih mahal dibandingkan biaya dari bahan baku murni, misalnya karena adanya biaya pengangkutan, maka opsi ini jelas kurang menguntungkan untuk diteruskan. Bahan yang diproses dengan cara ini kemungkinan mengalami degradasi dari segi kualitas, misalnya kertas atau plastik. Serat kertas yang diproses berulang-ulang akan mengalami penurunan kualitas, ukurannya akan tambah lama tambah memendek. Jadi aspek biaya dan kualitas perlu menjadi perhatian utama pada saat memutuskan apakah perlu dilakukan direct recycling.
  • Indirect recycling: misalnya botol minuman di atas, ternyata dari sudut kualitas bahan kurang baik, sudah pecah dan bercampur dengan gelas warna lain yang, serta pengotor lain. Untuk memisahkan dibutuhkan upaya yang mengakibatkan biayanya menjadi mahal. Maka pemanfaatan lanjut adalah, bahan ini digunakan sebagai camnpuran bahan pelapis dasar pembuatan jalan. Plastik yang ternyata tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan wadah yang baik, akan mengalami penurunan derajat, misalnya digunakan untuk bahan baku barang yang tidak membutuhkan persyaratan estetika (warna, dsb) atau sifat-sifat lain. Atau dimanfaatkan sebaai sumber enersi (a) memproduksi gas bahan bakar dalam prirolisis atau (b) bahan bakar langsung dalam pabrik semen dalam eco-cement. Proses indirect recycling ini dinilai mempunyai level yang terendah, Biasanya, bila sebuah bahan telah mengalami proses indirect recycling, akan sulit dan mahal biayanya bila hendak didaur-ulang kembali , apalagi bila hendak dikembalikan pada pos isi sebagai raw-material aslinya. Penanganan akhir dari bahan yang demikian adalah biasanya landfilling atau insinerasi. Jadi sebetulnya landfilling atau insinerasi adalah digunakan sebagai upaya menangani limbah yang telah tidak mempunyai nilai lagi untuk didaur-ulang.

Gambar Simbol-simbol Eco-Labeling

sumber:

  • Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104, Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB, 2008
  • http://en.wikipedia.org/wiki/File:Furoshiki_designed_by_F._Hundertwasser,_used_for_wrapping_a_book.jpg, 2012

Penanganan Sampah Kota

Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, terdapat 2 kelompok utama pengelolaan sampah, yaitu:

  • Pengurangan sampah (waste minimization), yang terdiri dari pembatasan terjadinya sampah, guna-ulang dan daur-ulang
  • Penanganan sampah (waste handling), yang terdiri dari:
    • Pemilahan: dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan
    • jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah Pengumpulan: dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan
    • sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu
    • Pengangkutan: dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu
    • menuju ke tempat pemrosesan akhir Pengolahan: dalam bentuk mengubah
    • karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah
    • Pemrosesan akhir sampah: dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan seb elumnya ke media lingkungan secara aman.

Dalam bahasan berikut diuraikan beberapa hal penting yang terkait dalam kegiatan penanganan sampah dalam sistem pengelolaan sampah kota di Indonesia, khususnya:

  • Tingkat pengelolaan
  • Tingkat dan kualitas pelayanan
  • Daerah pelayanan
  • Jenis pelayanan.

Di samping sebagai bagian dari infrastruktur sebuah kota, pengelolaan sampah merupakan salah satu dari sekian banyak upaya dalam pengelolaan lingkungan. Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan kadangkala terjadi penyimpangan pengelolaan, sehingga timbul ekses yang mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan itu sendiri. Kelemahan dalam manajemen dan keterbatasan biaya operasional ditambah dengan langkanya tenaga profesional dalam penanganan persampahan merupakan faktor penyebab utama permasalahan tersebut.

Permasalahan yang dihadapi dalam teknis operasional penanganan persampahan kota di antaranya:

  • Kapasitas peralatan yang belum memadai
  • Pemeliharaan alat yang kurang
  • Lemahnya pembinaan tenaga pelaksana khususnya tenaga harian lepas
  • Terbatasnya metode operasional yang sesuai dengan kondisi daerah
  • Siklus operasi persampahan tidak lengkap/terputus karena berbedanya penanggungjawab
  • Koordinasi sektoral antar birokrasi pemerintah seringkali lemah
  • Manajemen operasional lebih dititikberatkan pada aspek pelaksanaan, sedangkan aspek pengendaliannya lemah
  • Perencanaan operasional seringkali hanya untuk jangka pendek.

Stakeholders Pengelola Sampah Kota

Dalam pengelolaan persampahan skala kota yang rumit, terdapat beragam stakeholders yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung. Setiap stakeholders berperan sesuai dengan posisinya masing-maqsing. Dalam skala kota, peran Pemerintah Kota dalam mengelola sampah sangatlah penting, dan pengelolaan sampah merupakan salah satu tugas utamanya sebagai bentuk pelayanan yang merupakan bagian dari infrastruktur kota tersebut.

Stakeholders utama yang biasa terdapat dalam pengelolaan sampah di Indonesia antara lain adalah:

  • Pengelola kota, yang biasanya bertindak sebagai pengelola sampah
  • Institusi swasta (non-pemerintah) yang berkarya dalam pengelolaan sampah
  • Institusi swasta yang terkait secara langsung dengan persoalan sampah, seperti produsen yang menggunakan pengemas bagi produknya.
  • Masyarakat atau institusi penghasil sampah yang menggantungkan penanganan sampahnya pada sistem yang berlaku di sebuah kota
  • Institusi non-pemerintah yang bergerak dalam pengelolaan sampah, termasuk aktivitas daur – ulang, seperti swasta, LSM, pengelola real estate, dsb yang aktivitasnya perlu berkoordinasi dengan pengelola sampah kota
  • Masyarakat yang bertindak secara individu dalam penanganan sampah, baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya kelompok pemulung yang memanfaatkan sampah sebagai sumber penghasil
  • Institusi yang tertarik dan peduli (concern) terhadap persoalan persampahan.

Berdasarkan hal di atas, pengelolaan sampah di Indonesia, khususnya di sebuah kota, mengenal 3 (tiga) kelompok pengelolaan, yaitu:

  • Pengelolaan oleh swadaya masyarakat: pengelolaan sampah mulai dari sumber sampai ke tempat pengumpulan, atau ke tempat pemerosesan lainnya. Di kota-kota, pengelolaan ini biasanya dilaksanakan oleh RT/RW, dengan kegiatan mengumpulkan sampah dari bak sampah di sumber sampah, misalnya di rumah-rumah, diangkut dengan sarana yang disiapkan sendiri oleh masyarakat, menuju ke tempat penampungan sementara.
  • Pengelolaan formal: biasanya dilaksanakan oleh Pemerintah Kota, atau institusi lain termasuk swasta yang ditunjuk oleh Kota. Pembuangan sampah tahap pertama dilakukan oleh penghasil sampah. Di daerah pemukiman biasanya kegiatan ini dilaksanakan oleh RT/RW, dimana sampah diangkut dari bak sampah ke TPS. Tahap berikutnya, sampah dari TPS diangkut ke TPA oleh truk sampah milik pengelola kota atau institusi yang ditunjuk. Biasanya anggaran suatu kota belum mampu menangani seluruh sampah yang dihasilkan.
  • Pengelolaan Informal: terbentuk karena adanya dorongan kebutuhan untuk hidup dari sebagian masyarakat ,yang secara tidak disadari telah ikut berperan serta dalam penanganann sampah kota. Sistem informal ini memandang sampah sebagai sumber daya ekonomi melalui kegiatan pemungutan, pemilahan, dan penjualan sampah untuk didaur-ulang. Rangkaian kegiatan ini melibatkan pemulung, tukang loak, lapak, bandar, dan industri daur-ulang dalam rangkaian sistem perdagangan.

Pengelolaan sampah dari sebuah kota adalah sebuah sistem yang kompleks, dan tidak dapat disejajarkan atau disederhanakan begitu saja, misalnya dengan penanganan sampah daerah pedesaan. Demikian pula keberhasilan upaya- u paya sektor informal saat ini tidak dapat begitu saja diaplikasikan dalam menggantikan sistem formal yang selama ini ada. Dibutuhkan waktu yang lama karena menyangkut juga perubahan perilaku masyarakat serta kemauan semua fihak untuk menerapkannya.

Tingkat Pengelolaan sampah

Berdasarkan arus pergerakan sampah sejak dari sumber hingga menuju ke pemrosesan atau akhir, penanganan sampah di suatu kota di Indonesia dapat dibagi dalam 3 kelompok utama tingkat pengelolaan, yaitu:

  • Penanganan sampah tingkat sumber
  • Penanganan sampah tingkat kawasan, dan
  • Penanganan sampah tingkat kota.

Penanganan Sampah Tingkat Sumber:

Penanganan tingkat sumber merupakan kegiatan penanganan secara individual yang dilakukan sendiri oleh penghasil sampah dalam area dimana penghasil sampah tersebut berada. Beberapa ciri penanganan sampah di tingkat ini:

  • Sangat tergantung pada karakter, kebiasaan dan cara pandang penghasil sampah
  • Dapat berbentuk individu atau kelompok individu atau dalam bentuk institusi misalnya kantor, hotel, dsb
  • Dapat berkarakter homogen, seperti dari sebuah rumah tinggal, atau bersifat heterogen, seperti pejalan kaki di keramaian, pedagang kaki lima di tempat-tempat umum
  • Keberhasilan upaya-upaya dalam penanganan sampah sangat tergatung pada tingkat kesadaran masing-masing individu.
  • Pada level ini peran serta masyakat sebagai penghasil sampah sangatlah dominan, sehingga pendekatan penanganan sampah yang berbasiskan masyarakat penghasil sampah merupakan dasar dalam strategi pengelolaan sampah.

Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat sumber:

  • Penanganan sampah hendaknya tidak lagi hanya bertumpu pada aktivitas pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah
  • Penanganan sampah di tingkat sumber diharapkan dapat menerapkan upaya minimisasi yaitu dengan cara 3R
  • Minimasi sampah hendaknya dilakukan sejak sampah belum terbentuk yaitu dengan menghemat penggunaan bahan, membatasi konsumsi sesuai kebutuhan, memilih bahan yang mengandung sedikit sampah, dsb
  • Upaya memanfaatkan sampah dilakukan dengan menggunakan kembali sampah sesuai fungsinya seperti halnya pada penggunaan botol minuman atau kemasan lainnya. Upaya mendaur ulang sampah dapat dilakukan dengan memilah sampah menurut jenisnya
  • Pengomposan sampah, misalnya dengan composter, diharapkan dapat diterapkan di sumber (rumah tangga, kantor, sekolah, dll) yang secara signifikan akan megurangi sampah pada tingkat berikutnya.

Penanganan Sampah Tingkat Kawasan:

Penanganan sampah tingkat kawasan merupakan kegiatan penanganan secara komunal untuk melayani sebagian atau keseluruhan sampah yang ada dalam area dimana pengelola kawasan berada. Beberapa ciri penanganan sampah tingkat kawasan:

  • Ciri sampah di tingkat ini adalah bersifat heterogen, sampah berasal dari sumber-sumber yang berbeda
  • Dalam level ini akan bertemu dan saling berinteraksi stakeholders yang berasal dari tingkat sumber dengan tingkat kota
  • Keberhasilan upaya dalam penanganan sampah skala ini sangat tergatung pada level kesadaran kelompok pembentuk tingkat kawasan, misalnya RT, RW, Kelurahan, atau lainnya. Oleh karena kelompok ini terdiri dari individu-individu yang mungkin mempunyai pemahaman berbeda tentang persampahan, maka peran organisasi pengelola serta dukungan inisiator dan atau stakeholders penentu lainnya, seperti Ketua RT, Ketua RW, Lurah, atau LSM yang mengorganisir pengelolaan sampah pada tingkat ini sangat penting
  • Peran serta masyarakat seperti yang diharapkan terjadi pada tingkat sumber, pada tingkat kawasan akan relatif lebih sulit dibangun
  • Peran aktif pengelola kota sangat menentukan, agar sistem pengelolaan tingkat kawasan ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem pengelolaan sampah kota secara menyeluruh.

Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat kawasan:

  • Pengelolaan sampah tingkat kawasan harus mendorong peningkatan upaya minimisasi sampah untuk mengurangi beban pada pengelolaan tingkat kota, khususnya yang akan diangkut ke TPA
  • Pengelolaan sampah kawasan harus mampu melayani masyarakat yang berada dalam daerah pelayanan yang telah ditentukan
  • Lokasi pengumpulan sementara (TPS) dapat difungsikan sebagai pusat pengolahan sampah tingkat kawasan, atau sebaliknya, yang berfungsi untuk pemindahan, daur ulang, atau penanganan sampah lainnya dari daerah yang bersangkutan
  • Pemilahan sampah dikelompokkan menjadi beberapa jenis sampah seperti:
    • Sampah basah, yang akan digunakan misalnya sebagai bahan baku kompos
    • oSampah kering, yang digunakan sebagai bahan daur ulang
    • oSampah berbahaya rumah tangga, yang selanjutnya akan dikelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Insinerator skala kecil tidak direkomendasi karena biasanya belum sesuai dengan kondisi sampah yang memiliki kandungan organik tinggi (> 60 %), kadar air tinggi (>60 %) dan nilai kalor rendah (< 1200 kkal/kg), karena akan menyebabkan tinginya konsumsi bahan bakartambahan serta menimbulkan pencemaran udara akibat tidak tersedianya fasilitas penanggulangan pencemaran yang memadai.

