Pelabelan B3 untuk Kategori Bahaya Kesehatan berdasarkan GHS

Global Harmonized System (GHS) yang dimandatkan oleh PBB melalui ILO telah mewajibkan perubahan global dalam hal komunikasi bahaya termasuk Klasifikasi Bahaya, MSDS, beserta Penandaannya. Implementasi GHS menyangkut MSDS memerlukan pembahasan lintas sektoral terkait dengan amandemen dan revisi peraturan perundangan terkait. Makalah ini membahas mengenai implementasi MSDS berdasarkan mandat GHS dan perubahan apa saja yang diperlukan dalam menjawab tantangan global. Karena semua bahan kimia dan produk kimia yang diperdagangkan dibuat di tempat kerja (termasuk produk konsumen), penanganan selama pengapalan dan transportasi oleh pekerja, dan sering digunakan oleh pekerja, maka tidak ada pengecualian secara utuh dari ruang lingkup GHS untuk semua tipe bahan kimia atau produk tertentu. Di beberapa negara, sebagai contoh, obat-obatan saat ini tercakup dalam persyaratan tempat kerja dan transportasi di tahapan pembuatan, penyimpanan, dan transportasi dari siklus hidup. Persyaratan tempat kerja dapat juga diterapkan kepada karyawan yang terlibat dalam administrasi obat-obatan atau pembersih tumpahan, dan jenis potensi paparan masalah kesehatan lainnya. Di beberapa sistem, MSDS dan pelatihan harus tersedia bagi karyawan tersebut di atas. Hal itu diantisipasi oleh GHS sehingga GHS akan menerapkan model yang sama terhadap obat-obatan.

1.  Toksisitas akut

Definisi toksisitas akut adalah efek negatif yang terjadi ketika sesuatu masuk kedalam tubuh melalui cara tertelan atau terserap melalui kulit dalam waktu 24 jam maupun terhirup lebih dari 4 jam

Perkiraan Nilai Kategori Toksisitas Akut

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Toksisitas Akut

Kategori 1 2 3 4 5
Kata Sinyal Bahaya Bahaya Bahaya Awas Awas
Pernyataan Bahaya: Oral Fatal jika tertelan Fatal jika tertelan Toksik jika tertelan Berbahaya jika tertelan Dapat berbahaya jika tertelan
Pernyataan Bahaya: Kulit Fatal jika terkena kulit Fatal jika terkena kulit Toksik jika terkena kulit Berbahaya jika terkena kulit Dapat berbahaya jika terkena kulit
Pernyataan Bahaya: Terhirup Fatal jika terhirup Fatal jika terhirup Toksik jika terhirup Berbahaya jika terhirup Dapat berbahaya jika terhirup

Simbol Bahaya Toksisitas Akut (Piktogram)

2.  Korosi / Iritasi Kulit

Definisi Korosi / Iritasi kulit adalah dampak negatif yang terjadi pada kulit

Perkiraan Nilai Kategori Korosi / Iritasi kulit

Kategori 1 : Korosif Subkategori korosif Korosif terhadap > 1 dari 3 binatang
 (Untuk otoritas yang tidak mengunakan kategori) Hanya digunakan pada beberapa otoritas Paparan Observasi
Korosif I A < 3 menit < 1 jam
I B > 3 menit – < 1 jam < 14 jam
I C > 1 jam – < 4 jam < 14 jam
Kategori 2 : iritasi (untuk semua otoritas) 1. 2,3 ≤ erythema/eschar < 4,0 atau 2,3 ≤ eodema < 4,0 pada sedikitnya 2 atau 3 hewan percobaan pada kisaran 24,48 dan 72 jam setelah bagian dipindahkan atau jika reaksi diabaikan dari kisaran diatas menjadi 3 hari berikutnya setelah reaksi kulit mulai terjadi.
2. Inflamasi yang timbul pada akhir perode observasi umumnya 14 hari pada sedikitnya 2 binatang, sebagian diambil untuk alopecia(area terbatas), hyperkeratosis, dan scaling, atau
3. Di beberapa kasus dengan respon yang bermacam – macam pada binatang dengan efek yang positif tergantung paparan dari bahan kimia pada tiap binatang tetapi kurang dari kriteria diatas.
Kategori 3 : iritasi ringan (hanya untuk beberapa otoritas) 1. Nilai rata – rata untuk erythema/ eschar ≥ 1,5 < 2,3 atau untuk oedema pada sedikitnya 2 dari 3 hewan percobaan pada kisaran 24,48 dan 72 atau jika reaksi diabaikan dari kisaran diatas menjadi 3 hari berikutnya setelah reaksi kulit mulai terjadi (jika tidak termasuk dalam kategori iritasi diatas)

