Pengolahan Limbah Industri Percetakan

2.1. Pendahuluan

Mencetak adalah pekerjaan membuat salinanan dalam jumlah banyak atau lebih banyak dari original yang sama. Metode cetak mencetak ditemukan oleh Johannes Gutenberg di Mainz, Jerman pada tahun 1440. Penemuan ini sampai sekarang merupakan salah satu hasil karya terbesar dalam sejarah. Lewat barang-barang cetakan jiwa manusia terbuka bagi semua orang. Dengan bantuan cetakan pengetahuan dapat disimpan di atas kertas setiap saat, untuk kapan saja, dan dapat disampaikan kepada setiap orang dari semua generasi. Di Asia, terutama di Cina dan Korea, cetak mencetak sudah dikenal sekitar 1.000 tahun yang lalu.

Mesin cetak yang pertama dibentuk berdasarkan alat pemeras buah-buahan. Bahan pencetaknya ditintai dengan menggunakan tampon (sekarang rol penintaan), lembaran kertas kemudian diletakkan ke atas alat cetak yang sudah ditintai itu. Dengan menekan rata kertas itu maka diperoleh hasil cetak. Pada tahun 1462 kota asal Gutenberg hancur karena perang, sehingga tukang-tukang cetaknya menyebar ke seluruh Eropa. Dengan demikian terbukalah rahasia cetak mencetak yang sejak awal mula dijaga dengan baik. Gutenberg sendiri tinggal di Mainz dan memulai usaha percetakan kecil-kecil kembali namun tanpa suatu karya besar. Gutenberg meninggal pada tanggal 3 Februari 1468.

Mulai tahun 1462 tersebut teknik dan usaha mencetak menyebar luas ke seluruh Eropa. Pada tahun 1500 terdapat lebih dari 1.000 perusahaan percetakan. Diduga sekitar 40.000 buku dan pekerjaan cetak lainnya dikerjakan selama periode ini. Cetakan pertama dinamakan “inkunabulas” dan karena keindahannya menjadi barang-barang berharga di museum-museum seluruh dunia. Industri percetakan sekarang banyak memakai bahan baku dan bahan penolong yang mengandung bahan berbahaya, seperti pelarut dan tinta. Sehingga menghasilkan limbah yang mempunyai sifat berbahaya dan beracun. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena sifat limbah tersebut, maka diperlukan pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik limbahnya.

2.2. Jenis Cetakan

Proses cetak berarti suatu pekerjaan untuk memproduksi atau menyalin suatu original dengan menggunakan alat atau mesin yang secara umum disebut pekerjaan “mencetak”. Yang disebut mencetak disini adalah mencetak teks atau gambar. Proses cetak umumnya dibagi menjadi empat proses yang bekerja menurut prinsip-prinsip yang berbeda. Keempat proses tersebut adalah sebagai berikut :

2.2.1. Cetak Tinggi

Pada proses cetak tinggi, huruf-huruf teks dan gambar lebih tinggi dari pada unsur-unsur yang tidak dicetak. Rol-rol tinta hanya menyentuh bagian-bagian yang tinggi dan menyalurkan tintanya. Huruf atau gambar yang dicetak langsung tercetak ke atas kertas atau ke atas bahan lain dengan tekanan yang kuat. Prinsip tekanan cetak pada cetak tinggi secara teknis dikerjakan dengan tiga jalan yaitu: mesin cetak tangan horizontal dan mesin cetak tangan vertical, mesin cetak cepat dan mesin cetak rotasi.

2.2.2. Cetak Anilin (Flexographic Printing)

Proses ini termasuk proses cetak tinggi, karena bagian­bagian cetaknya lebih tinggi. Perbedaannya ialah mengenai tinta yang dipergunakan. Tinta analin adalah cairan dan tidak membutuhkan distribusi. Semua mesin analin adalah mesin­mesin bersilinder dan mempergunakan penyalur kertas. Acuan cetaknya pada umumnya berupa blok-blok karet seperti stempel karet, yang dibungkuskan pada silinder. Silinder cetak ini berputar mengenai silinder penekan. Diantara kedua silinder dilintaskan kertas yang akan dicetak. Mesin-mesin analin dipakai untuk mencetak bahan-bahan pembungkus, seperti kertas-kertas sampul, kantongan kertas, kotak karton dan bungkus bahan makanan. Pekerjaan cetakan yang menghendaki mutu tinggi tidak dapat dicetak pada mesin-mesin anilin.