Penanganan Sampah Tingkat Kota:

Penanganan sampah tingkat kota merupakan penanganan sampah yang dilakukan oleh pengelola kebersihan kota, baik dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah, atau dilaksanakan oleh institusi lain yang ditunjuk untuk itu, yang bertugas untuk melayani sebagian atau seluruh wilayah yang ada dalam kota yang menjadi tanggung jawabnya. Beberapa ciri penanganan sampah di tingkat ini:

  • Pengelolaan sampah diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur perkotaan
  • Bila dikelola langsung oleh Pemerinta Daerah, maka bentuk pengelolaan dapat berupa Perusahaan Daerah, Dinas, Unit Pelayanan Teknis (UPTD) atau sebagai Seksi dari sebuah Dinas.
  • Terdapat kemungkinan bahwa pengelolaan tersebut dilaksanakan oleh fihak luar atau swasta, baik keseluruhan pelayanan, maupun sebagian dari pelayanan, dengan kontrol kualitas pelayanan tetap dibawah kendali Pemerinta Daerah
  • Ciri khas dari level ini adalah bagaimana memperlihatkan agar kota itu terlihat bersih, sehingga area yang merupakan wajah sebuah kota akan lebih diprioritaskan pelayanannya.

Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat kota:

  • Sumber sampah dari kegiatan kota yang dianggap khusus, sepertijalan protokol, taman kota, instansi penting, pusat perdagangan, dan sejenisnya dapat dilayani dengan sistem langsung (door -to-door), dimana sampah langsung dikumpulkan dan diangkut oleh truk sampah ke tempat pemrosesan akhir
  • Prinsip pengolahan dan daur -ulang sampah adalah mengedepankan pemanfaatan sampah sebagai sumber daya sehingga sampah yang harus dibuang ke TPA menjadi lebih sedikit
  • Keberhasilan upaya pengolahan dan daur- ulang sangat tergantung pada adanya pemilahan sampah mulai dari sumber, pada wadah komunal, pada sarana pengumpul dan pengangkut, sehingga sampah yang akan diangkut ke lokasi pengolahan telah terpilah sesuai jenis atau komposisinya
  • Walaupun terdapat kemungkinan mendapatkan nilai tambah dari hasil penjualan produk pengolahan atau daur-ulang, namun dasar pemikiran pengolahan dan daur -ulang sampah hendaknya didasarkan atas pendekatan non-profit – center . Upaya tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah yang akan diurug di landfill
  • Sarana di tingkat kawasan atau TPS dapat berfungsi untuk pengumpulan sampah berkatagori B3 dari kegiatan rumah tangga, untuk ditangani lebih lanjut
  • Sampah yang telah terpisah di sarana tersebut siap untuk diangkut ke TPA oleh institusi yang diserahi wewenang untuk pengangkutan sampah
  • Konsep penanganan sampah di TPA hendaknya bertumpu pada beberapa prinsip, yaitu:
    • Penanganan sampah di sarana ini hendaknya terpadu
    • Bahan yang masih bernilai ekonomis hendaknya diupayakan untuk didaur-ulang sebelum dilakukan upaya terakhir dengan pengurugan sampah ke dalam tanah
    • Pada lokasi ini dapat dioperasikan beberapa jenis pengolahan sampah, seperti pengomposan, biogasifikasi, ataupun insinerasi bila memenuhi syarat
    • Sarana ini berfungsi pula sebagai tempat penyimpanan sementara bahan berbahaya yang terkumpul dari kegiatan kota, untuk diangkut ke lokasi pemerosesan yang sesuai
    • Sarana ini dioperasikan secara bertanggung jawab, sehingga tidak mendatangkan pencemaran lingkungan, dan tidak mendatangkan permasalahan terhadap kesehatan dan estetika bagi masyarakat sekitarnya

Daerah Pelayanan pengelolaan sampah

Tingkat pelayanan:

Tingkat pelayanan merupakan tinjauan kemampuan terhadap pengelola kota untuk menyediakan pelayanan kebersihan kepada masyarakat, baik secara kuantitas maupun kualitas. Guna menentukan tingkat pelayanan pengelolaan sampah di kota tersebut, digunakan 2 (dua) indikator utama, yaitu:

  • Persentase jumlah penduduk kota dan sarana lain yang memperoleh pelayanan dari sistem
  • Persentase timbulan sampah yang dapat dikelola oleh Pengelola sampah tingkat kota

Dalam merancang sistem pengelolaan sampah, maka persentase pelayanan setiap sumber sampah perlu ditentukan, yang didasarkan atas kondisi serta kemampuan sistem itu sendiri, misalnya:

  • Pelayanan bagi lingkungan permukiman saat ini baru mencapai 40%. Maka dalam 5 tahun ke depan diproyeksikan menjadi 50%, sedang 10 tahun ke depan diproyeksikan menjadi 75%
  • Pelayanan di daerah jalan protokol, pasar, rumah sakit, hotel, taman kota, perkantoran, dan fasilitas umum mendapat prioiritas utama, dan misalnya ditargetkan menjadi 100%.

Pengertian penduduk kota yang dilayani biasanya tidak terbatas pada pelayanan dimana penduduk tersebut bertempat tinggal, tetapi mencakup pula dimana penduduk itu beraktivitas. Pelayanan tidak terbatas dalam arti hanya menyingkirkan sampah dari lingkungan sumber sampah, dan keluar dari kota tersebut, tetapi juga mengandung pengertian bahwa pengelolaan sampah mencakup pelayanan agar sampah yang ditangani tidak mengganggu kesehatan dan lingkungan, khususnya bagi masyarakat dan lingkungan yang bukan penghasil sampah yang ditangani tersebut.

Kualitas pelayanan:

Kualitas pelayanan meliputi frekuensi pengumpulan dan pengangkutan, dukungan dan kondisi prasarana/sarana, serta estetika hasil pelayanan. Frekuensi pengumpulan dan pengangkutan akan terkait dengan sistem pelayanan yang ada serta jenis sampah yang akan dikelola. Sampah basah sangat dianjurkan untuk diangkut minimum 2 hari sekali, sedangkan sampah kering dapat dilakukan 2 kali seminggu.

Daerah pelayanan:

Daerah pelayanan merupakan daerah yang berada dalam tanggung jawab pengelola sebuah kota, yang dilayani pengelolaan sampahnya, paling tidak sampah didaerah tersebut diangkut menuju pengolahan atau pemerosesan akhir. Daerah yang tidak dilayani diharapkan menangani sampahnya secara tuntas baik secara individu, maupun secara komunal.

Beberapa pertimbangan yang biasa digunakan di Indonesia adalah:

  • Daerah dengan kepadatan rendah dianggap masih memiliki daya dukung lingkungan yang tinggi sehingga dapat menerapkan pola penanganan sampah setempat yang mandiri
  • Daerah dengan tingkat kepadatan di atas 50 jiwa/ha perlu mendapatkan pelayanan persampahan karena penerapan pola penanganan sampah setempat akan berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan.
  • Prioritas daerah pelayanan dimulai dari daerah pusat kota, daerah komersial, permukiman dengan kepadatan tinggi, daerah permukiman baru, kawasan strategis atau kawasan andalan
  • Pengembangan daerah pelayanan diarahkan dengan menerapkan model “rumah tumbuh” yaitu pengembangan ke wilayah yang berdekatan atau berbatasan langsung dengan wilayah yang telah mendapat pelayanan.

Jenis pelayanan:

Berdasarkan penentuan skala kepentingan daerah pelayanan, frekuensi pelayanan dapat dibagi dalam beberapa kondisi sebagai berikut:

  • Kondisi-1: wilayah dengan pelayanan intensif, adalah daerah di jalan protokol, pusat kota, kawasan pemukiman tidak teratur, dan daerah komersial
  • Kondisi-2: wilayah dengan pelayanan menengah adalah kawasan pemukiman teratur
  • Kondisi-3: wilayah dengan pelayanan rendah adalah daerah pinggiran kota
  • Kondisi-4: wilayah tanpa pelayanan, misalnya karena lokasinya terlalu jauh, dan belum terjangkau oleh truk pengangkut sampah.

Lebih lanjut, penentuan jenis pelayanan berdasarkan skala kepentingan daerah pelayanan dapat dilihat pada Tabel 1, yang dilakukan berdasarkan pengembangan tata ruang kota.

Hasil perencanaan daerah pelayanan berupa identifikasi masalah dan potensi yang tergambar dalam peta-peta sebagai berikut:

  • Peta problem: minimal menggambarkan kerawanan sampah, tingkat kesulitan pelayanan, kerapatan timbulan sampah, tata guna lahan, jumlah penduduk, kepadatan rumah/bangunan.
  • Peta pemecahan masalah : menggambarkan pola yang digunakan, kapasitas perencanaan, meliputi alat dan personel, jenis sarana dan prasarana, potensi pendapatan jasa pelayanan serta rute dan penugasan

Jenis pelayanan pengelola sampah dapat dibagi seperti terlihat dalam Tabel 1, yaitu:

  • Penyapuan jalan
  • Pengumpulan sampah
  • Pengangkutan sampah
  • Penanganan sampah

Tabel 1. Skala kepentingan daerah pelayanan

Keterangan : angka total tertinggi dari skor (bobot nilai) merupakan pelayanan tingkat pertama, angka-angka berikut di bawahnya merupakan pelayanan selanjutnya.

Teknik Operasional Penanganan Sampah

Teknik operasional penanganan sampah perkotaan meliputi dasar-dasar perencanaan untuk kegiatan-kegiatan:

  • Pewadahan sampah
  • Pengumpulan sampah
  • Pemindahan sampah
  • Pengangkutan sampah
  • Pengolahan dan pendaur-ulangan sampah \
  • Pemerosesan akhir sampah.

Kegiatan pemilahan dan daur ulang semaksimal mungkin dilakukan sejak dari pewadahan sampah sampai dengan pembuangan akhir sampah. Teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri atas kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah harus bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. Skema teknik operasional pengelolaan persampahan dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Skema teknik operasional pengelolaan sampah [Modifikasi dari Tchobanoglous, 1993]

Sub sistem pengumpulan sampah dikenal dengan beberapa pola seperti:

  • Pola individual: pada pola ini dilakukan pengumpulan sampah dari rumah ke rumah dengan alat angkut jarak pendek seperti gerobak atau yang lainnya untuk diangkut ke penampungan sementara. Pola ini dapat dilakukan juga dengan cara door-to-door menggunakan truk sampah untuk langsung diangkut ke pengolahan/pembuangan sampah.
  • Pola komunal: pada pola ini pengumpulan sampah dari beberapa rumah dilakukan pada satu titik pengumpulan, yang dilakukan langsung oleh penghasil sampah untuk kemudian diangkut ke TPA.

Aspek penyimpanan dan pengumpulan membutuhkan pengetahuan dasar tentang

karakteristik masing-masing sampah agar tidak menimbulkan permasalahan, baik dari sudut biaya operasi maupun keselamatan kerja dan lingkungan.

Subsistem pemindahan menerima sampah yang berasal dari sumber, untuk kemudian diangkut ke TPA. Dikenal dua pola yaitu sistem yang permanen dan yang dapat diangkut (dipindahkan). Subsistem pemindahan mempunyai sasaran-sasaran sebagai berikut:

  • Sebagai peredam tingkat ketergantungan fase pengumpulan dengan fase pengangkutan
  • Pos pengendalian tingkat kebersihan wilayah yang bersangkutan.

Subsistem pengangkutan terdiri atas tiga jenis, yaitu:

  • Pengangkutan dari satu lokasi pemindahan ke TPA
  • Pengangkutan dari kelompok pemindahan menuju ke TPA
  • Pengangkutan dengan pola door-to-door.

Aspek pengangkutan sampah kadang dilupakan dan akan menjadi permasalahan besar apabila sampah harus diangkut ke luar dari sumber asalnya guna diproses lebih jauh. Hal ini terutama menyangkut pengamanan selama perjalanannya.

Pengelolaan Sampah Terpadu

Secara historis, pengelolaan limbah berangkat dari fungsi kerekayasaan. Hal ini terkait dengan evolusi masyarakat teknologi, yang memanfaatkan kemampuan berproduksi secara massal. Aliran bahan baku, enersi dan fluida dalam masyarakat modern dan produk ikutannya yang berupa limbah ditunjukkan dalam Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Aliran bahan baku dan limbah dalam masyarakat industri

Pengelolaan sampah pada masyarakat modern bertambah lama bertambah kompleks sejalan dengan kekomplekan masyarakat itu sendiri. Pengelolaan sampah pada masyarakat modern membutuhkan keterlibatan beragam teknologi dan beragam disiplin ilmu. Termasuk di dalamnya teknologi-teknologi yang terkait dengan bagaimana mengontrol timbulan (generation), pengumpulan (collection), pemindahan (transfer), pengangkutan (transportation), pemerosesan (processing), pembuangan akhir (final disposal) sampah yang dihasilkan pada masyarakat tersebut. Pendekatannya tidak lagi sesederhana menghadapi masyarakat non-industri, seperti di perdesaan. Seluruh proses tersebut hendaknya diselesaikan dalam rangka bagaimana melindungi kesehatan masyarakat, pelesta rian lingkungan hidup, namun secara estetika dan juga secara ekonomi dapat diterima.

