Pengaruh Air terhadap Kesehatan

Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung

Air merupakan kebutuhan dasar makhluk hidup. Namun air yang disediakan untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk keperluan MCK, juga dapat memberikan dampak yang merugikan bagi manusia beserta lingkungannya. Tentu saja hal ini terjadi jika air yang diberikan tidak memenuhi syarat kualitas sanitasi dan higiene yang dibutuhkan.

Pengaruh air secara langsung terhadap kesehatan sangat tergantung pada kualitas air dan terjadi karena air berfungsi sebagai penyalur/penyebar penyebab penyakit ataupun sebagai sarang insekta penyebar penyakit. Kualitas air berubah karena kapasitas air untuk membersihkan dirinya telah terlampaui. Hal ini disebabkan bertambahnya jumlah serta intensitas aktivitas penduduk yang tidak hanya meningkatkan kebutuhan air tetapi juga meningkatkan jumlah air buangan. Buangan pengotor air yang berpengaruh langsung, di antaranya : zat-zat yang persisten, zat radioaktif, dan penyebab penyakit.

Pengaruh air secara tidak langsung adalah pengaruh yang timbul sebagai akibat pendayagunaan air yang dapat meningkatkan/menurunkan kesejahteraan masyarakat. Misalnya, air yang dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, industri, irigasi, perikanan, pertanian, dan rekreasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, pengotoran air oleh zat pengikat oksigen, pupuk, material tersuspensi, dan panas dapat menurunkan kesejahteraan masyarakat.

Air Sebagai Penyebab Penyakit

Adanya penyebab penyakit di dalam air dapat menyebabkan efek langsung pada kesehatan. Penyebab penyakit tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (Slamet, 1994) :

  • Penyebab hidup, menyebabkan penyakit menular, misalnya : virus, bakteri, dan lain sebagainya
  • Penyebab tak hidup, menyebabkan penyakit tidak menular, misal : logam.

Penyakit Menular

Peran air dalam terjadinya penyakit menular dapat dibedakan menjadi sebagai berikut : (1) air sebagai penyebar mikroba patogen, (2) air sebagai sarang insekta penyebar penyakit, (3) air sebagai hospes sementara penyakit, dan (4) penyakit akibat jumlah air bersih yang tersedia tidak mencukupi.

 

Air sebagai penyebar mikroba patogen (true water borne diseases)

Penyakit menular yang disebabkan oleh air secara langsung seringkali dinyatakan sebagai penyakit bawaan air atau ‘water borne diseases’. Penyakit-penyakit ini hanya dapat menyebar apabila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air, di antaranya virus, bakteri, protozoa, dan metazoa. Tabel 3 menyajikan beberapa contoh penyakit bawaan air yang banyak didapat di Indonesia.

Tabel 3 Contoh Penyakit Bawaan Air di Indonesia (Slamet, 1994)

Agent

Penyakit

Virus

[1]

Rotavirus

Diare pada anak

[2]

V.Hepatitis A

Hepatitis A

[3]

V.Poliomyelitis

Polio (myelitis anterior acuta)

Bakteri

[1]

Vibrio cholerae

Cholera

[2]

Escherichia coli enteropatogenik

Diare/Dysentriae

[3]

Salmonella typhi

Typhus abdominalis

[4]

Salmonella paratyphi

Paratyphus

[5]

Shigella dysentriae

Dysentriae

Protozoa

[1]

Entamoeba histolytica

Dysentriae amoeba

[2]

Balantidia coli

Balantidiasis

[3]

Giardia lamblia

Giardiasis

Metazoa

Ascariasis

[1]

Ascaris lumbricoides

Clonorchiasis

[2]

Clonorchis sinensis

Diphylobothriasis

[3]

Diphyllobothrium latum

Taeniasis

[4]

Taenia saginata/solium

Schistosoma

Schistosomiasis

Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit (water related vector borne diseases)

Air dapat berperan sebagai sarang insekta yang menyebarkan penyakit pada masyarakat. Insekta tersebut disebut juga sebagai vektor penyakit yang dapat mengandung berbagai jenis penyebab penyakit. Penyebab penyakit di dalam tubuh vektor, dapat berubah bentuk, berubah fase pertumbuhan ataupun bertambah banyak, atau tidak mengalami perubahan apapun. Vektor yang bersarang di air dan umumnya penting di Indonesia adalah nyamuk dari berbagai genus/spesies. Tabel 4 mengemukakan berbagai jenis nyamuk, penyakit yang disebarkannya, dan penyebab penyakitnya.