2.2.3. Cetak Litografi

Penemu litografi adalah Alois Senefelder, pada tahun 1797. Kata “litografi” berasal dari dua kata Yunani, lithos (batu) dan graphein (menulis). Litografi adalah sistem pencetakan secara langsung, maka gambar-gambar dan teks harus dituliskan secara terbalik (dari belakang ke muka). Gambar, teks atau bentuk lain yang akan dicetak dapat dipindah-pindahkan ke permukaan batu dengan tangan memakai kapur litografi, seperti kalau kita menulis atau menggambar. (Teks, blok-blok dicetak dengan tinta khusus kemudian dipindahkan ke permukaan batu itu).

2.2.4. Cetak Offset

Oleh karena cetak offset berdasarkan pada proses kimia (saling tolak antara lemak dan air), cetak offset menggunakan plat-plat logam. Bila dibandingkan dengan batu (sebagai acuan cetak pada litografi) yang berat, jauh lebih mudah ditangani. Perbedaan pokok dengan litografi adalah penggunaan plat logam sebagai ganti penggunaan batu dan pemakaian tambahan silinder untuk lembaran karet (rubber blanket). Cetak offset adalah proses cetak tidak langsung. Cetakan mula-mula terjadi dengan pemindahan bahan cetak dari plat acuan acuan cetak ke sekeliling silinder yang berselimut lembaran karet. Dari silinder yang berlembaran karet, bahan cetak itu dipindahkan lagi atau “offset” ke atas kertas. Sebelum setiap cetakan plat acuan cetak harus diairi dan baru kemudian diberi tinta masing-masing oleh unit pemberi air dan pemberi tinta yang terdiri dati rol-rol yang menggulung ke atas plat itu. Penggunaan lembaran karet itu memungkinkan untuk mencetak dalam jumlah yang sangat banyak dari selembar plat (tanpa merusaknya) dan mencetak ke atas segala macam kertas baik yang mempunyai permukaan halus maupun kasar (linen atau kulit jeruk).

2.2.5. Cetak Collotype (Cetak Dengan Sinar)

Cetak collotype adalah suatu proses cetak secara foto mekanis yang dipakai untuk memproduksi foto-foto dan lukisan­lukisan. Sistem ini tidak menggunakan raster untuk membuat nada lengkap, tetapi menggunakan nada lengkap yang sesungguhnya, sehingga diperoleh mutu reproduksi yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan proses cetak yang lain.

2.2.6. Cetak Fotogravur (Cetak Dalam)

Cetak fotogravur adalah proses cetak dengan pahatan plat tembaga, etsa plat tembaga dan pahatan plat baja. Semua bagian pencetak, gambar dan teks dietsa atau dipahat. Setelah itu plat tersebut diberi tinta ke bagian dalamnya. Kemudian plat tersebut dibersihkan dengan selembar lap atau pada cetak fotogravur dengan semacam pisau yang disebut “doctor blade”. Tintanya kini hanya tinggal di bagian dalam (yang lekuk) dan akan dipindahkan ke atas kertas ketika dilakukan pencetakan.

2.2.7. Cetak Saring / Sablon (Screen Printing)

Cetak ini dikerjakan dengan menggunakan selembar layar saringan (stensil). Saringan tersebut berupa sejenis kasa terbuat dari bahan nylon atau polyester. Perbedaan dengan cetak mencetak sistem lain, seperti offset, latterpress, pada cetak saring ini mempunyai kesederhanaan dalam peralatan, juga biaya cetaknya relatif murah, tetapi mempunyai beberapa kelebihan, antara lain bisa mencetak pada bahan plastik, kayu, kulit, kain, kaos, aluminium, kaca dan jenis lainnya.

2.2.8. Cetak Bromida

Cetak bromida bukan merupakan cara cetak biasa. Cara ini dilakukan dengan mengkopi dan mengembangkan gambar­gambar fotografi (gambar-gambar poscard) secara mekanis.

2.3. Bahan Baku Industri Percetakan

Kertas

Bahan baku dalam proses cetak adalah kertas dan tinta cetak. Nama kertas dalam bahasa Yunani “papyrus”, yaitu suatu tanaman air yang telah digunakan oleh orang-orang Mesir kuno sebagai bahan untuk tulis menulis. Dari kata “papyrus” ini diturunkan kata “paper” (bahasa Inggris), dan “papier” (bahasa Belanda).