Beragam pertimbangan perlu dimasukkan, seperti aspek adminsitratif, finansial, legal, arsitektural, planning, kerekayasaan. Semua disiplin ini diharapkan saling berkomunikasi dan berinteraksi satu dengan yang lain dalam hubungan interdipliner yang positif agar sebuah pengelolaan persampahan yang terintegrasi dapat tercapai secara baik.

Pengelolaan sampah terpadu dapat didefinisikan sebagai pemilihan dan penerapan teknik-teknik, teknologi, dan program-program manajemen yang sesuai, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang spesifik dari pengelolaan sampah. USEPA di Amerika Serikat mengidentifikasi 4 (empat) dasar pilihan manajemen strategi, yaitu:

  • Reduksi sampah di sumber
  • Recycling dan pengomposan
  • Transfer ke enersi (waste-to-energy)
  • Landfilling

Negara Bagian Kalifornia mengartikan konsep integrasi tersebut dengan menerapkan secara hierarkhi pilihan teknologi tersebut, yaitu :

  • Reduksi sampah di sumber
  • Recycling dan pengomposan
  • Transformasi limbah
  • Landfilling

yang artinya transformasi sampah baru dipertimbangkan bila telah dilakukan upaya-upaya recycling atau pengomposan sebelumnya, guna mengurangi secara kuantitatif sampah. Gambar 3 merupakan konsep pengelolaan sampah permukiman secara terintegrasi.

Gambar 3. Pengelolaan sampah permukiman secara terintegrasi

Telah dibahas sebelumnya, bahwa penanganan sampah yang terintegrasi bertujuan untuk meminimalkan atau mengurangi sampah yang terangkut menuju pemerosesan akhir. Pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan proses kumpul -angkut -buang menyisakan banyak permasalahan dan kendala, antara lain ketersediaan lahan untuk pembuangan akhirnya. Daur ulang sampah sudah menjadi dasar yang diamanatkan oleh UU-18/2008.

Masing-masing kota diperkirakan pada tahun-tahun mendatang akan mengalami penambahan penduduk yang cukup besar sehingga pembuangan sampah akan mengalami peningkatan yang pesat pula, terutama sampah organik yang merupakan jumlah sampah terbanyak. Data yang tercatat ternyata persentase pemanfaatan kembali sampah di Indonesia diperkirakan belum mencapai 10%. Data ini menunjukkan bahwa persentase pemanfaatan kembali sampah oleh masyarakat masih jauh dari jumlah sampah yang dihasilkan, sehingga volume sampah yang belum tertanggulangi masih banyak. Untuk mendukung upaya pemerintah dalam strategi pengurangan sampah tentunya pemanfaatan kembali sampah merupakan hal yang sangat penting dan sangat diajurkan.

Selain dapat mengurangi timbulan sampah yang berasal dari sumbernya sendiri, kegiatan pemanfaatan kembali khususnya sampah organik ini banyak sekali manfaatnya bagi warga, seperti diperolehnya usaha sampingan, pembukaan lapangan pekerjaan baru, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, juga memperkuat peranserta masyarakat. Manfaat lain yang mungkin dirasakan oleh pemerintah adalah mengurangi subsidi untuk penanganan sampah. Sampai saat ini timbulan sampah yang dapat ditangani oleh pemerintah daerah belum mencapai 100%. Hal ini berarti masih terdapat sampah yang tertinggal atau tidak tertangani oleh pemerintah daerah disebabkan oleh keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Upaya pemanfaatan kembali, pengolahan dan kampa nye pengurangan sampah terutama sampah non-organik merupakan alternatif yang sangat positif sebagai kerangka untuk menjawab permasalahan persampahan tersebut. Sektor informal yang berkecimpung dalam masalah pendaurulangan barang-barang bekas atau sampah memiliki potensi dalam pengurangan sampah khususnya sampah non-organik yang ada di perkotaan.

Sektor informal yang selama ini telah aktif dalam upaya daur-ulang sampah kota yaitu pemulung, bos lapak dan bandar perlu diintegrasikan dalam sistem pengelolaan sampah kota yang berpusat pada sarana pengelolaan sampah tersebut. Program daur-ulang pada dasarnya tidak hanya dilakukan di sumber-sumber timbulan sampah, akan tetapi juga diterapkan di tempat transit sampah (TPS) yang dapat disebut sebagai pengolahan skala kawasan, atau dalam lokasi pengolahan/pembuangan akhir. Penerapan program daur-ulang dan proses pengolahannya di tempat pengolahan/pembuangan akhir, dikenal dengan konsep Pengolahan Sampah Terpadu. Konsep ini prinsipnya menyatukan secara terpadu kegiatan pembuangan akhir dengan kegiatan proses pemilahan, daur ulang, dan komposting, dan upaya lainnya agar sampah yang akan diurug menjadi lebih sedikit. PPT dan PPLH ITB pada tahun 1980-an telah memperkenalkan dan menguji-coba konsep ini sebagai Kawasan Industri Sampah (KIS).

Salah satu skenario kegiatan dan proses dari pengolahan sampah terpadu ini dapat dilihat pada Gambar 4 berikut. Dengan pengembangan sistem pengolahan sampah terpadu ini, fungsi dari tempat pembuangan akhir sampah pada beberapa tahun mendatang dapat menjadi tidak dominan karena kapasitas sampah yang akan diurug lebih kecil daripada sampah yang dapat diolah atau dimanfaatkan lagi, hal ini seiring dengan tahap pengembangan pengelolaan persampahan yang semakin meningkat.

Gambar 4. Flow chart pengolahan sampah terpadu

Pengelolaan Sampah Regional

Dengan terbatasnya lahan untuk pemerosesan, serta makin banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh sebuah kota, maka idea pengelolaan sampah bersama dari daerah yang saling berdekatan atau beskala regional, makin banyak mendapat perhatian di Indonesia. Konsep pertama yang muncul adalah berasal dari Denpasar dan sekitarnya, dengan konsep pengelolaan sampah bersama antara Kota DenpaSAR, Kabupaten BAdung, Kabupaten GIanyar dan Kabupaten TAbanan atau SARBAGITA.

Berdasarkan Peraturan Bersama antara Pemerintah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan, nomor 660.2/2868/Sekret; nomor 840.B tahun 2000; nomor 658.1/3367/Ek; nomor 390.B tahun 2000 tanggal 24 Juli 2000, tentang Pokok-Pokok Kerjasama Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan dalam Pengelolaan Sampah antara Pemerintah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan, ditetapkan 4 (empat) program pokok atau disebut program strategis yang mencakup:

  • Penetapan Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) sampah lintas kabupaten/kota.
  • Pembentukkan wadah kerjasama dalam suatu badan pengelola kebersihan Bali Bagian Selatan
  • Pembentukan wadah pengawasan independen
  • Pembentukan Peraturan Pemerintah (Perda) yang mendukung pengelolaan sampah, seperti tarif, organisasi, pengawasan, perencanaan, dan lain-lain.

Untuk meningkatkan kondisi lingkungan hidup daerah dan perkotaan di Propinsi Bali, khususnya di Bali Selatan yang mengalami pertumbuhan urbanisasi yang sangat pesat, Pemerintah Pusat mendapat bantuan dari Bank Dunia (IBRD) melalui Program Bali Urban Infrastructure Project (BUIP)- P3 KT , yang di dalam pelaksanaannya khusus menyangkut persampahan ditangani oleh Proyek Pengelolaan Sampah di Bali (Solid Waste Menagement in Bali) mulai Tahun Anggaran 1997/1998 sampai dengan 2001/2002. Restrukturisasi pembentukan institusi pengelolaan persampahan di Bali Selatan, yang kemudian disebut Sarbagita, telah disepakati melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tanggal 16 April 2001 di antara keempat Pemerintah Daerah/Kota Sarbagita. Institusi atau badan yang telah disepakati untuk dibentuk adalah : Badan Pengatur dan Pengendalian Kebersihan Sarbagita (BPPKS), Badan Pengelola Kebersihan Sarbagita (BPKS), dan Badan Pengawas Pengelolaan Kebersihan Sarbagita (BP2KS). Institusi atau badan tersebut mempunyai fungsi dan tugas pokok masing-masing yang sudah ditetapkan melalui Keputusan Bersama Pemerintah Daerah/Kota.

Konsep yang sama dicoba dikembangkan di Jakarta dan sekitarnya, yaitu pengelolaan sampah bersama, khususnya dalam pengadaan TPA, bagi kotaJAkarta, BOgor, DEpok, TAngerang dan BEKas, atau JABODETABEK. Namun upaya yang mendapat dukungan dari Pemerintah pusat tersebut, sampai saat ini belum terlihat realisasinya. Terdapat perbedaan persepsi dan kepentingan diantara kota dan kabupaten yang terlibat di dalamnya. Konsep sejenis berjalan cukup baik di Yoyakarta, yaitu antara Daerah Istimewa YogyaKARTA, Kabupaten SleMAN dan dan Kabuoaten BanTUL, atau KARTAMANTUL. Hal yang sama dirintis di tempat lain, seperti di metropolitan Makassar, Gorontalo dsb. Sedang Bandung Raya menampilkan idea pengelolaan sampah bersama antara Garut, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Kota Cimahi yang telah dirintis sejak tahun 2004.

Sumber:
Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104 (2008)
Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

Sumber, Karakteristik, dan Timbulan Sampah

Sumber dan Timbulan Sampah

Biasanya sumber sampah dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu:

  1. Sampah dari permukiman, atau sampah rumah tangga
  2. Sampah dari non-permukiman yang sejenis sampah rumah tangga, seperti dari pasar, komersial dsb.

Sampah dari kedua jenis sumber tersebut dikenal sebagai sampah domestik. Sedang sampah non-domestik adalah sampah atau limbah yang bukan sejenis sampah rumah tangga, misalnya limbah dari proses industri. Bila sampah domestik ini berasal dari lingkungan perkotaan, dalam bahasa Inggeris dikenal sebagai municipal solid waste (MSW).

Dalam pengelolaan persampahan di Indonesia, sampah kota biasanya dibagi berdasarkan sumbernya, seperti sampah dari:

  • Permukiman atau rumah tangga dan sejenisnya
  • Pasar
  • Kegiatan komersial seperti pertokoan
  • Kegiatan perkantoran: mayoritas berisi sampah kegiatan perkantoran seperti kertas Hotel dan restoran
  • Kegiatan dari institusi seperti industri, rumah sakit, khusus untuk sampah yang sejenis dengan sampah permukiman
  • Penyapuan jalan
  • Taman-taman.

Kadang dimasukkan pula sampah dari sungai atau drainase air hujan, yang banyak dijumpai. Sampah dari masing-masing sumber tersebut mempunyai karakteristik yang khas sesuai dengan besaran dan variasi aktivitasnya. Timbulan (generation) sampah masing-masing sumber tersebut bervariasi satu dengan yang lain.

Data mengenai timbulan, komposisi, dan karakteristik sampah merupakan hal yang sangat menunjang dalam menyusun sistem pengelolaan persampahan di suatu wilayah. Jumlah timbulan sampah ini biasanya akan berhubungan dengan elemen-elemen pengelolaan seperti:

  • Pemilihan peralatan, misalnya wadah, alat
  • pengumpulan, dan pengangkutan
  • Perencanaan rute pengangkutan
  • Fasilitas untuk daur ulang Luas dan jenis TPA.

Bagi negara berkembang dan beriklim tropis seperti Indonesia, faktor musim sangat besar pengaruhnya terhadap berat sampah. Dalam hal ini, musim yang dimaksud adalah musim hujan dan kemarau, tetapi dapat juga berarti musim buah-buahan tertentu. Di samping itu, berat sampah juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya lainnya. Oleh karenanya, sebaiknya evaluasi timbulan sampah dilakukan beberapa kali dalam satu tahun. Timbulan sampah dapat diperoleh dengan sampling (estimasi) berdasarkan standar yang sudah tersedia.

Timbulan sampah bisa dinyatakan dengan satuan volume atau satuan berat. Jika digunakan satuan volume, derajat pewadahan (densitas sampah) harus dicantumkan. Oleh karena itu, lebih baik digunakan satuan berat karena ketelitiannya lebih tinggi dan tidak perlu memperhatikan derajat pemadatan.Timbulan sampah ini dinyatakan sebagai:

  • Satuan berat: kg/o/hari, kg/m2/hari, kg/bed/hari, dan sebagainya
  • Satuan volume: L/o/hari, L/m2/hari, L/bed/hari, dan sebagainya.

