Kegiatan Daur Ulang Sampah Di Indonesia

Alasan Daur-Ulang

Daur-ulang (yang dimaksud di sini adalah reuse dan recycling) limbah pada dasarnya telah dimulai sejak lama. Di Indonesia pun, khususnya di daerah pertanian, masyarakat sudah mengenal daur ulang limbah, khususnya limbah yang bersifat hayati, seperti sisa makanan, daun-daunan dsb. Dalam sistem pengelolaan persampahan, upaya daur-ulang memang cukup menonjol, dan umumnya melibatkan sektor informal. Beberapa alasan mengapa daur-ulang mendapat perhatian:

  1. Alasan ketersediaan sumber daya alam: beberapa sumber daya alam bersifat dapat terbarukan dengan siklus yang sistematis, seperti siklus air. Yang lain termasuk dalam katagori tidak terbarukan, sehingga ketersediaannya di alam menjadi kendala utama. Berdasarkan hal itu, maka salah satu alasan daur-ulang adalah ketersediaan sumber-daya alam.
  2. Alasan nilai ekonomi: limbah yang dihasilkan dari suatu kegiatan ternyata dapat bernilai ekonomi bila dimanfaatkan kembali. Pemanfaatan tersebut dapat dalam bentuk pemanfaatan enersi, atau pemanfaatan bahan, baik sebagai bahan utama ataupun sebagai bahan pembantu.
  3. Alasan lingkungan: alasan lain yang akhir-akhir mendapat perhatian adalah perlindungan terhadap lingkungan. Komponen limbah yang dibuang ke lingkungan dalam banyak hal mendataangkan dampak negatif pada lingkungan dengan pencemarannya. Pengolahan limbah akan menjadi kewajiban. Namun bila dalam upaya tersrebut dapat pula dimanfaatkan nilai ekonomisnya, maka hal tersebut akan menjadi pilihan yang cukup menarik.

Dalam beberpa hal alasan-alasan tersebut saling terkait sama yang lain dan saling mendukung, sehingga upaya daur-ulang menjadi lebih terarah dan menarik.

Bentuk lain pemanfaatan limbah dalam daur-ulang adalah kemungkinannya sebagai sumber enersi. Paling tidak terdapat dua bentuk enersi hasil daur- ula n g yang telah biasa dijumpai di lapangan, yaitu:

  • Sebagai enersi panas seperti yang dikeluarkan dari sebuah insinerator dengan bahan bakar limbah bernilai kalor tinggi,
  • Sebagai enersi kimia seperti yang dikeluarkan dari sebuah reaktor anaerob atau sebuah landfill limbah organic seperti sampah, yaitu dalam bentuk gas metan

Kemungkinan lain dari pemanfaatan limbah misalnya sebagai sumber protein atau bahan lain, baik dengan rekayasa yang sistematis seperti dalam pembuatan alkohol, maupun sebagai bahan makanan. Sebagai bahan makanan pendekatan ini telah banyak digunakan di Indonesia, khsususnya dari limbah yang berkatagori organik, misalnya sebagai pakan ternak atau sebagai pakan cacing.

Bahan buangan berbentuk padat, seperti kertas, logam, plastik adalah bahan yang biasa didaur-ulang. Bahan ini bisa saja didaur-pakai secara langsung atau harus mengalami proses terlebih dahulu untuk menjadi bahan baku baru. Bahan buangan ini banyak dijumpai, dan biasanya merupakan bahan pengemas produk. Bahan inilah yang pada tingkat konsumen kadang menimbulkan permasalahan, khususnya dalam pengelolaan sampah kota. Di negara industri, aplikasi pengemas yang mudah didaur-ulang akan menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan nilai saing produk tersebut di pasar. Sebenarnya sampah mempunyai potensi untuk didaur-ulang. Proses daur ulang harus memperhatikan komposisi dan karakteristik limbah yang dominan, terutama bila daur ulang dilakukan di tempat pembuangan akhir. Hal lain yang mempengaruhi adalah ketersediaan tenaga operasional agar proses berkelanjutan. Proses daur ulang juga dilakukan di sumber timbulan dan tempat penampungan sementara, atau pada skala kawasan. Daur ulang yang dilakukan di sumber maupun penampungan sementara atau di skala kawasan, dapat meminimalkan biaya pengangkutan ke pembuangan akhir.

