Sarana Air Bersih dan Sanitasi Lingkungan

Sarana Air Bersih (SAB)

Air bersih dapat diperoleh dari berbagai sumber, di antaranya : PDAM, air hujan, mata air, air tanah, dan air permukaan.

Air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)

Air dari PDAM merupakan air yang termasuk dapat dikonsumsi secara langsung untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk masak, mandi, mencuci, serta keperluan lainnya. Kecuali untuk keperluan lainnya, air PDAM yang akan diminum harus direbus dahulu. Namun air PDAM ini kadang belum tersedia di berbagai tempat.

Air Hujan

Air hujan adalah air murni yang berasal dari sublimasi uap air di udara yang ketika turun melarutkan benda-benda di udara yang dapat mengotori dan mencemari air hujan, seperti: gas (O2, CO2, N2, dll), jasad renik, debu, kotoran burung, dan lainnya. Cara mendapatkan air hujan ini yaitu dengan menampung air hujan dari talang/genteng rumah ke dalam bak penampungan.

Di dalam air hujan ini terkandung bahan-bahan pengotor dan pencemar yang dapat berasal dari udara dan/atau dari talang/genteng, sehingga untuk menghindarinya, pada saat awal penampungan air hujan, 15 menit setelah hujan turun di bawah talang diberi saringan dari ijuk/kerikil/pasir. Seperti halnya air PDAM, sebelum diminum air hujan harus dimasak dahulu.

Bangunan penangkap air hujan terdiri dari suatu permukaan miring menuju tangki reservoir. Seluruh bangunan dari sistem ini harus bersih dan bebas dari tumbuhan, terutama bila bangunan penangkap ini sama tingginya dengan permukaan tanah. Sistem ini harus mempunyai peralatan untuk membelokkan air yang tidak menuju tangki, sehingga pada saat hujan pertama, air dapat dibuang.

Air hujan dapat mengalir melalui permukaan sisa tanaman bangunan penangkap, maka bisa terjadi pengotoran debu, sisa tanaman, kotoran binatang, dan lain-lain. Walaupun air yang mengalir pada permukaan turun hujan dapat memberikan debu yang kemudian dibuang, tapi air yang ditampung masih mungkin mengandung bahan padat yang halus. Saringan pasir lambat atau saringan pasir cepat sederhana cukup dapat mengatasi masalah ini. Biasanya air reservoir mengalir melalui saringan menuju sistem distribusi atau dengan alaternatif lain saringan pasir diletakkan sebelum reservoir.
Mata Air

Air mata air berasal dari air hujan yang masuk meresap ke dalam tanah dan muncul ke luar tanah kembali karena kondisi batuan geologis di dalam tanah. Kondisi geologis mempengaruhi kualitas air mata air. Pada umumnya kualitas air mata air baik dan bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari, tetapi untuk digunakan sebagai air minum, harus dimasak terlebih dahulu. Mata air seringkali ditemukan di daerah pegunungan atau perbukitan.

Berdasarkan terjadi aliran air, mata air dapat dikelompokkan ke dalam 4 jenis aliran, yaitu sebagai berikut (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2003) :

  • Aliran artesis terpusat, adalah mata air yang terjadi karena adanya tekanan hidrolis dan pemunculan air ke permukaan tanah secara terpusat
  • Aliran artesis tersebar adalah mata air yang terjadi karena adanya tekanan hidrolis dan pemunculan air ke permukaan tanah secara tersebar
  • Aliran artesis vertikal adalah mata air yang terjadi karena tekanan hidrolis dan pemunculan air ke permukaan tanah melalui celah tegak lurus lapisan kedap air
  • Aliran gravitasi kontak adalah mata air yang terjadi akibat terhalang lapisan kedap air sehingga air naik ke permukaan

Untuk memperoleh air yang berasal dari mata air, dapat dibuat bangunan Penangkap Mata Air (PMA). Bangunan PMA adalah bangunan untuk menangkap dan melindungi mata air terhadap pencemaran serta dapat juga dilengkapi dengan bak penampung. Gambar 4 dan 5 menggambarkan skema sistem PMA secara gravitasi dan pompa.