Di Indonesia umumnya menerapkan satuan volume. Penggunaan satuan volume dapat menimbulkan kesalahan dalam interpretasi karena terdapat faktor kompaksi yang harus diperhitungkan. Sebagai ilustrasi, 10 unit wadah yang berisi air masing-masing 100 liter, bila air tersebut disatukan dalam wadah yang besar, maka akan tetap berisi 1000 liter air. Namun 10 unit wadah yang berisi sampah 100 liter, bila sampah tersebut disatukan dalam sebuah wadah, maka volume sampah akan berkurang karena mengalami kompaksi. Berat sampah akan tetap. Terdapat faktor kompaksi yaitu densitas.

Prakiraan timbulan sampah baik untuk saat sekarang maupun di masa mendatang merupakan dasar dari perencanaan, perancangan, dan pengkajian sistem pengelolaan persampahan. Prakiraan timbulan sampah akan merupakan langkah awal yang biasa dilakukan dalam pengelolaan persampahan. Bagi kota-kota di negara berkembang, dalam hal mengkaji besaran timbulan sampah, perlu diperhitungkan adanya faktor pendaurulangan sampah mulai dari sumbernya sampai di TPA.

Tabel Besarnya Timbulan Sampah Berdasarkan Sumbernya

Rata-rata timbulan sampah biasanya akan bervariasi dari hari ke hari, antara satu daerah dengan daerah lainnya, dan antara satu negara dengan negara lainnya. Variasi ini terutama disebabkan oleh perbedaan, antara lain:

  • Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya
  • Tingkat hidup: makin tinggi tingkat hidup masyarakat, makin besar timbulan sampahnya
  • Musim: di negara Barat, timbulan sampah akan mencapai angka minimum pada musim panas
  • Cara hidup dan mobilitas penduduk
  • Iklim: di negara Barat, debu hasil pembakaran alat pemanas akan bertambah pada musim dingin
  • Cara penanganan makanannya.

Beberapa studi memberikan angka timbulan sampah kota di Indonesia berkisar antara 2-3 liter/orang/hari dengan densitas 200-300 kg/m3 dan komposisi sampah organik 70-80%.

Menurut SNI 19 -3964 -1994, bila pengamatan lapangan belum tersedia, maka untuk menghitung besaran sistem, dapat digunakan angka timbulan sampah sebagai berikut:

  • Satuan timbulan sampah kota besar = 2– 2,5 L/orang/hari, atau = 0,4 – 0,5 kg/orang/hari
  • Satuan timbulan sampah kota sedang/kecil = 1,5 – 2 L/orang/hari, atau = 0,3 – 0,4 kg/orang/hari

Karena timbulan sampah dari sebuah kota sebagian besar berasal dari rumah tangga, maka untuk perhitungan secara cepat satuan timbulan sampah tersebut dapat dianggap sudah meliputi sampah yang ditimbulkan oleh setiap orang dalam berbagai kegiatan dan berbagai lokasi, baik saat di rumah, jalan, pasar, hotel, taman, kantor dsb. Namun tambah besar sebuah kota, maka tambah mengecil porsi sampah dari permukiman, dan tambah membesar porsi sampah non-permukiman, sehingga asumsi tersebut di atas perlu penyesuaian, seperti contoh di bawah ini.

Contoh :

Jumlah penduduk sebuah kota = 1 juta orang. Bila satuan timbulan sampah = 2,5 L/orang/hari atau 0,5 kg/orang/hari, maka jumlah sampah dari permukiman adalah = (2,5×1.000.000/1000) m3/hari = 2500 m3/hari atau setara dengan 500 ton/hari. Bila jumlah sampah dari sektor non-permukiman dianggap = 1250 m3/hari, atau setara dengan 250 ton/hari, maka total sampah yang dihasilkan dari kota tersebut = 4000 m 3/hari, atau = 750 ton/hari. Bila dikonversi terhadap total penduduk, maka kota tersebut dapat dinyatakan menghasilkan timbulan sampah sebesar (4000 m3/hari : 1 juta orang) atau = 4 L/orang/hari, yang merupakan satuan timbulan ekivalensi penduduk.

Komposisi Sampah

Pengelompokan berikutnya yang juga sering dilakukan adalah berdasarkan komposisinya, misalnya dinyatakan sebagai % berat (biasanya berat basah) atau % volume (basah) dari kertas, kayu, kulit, karet, plastik, logam, kaca, kain, makanan, dan lain-lain. Komposisi dan sifat -sifat sampah menggambarkan keanekaragaman aktivitas manusia.

Berdasarkan sifat-sifat biologis dan kimianya, sampah dapat digolongkan sebagai berikut:

  • Sampah yang dapat membusuk (garbage), seperti sisa makanan, daun, sampah kebun, sampah pasar, sampah pertanian, dan lain-lain
  • Sampah yang tidak membusuk (refuse), seperti plastik, kertas, karet, gelas, logam, kaca, dan sebagainya
  • Sampah yang berupa debu dan abu

Sampah yang mengandung zat-zat kimia atau zat fisis yang berbahaya. Disamping berasal dari industri atau pabrik-pabrik, sampah jenis ini banyak pula dihasilkan dari kegiatan kota termasuk dari rumah tangga.

Tabel Timbulan Buangan Padat Domestik Kota Bandung, 1994

Tabel Timbulan Sampah di Beberapa Negara

Tabel Timbulan Sampah di Beberapa Kota di Indonesia

Tabel Timbulan Sampah di Jawa Tengah Berdasarkan Income

Tabel Komposisi Sampah Domestik

Tabel Komposisi Sampah di Beberapa Kota (% Berat Basah)

Pengertian sampah organik lebih bersifat untuk mempermudah pengertian umum, untuk menggambarkan komponen sampah yang cepat terdegradasi (cepat membusuk), terutama yang berasal dari sisa makanan. Sampah yang membusuk ( garbage ) adalah sampah yang dengan mudah terdekomposisi karena aktivitas mikroorganisme. Dengan demikian pengelolaannya menghendaki kecepatan, baik dalam pengumpulan, pemerosesan, maupun pengangkutannya. Pembusukan sampah ini dapat menghasilkan yang berbau tidak enak, seperti ammoniak dan asam-as m volatil lainnya. Selain itu, dihasilkan pula gas-gas hasil dekomposisi, seperti gas metan dan sejenisnya, yang dapat membahaykan keselamatan bila tidak ditangani secara baik. Penumpukan sampah yang cepat membusuk perlu dihindari. Sampah kelompok ini kadang dikenal sebagai sampah basah, atau juga dikenal sebagai sampah organik. Kelompok inilah yang berpotensi untuk diproses dengan bantuan mikroorganisme, misalnya dalam pengomposan atau gasifikasi, atau cara-cara lain seperti sebagai pakan ternak.

Sampah yang tidak membusuk atau refuse pada umumnya terdiri atas bahan-bahan kertas, logam, plastik, gelas, kaca, dan lain-lain. Refuse sebaiknya didaur ulang, apabila tidak maka diperlukan proses lain untuk memusnahkannya, seperti pembakaran. Namun pembakaran refuse ini juga memerlukan penanganan lebih lanjut, dan berpotensi sebagai sumber pencemaran udara yang bermasalah, khususnya bila mengandung plastik. Kelompok sampah ini dikenal pula sebagai sampah kering, atau sering pula disebut sebagai sampah anorganik.

Di negara beriklim dingin, sampah berupa debu dan abu banyak dihasilkan sebagai produk hasil pembakaran, baik pembakaran bahan bakar untuk pemanas ruangan, maupun abu hasil pembakaran sampah dari insinerator. Abu debu di negara tropis seperti Indonesia, banyak berasal dari penyapuan jalan-jalan umum. Selama tidak mengandung zat beracun, abu tidak terlalu berbahaya terhadap lingkungan dan masyarakat. Namun, abu yang berukuran <10 µm dapat memasuki saluran pernafasan dan menyebabkan penyakit pneumoconiosis.

Sampah berbahaya adalah semua sampah yang mengandung bahan beracun bagi manusia, flora, dan fauna. Sampah ini pada umumnya terdiri atas zat kimia organik maupun anorganik serta logam – log a m berat, yang kebanyakan merupakan buangan industri. Sampah jenis ini sebaiknya dikelola oleh suatu badan yang berwenang dan dikeluarkan ke lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sampah jenis ini tidak dapat dicampurkan dengan sampah kota biasa.

Komposisi sampah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor:

  • Cuaca: di daerah yang kandungan airnya tinggi, kelembaban sampah juga akan cukup tinggi
  • Frekuensi pengumpulan: semakin sering sampah dikumpulkan maka semakin tinggi tumpukan sampah terbentuk. Tetapi sampah organik akan berkurang karena membusuk, dan yang akan terus bertambah adalah kertas dan dan sampah kering lainnya yang sulit terdegradasi
  • Musim: jenis sampah akan ditentukan oleh musim buah-buahan yang sedang berlangsung
  • Tingkat sosial ekonomi: Daerah ekonomi tinggi pada umumnya menghasilkan sampah yang terdiri atas bahan kaleng, kertas, dsb
  • Pendapatan per kapita: Masyarakat dari tingkat ekonomi lemah akan menghasilkan total sampah yang lebih sedikit dan homogen
  • Kemasan produk: kemasan produk bahan kebutuhan sehari-hari juga akan mempengaruhi. Negara maju seperti Amer ika tambah banyak yang menggunakan kertas sebagai pengemas, sedangkan negara berkembang seperti Indonesia banyak menggunakan plastik sebagai pengemas.

Dengan mengetahui komposisi sampah dapat ditentukan cara pengolahan yang tepat dan yang paling efisien sehingga dapat diterapkan proses pengolahannya. Tambah sederhana pola hidup masyarakatnya, tambah banyak komponen sampah organik (sisa makanan, dsb). Suatu penelitian (1989) yang dilakukan di beberapa kota di Jawa Barat menggambarkan hal tersebut dalam skala kota. Tambah besar dan beraneka ragam aktivitas sebuah kota, maka tambah kecil proporsi sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga, yang umumnya didominasi sampah organik. Pemukiman merupakan sumber sampah terbesar dengan komposisi sampah basah atau sampah organik sebesar 73-78%. Dengan kondisi seperti itu disertai kelembaban sampah yang tinggi, maka sampah akan sangat cepat membusuk.

Tabel Tipikal Komposisi Sampah Pemukiman (% berat basah)

Tabel Tendensi Komposisi Sampah di Jawa Barat (%berat basah)

Tabel Komposisi Sampah Kota Bandung Berdasarkan Sumber (% Berat Basah) 1988

Tabel Karakteristik Sampah kota Bandung 1988

Karakteristik Sampah

Selain komposisi, maka karakteristik lain yang biasa ditampilkan dalam penanganan sampah adalah karakteritik fisika dan kimia. Karakteristik tersebut sangat bervariasi, tergantung pada komponen-komponen sampah. Kekhasan sampah dari berbagai tempat/daerah serta jenisnya yang berbeda-beda memungkinkan sifat-sifat yang berbeda pula. Sampah kota di negara-negara yang sedang berkembang akan berbeda susunannya dengan sampah kota di negara-negara maju.

Karakteristik sampah dapat dikelompokkan menurut sifat-sifatnya, seperti:

  • Karakteristik fisika: yang paling penting adalah densitas, kadar air, kadar volatil, kadar abu, nilai kalor, distribusi ukuran.
  • Karakteristik kimia: khususnya yang menggambarkan susunan kimia sampah tersebut yang terdiri dari unsur C, N, O, P, H, S, dsb.

Menurut pengamatan di lapangan, maka densitas sampah akan tergantung pada sarana pengumpul dan pengangkut yang digunakan, biasanya untuk kebutuhan desain digunakan angka:

  • Sampah di wadah sampah rumah: 0,01 – 0,20 ton/m3
  • Sampah di gerobak sampah: 0,20 – 0,35 ton/m3
  • Sampah di truk terbuka: 0,25 – 0,40 ton/m 3
  • Sampah di TPA dengan pemadaran konvensional = 0,50 – 0,60 ton/m3 .

Informasi mengenai komposisi sampah diperlukan untuk memilih dan menentukan cara pengoperasian setiap peralatan dan fasilitas-fasilitas lainnya dan untuk memperkirakan kelayakan pemanfaatan kembali sumberdaya dan energi dalam sampah, serta untuk perencanaan fasilitas pemerosesan akhir.

Metode Pengukuran

Timbulan sampah yang dihasilkan dari sebuah kota dapat diperoleh dengan survey pengukuran atau analisa langsung di lapangan, yaitu:

  1. Mengukur langsung satuan timbulan sampah dari sejumlah sampel (rumah tangga dan non­rumah tanga) yang ditentukan secara random­proporsional di sumber selama 8 hari berturut- tu rut (SNI 19-3964-1995 dan SNI M 36-1991- 03 )
  2. Load-count analysis: mengukur jumlah (berat dan/atau volume) sampah yang masuk ke TPS, misalnya diangkut dengan gerobak, selama 8 hari berturut-turut. Dengan melacak jumlah dan jenis penghasil sampah yang dilayani oleh gerobak yang mengumpulkan sampah tersebut, akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekivalensi penduduk
  3. Weigh-volume analysis: bila tersedia jembatan timbang, maka jumlah sampah yang masuk ke fasilitas penerima sampah akan dapat diketahui dengan mudah dari waktu ke waktu. Jumlah sampah sampah harian kemudian digabung dengan perkiraan area yang layanan, dimana data penduduk dan sarana umum terlayani dapat dicari, maka akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekuivalensi penduduk
  4. Material balance analysis: merupakan analisa yang lebih mendasar, dengan menganalisa secara cermat aliran bahan masuk, aliran bahan yang hilang dalam system, dan aliran bahan yang menjadi sampah dari sebuah sistem yang ditentukan batas-batasnya (system boundary)

Dalam survey, frekuensi pengambilan sampel sebaiknya dilakukan selama 8 (delapan) hari berturut-turut guna menggambarkan fluktuasi harian yang ada. Dilanjutkan dengan kegiatan bulanan guna menggambarkan fluktuasi dalam satu tahun. Penerapan yang dilaksanakan di Indonesia biasanya telah disederhanakan, seperti:

  • Hanya dilakukan 1 hari saja
  • Dilakukan dalam seminggu, tetapi pengambilan sampel setiap 2 atau 3 hari
  • Dilakukan dalam 8 hari berturut-turut.