Tinta

Tinta cetak pertama kali digunakan oleh orang China yang menemukan kertas pada tahun 100 – 200 M. Unsur-unsur dasar adalah serbuk karbon yang dilarutkan dalam lem dan minyak, dipakai dengan sebatang tabung bamboo dan kemudian hari dengan kuas. Tinta Gutenberg (1440) sedikit berbeda dalam unsur utamanya, terdiri dari minyak biji rami (70%), vernis lithografi, karbon dari minyak, serbuk tulang dan unsur tumbuh­tumbuhan (30%). Tinta cetak modern yang unsur-unsurnya terdiri dari zat warna (pigment), bahan pengikat (vehicle), bahan pencair (thinner), bahan pengering (drier) dan pengubah (modifier).

Pencampuran Warna

Pencampuran warna pada tinta berarti mencampur beberapa jenis/warna tinta untuk mendapatkan warna yang lain, atau untuk memperoleh suatu tingkatan warna yang lebih muda atau yang lebih tua dari pada warna yang telah tersedia. Pada umumnya warna yang lebih kuat/tua dituangkan sedikit demi sedikit kepada warna yang lebih muda/lemah, kemudian diaduk supaya merata sampai dicapai tingkatan warna yang diinginkan.

2.4. Proses Produksi dan Limbah Yang Dihasilkan

2.4.1. Proses Produksi

Secara garis besar proses produksi diawali dengan adanya order/pemesanan dalam bentuk gambar atau tulisan yang akan dicetak, kemudian dilakukan proses disain terlebih dahulu. Agar kegiatan sesuai dengan jadwal yang direncanakan dan dapat mencapai effektivitas dan effisiensi pada proses produksi yang dimaksud berlangsung tahap demi tahap sebagai berikut:

Proses disain.

Proses disain berlangsung setelah adanya pesanan (order), baik dalam bentuk gambar atau tulisan. Setelah ada order dilakukan perencanaan yang lebih teliti.

Proses setting/ lay out/ penataan huruf.

Proses ini dilakukan untuk penataan huruf dan gambar agar sesuai dengan desain /perencanaan yang telah disusun sebelumnya.

Proses reproduksi film.

Dalam tahap ini dilakukan pemotretan untuk gambar dan tulisan yang sudah ditata, selanjutnya diproses dengan menggunakan film processor sebagai film dan positif. Pada saat proses produksi film ini mengeluarkan limbah cair.

Pelat processor.

Ini adalah proses pembuatan pelat offset, dimana film yang sudah jadi dicopy di atas lembaran pelat aluminium dengan menggunakan pelat processor yang menggunaan campuran bahan kimia dengan tujuan untuk memperjelas gambar. Pada saat proses pembuatan pelat ini juga menghasilkan limbah cair.

Proses cetak lembaran dan cetak gulungan.

Dalam tahap ini pelat offset dipotong pada mesin cetak sheet untuk mencetak pada kertas lembaran dengan menggunakan mesin web untuk mencetak kertas gulungan.

Proses finishing.

Pada proses penyelesaian akhir cetakan dilakukan di atas lembaran rol-rol kertas tersebut dan dipotong sesuai dengan bentuk pesanan. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan, baru diteruskan dengan penjilidan. Pada proses finishing ini menghasilkan limbah padat dari potongan kertas.

Secara detail diagram alir proses produksi percetakan dapat sebagi berikut:

Gambar 2.1. Bagan Alir Proses Produksi

Gambar 2.2. Proses Produksi Industri Percetakan

2.4.2. Limbah Percetakan

Limbah yang dihasilkan industri percetakan berupa limbah cair dan limbah padat. Limbah padat percetakan terdiri dari:

  • kertas potongan penjilidan
  • kertas dari kesalahan cetak atau hasil pencetakan yang tidak lolos quality control
  • kain lap mesin cetak yang pada umumnya telah terkontaminasi dengan tinta atau bahan pelarut / pembersih lainnya
  • plastik, dan lain-lain.

Sedangkan limbah cair industri percetakan terdiri dari :

  • tinta yang rusak
  • bahan pelarut
  • bahan pencair
  • bahan pengering

Limbah cair ini banyak mengandung bahan kimia berbahaya seperti alkohol atau aseton dan esternya dan juga mengandung logam berat seperti krom, cobalt (bahan keputih-putihan terdapat pada besi dan nikel), mangan dan timah yang dapat larut ke dalam berbagai bahan pengikat.