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Korosi/Iritasi kulit

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya
Kategori 1A Bahaya Menyebabkan luka bakar pada kulit dan kerusakan mata yang parah
Kategori 1B Bahaya Menyebabkan luka bakar pada kulit dan kerusakan mata yang parah
Kategori 1C Bahaya Menyebabkan luka bakar pada kulit dan kerusakan mata yang parah
Kategori 2 Awas Menyebabkan iritasi kulit
Kategori 3 Awas Menyebabkan iritasi ringan pada kulit

 

Simbol Bahaya Korosi / Iritasi kulit

Label Piktogram Kategori 1A, 1B, 1C, 2, dan 3 Korosi / Iritasi kulit

3.  Kerusakan / Iritasi Serius pada Mata

Definisi Kerusakan / Iritasi Serius pada Mata adalah kerusakan pada mata, atau pengurangan daya lihat serius dikarenakan penggunaan bahan pada daerah mata dimana efek tersebut tak dapat dikembalikan dalam waktu 21 hari

Klasifikasi Kerusakan / Iritasi Serius menurut GHS

Kategori 1 Iritan pada mata ( efek tidak terpulihkan pada mata ) adalah uji terhadap bahan yang menimbulkan :
tidak kurang dari 1 binatang yang berefek pada kornea, iris atau konjungtiva yang tidak dapat diramalkan untuk merefer atau tidak pulih sepenuhnya dalam waktu observasi yang normal selama 21 hari
tidak kurang 2 dari 3 binatang, memberikan respon positif pada opasotas kornea > 3 dan atau iritis > 1,5 dihitung sebagai nilai rata-rata yang mengikuti grading pada 24, 48 dan 72 jam setelah pemberian bahan uji.
Sensitisasi Kategori 2 A Iritan pada mata adalah uji bahan yang menimbulkan :
tidak kurang 2 dari 3 binatang percobaan memberikan respons positif pada opasitas kornea > 1, dan atau iritis > 1, dan atau kemerahan konjungtiva > 2, dan atau odema konjungtiva ( demosis ) > 2
dihitung sebagai nilai rata-rata dengan grading pada 24, 48 dan 72 jam setelah pemberian bahan uji.
dapat pulih penuh setelah observasi normal selama 21 hari
Kategori 2 B Iritan pada mata berupa iritasi ringan yang dapat pulih setelah 7 hari observasi

Unsur-Unsur Label pada Kategori Kerusakan/ Iritasi Serius pada Mata

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya:
Kategori 1 Bahaya Menyebabkan kerusakan serius pada mata
Kategori 2A Awas Menyebabkan iritasi serius pada mata
Kategori 2B Awas Menyebabkan iritasi pada mata

Simbol Bahaya Kerusakan / Iritasi Serius pada Mata

Label Piktogram Kategori 1, 2A, dan 2B Kerusakan/ iritasi serius pada mata

4.  Sensitisasi pernafasan / kulit

Definisi Sensitisasi pernafasan adalah Penggunaan suatu substansi dimana akan menyebabkan hypersensitive terhadap pernafasan dikarenakan terhirup oleh substansi tersebut

Definisi Sensitisasi kulit adalah Penggunaan suatu substansi dimana akan menyebabkan respon alergi dikarenakan kontak terhadap kulit

Klasifikasi Sensitisasi Saluran Pernafasan Menurut GHS

Kategori Kriteria
1 Jika terdapat bukti pada manusia bahwa bahan kimia ini dapat menyebabkan hipersensitisasi pernafasan yang spesifik
Jika terdapat hasil yang posistif dari hewan percobaan

Klasifikasi Sensitisasi Kulit Menurut GHS

Kategori Kriteria
1 Jika terdapat bukti pada manusia bahwa bahan kimia ini dapat mempengaruhi sensitisasi melalui sentuhan kulit pada sejumlah orang
Jika terdapat hasil yang posistif dari hewan percobaan

 