Metode yang umum digunakan untuk menentukan kuantitas total sampah yang akan dikumpulkan dan dibuang adalah sebagai berikut:

  • Rata-rata angkutan per hari dikalikan volume rata-rata pengangkutan dan dikonversikan ke satuan berat dengan menggunakan densitas
  • rata-rata yang diperoleh melalui sampling Mengukur berat sampel di dalam kendaraan angkut dengan menggunakan jembatan
  • timbang, kemudian rata-ratanya dikalikan dengan total angkutan per hari
  • Mengukur berat setiap angkutan di jembatan timbang di TPA.

Jumlah sampah yang sampai di TPA sulit untuk dijadikan indikasi yang akurat mengenai timbulan sampah yang sebenarnya di sumber. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kehilangan sampah di setiap tahapan proses operasional pengelolaan sampah tersebut, terutama karena adanya aktivitas pemulungan atau pemilahan sampah.

Untuk keperluan tertentu, misalnya menentukan volume yang dibutuhkan untuk pewadahan sampah atau menentukan potensi daur ulang, perlu diupayakan untuk mengukur jumlah sampah di sumber. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sampling sampah langsung di sumbernya. Karena aktivitas domestik bervariasi dari hari ke hari dengan siklus mingguan, sampling sampah di sumber harus dilaksanakan selama satu minggu (umumnya 8 hari berturut-turut).

Penentuan jumlah sampel yang biasa digunakan dalam analisis timbulan sampah adalah adalah dengan pendekatan statistika, yaitu:

  1. Metode Stratified Random Sampling: yang biasanya didasarkan pada komposisi pendapatan penduduk setempat, dengan anggapan bahwa kuantitas dan kualitas sampah dipengaruhi oleh tingkat kehidupan masyarakat.
  2. Jumlah sampel minimum: ditaksir berdasarkan berapa perbedaan yang bisa diterima antara yang ditaksir dengan penaksir, berapa derajat kepercayaan yang diinginkan, dan berapa derajat kepercayaan yang bisa diterima.
  3. Pendekatan praktis: dapat dilakukan dengan pengambilan sampel sampah berdasarkan atas jumlah minimum sampel yang dibutuhkan untuk penentuan komposisi sampah, yaitu minimum 500 liter atau sekitar 200 kg. Biasanya sampling dilakukan di TPS atau pada gerobak yang diketahui sumber sampahnya.

Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah di Indonesia biasanya dilaksanakan berdasarkan SNI M 36-1991-03. Penentuan jumlah sampel sampah yang akan diambil dapat menggunakan formula berikut:

  • Bila jumlah penduduk ≤ 106 jiwa

  • Bila jumlah penduduk > 10 6 jiwa

 

Sampah Berbahaya dari Rumah Tangga

Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini, khususnya di kota, tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan, maka bahan tersebut akan menjadi limbah, yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya, termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat, tabung bekas pewangi ruangan. Bahan-bahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga, yaitu:

  • di dapur, seperti: pembersih saluran air, soda kaustik, semir, gas elpiji, minyak tanah, asam cuka, kaporit atau desinfektan, spiritus / alkohol di kamar mandi dan cuci, seperti: cairan setelah mencukur, obat-obatan, shampo anti ketombe, pembersih toilet, pembunuh kecoa
  • di kamar tidur, seperti: parfum, kosmetik, kamfer, obat-obatan, hairspray, air freshener , pembunuh nyamuk
  • di ruang keluarga, seperti: korek api, alkohol, batere, cairan pmbersih,
  • di garasi/taman, seperti: pestisida dan insektisida, pupuk, cat dan solven pengencer, perekat, oli mobil, aki bekas

Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri, penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari, seperti penggunaan pestisida dalam kegiatan pertanian, yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah, namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan. Kegiatan agrowisata, seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya.

Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian, penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut, seperti kesulitan bernafas, kepala pusing, lamban, iritasi mata atau kulit. Oleh karenanya, pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan, misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak -anak.

Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas:

  • Produk pembersih:
    • bubuk penggosok abrasif: korosif
    • pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif
    • pengelantang: toksik, korosif
    • pembersih saluran air: korosif
    • pengkilap mebel: mudah terbakar
    • pembersih kaca: Korosif (iritasi)
    • pembersih oven: korosif
    • semir sepatu: mudah terbakar
    • pengkilap logam (perak): mudah terbakar
    • penghilang bintik noda: mudah terbakar
    • pembersih toilet dan lantai: korosif
    • pembersih karpet/kain : korosif, mudah terbakar.
  • Perawatan badan:
    • shampo (anti ketombe): toksik
    • penghilang cat kuku: toksik, mudah terbakar
    • minyak wangi: mudah terbakar
    • kosmetika: toksik
    • obat-obatan: toksik
  • Produk otomotif:
    • cairan anti beku: toksik
    • oli: mudah terbakar
    • aki mobil: korosif
    • bensin, minyak tanah: mudah terbakar, toksik
  • Produk rumah tangga lain:
    • cat: mudah terbakar, toksik
    • pelarut / tiner: mudah terbakar
    • baterei: korosif dan toksik
    • khlorin kolam renang: korosif dan toksik
    • biosida anti insek: toksik, mudah terbakar
    • herbisida, pupuk: toksik
    • aerosol: mudah terbakar, mudah meledak

Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain, seperti timbulnya gas toksik bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang yang mengandung khlor, atau menimbulkan ledakan bila tabung sisa aerosol terbakar di bak sampah.

Tabel Limbah Berbahaya dari Rumah Tangga (Amerika Serikat)

Sumber:
Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104 (2008)
Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

Kegiatan Daur Ulang Sampah Di Indonesia

Alasan Daur-Ulang

Daur-ulang (yang dimaksud di sini adalah reuse dan recycling) limbah pada dasarnya telah dimulai sejak lama. Di Indonesia pun, khususnya di daerah pertanian, masyarakat sudah mengenal daur ulang limbah, khususnya limbah yang bersifat hayati, seperti sisa makanan, daun-daunan dsb. Dalam sistem pengelolaan persampahan, upaya daur-ulang memang cukup menonjol, dan umumnya melibatkan sektor informal. Beberapa alasan mengapa daur-ulang mendapat perhatian:

  1. Alasan ketersediaan sumber daya alam: beberapa sumber daya alam bersifat dapat terbarukan dengan siklus yang sistematis, seperti siklus air. Yang lain termasuk dalam katagori tidak terbarukan, sehingga ketersediaannya di alam menjadi kendala utama. Berdasarkan hal itu, maka salah satu alasan daur-ulang adalah ketersediaan sumber-daya alam.
  2. Alasan nilai ekonomi: limbah yang dihasilkan dari suatu kegiatan ternyata dapat bernilai ekonomi bila dimanfaatkan kembali. Pemanfaatan tersebut dapat dalam bentuk pemanfaatan enersi, atau pemanfaatan bahan, baik sebagai bahan utama ataupun sebagai bahan pembantu.
  3. Alasan lingkungan: alasan lain yang akhir-akhir mendapat perhatian adalah perlindungan terhadap lingkungan. Komponen limbah yang dibuang ke lingkungan dalam banyak hal mendataangkan dampak negatif pada lingkungan dengan pencemarannya. Pengolahan limbah akan menjadi kewajiban. Namun bila dalam upaya tersrebut dapat pula dimanfaatkan nilai ekonomisnya, maka hal tersebut akan menjadi pilihan yang cukup menarik.

Dalam beberpa hal alasan-alasan tersebut saling terkait sama yang lain dan saling mendukung, sehingga upaya daur-ulang menjadi lebih terarah dan menarik.

Bentuk lain pemanfaatan limbah dalam daur-ulang adalah kemungkinannya sebagai sumber enersi. Paling tidak terdapat dua bentuk enersi hasil daur- ula n g yang telah biasa dijumpai di lapangan, yaitu:

  • Sebagai enersi panas seperti yang dikeluarkan dari sebuah insinerator dengan bahan bakar limbah bernilai kalor tinggi,
  • Sebagai enersi kimia seperti yang dikeluarkan dari sebuah reaktor anaerob atau sebuah landfill limbah organic seperti sampah, yaitu dalam bentuk gas metan

Kemungkinan lain dari pemanfaatan limbah misalnya sebagai sumber protein atau bahan lain, baik dengan rekayasa yang sistematis seperti dalam pembuatan alkohol, maupun sebagai bahan makanan. Sebagai bahan makanan pendekatan ini telah banyak digunakan di Indonesia, khsususnya dari limbah yang berkatagori organik, misalnya sebagai pakan ternak atau sebagai pakan cacing.

Bahan buangan berbentuk padat, seperti kertas, logam, plastik adalah bahan yang biasa didaur-ulang. Bahan ini bisa saja didaur-pakai secara langsung atau harus mengalami proses terlebih dahulu untuk menjadi bahan baku baru. Bahan buangan ini banyak dijumpai, dan biasanya merupakan bahan pengemas produk. Bahan inilah yang pada tingkat konsumen kadang menimbulkan permasalahan, khususnya dalam pengelolaan sampah kota. Di negara industri, aplikasi pengemas yang mudah didaur-ulang akan menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan nilai saing produk tersebut di pasar. Sebenarnya sampah mempunyai potensi untuk didaur-ulang. Proses daur ulang harus memperhatikan komposisi dan karakteristik limbah yang dominan, terutama bila daur ulang dilakukan di tempat pembuangan akhir. Hal lain yang mempengaruhi adalah ketersediaan tenaga operasional agar proses berkelanjutan. Proses daur ulang juga dilakukan di sumber timbulan dan tempat penampungan sementara, atau pada skala kawasan. Daur ulang yang dilakukan di sumber maupun penampungan sementara atau di skala kawasan, dapat meminimalkan biaya pengangkutan ke pembuangan akhir.

Daur-Ulang Limbah Secara Umum

Proses daur-ulang pada umumnya membutuhkan rekayasa dalam bentuk:

  1. Pemisahan dan pengelompokan: yaitu untuk mendapatkan limbah yang sejenis. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara manual (dilakukan dengan tangan manusia secara langsung) maupun secara mekanis (dilakukan oleh mesin).
  2. Pemurnian: yaitu untuk mendapatkan bahan/elemen semurni mungkin, baik melalui proses fisik, kimia, biologi, atau termal.
  3. Pencampuran: yaitu untuk mendapatkan bahan yang lebih bermanfaat, misalnya sejenis limbah dicampur dengan limbah lain atau dengan bahan lain
  4. Pengolahan atau perlakuan: yaitu untuk mengolah buangan menjadi bahan yang siap pakai.

Sasaran utama dari rekayasa tersebut adalah bagaimana mendapatkan bahan yang sebaik mungkin sesuai fungsi dari bahan daur-ulang tersebut. Upaya pertama daur-ulang adalah bagaimana memisahkan limbah di sumbernya, yang sebetulnya merupakan kegiatan yang mudah dilaksanakan. Beberapa contoh di bawah ini merupakan cara dan bentuk daur-ulang.

Banyak pengolahan limbah (padat, cair dan gas) menghasilkan residu seperti sludge atau debu, atu residu lain, yang pada gilirannya harus ditangani lebih lanjut. Kadangkala limbah yang terbentuk tersebut, seperti sludge, menjadi bermasalah karena berkatagori sebagai limbah berbahaya.

 Sampah Anoganik dalam Sampah

Potensi Daur Ulang Sampah

Daur Ulang Kertas Bekas

Di negara maju kertas merupakan komponen sampah yang paling tinggi. Bersama dengan wadah karton gelombang serta boxboard, jumlahnya sekitar 25 – 40 % berat. Beberapa jenis kertas yang dijumpai dalam sampah adalah:

  • Kertas campuran: kertas beraneka ragam dengan kualitas yang bervariasi, seperti majalah, buku, arsip kantor, karton, kertas pembungkus.
  • Karton bergelombang Kertas kraft putih maupun berwarna yang belum dicetak.
  • Kertas koran: surat kabar

Masing-masing mempunyai tingkat kualitas tertentu, tergantung pada jenis serat, sumber, homogenitas, cetakan yang ada, karakteristik fisik dan kimia. Kertas berkualitas tinggi, seperti kertas komputer, kertas kantor, mempunyai serat panjang dengan persentase tinggi.