2.5. Teknologi Pengolahan Limbah Industri Percetakan

Tujuan dari pengolahan limbah industri percetakan, adalah untuk mengubah jenis, jumlah dan karakteristik limbah supaya menjadi tidak berbahaya dan/atau tidak beracun atau jika memungkinkan agar limbah percetakan dapat dimanfaatkan kembali (daur ulang).

Ada beberapa teknik pengolahan limbah percetakan yang direkomendasikan, antara lain dengan proses kimia, pembakaran suhu tinggi (insenerasi), elektro plating, destilasi dan destruksi suhu tinggi, yang mana penerapannya harus disesuaikan dengan karakteristik dari limbah yang diolah.

2.5.1. Proses Kimia (Oksidasi-Reduksi)

Oksidasi adalah reaksi kimia yang akan meningkatkan bilangan valensi materi yang bereaksi dengan melepaskan elektron. Reaksi oksidasi selalu diikuti dengan reaksi reduksi. Reduksi adalah reaksi kimia yang akan menurunkan bilangan valensi materi yang bereaksi dengan menerima elektron dari luar. Reaksi kimia yang melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi ini dikenal dengan reaksi redok. Reaksi redok dapat merubah bahan pencemar yang bersifat racun menjadi tidak berbahaya atau menurunkan tingkat/daya racunnya.

2.5.2. Insenerator

Insenerator adalah alat untuk membakar sampah padat. Insenerator sering digunakan untuk mengolah limbah B3 yang memerlukan persyaratan teknis pengolahan dan hasil olahan yang sangat ketat. Supaya dapat menghilangkan sifat bahaya dan sifat racun bahan yang dibakar, insenerator harus dioperasikan pada kondisi di atas temperatur destruksi dari bahan yang dibakar.

Pengolahan secara insinerasi bertujuan untuk menghancurkan senyawa B3 yang terkandung di dalamnya menjadi senyawa yang tidak mengandung B3. Ukuran, disain dan spesifikasi insenerator yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik dan jumlah limbah yang akan diolah. Insenerator dilengkapi dengan alat pencegah pencemar udara untuk memenuhi standar emisi.

Abu dan asap dari insenerator harus aman untuk dibuang ke lingkungan. Kualitas hasil buangan (asap dan abu) banyak dipengaruhi oleh jenis dan karakteristik bahan yang dibakar serta kinerja dari insenerator yang digunakan. Untuk mencapai kondisi yang diinginkan, (dapat mendestruksi limbah menjadi CO2, H2O dan abu) diperlukan suatu insenerator yang dapat bekerja dengan baik yang dilengkapi dengan suatu sistem kontrol pengendalian proses pembakaran agar dapat dipastikan bahwa semua bahan dapat terbakar pada titik optimum pembakarannya dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian teknologi insenerator yang akan digunakan harus dapat mengatasi semua permasalahan dalam pembuangan dan pemusnahan limbah B3.

2.5.3. Elektrolisis

Prinsip dasar pengolahan limbah ini sama seperti pada prinsip pelapisan logam secara listrik, yaitu dengan penempatan ion logam yang ditambah elektron pada logam yang dilapisi, yang mana ion-ion logam tersebut didapat dari anoda dan eletrolit yang digunakan. Pada pengolahan limbah ini, limbah yang mengandung logam terlarut bertindak sebagai elektrolit. Logam­logam terlarut yang telah bermuatan listrik akan tertarik oleh katoda dan menggumpal sehingga terpisahkan dari cairannya. Cairan yang telah bebas logam terlarut selanjutnya diproses dengan teknologi lain untuk menghilangkan sifat racunnya.

Secara eletro kimia, prinsip prosesnya dapat dilihat pada diagram sebagai berikut :

Gambar 2.3. Skema Proses Elektro Kimia

2.6. Pengolahan Limbah Padat Industri Percetakan

Industri percetakan juga banyak menghasilkan limbah padat. Limbah padat yang dihasilkan antara lain kertas, kain lap yang sudah terkontaminasi (tinta, pelarut, pelumas dan lain-lain). Limbah kertas pada umumnya dapat dimanfaatkan kembali atau didaur ulang sebagai bahan baku produksi kertas tisu atau untuk kertas kerajinan.

Limbah padat kain yang telah terkontaminasi dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan, sebab bahan kontaminan yang ada pada umumnya masuk dalam kategori bahan berbahaya. Untuk menghindari terjadinya pencemaran akibat limbah padat ini, maka kain lap bekas dari industri percetakan harus dikelola dengan baik. Pengelolaan dapat dilakukan bersama-sama dengan kegiatan yang menghasilkan limbah yang sejenis. Limbah padat ini ditempatkan pada suatu wadah dan dihindari terjadinya kontak dengan udara terbuka maupun air hujan.