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Sensitisasi Pernafasan / Kulit

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya:
Kategori 1 (Sensitisasi Saluran Pernafasan) Bahaya Dapat menyebabkan gejala alergi atau gejala asma atau sulit bernapas jika terhirup
Kategori 1 (Sensitisasi Kulit) Awas Dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit

Simbol Bahaya Sensitisasi Pernafasan / Kulit

Piktogram Bahaya Sensitisasi Pernafasan / Kulit

5.  Mutagenisitas Sel Induk

Definisi Mutagenisitas Sel Induk adalah bahaya ini dihubungkan dengan bahan kimia yang menyebabkan Mutagenisitas Sel Induk  pada manusia yang bisa diteruskan kepada keturunan.

Klasifikasi Mutagenisitas Sel Induk menurut GHS

Kategori Kriteria
Kategori 1 : Bahan kimia yang diketahui menginduksi mutasi yang diturunkan atau diduga kuat menginduksi mutasi yang diturunkan pada sel induk manusia
Kategori 1 A Bahan kimia yang diketahui menginduksi mutasi yang diturunkan pada sel induk manusia
Kriteria : Kejadian positif dari studi epidemiologi pada manusia
Kategori 1 B Bahan kimia yang dianggap menginduksi mutasi yang diturunkan pada sel induk manusia
Kriteria : Kejadian positif dari uji mutagenisitas sel induk in vivo pada mamalia yang diturunkan, atau kejadian positif dari uji mutagenisitas sel somatik pada mamalia, dalam kombinasi dengan kejadian dimana bahan berpotensi menimbulkan mutasi pada sel induk. Kejadian yang mendukung mungkin, sebagai contoh, diturunkan dari uji mutagenisitas / genotoksis dalam sel induk in vivo , atau dengan demonstrasi kebiasaan bahan atau metabolitnya yang berinteraksi dengan material genetik sel induk, atau. Hasil positif dari uji yang menunjukkan efek mutagenik pada sel induk pada manusia, tanpa demonstrasi transmisi progensi, sebagai contoh adanya peningkatan frekuensi aneuplody sel sperma pada orang yang terpapar
Kategori 2 Bahan kimia yang menyebabkan awas untuk manusia yang potensial
Kriteria : Kejadian positif berdasarkan percobaan pada mamalia dan / atau dalam beberapa Kasus dari percobaan in vitro , yang berupa :
uji mutagenisitas sel somatik in vivo, pada mamalia, atau
uji genotoksisitas sel somatik in vivo lainnya dimana disuport oleh hasil yg positif dari penetapan uji mutagenisitas
Catatan : Bahan kimia yang menunjukkan hasil positif pada uji mutagenisitas mamalia, dan Dimana juga menunjukkan hubungan struktur dan aktifitas yang diketahui sebagai mutagen sel induk haruslah diklasifikasikan sebagai mutagen kategori 2.

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Mutagenisitas Sel Induk

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya:
Kategori 1A Bahaya Dapat menyebabkan kerusakan genetik
Kategori 1B Bahaya Dapat menyebabkan kerusakan genetik
Kategori 2 Awas Diduga menyebabkan kerusakan genetik

Simbol Bahaya Mutagenisitas Sel Induk

Piktogram Kategori 1A, 1B, dan 2 Mutagenisitas Sel Induk

6.  Karsinogenisitas

Definisi Karsinogenitas adalah suatu substansi atau campurannya dimana dapat menyebabkan resiko kanker atau meningkatkan resiko terkena kanker.

 

Klasifikasi Karsinogenisitas menurut GHS

Kategori Kriteria
Kategori 1 : Diketahui menyebabkan kanker pada manusia. Pengkategorian ini berdasar pada data epidemiologi atau binatang percobaan. Bahan kimia secara individual mungkin lebih berbeda.
Kategori 1A : Diketahui mempunyai potensi karsinogen terhadap manusia, pengelompokan ini berdasar pada kejadian pada manusia
Kategori1B : Diduga mempunyai potensi karsinogen terhadap manusia, pengelompokan ini berdasar pada binatang percobaan.
Kategori 2 : Diduga karsinogen terhadap manusia
Penempatan suatu bahan kimia ke dalam Kategori 2 dilakukan berdasarkan kejadian yang muncul pada manusia dan/atau pada studi terhadap binatang, hal ini dilakukan jika tidak cukup kepastian untuk memasukkannya ke dalam Kategori 1. Berdasar pada kuatnya kejadian bersama-sama dengan pertimbangan yang umum, seperti kejadian yang mungkin dari risalah satu kejadian yang terbatas pada karsinogenisitas pada studi terhadap manusia atau kejadian yang terbatas pada karsinogenisitas pada studi terhadap binatang.