Persentase jenis kertas bekas yang biasa dijumpai di Amerika Serikat adalah:

  • Kertas koran: 17,7 %
  • Buku dan majalah: 8,7 %
  • Cetakan komersial: 6,4 %
  • Kertas kantor: 10,1 %
  • Paperboard lain: 10,1 %
  • Packaging kertas: 7,8 %
  • Paper non-packaging lain: 10,6 %
  • Tissu dan pembersih: 5,9 %
  • Bahan corrugated: 22,7 %

Prinsip daur ulang kertas secara sederhana yang banyak dijumpai di Indonesia, khususnya pada sektor informal adalah:

  • Kertas direndam dalam air hingga menjadi lembut untuk memudahkan proses penghancuran menjadi bubur kertas.
  • Bubur kertas yang terbentuk diletakkan dalam suatu cetakan dengan ukuran tertentu.
  • Setelah tercetak, kertas yang masih basah dikeluarkan dari cetakan kemudian dikeringkan di terik matahari.
  • Untuk skala besar, digunakan mesin pencetak daur ulang kertas.

Mesin Pembuat Kertas Daur Ulang

Daur Ulang Plastik

Walaupun plastik telah dipakai lebih dari 50 tahun yang lalu, namun penggunaannya sebagai packaging meningkat secara tajam dalam 25 tahun terakhir ini. Hampir semua plastik packaging akhirnya dibuang, sehingga jumlahnya dalam sampah meningkat dari 3 % berat (1970-an) menjadi 7 % (1990-an). Penggunaan plastik sebagai packaging mempunyai keunggulan dibanding yang lain, baik sebagai bahan kontainer (wadah) maupun sebagai pembungkus, karena:

  • Lebih ringan
  • Lebih kuat
  • Lebih mudah dibentuk
  • Dapat diatur agar fleksibel atau kaku Merupakan isolator yang baik
  • Dapat digunakan untuk pengemas makanan dingin atau panas

Bahan plastik dijumpai pada sampah kota dalam 7 jenis:

  • Polyethylene terephthalate (PETE/1):
    • Didaur ulang sebagai fiber polyester untuk sleeping bag, bantal, baju dingin Post consumer PETE digunakan untuk fiberkarpet, film, kontainetr makanan, plastik otomotif
    • Dari daur-ulang konvensional, sekarang
    • terdapat upaya pembuatan botol depolymerisasi menjadi ethylene glycol danterephthalic acid, kemudian repolimerisasi menjadi resin botol soft drink, misalnya coca-cola
  • High-density polyethylene (HDPE/2): Sifatnya berbeda satu dengan lain tergantung produk yang akan dihasilkan Botol susu dari resin dengan indeks leleh rendah
    • HDPE rigid terbuat dari resin dengan indeks leleh yang tinggi
    • Misalnya digunakan pada lapis dalam dari botol oli yang terdiri dari 3 lapis
  • Polyvinyl chloride (PVC/3):
    • Banyak digunkan untuk packaging makanan, kabel listrik, isolasi kabel, pipa plastic, ember
    • Produk daur-ulang lain: kontainer non – makanan, floor tile, selang kebun, mainan, pot bunga, pipa drainage
  • Low-density polyethylene (LDPE/4): misalnya untuk packaging makanan. Sebagian besar berakhir pada sampah dan landfill.
  • Polypropylene (PP/5): biasanya untuk bungkus batere, tutup botol, label, atau kadangkalan untuk kontainer makanan.
  • Polystyrene (PS/6)
  • Lain-lain bahan -bahan plastik multilayer (7)

Disamping itu, plastik biasanya diklasifikasi dalam 2 katagori umum, yaitu:

  • Clean commercial grade scrape (plastik awal)
  • Post consumer scrap (plastik limbah)
  • Dua jenis plastik post consumer yang paling sering didaur ulang adalah PETE(1), yang banyak digunakan untuk botol soft drink , dan HDPE(2), biasanya untuk wadah susu, botol air kemasan, atau pembungkus detergen.

Beberapa permasalah pemasaran plastik:

  • Harga plastik daur-ulang relatif murah, karena bahan bakunya juga relatif murah. Perlu ada insentif untuk pengangkutan
  • Pengangkutan dan pengolahan plastik bekas belum tersedia secara luas, sehingga konsumer kesulitan menemukan outletnya
  • Specific weight yang rendah: rasio volume-ke­berat plastik sangat tinggi, terutama PS untuk produk busa spons.
  • Terkontaminasi dengan bahan lain seperti makanan, dsb yang menyulitkan dalam daur- u la n g nya

Pengolahan plastik secara profesional meliputi:

  • Tahap bale breaking dansorting:
    • Pemilahan awal (presorted) dipecahkemudian dipilah kembali
    • Botol PETE misalnya secara manual dipisah berdasarkan warna. Plastik yang tidak diinginkan dibuang.
  • Granulation dan washing:
    • Botol dipotong-potong, kemudian dicuci dengan air panas, detergen, diaduk untuk menghilangkan label, lem dan kotoran lainnya
    • Pemisahan: setelah dicuci, diendapkan (PETE) sedang yang ringan (HDPE) mengapung.
    • Pengeringan: untuk menghilangkan air, kemudian dikeringkan dengan udara panas agar kelembaban mejadi lebih kecil dari 0,5 %
    • Air classification: pemisahan bagian plastik ringan (missal tutup polypropylene) dengan yang berat
    • Pemisahan electrostatic: missal memisahkan tutup alumunium
    • Ekstrusi resin: resin kemudian difluidisasi menggunakan extruder, dan dilelehkan, dikenal sebagai melt filtration
  • Pelletizing: melt extruder berbentuk seperti spageti. Selanjutnya melalui orifice, kemudian dipotong kecil-kecil, lalu didinginkan dengan air. Pelet dipasarkan dengan kadar air kurang dari 0,5 %.

Pengolahan plastik sederhana di sektor informal di Indonesia:

  • Plastik bekas yang terkumpul, dikeringkan melalui matahari kemudian ditutup dengan ram kawat agar plastik (terutama plastik kresek) tidak beterbangan.
  • Setelah kering, plastik dimasukkan dalam cetakan kemudian dipanaskan/dibakar di dalam tungku pembakar sampai terbentuk cairan plastik.
  • Cairan plastik yang terbentuk kemudian didinginkan dengan direndam dalam air.
  • Setelah dingin, lembaran plastik dikeluarkan dari cetakan. Cetakan yang digunakan berupa logam agar plastik cair tidak lengket

 

Mesin Daur Ulang Plastik

Daur-ulang dalam Penanganan Sampah Kota

Upaya 3R bukan saja terbatas dilakukan pada sumber sampah, tetapi sangat dianjurkan untuk dillaksanakan dalam seluruh rangkaian penanganan sampah, yaitu mulai dari TPS sampah ke titik akhir di TPA. Berdasarkan arus pergerakan sampah sejak dari sumber hingga menuju ke pemrosesan akhir, penanganan sampah di suatu kota di Indonesia dapat dibagi dalam 3 kelompok utama, yaitu:

  1. Penanganan sampah tingkat sumber
  2. Penanganan sampah tingkat kawasan, dan
  3. Penanganan sampah tingkat kota.

Secara umum, upaya daur-ulang (R2 dan R3) dalam sistem penanganan sampah kota adalah sebagai berikut:

  • Guna menentukan potensi daur-ulang, dibutuhkan adanya survei tentang persentase sampah pada masing-masing sumber, dan pada masing -masing tingkat penanganan sampah, sehingga dapat dibuat neraca alur sampah mulai dari sumber sampai ke TPA.
  • Contoh neraca persentase sampah dari mulai sumber sampai ke TPA adalah seperti terlihat dalam Gambar di bawah.
  • Langkah awal agar upaya kegiatan R2 dab R3 berhasil adalah melakukan pemilahan.
  • Pemilahan sampah di sumbernya paling tidak dilakukan dengan mengelompokkan sampah menjadi dua kelompok besar, yaitu sampah hayati (sampah organik) dan sampah non­hayati (sampah non-organik).
  • Pemilahan di sumbernya seperti di rumah tangga, di industri, di pasar, dsb, sangat membantu upaya R2 dab R3 karena akan memperoleh bahan dengan kondisi bersih.
  • Untuk memudahkan penggunaan, disamping kriteria yang terkait dengan fungsi, maka dibutuhkan pengaturan warna:
    • Sampah Organik: warna gelap
    • Sampah anorganik: warna terang
    • Sampah B3 rumah tangga: warna merah/(Standar Internasional)
  • Pemilahan sampah dikelompokkan menjadi beberapa jenis sampah seperti :
    • Sampah basah, yang akan digunakan misalnya sebagai bahan baku kompos
    • Sampah kering, yang digunakan sebagai bahan daur ulang
  • Teknik-teknik pengolahan dan pemanfaatan sampah antara lain adalah:
    • Pemotongan sampah
    • Pengomposan sampah baik dengan cara konvensional maupun dengan rekayasa
    • Pengomposan sampah secara vermi – kompos
    • Pemerosesan sampah sebagai sumber gas­bio
    • Pembakaran dalam Insinerator.

Dalam penanganan 3R diperlukan alat pengumpulan dan pengangkutan sebagai berikut:

Fungsi pemilahan dapat dilaksanakan dengan pengaturan:

  • Penyekatan sarana tersebut sesuai dengan jenis sampah
  • Penjadwalan waktu pengumpulan, dimana sampah mudah membusuk hendaknya diangkut paling lama 2 hari sekali, sedang sampah non-hayati (anorganik) diangkut dengan frekuensi seminggu sekali

Alat pengumpul sampah dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, seperti:

  • Alat pengumpul tradisional, seperti gerobak dan beca sampah
  • Alat pengumpul bermotor, seperti motor sampah

Contoh Neraca Persentase Sampah mulai Sumber sampai ke TPA

 Contoh Pengerjaan 3R pada Perumahan dan Fasilitas Sosial

Contoh Pengerjaan 3R pada Fasilitas Umum

Contoh Pengerjaan 3R pada Daerah Komersial

Peran Sektor Informal di Indonesia

Daur ulang sampah di Indonesia banyak dilakukan oleh sektor informal, terutama oleh pemulung, mulai dari rumah tangga sampai ke TPA. Tetapi metode daur ulang yang dilakukan oleh pemulung terbatas pada pemisahan atau pengelompokan. Berdasarkan komposisinya, sampah terbagi dalam dua kategori besar, yaitu sampah organic (atau sampah basah) dan sampah anorganik (atau sampah kering). Dari komposisi sampah tersebut, para pemulung memungut sampah anorganik yang masih bernilai ekonomis dan dapat didaur ulang sebagai bahan baku industri atau langsung diolah menjadi barang jadi yang dapat dijual. Barang-barang buangan yang dikumpulkan oleh para pemulung adalah yang dapat digunakan sebagai bahan baku primer maupun sekunder bagi industri tertentu. Bahan-bahan anorganik yang biasa dipungut oleh para pemulung mencakup jenis kertas, plastik, metal/logam, kaca/gelas, karet, dan lain-lain. Sampah yang dipisahkan umumnya adalah sampah yang dapat dimanfaatkan kembali secara langsung, misalnya sampah botol, kardus, koran, barang-barang plastik, dan sebagainya. Terdapat pula aktivitas pemilahan sampah sisa makanan dan/atau sampah dapur yang dapat digunakan sebagai makanan ternak, bahan kompos dan sebagainya, seperti terlihat di Denpasar.

Berdasarkan cara kerja pemulung yang sebagian besar beroperasi di kawasan-kawasan pemukiman, pasar, perkantoran maupun di TPS sampai ke TPA, maka dapat dikatakan bahwa sampah anorganik yang diserap oleh pemulung merupakan sampah yang belum dapat tertanggulangi oleh Pemerintah Daerah. Hal ini di satu sisi menunjukkan bahwa kegiatan pemulungan memberikan kontribusi kepada Pemerintah Daerah dalam hal penanganan sampah. Namun di sisi yang lain, bantuan kegiatan pemulungan terhadap penaggulangan masalah sampah menjadi tidak nyata terasa manfaatnya, karena mungkin Pemerintah Daerah menganggap bahwa kegiatan pemulungan merupakan hal yang sudah semestinya terjadi, dengan mengabaikan segi bantuannya terhadap penanganan kebersihan kota.

Menurut prakiraan Agenda 21 Indonesia, potensi daur-ulang sampah kering adalah 15-25%, sedang potensi sampah basah yang dapat dikomposkan adalah 30-40%, sehingga potensi daur-ulang sampah diprakirakan sebesar 45-65 %. Namun tingkat daur-ulang di kota-kota di Indonesia baik melalui usaha pemulung maupun usaha daur-ulang di rumah tangga, dan pengomposan jumlahnya diprakirakan hanya sebesar 8,l %.

Kehadiran kelompok pemulung dalam sistem pengelolaan persampahan menimbulkan dua pendapat controversial yang berbeda, yaitu mereka yang menganggap bahwa aktivitas ini disamping memberikan kesempatan pada masyarakat tidak mampu untuk berusaha di sektor ini, juga akan membantu mengurangi sampah yang harus diangkut. Pendapat lain menganggap bahwa upaya ini dari sudut harga diri bangsa tidaklah baik. Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga akan berkurang beratnya sesuai dengan perjalanan sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir.