 Gambar 4. Skema Sistem PMA Gravitasi Gambar 5. Skema Sistem PMA Pompa

Air Tanah

Air tanah berasal dari air hujan yang meresap dan tertahan di dalam bumi. Air tanah dapat dibagi menjadi air tanah dangkal dan air tanah dalam. Cara untuk mendapatkan air tanah yaitu dengan mengebor atau menggali.

Beberapa jenis sumur untuk mendapatkan air tanah, antara lain sebagai berikut :

Sumur Gali

Sumur gali adalah sarana untuk menyadap dan menampung air tanah yang digunakan sebagai sumber air baku untuk air bersih. Sumur gali merupakan salah satu konstruksi sumur yang paling umum dan meluas dipergunakan oleh masyarakat kecil dan rumah-rumah perorangan.. Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan air tanah yang relatif dekat dari tanah permukaan sehingga dengan mudah dapat terkena kontaminasi melalui rembesan. Kontaminasi paling umum adalah karena terkena penapisan air dari sarana pembuangan kotoran manusia dan binatang.

Untuk membangun sumur gali, perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2003) :

  • Sumur gali tidak boleh dibangun di lokasi bekas pembuangan sampah
  • Jarak minimum lokasi sumur gali dengan sumber pencemar seperti cubluk, tangki septik, dll adalah 10 meter
  • Mudah dijangkau/tidak terlalu jauh dari rumah
  • Penentuan lokasi yang layak untuk sumur yang akan digunakan oleh beberapa keluarga harus dimusyawarahkan terlebih dahulu
  • Sumur gali dilengkapi dengan saluran pembuangan untuk mencegah terjadinya genangan air di sekitar sumur.

Sumur Pompa Tangan (SPT)

Sumur Pompa Tangan adalah sarana untuk mendapatkan air tanah dengan cara mengebor dan menaikkan airnya menggunakan pompa dengan bantuan tenaga tangan manusia. Umumnya air tanah bebas dari pengotoran mikrobiologi dan dapat dipergunakan sebagai air minum bila sumur semacam ini beserta pompanya dibangun, maka harus dibuat bangunan perlindungan casing pompa dan harus menonjol ke atas ±30 cm dari permukaan tanah dan 3 m ke arah bawah.

Berdasarkan kedalamannya, sumur pompa tangan terdiri dari 3 jenis, yaitu sebagai berikut (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2003):

  • SPT dangkal, yaitu lubang sumur dengan kedalaman muka air minimal 7 meter dari permukaan tanah serta kedalaman dasar pada umumnya antara 12 – 15 meter.
  • SPT sedang, yaitu lubang sumur dengan kedalaman muka air minimal 7 meter dari permukaan tanah serta kedalaman dasar pada umumnya antara 15 – 30 meter.
  • SPT dalam, yaitu lubang sumur dengan kedalaman muka air minimal 7 meter dari permukaan tanah serta kedalaman dasar pada umumnya lebih dari 30 meter.

Sumur Pompa Listrik

Sumur Pompa Listrik adalah sarana mendapatkan air tanah dengan cara mengebor dan menaikkan airnya dengan dipompa dengan tenaga listrik.

Air Permukaan

Air permukaan seperti air sungai, air rawa, air danau, air irigasi, air laut dan sebagainya merupakan sumber air yang dapat dipakai sebagai air bersih dan air minum tetapi masih memerlukan pengolahan lebih lanjut. Air permukaan sifatnya sangat mudah terkotori dan tercemar oleh bahan pengotor dan pencemar yang mengapung, melayang, mengendap dan melarut di air permukaan. Karena sifatnya yang demikian, maka sebelum diminum air permukaan perlu diolah terlebih dahulu sampai benar-benar aman dan memenuhi syarat sebagai air bersih atau air minum.

Prinsip pengolahan air permukaan terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut :

  • Penyaringan
  • Penggumpalan lumpur, dengan menggunakan bahan kimia berupa paket cairan PAC atau tawas
  • Netralisasi, dengan menggunakan bahan kimia penetral berupa paket bubuk putih PAC atau kapur
  • Pemisahan endapan lumpur
  • Desinfeksi secara kimiawi dan mekanik, bahan kimia desinfektan berupa kaporit atau Aquatabs.
  • Proses mekanik adalah pemindahan air baik secara grafitasi atau manual pada susunan wadah/tandon/ember/drum untuk menunjang tahapan langkah-langkah pengolahan.