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Karsinogenisitas

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya:
Kategori 1A Bahaya Dapat menyebabkan kanker
Kategori 1B Bahaya Dapat menyebabkan kanker
Kategori 2 Awas Diduga menyebabkan kanker

Simbol Bahaya Karsinogenisitas

Piktogram Kategori 1A, 1B, dan 2 Karsinogenisitas

7.  Toksik Terhadap Reproduksi

Definisi Toksik Terhadap Reproduksi adalah efek negatif pada fungsi sex dan kesuburan pada laki-laki dan perempuan seperti juga toksisitas pada keturunannya.

Klasifikasi Toksik Terhadap Reproduksi menurut GHS

Kategori Kriteria
Kategori 1 Diketahui atau dianggap sebagai toksik terhadap reproduktif
Kategori ini termasuk bahan yang diketahui memiliki efek yang tidak diinginkan terhadap kemampuan atau kapasitas reproduksi atau efek terhadap perkembangan manusia atau apabila terdapat bukti dari studi terhadap hewan yang memungkinkan diperkuat dengan informasi lain, untuk memberi dugaan kuat bahwa bahan tersebut memiliki kapasitas untuk mempengaruhi reproduksi manusia. Untuk tujuan regulasi suatu bahan dapat dibedakan lebih jauh berdasarkan apakah kejadian untuk klasifikasi terutama dari data manusia (kategori 1A) atau dari data hewan (kategori 1B).
Kategori 1A Diketahui sebagai bahan yang toksis terhadap reproduksi manusia.
Penempatan bahan kimia dalam kategori ini umumnya berdasarkan adanya bukti pada manusia
Kategori 1B Dianggap toksik pada reproduksi manusia
Penempatan bahan pada kategori ini sebagian besar didasarkan pada kejadian dari percobaan terhadap hewan. Data dari studi pada hewan sebaiknya memberikan bukti yang jelas mengenai toksisitas reproduksi secara spesifik dengan tidak adanya efek toksik lain, efek yang tidak diinginkan terhadap reproduksi dipertimbangkan sebagai konsekuensi sekunder dari efek toksik lain. Bagaimanapun bila ada informasi mekanisme yang meningkatkan keraguan mengenai keterkaitan efek pada manusia, klasifikasi pada kategori 2 bisa jadi lebih tepat.
Kategori 2 Diduga toksik terhadap reproduksi manusia.
Kategori ini termasuk bahan yang pada beberapa kejadian pada manusia atau hewan percobaan, mungkin diperkuat dengan informasi lain mengenai efek yang tidak diinginkan terhadap kemampuan atau kapasitas reproduksi atau pada perkembangan, dengan tidak adanya efek toksik lain, atau bila terjadi bersamaan dengan efek toksik lain efek yang tidak diinginkan terhadap reproduksi ini dipertimbangkan sebagai konsekuensi sekunder non spesifik dari efek toksik lain dan dimana kejadian cukup memungkinkan untuk menempatkan bahan di kategori 1. untuk singkatnya, kekurangan pada studi dapat membuat kualitas bukti kurang meyakinkan dan dalam kategori 2 ini klasifikasinya lebih tepat.

 

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Toksik Terhadap Reproduksi

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya:
Kategori 1A Bahaya Dapat merusak fertilitas atau janin
Kategori 1B Bahaya Dapat merusak fertilitas atau janin
Kategori 2 Awas Diduga merusak fertilitas atau janin
Kategori tambahan untuk Efek pada/melalui menyusui Tidak ada kata sinyal Dapat membahayakan bayi yang menyusu

Simbol Bahaya Toksik Terhadap Reproduksi

Piktogram Kategori 1A, 1B,2, dan Kategori Tambahan untuk Efek Pada/Melalui Menyusui

8.  Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Tunggal

Klasifikasi Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Tunggal menurut GHS