Jika terjadi kontak dengan udara secara langsung, maka kontaminan bahan pelarut pada kain lap bekas dapat menguap ke udara bebas dan menimbulkan pencemaran udara. Jika terjadi kontak dengan air hujan, maka bahan kontaminan yang menempel pada kain lap dapat larut dan terbawa oleh aliran air sehingga akan mencemari lingkungan sekitarnya.

Pewadahan harus tertutup dan dalam selang waktu tertentu diangkut untuk dibakar dengan insenerator. Limbah jenis ini, biasanya dihasilkan dalam jumlah yang relatif kecil, sehingga jika setiap industri percetakan akan melakukan pembakaran dengan insenerator sendiri akan memerlukan biaya investasi maupun operasional yang lebih mahal. Untuk mengatasi hal ini, maka pembakaran dapat dilakukan bersama dengan para penghasil limbah yang sejenis dan yang telah memiliki fasilitas insenerasi, seperti rumah sakit.

Dalam paradigma baru sampah dapat dilihat sebagai sumber daya. Konsep pengelolaan sampah paradigma baru itu ialah dengan konsep 3R (reduce, reuse, dan recycle). Termasuk juga kertas, yang tadinya hanya dianggap sebagai sampah kini telah mulai dilihat sebagai salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan, sehingga pemilihan dan penggunaannya pun harus dilakukan secara bijak. Kegiatan mengurangi (reduce) pemakaian kertas dapat berupa sikap menghindari pemakaian kertas yang boros. Sedangkan untuk guna ulang (reuse), misalnya, kertas atau box karton yang telah kita pakai bisa dipakai kembali untuk keperluan lain. Untuk daur ulang (recycle) sampah kertas bisa dijadikan art paper atau untuk bahan baku pulp kualitas rendah.

 

Gambar 2.4. Foto Insenerator

Sementara itu, agar sampah kertas dapat dimanfaatkan secara optimal proses pemilahan sampah kertas sebaiknya dilakukan langsung di sumbernya. Tanpa terpilah terlebih dahulu sampah kertas akan bercampur dengan sampah jenis lainnya sehingga akan mudah terdekomposisi atau hancur. Akibatnya sampah kertas tersebut tidak dapat dimanfaatkan atau didaur ulang lagi. Pemilahan sampah kertas di sumbernya perlu dioptimalkan entah itu di rumah tangga, pertokoan, perkantoran atau industri yang memakai kertas. Peran aktif masyarakat merupakan kunci utama dalam proses pemilahan. Penyebaran informasi tentang pentingnya pemilahan sampah kertas dapat dilakukan dalam bentuk penyuluhan, brosur, dsb. Kegiatan penyebaran informasi sebaiknya dilakukan oleh pemerintah.

Tindak lanjut setelah terpilahnya sampah kertas adalah menjualnya langsung ke lapak atau memanfaatkannya menjadi kertas daur ulang atau art paper. Daur ulang kertas sebaiknya juga terintegrasi dengan kegiatan pemanfaatan jenis sampah yang lain seperti plastik, logam, sampah organik yang terintegrasi dalam bentuk industri kecil daur ulang (IKDU) sampah. Dalam IKDU, keterlibatan para pihak pengelolaan sampah sangat penting. Para pihak tersebut antara lain pemerintah, masyarakat umum, LSM, pengusaha daur ulang, dan pemulung. Para pihak harus mempunyai peranan yang seimbang dalam mendukung pengelolaan sampah.

2.7. Pengolahan Limbah Cair Industri Percetakan

Limbah cair dari kegiatan cuci cetak foto banyak mengandung krom. Krom valensi enam (krom heksavalen) merupakan bahan kimia yang sangat beracun, sehingga keberadaannya di dalam limbah harus ditangani dengan sangat hati-hati. Untuk menurunkan tingkat racun dari krom heksavalen ini dapat dilakukan dengan mengadakan reaksi redok. Krom heksavalen dapat direduksi menggunakan sulfur dioksida (SO2) menjadi krom trivalen yang mempunyai tingkat/daya racun jauh lebih rendah dari pada krom heksavalen. Krom trivalen lebih aman dari pada krom heksavalen sehingga lebih dapat diterima di lingkungan. Reaksi dasar dari krom ini adalah sebagai berikut:

Limbah yang berbentuk cair mudah masuk ke dalam tanah maupun periran umum. Mobilisasi limbah ini sangat cepat dengan jangkauan yang luas karena limbah cair mudah sekali terbawa oleh aliran alir yang ada. Dengan adanya sifat yang demikian ini maka pengawasan limbah cair lebih sulit untuk dilakukan dari pada yang berbentuk padat. Mobilisasi limbah yang cepat dan luas ini juga mengakibatkan limbah ini akan mudah sekali masuk ke dalam jaring-jaring rantai makanan, yang pada akhirnya akan masuk ke dalam tubuh manusia.