Tabel 4. Insekta Penyebar Penyakit (Slamet, 1994)

Vektor

Penyakit

Agent

Culicines

[1]

C.fatigans/pipiens

Encephalitis

Virus encephalitis

[2]

C.Fatigans/pipiens

Filariasis

Filaria B/M

Aedes

[1]

A.aegypti

Dengue

Virus dengue

[2]

A.aegypti

Dengue haemorrhagic fever

Virus DHF

Anophelinie

[1]

Anopheles spp.

Malaria

Protozoa

Air sebagai hospes sementara penyakit (water based borne diseases).

Penyakit yang tergolong ini dan terpenting adalah penyakit cacing Schistomiasis dan Dracontiasis.

 

Penyakit akibat keterbatasan jumlah air (water washed diseases)

Terbatasnya jumlah air bersih dapat menimbulkan berbagai penyakit, di antaranya penyakit kulit dan mata. Ini terjadi karena bakteri yang selalu ada pada kulit dan mata mempunyai kesempatan untuk berkembang. Contoh penyakit yang tergolong dalam kelompok ini adalah : penyakit trachoma serta segala macam penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri.

Penyakit Tidak Menular

Penyebab penyakit tidak menular yang disebarkan melalui air dapat dikelompokkan sebagai zat kimia maupun zat fisis. Penyakit yang disebabkan zat kimia misalnya keracunan air raksa, kadmium, dan cobalt.

Penyakit Bawaan Air

Diare

Diare merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair serta bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (3 kali atau lebih dalam 1 hari), dengan atau tanpa darah dan atau lendir dalam tinja. Tanda-tanda penderita diare lainnya adalah : buang air besar cair, muntah, badan lesu dan lemah, tidak nafsu makan, mata cekung, bibir kering, tangan dan kaki dingin, serta kadang kadang disertai dengan kejang dan panas tinggi.

Sampai saat ini penyakit diare atau sering juga disebut gastroenteritis, masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan Puskesmas/Balai pengobatan, hampir selalu termasuk dalam kelompok  penyebab utama bagi masyarakat yang berkunjung kesana (Sarbini, 2006).

Diare terjadi karena adanya peradangan usus oleh agen penyebab sebagai berikut:

  • bakteri , virus, parasit (jamur, cacing, protozoa)
  • keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia
  • kurang gizi
  • alergi terhadap susu
  • immuno defesiensi (imuno deficiency)

 

Selain itu, terdapat pula beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi terjadinya diare, di antaranya :

  • lingkungan
  • gizi
  • tingkat pendidikan
  • kependudukan
  • sosial ekonomi
  • perilaku masyarakat.

Dilihat dari segi lamanya terjadi dan tingkat bahayanya, penyakit diare dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

 

Diare akut

Yaitu diare yang terjadi kurang dari 3 minggu, disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau parasit. Gejala diare akut : lebih dari 4 hari, nyeri pada perut dan poros usus, demam lebih tinggi dari 38,8ºC, dan muncul darah dalam kotoran (kotoran mulai berwarna gelap). Penyakit diare akut lebih sering terjadi pada bayi dari pada anak yang lebih besar.