Kategori Kriteria
Kategori 1 Bahan yang menghasilkan toksisitas signifikan terhadap manusia atau berdasarkan bukti pada studi terhadap hewan bahan dianggap memiliki potensi toksisitas melalui paparan tunggal pada manusia.
Penempatan bahan pada kategori 1 berdasarkan :
Bukti terpercaya dan berkualitas baik dari kasus manusia atau studi epidemiologi;
Pengamatan dari studi yang tepat terhadap hewan percobaan dengan efek toksik signifikan dan atau berat, yang terkait dengan kesehatan manusia yang dihasilkan umumnya pada konsentrasi paparan rendah
Kategori 2 Bahan yang berdasarkan bukti dari studi terhadap hewan percobaan dapat diduga memiliki potensi bahaya untuk kesehatan manusia melaui paparan tunggal. Penempatan bahan dalam kategori 2 dilakukan berdasarkan pengamatan dari studi yang tepat terhadap hewan percobaan dengan efek toksik yang signifikan relevansinya terhadap kesehatan manuisa, dihasilkan umumnya pada konsentrasi paparan sedang.
Kategori 3 Efek pada organ sasaran sementara
Efek pada target organ sasaran dimana bahan kimia atau campuran tidak dapat memenuhi kriteria pada kategori 1 dan 2 diatas. Efek dimana mempengaruhi secara luas pada organ dalam waktu singkat setelah terpapar dan dimana orang dapat sembuh dalam waktu tertentu tanpa meninggalkan perubahan struktur atau fungsi. Kategori ini hanya termasuk efek narkotika dan iritasi pernafasan

Perkiraan Nilai Kategori Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Tunggal

Panduan Rentang Nilai untuk :
Rute Paparan Unit Kategori 1 Kategori 2
Oral (tikus) mg/kgBB C < 300 2000 > C > 300
Dermal (tikus, kelinci) mg/kgBB C < 1000 2000 > C > 1000
Inhalasi (tikus) gas Ppm C < 2500 5000 > C > 10
Inhalasi (tikus) uap mg/l C < 10 20 > C > 10
Inhalasi (tikus) debu/mist/fume mg/15′ C < 1,0 5,0 > C > 10

 

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Tunggal

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya:
Kategori 1 Bahaya Menyebabkan kerusakan pada organ ……. (atau nyatakan semua organ yang terpengaruh jika diketahui) (nyatakan rute paparan jika terbukti secara meyakinkan bahwa tidak ada rute paparan lain yang menyebabkan bahaya tersebut)
Kategori 2 Awas Dapat menyebabkan kerusakan pada organ ……. (atau nyatakan semua organ yang terpengaruh jika diketahui) (nyatakan rute paparan jika terbukti secara meyakinkan bahwa tidak ada rute paparan lain yang menyebabkan bahaya tersebut)
Kategori 3 Awas Dapat menyebabkan iritasi pernapasan, atau
dapat menyebabkan kantuk dan pusing

Simbol Bahaya Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Tunggal

Piktogram Kategori 1,2, dan 3

9.  Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Berulang

Klasifikasi Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Berulang menurut GHS

Kategori Kriteria
Kategori 1 Bahan yang menyebabkan toksisitas signifikan terhadap manusia atau berdasarkan bukti terhadap hewan percobaan dapat diduga memiliki potensi untuk menyebabkan tokksisits signifikan pada manusia untuk paparan berulang. Penempatan bahan pada klategori 1 berdasarkan :
Bukti terpercaya dan berkualitas baik dari kasus manusia atau studi epidemiologi, atau Pengamatan dari studi yang tepat terhadap hewan percobaan dengan efek toksik signifikan dan atau berat, yang terkait dengan kesehatan manusia yang dihasilkan umumnya pada konsentrasi paparan rendah
Kategori 2 Bahan yang berdasarkan bukti dari studi terhadap hewan percobaan dapat diduga memiliki potensi bahaya untuk kesehatan manusia melaui paparan berulang. Penempatan bahan dalam kategori 2 dilakukan berdasarkan pengamatan dari studi yang tepat terhadap hewan percobaan dengan efek toksik yang signifikan relevansinya terhadap kesehatan manuisa, dihasilkan umumnya pada konsentrasi paparan sedang.
Catatan Untuk kedua kategori organ target spesifik atau spesifik yang terutama terpengaruh oleh bahan yang terklasifikasi, atau bahan dapat diidentifikasi sebagai toksikan sistemik umum. Percobaan seharusnya dibuat untuk menentukan toksisitas organ target utama dan diklasifikasikan untuk tujuan tersebut, contohnya hepatotoksikan dan neurotoksikan. Data harus dievaluasi dengan hati-hati dan bila mungkin tidak termasuk efek sekundernya, contohnya hepatotoksikan dapat menyebabkan efek sekunder pada saraf atau sistem gastrointestinal. Panduan untuk membantu mengklasifikasi berdasarkan hasil yang didapat dari studi yang terkait dengan hewan percobaan. Untuk kategori 1, efek toksik signifikan diamati selama 90 hari pemberian dosis pada hewan percobaan dan dilihat pada/dibawah nil