Langkah-langkah penjernihan air dengan Menggunakan PAC atau larutan Tawas sebagai berikut:

  • Pasang saringan benda-benda di atas penampungan
  • Tampung air dari sumber air baku permukaan ke dalam wadah /tandon/ember/drum
  • Gunakan cairan PAC atau Tawas 10 ml penggumpal lumpur
  • Gunakan bubuk putih PAC penetralisir PH
  • Tunggu lumpur mengendap
  • Pisahkan air dari endapan lumpur
  • Desinfeksi air jernih yang dihasilkan dengan kaporit atau aquatabs
  • Simpan air yang dihasilkan ini secara aman

Jamban Keluarga

Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja/kotoran manusia/najis bagi keluarga, yang biasa disebut juga kakus/WC. Jamban keluarga sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Departemen Kesehatan RI, 1996) :

  • Tidak mencemari sumber air minum, sehingga lubang penampungan kotoran minimal berjarak 10 meter dari sumber air minum (sumur pompa, sumur gali, dan lain-lain). Untuk tanah berkapur, tanah liat yang retak-retak pada musim kemarau, atau bila letak jamban di sebelah atas dari sumber air minum pada tanah yang miring, maka jarak tersebut hendaknya lebih dari 15 meter.
  • Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus (tinja harus tertutup rapat, misalnya dengan menggunakan leher angsa atau penutup lubang yang rapat).
  • Air seni, air pembersih, dan penggelontor tidak mencemari tanah di sekitarnya (lantai jamban minimal berukuran 1 x 1 meter dan dibuat cukup landai/miring ke arah lubang jongkok).
  • Mudah dibersihkan, aman digunakan (harus dibuat dari bahan-bahan yang kuat, tahan lama, dan agar tidak mahal hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang ada di daerah setempat).
  • Dilengkapi atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang.
  • Cukup penerangan, ventilasi cukup baik, dan luas ruangan cukup
  • Lantai kedap air
  • Tersedia air dan alat pembersih

Berdasarkan Departemen Kesehatan RI, jenis-jenis jamban keluarga dapat dibedakan menjadi 2 macam :

Jamban tanpa leher angsa

Jamban jenis ini mempunyai 2 cara pembuangan, yaitu :

Jamban cemplung/cubluk

Jamban jenis ini memiliki tempat jongkok yang berada langsung di atas lubang penampung kotoran

Jamban plengsengan

Jamban jenis ini memiliki tempat jongkok yang tidak berada langsung di atas lubang penampung kotoran, melainkan kotoran dialirkan melalui saluran/pipa ke penampung kotoran.

 

Jamban dengan leher angsa

Jamban ini mempunyai 2 cara pembuangan, yaitu :

  • Tempat jongkok leher angsa berada langsung di atas lubang galian penampung kotoran
  • Tempat jongkok leher angsa tidak berada langsung di atas lubang galian penampung kotoran

Lubang penampung kotoran dapat dibuat lebih dari satu buah untuk dipergunakan secara bergantian, bila salah satu lubang telah penuh.

Untuk pemeliharaan jamban dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut: lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering, di sekeliling jamban tidak ada genangan air, tidak ada sampah berserakan, rumah jamban dalam keadaan baik, bowl dan lantai selalu bersih (tidak ada kotoran yang terlihat), tidak ada lalat dan kecoa, tersedia alat pembersih, dan bila ada bagian yang rusak segera diperbaiki/diganti.

Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)

SPAL adalah bangunan yang digunakan untuk mengumpulkan air buangan dari kamar mandi. tempat cuci, dapur dari lain-lain (bukan dari peturasan/jamban), sehingga air limbah tersebut dapat tersimpan atau meresap  ke dalam tanah dan tidak menjadi penyebab penyebaran penyakit serta tidak mengotori lingkungan permukiman. SPAL ada yang berbentuk tipe sumuran (umumnya digunakan untuk  muka air tanah tinggi) dan tipe parit (umumnya digunakan untuk muka air tanah rendah).