 

Diare persisten/kronis

Yaitu diare yang terjadi lebih dari 3 minggu, biasanya disebabkan kelainan fungsi pencernaan, seperti iritasi atau radang usus. Diare kronis biasanya diikuti dehidrasi. Dehidrasi terjadi apabila tubuh pasien diare kehilangan banyak cairan dan elektrolit yang mengandung garam, potasium dan sodium. Gejala dehidrasi meliputi rasa haus, jarang berkemih, kulit kering, kelelahan, rasa pening, dan urine berwarna gelap.

Disentri

Yaitu diare disertai darah dengan ataupun tanpa lender.

Kholera

Yaitu diare yang mengandung bakteri Cholera dalam tinja penderita. Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang terkontaminasi tinja/ muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat terjadi bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan.

 

Beberapa perilaku hidup bersih yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, di antaranya :

  • Membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, mengolah makanan dan setelah buang air besar
  • Selalu merebus air minum hingga mendidih
  • Membiasakan buang air besar di WC / Kakus / jamban
  • Menutup makanan dengan rapat agar terhindar dari lalat
  • Memberi ASI pada bayi hingga usia 2 tahun
  • Menjaga kebersihan diri, rumah dan lingkungan Anda

 

Beberapa tata laksana yang dapat dilakukan terhadap penderita diare yang tepat dan efektif adalah sebagai berikut :

  • Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga (kuah sayur, air tajin, larutan gula garam, bila ada berikan oralit)
  • Meneruskan pemberian makanan yang lunak dan tidak merangsang serta makanan ekstra sesudah diare.
  • Membawa penderita diare ke sarana kesehatan bila dalam 3 hari tidak membaik atau buang air besar makin sering dan banyak sekali, muntah terus menerus, rasa haus yang nyata, tidak dapat minum atau makan, demam tinggi, serta ada darah dalam tinja.

Penyakit diare seringkali menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Dalam kaitannya dengan timbulnya KLB, berikut beberapa kriteria yang dapat menyebabkan diare disebut KLB : 

  • Peningkatan kejadian kesakitan/kematian karena diare secara terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut (jam, hari, minggu)
  • Peningkatan kejadian/kematian kasus diare 2 kali /lebih dibandingkan jumlah kesakitan/kematian karena diare yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam, hari, minggu).
  • Kematian karena diare dalam kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan priode sebelumnya.

Masa pra KLB

Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) secara cermat. Selain itu, dapat dilakukan pula langkah-langkah lainnya, sebagai berikut :

  • Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik
  • Membentuk dan melatih Tim Gerak Cepat Puskesmas. Tim Gerak Cepat merupakan sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau data penyelidikan epideomologis. Berikut detail tugas TGC:
    • Pengamatan
      • pencarian penderita lain yang tidak datang berobat
      • pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota keluarga
      • pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga tercemari dan sebagai sumber penularan.
      • pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi penyebarannya
    • Pengamatan pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan di lapangan.
    • Penyuluhan baik perorangan maupun keluarga
    • Pembuatan laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan secara lengkap
  • Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
  • Memperbaiki kerja laboratorium
  • Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

Pembentukan Pusat Rehidrasi

Pusat Rehidrasi berguna untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan. Tugas pusat rehidrasi:

  • Merawat dan memberikan pengobatan penderita diare yang berkunjung
  • Melakukan pencatatan nama, umur, alamat lengkap, masa inkubasi, gejala diagnosa dsb
  • Memberikan data penderita ke Petugas TGC
  • Mengatur logistik
  • Mengambil usap dubur penderita sebelum diterapi.
  • Penyuluhan bagi penderita dan keluarga
  • Menjaga pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan (lisolisasi).
  • Membuat laporan harian, mingguan penderita diare yang dirawat.(yang diinfus, tdk diinfus, rawat jalan, obat yang digunakan dsb

Demam Berdarah

Penyakit Demam Berdarah (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus, menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue, dengan vektornya nyamuk Aedes aegypti. Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti:

  • Berwarna hitam dan belang- belang (loreng) putih pada seluruh tubuh
  • Berkembangbiak di tempat penampungan air (TPA) dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang seperti: bak mandi, tempayan, drum, vas bunga, ban bekas, dll.
  • Nyamuk Aedes aegypti tidak dapat berkembang biak di selokan /got atau kolam yang airnya langsung berhubungan dengan tanah
  • Biasanya menggigit manusia pada pagi atau sore hari
  • Mampu terbang sampai 100 meter

Virus tersebut dapat menggangu pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan. Demam berdarah umumnya lebih banyak terjadi di kawasan perkotaan daripada di kawasan perdesaan. Pendeteksian dini dari penyakit ini secara umum adalah timbulnya demam yang tinggi, pendarahan, serta timbulnya bercak-bercak merah pada kulit.

