Produksi Bersih

Teknologi Produksi Bersih mengupayakan suatu proses produksi nir-Iimbah. Untuk mencapai teknologi ini dapat dilakukan dengan menggantikan proses yang ada dengan teknik proses produksi bare yang tidak menghasilkan limbah. Jalan lain adalah dengan merecycle limbah yang dihasilkan atau memanfaatkan kembali limbah dalam proses atau untuk bahan baku produk lain sehingga praktis tidak ada limbah yang terbuang.

Untuk mencapai proses produksi nir-limbah tidaklah mudah, sehingga diperlukan alternatif lain yang bertujuan untuk meminimalisasikan jumlah limbah yang dihasilkan/dibuang, sehingga dapat mengurangi bahaya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan serta mahluk hidup lainnya. Sampai saat ini reduksi limbah masih dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk mencegah permasalahan limbah dimasa depan. Dengan menggunakan bahan yang lebih effisien, industri dapat mengurangi limbah yang dihasilkan dan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan yang diinginkan. Pada waktu yang bersamaan, biaya pengelolaan limbah dapat diturunkan yang berarti menghemat biaya operasional industri dan dalam jangka panjang resiko dan pasiva dapat diminimalkan.

Adanya pengolahan limbah merupakan suatu tambahan proses pada industri, sedangkan minimisasi limbah melibatkan semua aspek pada proses produksi yang rumit. Pendapat yang menyatakan bahwa pengontrolan polusi dan minimisasi limbah merupakan tujuan jangka panjang, tidak dapat dicapai dan tidak sesuai untuk strategi jangka pendek telah mendesak para penghasil limbah untuk mencari berbagai alternatif dalam upaya minimisasi limbah, namun yang menjadi penghambat upaya tersebut adalah resiko terjadinya perubahan kualitas produk akibat pengerjaan minimisasi limbah yang dikerjakan dengan merubah proses industri yang semata-mata hanya untuk menurunkan jumlah limbah yang dihasilkan tanpa didasari oleh keahlian khusus. Usaha minimisasi limbah yang berhasil biasanya merupakan hasil dari peningkatan effisiensi operasional industri tersebut, yang mana sebagian upaya tersebut akan menghasilkan produk samping, tidak hanya difokuskan pada pengubahan proses industri.

Banyak industri yang ingin mengurangi jumlah limbahnya, tetapi tidak mengetahui bagaimana memulai dan mengimplementasikan ke dalam permasalahan yang komplek. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu dilakukan prioritas dalam pelaksanaannya. Gambar 10.7. merupakan urutan prioritas untuk meminimalisasi limbah yang dihasilkan. Pada kondisi ideal penghilangan limbah secara total adalah merupakan sesuatu yang memungkinkan.

Gambar 10.7. Urutan Prioritas Untuk Meminimalisasi Limbah

Model manajemen limbah seperti pada Gambar 10.8. dapat didisain dengan menetapkan sumber dan kuantitas limbah dan proses utama lainnya. Model ini akan menghasilkan neraca masa yang mempunyai bentuk umum dan hubungan sebagai berikut:

Input = produk + bahan yg terrecovery + limbah dikeluarkan + limbah yg dibuang

Hubungan neraca masa akan dikembangkan untuk setiap langkah proses dalam model menajeman limbah. Dengan menggunakan hubungan proses ini, sistem minimisasi limbah akan menjadi alat yang penting untuk pengumpulan data yang dibutuhkan dalam pengembangan alternatif minimisasi limbah berikutnya yang akan dipilih dan ditetapkan. Pemilihan alternatif ini dapat dilihat seperti pada Gambar 10.9.

Gambar 10.8. Konsep Disain Model Pengelolaan Limbah

Gambar 10.9. Proses Pemilihan Alternatif Minimisasi Limbah

Gambar 10.10. Alur Proses Penerapan Konsep Produksi Bersih

Minimisasi Iimbah

Langkah awal dari pelaksanaan produksi bersih adalah meminimisasi Iimbah, dapat dimulai dengan pengelolaan Iingkungan yang menitinjau dari segi masukan (air, energi, maupun bahan baku dan penolong), proses produksi serta keluaran (produk, produk setengah jadi, maupun Iimbah). Langkah-Iangkah minimisasi diantaranya adalah :

  • Membuat neraca bahan : Input, Output dan Proses
  • Sintesa, misalnya mengurangi penggunaan air, penanganan bahan baku, manajemen organisasi.
  • Pengambilan solusi dan analisa ekonomi
  • Implementasi.
  • Monitoring.

Biasanya industri di Indonesia penggunaan air sangat boros, menurut data awal yang ada penggunaan air per ton kulit sekitar 100 m3. Dengan penerapan produksi bersih perton produk diharapkan dapat menghemat 1/4 sampai 1/2 dari penggunaan semula.

Disadari bahwa pemborosan air ini berasal dari berbagai sumber, antara lain dari banyaknya slang/kran yang tidak tertutup rapat oleh sebab itu perlu penekanan dengan misalnya dengan menempatkan kran jenis pistol. Dengan jumlah air yang berkurang maka beban pengolahan air limbah juga akan berkurang.

Penanganan bahan baku, bahan setengah jadi maupun produk dibuat suatu sistem FIFO (first in first out) agar kualitas barang terjaga, serta dikendalikan ceceran yang terjadi. Dari hal ini diperlukan managemen organisasi yang solid dan fleksible.

Penggunaan energi listrik saat ini dirasakan mahal oleh industri, hal ini diperlukan penghematan-penghematan dengan jalan mematikan lampu waktu siang hari maupun penggunaan yang tidak perlu. Pemanfaatan atau ekploitasi cahaya matahari pada siang hari. Hal ini dilakukan dengan menempatkan saklar-saklar yang mudah terjangkau, dan memasang genting kaca di banyak tempat.

Gambar 10.11. Penggunaan Peralatan Yang Tidak Bagus Dapat Menambah Jumlah Limbah Dan Pemborosan Air Proses

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s