Perkiraan Nilai Kategori Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Berulang

Rute Paparan Unit Nilai Panduan (dosis/konsentrasi)
Kategori 1 Kategori 2
Oral (tikus) mg/kgBB 10 10-100
Dermal (tikus, kelinci) mg/kgBB 20 20-200
Inhalasi (tikus) gas ppm 50 50-250
Inhalasi (tikus) uap mg/l 0.2 0.2-1.0
Inhalasi (tikus) debu/mist/fume mg/15′ 0.02 0.02-0.2

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Berulang

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya:
Kategori 1 Bahaya Menyebabkan kerusakan pada organ… (nyatakan semua organ yang terpengaruh jika diketahui) setelah paparan jangka panjang atau berulang (nyatakan rute paparan jika terbukti secara meyakinkan bahwa tidak ada rute paparan lain yang menyebabkan bahaya tersebut)
Kategori 2 Awas Dapat menyebabkan kerusakan pada organ ….. (nyatakan semua organ yang terpengaruh jika diketahui) setelah paparan jangka panjang atau berulang (nyatakan rute paparan jika terbukti secara meyakinkan bahwa tidak ada rute paparan lain yang menyebabkan bahaya tersebut)

Simbol Bahaya Toksisitas Sistemik pada Organ Sasaran Spesifik Setelah Paparan Berulang

Piktogram Kategori 1 dan 2

10.  Bahaya Aspirasi

Definisi Bahaya Aspirasi  adalah masuknya cairan atau padatan kimia melalui mulut atau rongga hidung atau melalui muntah kedalam trachea dan sistem pernafasan bawah

Klasifikasi Bahaya Aspirasi menurut GHS

Kategori Kriteria
Kategori 1.Bahan kimia yang diketahui menyebabkan bahaya toksisitas aspirasi atau dianggap menyebabkan bahaya toksisitas aspirasi 1. Berdasarkan bukti yang dapat dipercaya pada manusia, (contoh bahan kimia yang termasuk dalam kategori 1 adalah hidrokarbon tertentu, terpentin dan minyak cemara) atau
2. Jika bahan kimia tersebut adalah hidrokarbon dan memiliki viskositas kinematis kurang dari atau sama dengan 20,5 mm2/s, diukur pada suhu 40 C
Kategori 2.Bahan kimia yang diduga dapat menyebabkan bahaya toksisitas aspirasi Berdasarkan pada penelitian pada hewan yang telah ada dan pendapat ahli tentang tegangan muka, kelarutan dalam air, titik didih dan volatilitas bahan kimia selain dari yang diklasifikasikan dalam kategori 1 dimana memiliki viskositas kinematis kurang dari atau sama dengan 20,5 mm2/s,diukur pada suhu 40 C (badan yang berwenang menentukan bahan kimia yang termasuk dalam kategori ini adalah n-alkohol yang terdiri kurang dari 3-13 atom karbon, isobutil alkohol, dan keton yang terdiri tidak lebih dari 13 atom karbon)

Unsur-Unsur Label Pada Kategori Bahaya Aspirasi

Kategori Kata Sinyal Pernyataan Bahaya:
Kategori 1 Bahaya Dapat berakibat fatal jika tertelan dan masuk ke dalam saluran pernapasan
Kategori 2 Awas Dapat berbahaya jika tertelan dan masuk ke dalam saluran pernapasan

Simbol Bahaya Bahaya Aspirasi (Piktogram)

Simbol Piktogram Bahaya Bahaya Aspirasi

Sumber:
Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals (GHS). Third Revised Edition. 2009

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s