Secara historis, penyakit demam berdarah baru masuk ke Indonesia pada era pertengahan tahun 1970-an. Pada era tersebut di Indonesia, penyakit ini seringkali menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan oleh kekebalan alami masyarakat Indonesia yang relatif belum terbentuk pada masa tersebut. Setelah 30 tahun, kekebalan masyarakat Indonesia terhadap penyakit ini, sudah lebih baik dari masa itu.

Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor pembawa virus penyakit ini sangat menggemari genangan air bersih yang digunakannya sebagai sarang untuk bertelur. Sebagai suatu fenomena yang menarik, bahwa keberadaan air bersih dengan kualitas yang lebih baik ketimbang beberapa dekade yang lalu, tentu saja dapat ikut berpeluang dalam hal peningkatan probabilitas epidemi kasus demam berdarah.

Upaya pencegahan atau preventif terhadap epidemi penyakit ini adalah dengan memutus siklus hidup nyamuk, yaitu dengan minimasi genangan-genangan air bersih, seperti pengurasan secara teratur dan penutupan secara rapat bak-bak penampungan air untuk pengungsi, pemberian bubuk abate di bak-bak penampungan air, serta menyingkirkan runtuhan pepohonan atau bambu yang dapat tergenang air. Upaya-upaya preventif ini, dapat mencegah nyamuk bersarang dan bertelur, serta membunuh jentik-jentik nyamuk. Upaya lain yang juga biasa dilakukan adalah dengan pengasapan (fogging) insektisida, malathion, untuk memberantas nyamuk. Mengingat upaya vaksinasi belum dapat dilakukan secara efektif, upaya preventif lebih dianjurkan dalam penerapannya, ketimbang upaya penyembuhan atau kuratif.

Berikut ini diuraikan beberapa gejala penyakit demam berdarah, yaitu sebagai berikut :

  • Mendadak panas tinggi selama 2 – 7 hari, tampak lemah lesu suhu badan antara 38ºC sampai 40ºC atau lebih.
  • Tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang.
  • Kadang-kadang perdarahan di hidung (mimisan)
  • Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah
  • Tes Torniquet positif
  • Adanya perdarahan yang petekia, akimosis atau purpura
  • Kadang-kadang nyeri ulu hati, karena terjadi perdarahan di lumbung
  • Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin Berkeringat Perdarahan selaput lendir mukosa, alat cerna gastrointestinal, tempat suntikan atau ditempat lainnya
  • Hematemesis atau melena
  • Trombositopenia ( =100.000 per mm3)
  • Pembesaran plasma yang erat hubungannya dengan kenaikan permeabilitas dinding pembuluh darah, yang ditandai dengan munculnya satu atau lebih dari:
    • Kenaikan nilai 20% hematokrit atau lebih tergantung umur dan jenis kelamin
    • Menurunnya nilai hematokrit dari nilai dasar 20 % atau lebih sesudah pengobatan
    • Tanda-tanda pembesaran plasma yaitu efusi pleura, asites, hipoproteinaemia

Pencegahan penyakit demam berdarah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  • Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan cara :
    • Menguras tempat penampungan air satu minggu sekali
    • Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
    • Mengubur dan membuang barang bekas yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk.
    • Menyingkirkan gantungan-gantungan baju
    • Menjaga kebersihan diri, rumah dan lingkungan anda
  • Fogging atau pengasapan
  • Abatisasi, yaitu menaburkan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air yang sulit dibersihkan

 

Adapun pengobatan yang dapat dilakukan pertama kali pada penderita, di antaranya : pemberian minum sebanyak mungkin, kompres dengan air, pemberian obat turun panas, serta segera bawa ke Dokter/ Rumah Sakit setempat.