SPAL yang sehat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Departemen Kesehatan RI, 1996) :

  • Tidak mencemari sumber air bersih
  • Tidak menimbulkan genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk
  • Tidak menimbulkan bau
  • Tidak menimbulkan becek-becek atau pandangan yang tidak menyenangkan

Ada berbagai sistem SPAL untuk daerah pedesaan, seperti kolam oksidasi, bak pemeliharaan ikan lele, langsung dibuang ke sungai dengan saluran, sumur peresapan, dan lain-lain.

Untuk pemeliharaan SPAL, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : bak penangkap air limbah harus selalu dijaga kebersihannya, pasir atau tanah yang jatuh ke dalam leher angsa sewaktu-waktu bila hampir menyumbat leher angsa perlu diangkat, bangunan yang retak harus diperbaiki, lumpur yang terdapat di dalam sumur peresapan secara rutin perlu diangkat dan dibuang ke tempat yang tidak mencemari sumber air, dan upaya-upaya pemeliharaan lainnya.

 

Saluran Drainase

Drainase adalah sistem saluran pembuangan air hujan yang menampung dan mengalirkan air hujan yang berasal dari daerah terbuka maupun terbangun. Secara umum jenis saluran drainase dibagi 2 jenis yaitu terbuka dan tertutup.

  • Saluran terbuka, umumnya diterapkan pada daerah yang lalu lintas pejalan kakinya rendah dan atau tersedia lahan bebas.
  • Saluran tertutup, umumnya diterapkan pada daerah perdagangan, pertokoan, yang lalulintas pejalan kakinya padat dan atau tidak tersedia lahan bebas. Demikian pula jika saluran melintasi jalan raya.

Bardasarkan letaknya, saluran drainase dibagi menjadi :

  • Saluran drainase primer yaitu saluran drainase yang menerima air dari saluran sekunder dan menyalurkannya ke badan penerima air.
  • Saluran drainase skunder yaitu bagian dari sistem primer yang langsung melayani wilayah permukiman.
  • Saluran drainase tersier adalah cabang dari saluran sekunder yang menerima air hujan yang berasal dari persil bangunan.

Sarana Pembuangan Sampah

Sampah menurut SNI 19-2454-1993 didefinisikan sebagai limbah yang bersifat padat terdiri atas zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan (Damanhuri, 2004).

Beberapa syarat mendasar yang perlu diperhatikan untuk sarana pembuangan sampah dalam rumah adalah sebagai berikut (Departemen Kesehatan RI, 1996) :

  • Tersedia tempat sampah dalam rumah yang kedap air dan tertutup
  • Sampah basah di daerah pedesaan dapat segera ditanam pada lubang galian ukuran 1m x 1m x 1m. Sampahnya tertutup tanah atau habis dibakar, tidak mengundang lalat untuk berkembang biak)

Teknik operasional pengelolaan sampah di perdesaan tergantung pada kepadatan penduduk, pengelolaan sampah dapat dibagi dalam 2 sistem penanganan sampah yaitu (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2003)  :

  • Penanganan sampah untuk permukimanan dengan kepadatan penduduk rendah dan sedang  (<50 jiwa/ha). Ada 3 ( tiga ) cara penanganan sampah untuk kepadatan  penduduk < 50 jiwa/ha:
    • Dengan pembakaran sampah
    • Pembuatan lubang sampah
    • Pembuatan kompos
  • Penanganan sampah untuk permukiman dengan kepadatan penduduk tinggi (>50 jiwa/ha)
  • Teknik operasional pengelolaan sampah terdiri dari kegiatan pewadahan, pengumpulan sampai dengan Tempat Pembuangan Sementara  sampah (untuk tingkat perdesaan) dan dikembangkan sampai ke Tempat Pembuangan Akhir (untuk tingkat Kecamatan).

Rumah dan Lingkungan Sehat

Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan setiap warga. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepaskan lelah setelah bekerja seharian, namun di dalamnya terkandung arti yang lebih penting yaitu sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga. Kehidupan keluarga yang sehat dan sejahtera akan terwujud bila rumah dalam keadaan sehat dan layak untuk dihuni.