Sampah yang dipisahkan umumnya sudah tidak murni lagi (kotor, basah, dan sebagainya) karena sampah tersebut sudah tercampur dengan sampah lainnya dari berbagai sumber. Oleh karena itu, kondisi sampah yang dihasilkan oleh pemulung umumnya memiliki kualitas yang tidak begitu baik dibandingkan dengan yang dipisahkan di sumber sampah. Pemisahan sampah oleh pemulung ini relatif masih sedikitl, diprakirakan kurang dari 2% dari jumlah sampah yang terkumpul di TPS. Selain di TPS, pemulungan sampah juga terjadi di TPA. Seperti halnya pemulungan di TPS, hasil pemulungan sampah di TPA juga memiliki kualitas yang rendah atau bahkan lebih rendah dibandingkan di TPS. Tetapi bila dibandingkan dengan di TPS, pemulungan di TPA memiliki persentase yang lebih besar, yaitu kira-kira 5% dari sampah yang tiba di TPA.

Daur-ulang sampah kota sudah sejak tahun 1980-an yang lalu telah dirasakan pentingnya, dalam upaya pengurangan sampah yang harus diangkut. Aktivitas pemulung yang banyak dijumpai di kota – kota dalam mendaur-ulang sampah kering dinilai dapat membantu menurunkan jumlah sampah yang harus diangkut ke final disposal. Konsep kawasan industri sampah sudah diperkenalkan sejak tahun 1980-an oleh Proh. Hasan Poerbo melalui PPLH ITB dalam upaya membantu pengelola persampahan mengurangi sampah yang perlu diangkut. Sarana yang terletak di kawasan permukiman ini diproyeksikan menerima dan memilah sampah sesuai jenisnya untuk didaur-ulang. Residu sampah yang tidak terdaur-ulang akan diangkut ke pembuangan akhir. Secara bertahap konsep pengolahan sampah secara terpadu tersebut telah dicoba diterapkan dalam skala terbatas di beberapa kota di Indonesia, namun umumnya tidak berlangsung lama. Konsep ini kurang mendapatkan tanggapan yang positif dari pemerintah Indonesia, khususnya dari sebagian besar pengelola persampahan. Terdapat kehawatiran mereka bahwa upaya ini akan mengganggu sistem operasional yang telah baku yaitu dengan konsep “kumpul – angkut – buang”. Penyebab lain adalah karena pengelola sampah di kota-kota Indonesia belum secara penuh menganggap bahwa konsep ini sebagai bagian dari sistem penanganan sampah kota. Mereka lebih melihat sarana ini sebagai upaya untuk memperoleh penghargaan dari pemerintah, bahwa mereka telah memasukkan upaya daur-ulang dalam sistem pengelolaan persampahannya, khususnya dalam upaya memperoleh penghargaan kota terbaik yang secara rutin diberikan oleh pemerintah.

Sampah kering merupakan obyek daur-ulang yang paling banyak dijumpai di kota-kota besar di Indonesia, dengan melibatkan aktivitas sektor informal lainnya yaitu dari ibu rumah tangga, petugas kebersihan, penjual barang bekas, juga pemulung. Baju bekas, kertas koran, botol bekas, kartas bekas semen, dsb di sebagian rumah tangga dianggap bukan sampah tetapi barang yang dapat dijual kembali. Pedagang perantara hadir di pelosok-pelosok kampung di kota-kota di Indonesia untuk membeli barang-barang bekas ini langsung dari rumah ke rumah.

Studi yang dilakukan di Bandung mengungkapkan bahwa sampah kering yang didaur ulang dari lingkungan permukiman besarnya antara 10,9% – 14,6% untuk permukiman kelas menegah ke atas, dan antara 21,9% – 26,5% untuk permukiman menengah ke bawah. Bahan yang didaur-ulang oleh aktivitas pemulung adalah plastik (PE, PS, PP, HOPE, LOPE, PVC dan drum), kertas (warna, duplex, arsip, cone, koran, HVS), logam (alumunium, tembaga, kuningan, seng, besi, drum), kain (majun, polyster, kapas), gelas/kaca (botol bir, botol kecap, botol obat), dan karet. Sedang sampah yang dinilai tidak terdaur-ulang oleh pemulung antara lain adalah sisa makanan, plastik kemasan makanan ringan, batu batere, lampu.

Pengomposan merupakan salah satu teknik pengolahan limbah yang mengandung bahan organik biodegradabel (dapat diuraikan oleh mikroorganisme). Fungsi kompos adalah selain sebagai pupuk organik, akan berfungsi pula untuk memperbaiki struktur tanah, memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air serta zat hara yang lain. Dilihat dari komposisi, maka sebagian sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati, atau secara umum dikenal sebagai sampah organik, atau sampah basah. Melihat komposisinya yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan, khususnya sampah dapur, maka jenis sampah ini akan cepat membusuk, atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini. Bila ini terjadi, massanya akan berkurang dengan besar. Cara inilah yang sebetulnya dikembangkan oleh manusia dalam bentuk pengomposan dan biogasifikasi. Namun bila mekanisme ini berlangsung secara alamiah, khususnya di lingkungan yang sudah jenuh daya dukungnya, maka akan timbullah masalah estetika serta gangguan lainnya terutama karena adanya bau, seperti terjadi di timbunan sampah yang tidak terurus dengan baik. Dengan kondisi kelembaban yang tinggi, serta temperatur yang relatif tinggi seperti di Indonesia ini, maka kecepatan mikroorganisme dalam menguraikan materi-materi sampah yang biodegradabel ini akan lebih baik pula. Cara-cara inilah yang mendorong misalnya untuk :

  • Pengembangan Composter  individual di rumah-rumah yang sudah diuji cobakan di beberapa permukiman di Indonesia,
  • Pembuatan kompos d i lingkungan permukiman atau di final disposal
  • Uji coba penggunaan cacing tanah sebagai pemusnah sampah basah

Pengomposan secara tradisional telah dikenal di Indonesia. Beberapa kota besar di Indonesia telah menerapkan cara ini. Namun permasalahan utama yang dijumpai adalah masalah pemasaran. Banyak usaha pengomposan tidak dapat berlanjut, karena tidak tersedianya pasar yang dapat menyerap produk yang dihasilkan. Disamping masalah harga yang perlu memperhitungkan ongkos pengangkutan, juga karena kualitas yang dihasilkan belum memenuhi keinginan pasar. Penelitian-penelitian skala laboratorium maupun lapangan terus berlanjut untuk meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan, misalnya mencampur dengan dedak, penggunaan enzim sellulase untuk mempercepat masa pengomposan. Uji coba individual composter telah menunjukkan hasil yang positif. Sebuah composter dengan kapasitas 60 m3 yang rata-rata menerima sampah dapur dari 5 orang perhari, dapat digunakan sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan akan dihasilkan kompos yang kualitasnya cukup baik. Beberapa kota di Indonesia telah mencoba cara ini di beberapa permukiman. Bila cara ini dapat diterapkan dan diterima oleh masyarakat, maka sebagian sampah dari permukiman akan dapat tertangani.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan sampah basah sebagai makanan cacing. Cacing yang digunakan umumnya dari jenis Lumbricus. Masalah utama yang perlu mendapat perhatian adalah pemisahan sampah di sumber, yaitu untuk memperoleh sampah yang cocok untuk makanan cacing. Sampah yang telah dipilah tersebut kemudian dikomposkan selama 2 minggu. Berdasarkan uji coba skala permukiman, maka sebanyak 40% sampah basah dari rumah tangga melalui pemilahan manual yang dapat dimanfaatkan untuk makanan cacing. Dari kegiatan ini akan diperoleh casting yaitu bahan sejenis kompos, dengan kualitas yang baik dan dengan ukuran butir yang sudah halus dan siap dijual. Disamping itu dihasilkan biomas cacing yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein, misalnya untuk pakan ternak dan ikan.

Alur aktivitas daur-ulang sector informal [modivikasi dari Manfred Oepen,1992]

Pengurangan sampah dari sumber ke final disposal

Sumber:
Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104 (2008)
Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

Penyimpanan, Pengumpulan, dan Pengangkutan B3

Penyimpanan dan Pengumpulan

Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No.01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya, sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya.

Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter), maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet, dan setiap palet mengalasi 4 drum. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik, maka harus dipergunakan rak. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m.

Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah, tidak dalam satu blok, dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain.

Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung.
  • Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki
  • Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.
  • Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung.

 Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah

  • Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis, karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan;
  • Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung;
  • Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan, serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan;
  • Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin. Jika menggunakan lampu, maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan, sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan;
  • Dilengkapi dengan sistem penangkal petir;
  • Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku.
  • Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air, tidak bergelombang, kuat dan tidak retak. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%. Pada bagian luar bangunan, kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan.

Pola penyimpanan kemasan drum

Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak

Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar

 

Contoh tata letak penyimpanan limbah B3

Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3, mempunyai beberapa persyaratan:

  • Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan, dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3, atau limbah – limbah B3 yang saling cocok.
  • Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya.
  • Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai.
  • Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan.
  • Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran, pagar pengaman, pembangkit listrik cadangan, fasilitas pertolongan pertama, peralatan komunikasi, gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan, pintu darurat, dan alarm.

Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar:

  • Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api, berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm).
  • Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api.
  • Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain, maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter.
  • Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang -tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik.
  • Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. Konstru ksi atap dibuat ringan, dan mudah hancur bila ada kebakaran, sehingga asap dan panas akan mudah keluar.
  • Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik
  • Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran, persediaan air untuk pemadam api, hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran.

Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak:

  • Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air.
  • Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap, sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping.
  • Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal.
  • Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang.

Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif, korosif dan beracun:

  • Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat.
  • Konstruksi atap, dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api.

Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki:

  • Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah
  • Merupakan konstruksi tanpa dinding, memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air
  • Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung

Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong, bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki:

  • Merupakan daerah bebas banjir, atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir;
  • Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter.

Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3, maka beberapa persyaratan adalah:

  • Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurang- ku rang nya 1 (satu) hektar;
  • Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan;
  • Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu.
  • Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol, (b) 50 meter dari jalan lainnya, (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, (d) 300 meter dari perairan, garis pasang tertinggi laut, sumber air, (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam, hutan lindung, kawasan suaka
  • Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas, maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan.
  • Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa, fasilitas pencucian peralatan, fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas.

Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3

 Pengangkutan

Di Amerika Serikat, aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30.000 jenis bahan berbahaya. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara, laut, darat (termasuk kereta api). Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti: vessel, tank car, tank truck, intermodal portable tank, cylinder, drum, barrel, can, box, botle dan cask . Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan, acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu.

Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan, seperti melalui darat, kereta api atau laut. Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat, dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium, nikel atau stainless steel . Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80.000 pound (36 ton).

Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 – 40 tahun. Kapasitas tank car ini dibatasi 34.500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236.000 pound (107 ton). Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja, bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar).

Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges , yang mencakup sekitar 91 %. Tank-barges berkapasitas antara 300.000-600.000 gallon (1135-2270 m3) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat, pupuk, NaOH, alkohol, benzene, toluene dan sebagainya. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. Secara statistik, cara ini adalah yang teraman, baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile, walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya.

Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian, karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas, maka respon aparat terkait (polisi, pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu, demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu.

Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40.000 pound toluene diisocyan ate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. Pada saat truk dibalikkan, limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin, mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat, TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik. TDI masuk de dalam sel jaringan, mengiritasi mata, dan dapat merusak paru- paru. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut.

Sumber : Enri Damanhuri

Pengemasan dan pewadahan B3

Pengemas B3

Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan. Alat pengemas dapat berupa: drum baja, kotak kayu, drum fiber, botol gelas dan sebagainya.

Pengemasan yang baik mempunyai kriteria:

  • Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar
  • Keefektifannya tidak berkurang
  • Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap

Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan, yaitu:

  • Kelompok I: derajat bahaya besar
  • Kelompok II: derajat bahaya sedang
  • Kelompok III: derajat bahaya kecil.

Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks. Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia, hak milik dan lingkungan. Dengan demikian, aturan tata cara serta konstruksi dan penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. Kecelakaan limpahan bahan berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna.

USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada kondisi transportasi yang normal, maka:

  • Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya
  • Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan
  • Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan, yang dapat menimbulkan reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan pengemasan; pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di dalamnya.

Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer. Drum yang biasa, biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia dan lingkungan. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. Banyak terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut.

Ditinjau dari tonase, maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. Hampir setengah bahan berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara. Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard, plastik, kayu, kaca, fiberglass dan logam. Kombinasi container sering digunakan, misalnya botol- botol gelas dimasukkan dalam peti-peti fiberboard. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja kadang digunakan. Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan, seperti drum baja atau silinder untuk gas terkompres.

Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama dimensi dan beratnya. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas dalam kuantitas tersebut. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk memudahkan loading, unloading, dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang efisien. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa digunakan.

Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi, misalnya pengemasan yang tidak betul dan sebagainya. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah:

  • Ketidak tepatan dalam menayangkan label
  • Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya
  • Kebocoran pada valve
  • Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut
  • Tidak tepat dalam pengisian shiping paper Radiasi berlebihan di kabin truk.

Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No.01/Bapedal/09/1995:

Di Indonesia, ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur dalam Kep. No.01/Bapedal/09/1995. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas:

  • Penghasil, untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil;
  • Penghasil, untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai pengumpul;
  • Pengumpul, untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah;
  • Pengolah, sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan;

Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. Apabila ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya, maka harus dilakukan pengujian. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus, maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan, maka terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan pengujian kembali terhadap karakteristiknya. Bentuk, ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE, PP atau PVC) atau bahan logam (teflon, baja karbon, SS304, SS316, atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya.

Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai de ngan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah B3. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya, kemudian disimpa n di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3.

Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan volume 50 liter, 100 liter atau 200 liter, atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup dengan kapasitas 2 m3, 4 m3 atau 8 m3. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan adalah limbah yang sama, atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. Untuk mempermudah pengisian limbah ke dalam kemasan, serta agar lebih aman, limbah dapat terlebih dahulu dikemas dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas dalam kemasan tersebut. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah, pengaruh pemuaian, pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan ruang kosong dalam kemasan. Untuk limbah yang mudah meledak, kemasan dirancang tahan akan kenaikan tekanan.

Penyimpan limbah B3 cair (A) dan limbah sludge (B)

Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau bocor), maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang baru, dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan, kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama (kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya.

Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok, maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas. Kemasan yang akan dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan karakteristik yang sama, harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. Jika akan digunakan untuk menyimpan limbah B3 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai dengan sebelumnya, maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan disimpan dengan memasang “label KOSONG” sesuai dengan ketentuan penandaan kemasan limbah B3.

Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan limbah B3. Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3, pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Laporan tersebut sekurang-kurangnya meliputi:

  • Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang;
  • Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan;
  • Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan kemungkinan dapat terkontak dengan air dan atau tanah, logam dan kemungkinan harus mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta daya tahan bahan tangki terhadap korosi tersebut
  • Perhitungan umur operasional tangki;
  • Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir;

Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah, maka harus dengan memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. Selama masa konstruksi berlangsung, maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan selama tahap konstruksi. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang memadai, terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan atau diolah, dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak.

Tangki dan sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. Apabila tangki akan digunakan untuk menyimpan limbah sebelumnya, maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. Tidak digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali:

  • Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah ditempatkan di dalam tangki, sehingga olahan atau campuran limbah yang terbentuk tidak lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif; atau
  • Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau bahan yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif.

Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan, tangki wajib dilengkapi dengan penampung sekunder. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki, tanggul atau berdinding ganda. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah:

  • Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat pengaruh tekanan;
  • Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap tekanan dari atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena pengisian, tekanan atau uplift;
  • Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder, dan lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder.
  • Penampungan sekunder, dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat cairan-cairan yang berasal dari kebocoran, ceceran dan presipitasi.

Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang -kurangnya 1 kali selama sistem tangki dioperasikan, khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan, deteksi korosi atau lepasnya limbah dari tangki. Disamping itu, monitoring dilakukan terhadap bahan konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab, kematian vegetasi.

Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau gangguan yang menyebabkan limbah terlepas, maka harus segera melakukan:

  • Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah;
  • Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder
  • Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan, mencegah terjadinya perpindahan tumpahan ke tanah atau air permukaan, serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke tanah atau air permukaan.
  • Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah dilakukan.

Sumber : Enri Damanhuri

Metodologi Penentuan Estimasi Biaya Penutupan TPA

Usaha untuk menciptakan ruang terbuka hijau di kota-kota besar Indonesia sudah merupakan hal yang selalu diusahakan dan didanai pemerintah daerah karena persentasi ruang terbuka hijau dalam suatu kota telah menjadi suatu parameter keberhasilan bagi pemerintah daerah dan kota tersebut. Hal tersebut di dorong dengan faktor pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi terutama di tengah kota. Dengan merehabilitasi lahan bekas TPA menjadi hutan, taman, atau tempat rekreasi akan menambah persentase ruang terbuka hijau suatu kota dan menambah nilai tanah dan bangunan pada radius 5 km dari TPA. Rehabilitasi tersebut dibagi menjadi 2 kategori: rehabilitasi secara engineering, yang tujuan utamanya ialah menanggulangi atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan; dan rehabilitasi secara arsitektural-lansekap, bertujuan untuk memperbaiki tampilan atau visual dari lahan bekas TPA yang kemudian akan disebut sebagai pemanfaatan, hal tersebut dilakukan setelah rehabilitasi secara engineering. Dalam merencanakan penutupan dan pemanfaatan suatu TPA dibutuhkan referensi pembiayaan penutupan sebagai pertimbangan dalam pemilihan pemanfaatan, sehingga dalam pelaksanaannya diharapkan tidak terjadi kendala karena masalah pembiayaan.

Pemilihan unit-unit sebagai penunjang pemanfaatan terpilih dibutuhkan untuk menentukan biaya penutupan suatu TPA dengan jenis pemanfaatan tertentu. Gambar dan desain tiap unit tipikal perencanaan penutupan yang telah diinventarisasi diperlukan untuk memberikan gambaran persepsi biaya dalam penelitian ini. Layout dari perencanaan penutupan dan pemanfaatan pada lahan bekas TPA studi dibutuhkan untuk memberikan gambaran konsep penutupan dan pemanfaatan yang disesuaikan dengan kondisi eksisting pada masing-masing TPA studi.

Skema metodologi penentuan estimasi biaya penutupan

 

Metodologi Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data untuk estimasi pembiayaan dalam perencanaan penutupan dan pemanfaatan (alih fungsi) lahan bekas TPA pada masing-masing TPA dilakukan dengan cara :

  1. Studi Pustaka, yaitu pengumpulan data-data sekunder dari berbagai dokumen di lingkungan pemerintahan, seperti data fisik masing-masing TPA studi yang meliputi : gambaran umum wilayah, peta situs, kondisi geografis dan sumber-sumber lain yang terkait dan relevan.
  2. Survey Lapangan, yaitu melakukan observasi langsung ke lokasi masing-masing TPA studi.

 

Perencanaan Penutupan dengan Disertai Pemanfaatan

Suatu lahan bekas TPA dapat dilaksanakan pembangunan sesuai dengan jenis pemanfaatannya setelah dilakukan rehabilitasi lahan, dengan pemasangan final cover atau tanah penutup akhir yang telah disesuaikan dengan jenis rencana pemanfaatan yang telah direncanakan sebelumnya. Pembangunan suatu pemanfaatan dapat berupa penempatan ornamen-ornamen atau unit-unit kostruksi khusus yang sesuai dengan pemanfaatan tertentu.

Dalam tahap penentuan jenis pemanfaatan yang direncanakan pada suatu lahan bekas TPA bergantung pada banyak faktor yang dijelaskan didalam skematisasi penentuan alternatif pemanfaatan. Dalam penentuan alternatif konfigurasi tanah penutup akhir, lebih dikhususkan pada perihal pemakaian geosintetik pada tanah penutup akhir yang ditentukan pada unsur kondisi kritis yang terdapat disekitar lahan bekas TPA.

 

Analisis Pembiayaan untuk Masing-masing Pemanfaatan dan TPA Studi

Setelah unit-unit penunjang jenis pemanfaatan di inventarisisasi, dilakukan analisis pembiayaan dengan membandingkan unsur biaya yang terdapat pada masing-masing pemanfaatan dan masing-masing TPA studi. Untuk analisis masing-masing pemanfaatan diperbandingan besaran pembiayaan masing-masing jenis atau alternatif pemanfaatan dan perbedaan penanganan bila memakai alternatif sumber tanah penutup yang berbeda. Untuk studi kasus penutupan pada setiap TPA studi, selain dilakukan perbandingan besaran biaya penutupan, juga dianalisis persentase luas lahan keseluruhan TPA yang dilakukan penutupan dengan luas masing-masing unit penunjang atau lahan bekas TPA yang difungsikan, kemudian dilakukan juga pembandingan biaya penutupan primer dan biaya pemanfaatan yang yang mewah atau pelengkap.

 

Hal-hal yang Diperhatikan dalam Estimasi Biaya Rencana Penutupan TPA   

Pembiayaan untuk perencanaan penutupan TPA dari tahap awal sampai pemeliharaan, pemanfaatan serta tahap monitoring perlu diperhitungkan dalam perencanaan awal penutupan. Dibawah ini merupakan aspek-aspek dari biaya yang dibutuhkan dalam perencanaan penutupan TPA (O’leary, 1992) :

Biaya untuk penutupan terdiri dari :

  • Sistem cover atau tanah penutup akhir
  • Persiapan lahan dan lansekap
  • Sistem drainase air permukaan
  • Penanaman vegetasi penutup termasuk persiapan dan pupuk dll,

Biaya untuk sistem cover, termasuk biaya bahan dan peletakan :

  • Lapisan permukaan/penunjang vegetasi (tanah merah/humus)
  • Lapisan pelindung
  • Lapisan drainase (pasir, gravel / geosintetik)
  • Penghalang lapisan/lapisan impermeable (tanah liat / Geomembrane)
  • Lapisan transisi/lapisan dasar

Biaya pasca penutupan (Long-terms care) terdiri dari :

  • Pemeliharaan umum vegetasi penutup
  • Perawatan untuk perbedaan settlement pada cover penutup
  • Upah dan gaji untuk pemeliharaan situs, yang berkaitan dengan operasi pengumpulan lindi dan sistem ekstraksi gas landfill
  • Periodik sampling dan analisis parameter lingkungan

Komponen dari penutup tanah awal dan akhir (Mishra, 2009).

Tahap-tahap dalam perencanaan penutupan TPA, dibutuhkan tanah penutup akhir atau final cover  yang terdiri dari lapisan subgrade, media pengumpul gas, lapisan tanah clay dipadatkan, geomembrane HDPE, kerikil, geotekstil, tanah humus, dan vegetasi (Tchobanoglous, 1993). Komposisi dan konfigurasi dari lapisan-lapisan tersebut tergantung pada jenis karakteristik dari lahan urug. Fungsi yang diharapkan dari tanah penutup akhir (final cover) adalah:

  • Pengontrol gerakan air ke lahan urug atau bukit agar timbulan leacheate dibatasi,
  • Pengontrol limpasan air agar keluar lahan urug atau bukit,
  • Meminimasi erosi oleh air dan angin,
  • Sebagai dasar yang baik untuk pertumbuhan vegetasi,
  • Pengontrol binatang atau vektor-vektor penyakit sebagai dampak buruk dari TPA sebelumnya.

 

Unit-unit yang Dibutuhkan dalam Perencanaan Penutupan

1. Sistem pengoleksi gas (gas collection system)

Sebagai pengontrol gas yang terbentuk di lahan urug. Dilengkapi oleh pipa vertikal dan/atau lateral sebagai pengoleksi landfill gas (LFG).

2. Sistem drainase air hujan (storm water control)

Sebagai pengontrol run-off dari hujan dan air permukaan lainnya serta mencegah erosi pada top soil.

3. Sistem pengoleksi Leachate (leachate collection system)

Leachate bisa dikendalikan dengan menempatkan liner pada bagian dasar landfill dan menginstal leachate collection pipe untuk menyalurkan leachate sebelum leachate tersebut keluar dari landfill (Juanda, 2009). Dibutuhkan fasilitas pengolahan leacheate sebelum masuk ke badan air penerima.

4. Tanah penutup akhir (Vegetative layer)

Lapisan tanah akhir yang disertai dengan penanaman vegetasi untuk cegah erosi.

5. Pagar dan buffer area

Sebagai penanda batas situs pemanfaatan dan area transisi dengan pemukiman atau ekosistem lain.

6. Lapisan ventilasi untuk gas methane (methane gas venting layer)

Sebagai penangkap gas methane yang terbentuk di lahan urug, dilengkapi oleh flare atau dengan pemanfaatan gas methane tingkat lanjut.

7. Sumur monitor (Ground Water Monitoring)

Sebagai fasilitas dalam memantau keadaan air tanah di sekitar situs atau bekas lahan urug.

8. Unit-unit penunjang pemanfaatan

Sebagai fasilitas pelengkap bagi penunjang pemanfaatan yang direncanakan, pada umumnya merupakan pembangunan lansekap, fasilitas umum, bangunan, dan lain sebagainya yang pada umumnya memperhatikan aspek estetik atau keindahan.

 

 Referensi :

  • Juanda, Muhamad. 2009. Redesign Leuwigajah Landfill (sebuah laporan tugas akhir program S-1). Teknik Lingkungan ITB.
  • Mishra, M. 2009. Early landfills and their problems, Modern landfills, The future of landfills, Fig. 1. science.jrank.org.
  • O’leary. P, and Patrick.W. 1992. Landfill Closure And Long-Term care (correspondence course). The Department of Engineering Professional Development, University of Wisconsin-Madison.
  • Tchobanoglous, G, H. Theisen, and S.A.Vigil. 1993. Integrated Solid Waste Management, International Editions. Mc Graw Hill Singapore.

Sumber : Danang Hadisuryo