Pengobatan terhadap penyakit ini terutama ditujukan untuk mengatasi perdarahan, mencegah/mengatasi keadaan syok/presyok dengan mengusahakan agar penderita banyak minum, bila perlu dilakukan pemberian cairan melalui infus. Demam diusahakan diturunkan dengan kompres dingin atau antipiretika.

Malaria

Penyakit Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium. Masa tunas/inkubasi penyakit ini dapat beberapa hari sampai beberapa bulan. Penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme dari kelas sporozoa, yaitu Plasmodium ovale yang menyebabkan penyakit malaria ovale, Plasmodium falciparum yang menyebabkan penyakit malaria tropica, Plasmodium malariae yang menyebabkan penyakit malaria quartana, serta Plasmodium vivax yang menyebabkan penyakit malaria tertiana. Dari keempat jenis penyakit ini, yang paling membahayakan adalah malaria tropica. Vektor dari penyakit ini adalah nyamuk Anopheles.

Penyakit ini menyebabkan penderita menjadi lemah, serta kekurangan sel darah merah. Hal ini menyebabkan penderita menjadi tidak produktif, karena sifat penyakit ini yang kambuhan.

Upaya pencegahan atau preventif yang dibutuhkan relatif sama dengan upaya preventif penyakit demam berdarah, yaitu dengan memutuskan jalur siklus hidup nyamuk. Umumnya nyamuk Anopheles bersarang dan bertelur di air payau, serta genangan air tawar. Upaya penyembuhan atau kuratif hingga saat ini masih belum tuntas. Dengan pertimbangan tersebut, upaya preventif mutlak dibutuhkan untuk mencegah penyakit ini.

 

Gejala Penyakit malaria adalah sebagai berikut :

  • Mengigil 15 – 60 menit
  • Demam 2 – 6 jam Timbul setelah penderita mengigil, demam biasanya suhu sekitar 37,5 – 40 derajat, pada penderita hiper parasitemia (> 5%) suhu meningkat sampai > 40 derajat celsius berlangsung
  • Berkeringat selama 2-4 jam, timbul setelah demam terjadi akibat gangguan metabolisme.

Penyakit Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang mengandung parasit:

  • Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika.
  • Plasmodium vivax penyebab penyakit malaria tertiana
  • Plasmodium malarie penyebab malaria quartiana
  • Plasmodium ovale penyebab malaria ovale, jarang ditemukan di Indonesia

Siklus Parasit Malaria: Ketika nyamuk anopheles betina (yang mengandung parasit malaria) menggigit manusia, akan keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk ke dalam darah dan jaringan hati. Dalam siklus hidupnya parasit malaria membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati (stadium ekso-eritrositer). Setelah sel hati pecah, akan keluar merozoit/kriptozoit yang masuk ke erotrosit membentuk stadium sizon dalam eritrosit (stadium eritrositer). Disitu mulai bentuk troposit muda sampai sizon tua/matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merozoit

Pencegahan dilakukan dengan :

  • Pemberantasan Sarang Nyamuk yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk
  • Pemberian ikan kepala pada tempat jentik nyamuk anopheles tinggal
  • Larvasasi tempat perindukan nyamuk anopheles.
  • Penggunaan kelambu
  • Menggunakan revelen sewaktu keluar / bekerja di luar rumah pada daerah endemis malaria.

Pengobatan penyakit malaria tergantung sensifitas dan jenis penyebabnya, dapat dipilih obat anti malaria yang paling tepat. Pengobatan terhadap penyakit ini terutama ditujukan untuk penderita malaria, masyarakat yang akan berangkat ke daerah endemis dan masyarakat yang datang dari daerah endemis.

:)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s