Secara umum rumah dapat dikatakan sehat dan layak huni bila tersedia sarana kesehatan lingkungan, keadaan rumah yang memenuhi syarat, terjaga dari binatang penular penyakit, kondisi pekarangan sehat, dan keberadaan kandang ternak yang sehat.

Sarana Kesehatan Lingkungan

Sarana kesehatan lingkungan meliputi sarana air bersih, jamban keluarga, sarana pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan sampah. Tabel 5 menjelaskan secara rinci untuk setiap parameter beserta syarat-syarat kesehatan yang harus dipenuhi.

 Tabel 5 Sarana Sanitasi Rumah Sehat (Departemen Kesehatan RI, 1996)

Jenis Sarana Syarat-syarat Kesehatan
Sarana Air Bersih (SAB)
  • Jarak antara sumber air dengan sumber pengotoran (seperti septic tank, tempat pembuangan sampah, air limbah) minimal 10 meter
  • Pada sumur gali sedalam 3 meter dari permukaan tanah dibuat kedap air, yaitu dilengkapi cincin dan bibir sumur
  • Penampungan air hujan, perlindungan mata air, sumur artesis, terminal air, perpipaan/kran atau sumur gali terjaga kebersihannya
Jamban Keluarga
  • Kotoran manusia tidak mencemari permukaan tanah (tidak dibuang sembarangan di atas tanah)
  • Kotoran manusia tidak mencemari air permukaan tanah maupun air tanah (tidak dibuang ke badan air, jarak jamban >10 meter dari sumur dan bila membuat lubang jamban jangan sampai dalam lubang tersebut mencapai sumber air)
  • Kotoran manusia tidak dijamah oleh lalat (jamban dengan leher angsa atau dilengkapi tutup)
  • Jamban tidak menimbulkan sarang nyamuk
  • Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu (dilengkapi leher angsa atau lubang ventilasi yang cukup besar dan tinggi)
  • Jamban tidak menimbulkan kecelakaan (atap tidak terlalu rendah, dll)
Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)
  • Tidak mencemari permukaan tanah (air limbah tidak dibuang sembarangan sehingga menyebabkan tanah becek atau jadi comberan, berbau, dan lain-lain)
  • Tidak mencemari air permukaan tanah maupun air tanah, kecuali telah melalui pengolahan sederhana (jarak lubang sumurannya dengan sumber air bersih minimal 10 meter)
  • Tidak menimbulkan sarang nyamuk
Pembuangan Sampah
  • Tersedia tempat sampah dalam rumah yang kedap air dan tertutup
  • Sampah basah di daerah pedesaan dapat segera ditanam pada lubang galian ukuran 1 x 1 x 1 meter. Sampahnya tertutup tanah atau habis dibakar, tidak mengundang lalat berkembang biak)

Keadaan rumah

Keadaan rumah sehat meliputi ketersediaan ventilasi dan kelembaban ruang tidur, pencahayaan, lubang asap dapur, dan kepadatan penghuni. Tabel 6 menjelaskan secara rinci untuk setiap parameter keadaan rumah beserta syarat-syarat kesehatan yang harus dipenuhi.

Tabel 6. Keadaan Rumah Sehat (Departemen Kesehatan RI, 1996)