Limbah cair industri percetakan harus ditampung dengan menggunakan alat penampungan khusus dan terhindar dari kotoran lainnya, sebab adanya bahan pengotor lain dapat mengganggu dalam proses elektrolisis sehingga dapat meningkatkan biaya pengolahannya. Alat penampungan limbah cair harus dibuat dari bahan yang tahan terhadap karat dan tertutup rapat, bersih dan diberi label ‘LIMBAH BERACUN” serta dipasang label yang menunjukkan bahwa isi dalam kemasan merupakan bahan yang beracun.

Bahan kemasan dapat terbuat dari jerigen plastik yang kuat, sementara label dapat terbuat dari kertas yang disablon sehingga warnanya tidak luntur atau di cat langsung ke kemasan. Jauhkan kemasan dari jangkauan anak-anak dan binatang peliharaan serta nyala api. Dalam jangka waktu tertentu limbah ini dapat dikirim ke perusahaan pengolahan limbah cair B3 secara langsung atau lewat perusahaan pengumpul limbah B3.

Gambar 2.5. Alat & Label Kemasan Limbah Beracun

Pengolahan limbah cair yang mengandung logam dapat dilakukan dengan teknik elektrolisis guna mengambil kembali kandungan logam yang ada. Logam hasil pemisahan ini dapat dimanfaatkan kembali atau untuk membuat produk lain yang bermanfaat. Cairan hasil pemisahan logam dipanaskan di dalam boiler kemudian dipekatkan dengan evaporator. Sludge hasil pemekatan dari evaporator dikeringkan dalam drum dryer kemudian disimpan dan dikirim ke landfill / unit penimbunan limbah B3. Uap dari evaporator sebelum dibuang discrubber terlebih dahulu untuk melarutkan bahan berbahaya yang kemungkinan masih terikut di dalam uap tersebut. Uap yang telah discrubber kemudian di bakar dengan menggunakan insenerator, baru kemudian dibuang ke lingkungan. Diagram alir teknik pengolahan limbah B3 cair tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6. Diagram alir Teknik Pengolahan Limbah B3 Cair

2.8. Daftar Pustaka

  • Raka, I G., Zen, M.T., Soemarwoto, O., Djajadiningrat, S.T., and Saidi, Z. (1999). Paradigma Produksi Bersih: mendamaikan pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Penerbit Nuansa, Bandung, Indonesia
  • Setiyono (2002). Sistem Pengelolaan Limbah B-3 di Indonesia. Kelompok Teknologi Air Bersih dan Limbah Cair, Pusat pengkajain dan Penerapan teknologi Lingkungan (P3TL), Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material dan Lingkungan, Badan Pengkajain dan Penerapan Teknologi (BPPT).
  • Setiyono, “Teknologi IPAL Yang Efektif dan Efisien”, Disampaikan pada Semiloka “Teknologi Pengolahan Limbah Cair Yang Ekonomis dan Aplikatip”. Diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Teknik Kimia Program Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara (USU). Medan 5 Agustus 2004.
  • Setiyono, “Teknologi Ramah Lingkungan Untuk Pengelolaan Bahan Organik Berbahaya” disampaikan pada “Inception Workshop Initiating Implementation of The Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants”. Jakarta, 17-18 September 2002.
  • Suffet, I.H. (1977). Fate of Pollutants in the Air and Water Environments. Volume 8, Part 1, “Mechanism of interaction between environments and mathematical modeling and the physical fate of pollutants”. Advances in Environmental Science and Technology. John Wiley & Sons, A Wiley­Interscience Publications, New York, USA.
  • (1977). Fate of Pollutants in the Air and Water
    Environments. Volume 8. Part 2, “Chemical and biological fate of pollutants in the environment”. Advances in Environmnetal Science and Technology. John Wiley & Sons, A Wiley-Interscience Publications, New York, USA.
  • Wentz, Charles A. (1989). Hazardous Waste Manajement. Argonne National Laboratory.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s