Parameter Syarat-syarat Kesehatan
Ventilasi dan kelembaban ruang tidur
  • Ventilasi yang baik dapat berupa lubang angin yang berseberangan sehingga pertukaran udara akan berjalan terus dan ruangan menjadi segar atau jendela yang dapat dibuka sehingga udara segar  dan sinar matahari dapat masuk
  • Ventilasi yang baik akan menghasilkan udara yang nyaman, dengan temperature 220C dan kelembaban 50-75%
Pencahayaan
  • Pengaruh jika pencahayaan tidak cukup : menyebabkan kelelahan mata, kecelakaan, sulit menjaga kebersihan, menurunkan produktivitas kerja
  • Pencahayaan yang baik dapat diperoleh dengan : memanfaatkan sinar matahari sebanyak mungkin untuk penerangan dalam rumah pada siang hari, melalui jendela, lubang angin, pintu, maupun atap rumah (genting kaca) ; mempergunakan warna-warna muda untuk lantai, dinding maupun langit-langit rumah ; pada malam hari bagi desa yang sudah ada aliran listriknya gunakan lampu listrik yang cukup terang untuk beraktivitas
Lubang Asap Dapur (LAD)
  • Mengapa perlu diperhatikan? dapat mengganggu pernapasan dan mungkin dapat merusak alat-alat pernapasan, membuat lingkungan rumah menjadi kotor, mata menjadi pedih
  • Cara mengatasi : menggunakan tungku yang dilengkapi cerobong asap (bukan jendela biasa), membuat jalan keluar untuk asap pada bagian atas/di atas sumber asap, penghawaan di dapur cukup memenuhi syarat (lubang ventilasi = 5% luas lantai dapur)
Padat penghuni
  • Kepadatan penghuni diketahui dengan cara menghitung luas lantai rumah dibagi dengan jumlah penghuni
  • Di perkotaan, luas lantai dapat berkurang sampai 6 m2/orang
  • Di pedesaan, masih memerlukan 10 m2/orang

Binatang Penular Penyakit

Binatang penular penyakit di dalam rumah umumnya adalah nyamuk dan tikus. Tabel 7 menjelaskan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya binatang penular penyakit di dalam rumah.

Tabel 7. Upaya-Upaya Pencegahan Binatang Penular Penyakit (Departemen Kesehatan RI, 1996)

Parameter Upaya-Upaya Pencegahan
Nyamuk
  • Pembersihan yang teratur terhadap air yang ada di tempayan, tendon air, vas bunga, tempat minum burung, dan penyehatan buangan limbah rumah tangga
  • Pemasangan kawat kasa pada lubang ventilasi, jendela, dan pintu
  • Penggunaan kelambu
  • Membuat ruangan terang, bersih, tidak lembab, pakaian tidak bergantungan
  • Menjauhkan rumah dari kandang
  • Penggunaan bahan insektisida
Tikus
  • Bagian langit-langit harus ditutup
  • Penempatan alat rumah tangga tidak ditumpuk sehingga ruangan mudah dibersihkan

Pekarangan

Pekarangan yang tidak dipelihara merupakan sarang potensial untuk hidupnya serangga, tikus, dan sebagai sarang ular. Akibatnya, pekarangan yang tidak dipelihara secara tidak langsung dapat menjadi sarana penularan penyakit-penyakit. Pekarangan yang baik hendaknya memenuhi syarat kesehatan dan dimanfaatkan. Tabel 8 menjelaskan indikasi pekarangan dikatakan sehat dan dimanfaatkan.

Tabel 8. Indikasi Pekarangan Sehat (Departemen Kesehatan RI, 1996)

Parameter Indikasi Pekarangan Sehat
Kebersihan Pekarangan tidak tampak kotor, sampah tidak berserakan, rumput tidak tinggi, barang bekas/kayu ditumpuk teratur, tidak ada genangan air saat hujan, dan tidak berbau saat kemarau

Kandang Ternak

Kesehatan kandang ternak sangat perlu diperhatikan karena keberadaannya berpengaruh dalam menimbulkan beberapa penyakit, misalnya : tetanus, anthrax, malaria, kaki gajah, diare, dan penyakit perut lainnya. Tabel 9 menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk penempatan dan pemeliharaan kandang ternak.

Tabel 9. Kandang Ternak Sehat (Departemen Kesehatan RI, 1996)

Parameter Indikasi Kandang Sehat
Kandang Sehat
  • Jarak antara kandang ternak dan rumah minimal 10 meter. Dinding kandang tidak boleh menyatu dengan dinding rumah
  • Menghindari sarang-sarang serangga dengan membersihkan kotoran ternak setiap hari
  • Kotoran ternak dibuang ke lubang galian tanah kemudian ditutup untuk dijadikan pupuk
  • Kandang ternak terkena sinar matahari
  • Aliran air limbah dari kandang tidak mengotori sumber air dan tanah sekitarnya

:)

About these ads

2 pemikiran pada “Sarana Air Bersih dan Sanitasi Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s