Daur-Ulang Limbah Secara Umum

Proses daur-ulang pada umumnya membutuhkan rekayasa dalam bentuk:

  1. Pemisahan dan pengelompokan: yaitu untuk mendapatkan limbah yang sejenis. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara manual (dilakukan dengan tangan manusia secara langsung) maupun secara mekanis (dilakukan oleh mesin).
  2. Pemurnian: yaitu untuk mendapatkan bahan/elemen semurni mungkin, baik melalui proses fisik, kimia, biologi, atau termal.
  3. Pencampuran: yaitu untuk mendapatkan bahan yang lebih bermanfaat, misalnya sejenis limbah dicampur dengan limbah lain atau dengan bahan lain
  4. Pengolahan atau perlakuan: yaitu untuk mengolah buangan menjadi bahan yang siap pakai.

Sasaran utama dari rekayasa tersebut adalah bagaimana mendapatkan bahan yang sebaik mungkin sesuai fungsi dari bahan daur-ulang tersebut. Upaya pertama daur-ulang adalah bagaimana memisahkan limbah di sumbernya, yang sebetulnya merupakan kegiatan yang mudah dilaksanakan. Beberapa contoh di bawah ini merupakan cara dan bentuk daur-ulang.

Banyak pengolahan limbah (padat, cair dan gas) menghasilkan residu seperti sludge atau debu, atu residu lain, yang pada gilirannya harus ditangani lebih lanjut. Kadangkala limbah yang terbentuk tersebut, seperti sludge, menjadi bermasalah karena berkatagori sebagai limbah berbahaya.

 Sampah Anoganik dalam Sampah

Potensi Daur Ulang Sampah

Daur Ulang Kertas Bekas

Di negara maju kertas merupakan komponen sampah yang paling tinggi. Bersama dengan wadah karton gelombang serta boxboard, jumlahnya sekitar 25 – 40 % berat. Beberapa jenis kertas yang dijumpai dalam sampah adalah:

  • Kertas campuran: kertas beraneka ragam dengan kualitas yang bervariasi, seperti majalah, buku, arsip kantor, karton, kertas pembungkus.
  • Karton bergelombang Kertas kraft putih maupun berwarna yang belum dicetak.
  • Kertas koran: surat kabar

Masing-masing mempunyai tingkat kualitas tertentu, tergantung pada jenis serat, sumber, homogenitas, cetakan yang ada, karakteristik fisik dan kimia. Kertas berkualitas tinggi, seperti kertas komputer, kertas kantor, mempunyai serat panjang dengan persentase tinggi.

Persentase jenis kertas bekas yang biasa dijumpai di Amerika Serikat adalah:

  • Kertas koran: 17,7 %
  • Buku dan majalah: 8,7 %
  • Cetakan komersial: 6,4 %
  • Kertas kantor: 10,1 %
  • Paperboard lain: 10,1 %
  • Packaging kertas: 7,8 %
  • Paper non-packaging lain: 10,6 %
  • Tissu dan pembersih: 5,9 %
  • Bahan corrugated: 22,7 %

Prinsip daur ulang kertas secara sederhana yang banyak dijumpai di Indonesia, khususnya pada sektor informal adalah:

  • Kertas direndam dalam air hingga menjadi lembut untuk memudahkan proses penghancuran menjadi bubur kertas.
  • Bubur kertas yang terbentuk diletakkan dalam suatu cetakan dengan ukuran tertentu.
  • Setelah tercetak, kertas yang masih basah dikeluarkan dari cetakan kemudian dikeringkan di terik matahari.
  • Untuk skala besar, digunakan mesin pencetak daur ulang kertas.

Mesin Pembuat Kertas Daur Ulang

Daur Ulang Plastik

Walaupun plastik telah dipakai lebih dari 50 tahun yang lalu, namun penggunaannya sebagai packaging meningkat secara tajam dalam 25 tahun terakhir ini. Hampir semua plastik packaging akhirnya dibuang, sehingga jumlahnya dalam sampah meningkat dari 3 % berat (1970-an) menjadi 7 % (1990-an). Penggunaan plastik sebagai packaging mempunyai keunggulan dibanding yang lain, baik sebagai bahan kontainer (wadah) maupun sebagai pembungkus, karena:

  • Lebih ringan
  • Lebih kuat
  • Lebih mudah dibentuk
  • Dapat diatur agar fleksibel atau kaku Merupakan isolator yang baik
  • Dapat digunakan untuk pengemas makanan dingin atau panas

Bahan plastik dijumpai pada sampah kota dalam 7 jenis:

  • Polyethylene terephthalate (PETE/1):
    • Didaur ulang sebagai fiber polyester untuk sleeping bag, bantal, baju dingin Post consumer PETE digunakan untuk fiberkarpet, film, kontainetr makanan, plastik otomotif
    • Dari daur-ulang konvensional, sekarang
    • terdapat upaya pembuatan botol depolymerisasi menjadi ethylene glycol danterephthalic acid, kemudian repolimerisasi menjadi resin botol soft drink, misalnya coca-cola
  • High-density polyethylene (HDPE/2): Sifatnya berbeda satu dengan lain tergantung produk yang akan dihasilkan Botol susu dari resin dengan indeks leleh rendah
    • HDPE rigid terbuat dari resin dengan indeks leleh yang tinggi
    • Misalnya digunakan pada lapis dalam dari botol oli yang terdiri dari 3 lapis
  • Polyvinyl chloride (PVC/3):
    • Banyak digunkan untuk packaging makanan, kabel listrik, isolasi kabel, pipa plastic, ember
    • Produk daur-ulang lain: kontainer non – makanan, floor tile, selang kebun, mainan, pot bunga, pipa drainage
  • Low-density polyethylene (LDPE/4): misalnya untuk packaging makanan. Sebagian besar berakhir pada sampah dan landfill.
  • Polypropylene (PP/5): biasanya untuk bungkus batere, tutup botol, label, atau kadangkalan untuk kontainer makanan.
  • Polystyrene (PS/6)
  • Lain-lain bahan -bahan plastik multilayer (7)

Disamping itu, plastik biasanya diklasifikasi dalam 2 katagori umum, yaitu:

  • Clean commercial grade scrape (plastik awal)
  • Post consumer scrap (plastik limbah)
  • Dua jenis plastik post consumer yang paling sering didaur ulang adalah PETE(1), yang banyak digunakan untuk botol soft drink , dan HDPE(2), biasanya untuk wadah susu, botol air kemasan, atau pembungkus detergen.

Beberapa permasalah pemasaran plastik:

  • Harga plastik daur-ulang relatif murah, karena bahan bakunya juga relatif murah. Perlu ada insentif untuk pengangkutan
  • Pengangkutan dan pengolahan plastik bekas belum tersedia secara luas, sehingga konsumer kesulitan menemukan outletnya
  • Specific weight yang rendah: rasio volume-ke­berat plastik sangat tinggi, terutama PS untuk produk busa spons.
  • Terkontaminasi dengan bahan lain seperti makanan, dsb yang menyulitkan dalam daur- u la n g nya

Pengolahan plastik secara profesional meliputi:

  • Tahap bale breaking dansorting:
    • Pemilahan awal (presorted) dipecahkemudian dipilah kembali
    • Botol PETE misalnya secara manual dipisah berdasarkan warna. Plastik yang tidak diinginkan dibuang.
  • Granulation dan washing:
    • Botol dipotong-potong, kemudian dicuci dengan air panas, detergen, diaduk untuk menghilangkan label, lem dan kotoran lainnya
    • Pemisahan: setelah dicuci, diendapkan (PETE) sedang yang ringan (HDPE) mengapung.
    • Pengeringan: untuk menghilangkan air, kemudian dikeringkan dengan udara panas agar kelembaban mejadi lebih kecil dari 0,5 %
    • Air classification: pemisahan bagian plastik ringan (missal tutup polypropylene) dengan yang berat
    • Pemisahan electrostatic: missal memisahkan tutup alumunium
    • Ekstrusi resin: resin kemudian difluidisasi menggunakan extruder, dan dilelehkan, dikenal sebagai melt filtration
  • Pelletizing: melt extruder berbentuk seperti spageti. Selanjutnya melalui orifice, kemudian dipotong kecil-kecil, lalu didinginkan dengan air. Pelet dipasarkan dengan kadar air kurang dari 0,5 %.

Pengolahan plastik sederhana di sektor informal di Indonesia:

  • Plastik bekas yang terkumpul, dikeringkan melalui matahari kemudian ditutup dengan ram kawat agar plastik (terutama plastik kresek) tidak beterbangan.
  • Setelah kering, plastik dimasukkan dalam cetakan kemudian dipanaskan/dibakar di dalam tungku pembakar sampai terbentuk cairan plastik.
  • Cairan plastik yang terbentuk kemudian didinginkan dengan direndam dalam air.
  • Setelah dingin, lembaran plastik dikeluarkan dari cetakan. Cetakan yang digunakan berupa logam agar plastik cair tidak lengket

 

Mesin Daur Ulang Plastik

Daur-ulang dalam Penanganan Sampah Kota

Upaya 3R bukan saja terbatas dilakukan pada sumber sampah, tetapi sangat dianjurkan untuk dillaksanakan dalam seluruh rangkaian penanganan sampah, yaitu mulai dari TPS sampah ke titik akhir di TPA. Berdasarkan arus pergerakan sampah sejak dari sumber hingga menuju ke pemrosesan akhir, penanganan sampah di suatu kota di Indonesia dapat dibagi dalam 3 kelompok utama, yaitu:

  1. Penanganan sampah tingkat sumber
  2. Penanganan sampah tingkat kawasan, dan
  3. Penanganan sampah tingkat kota.

Secara umum, upaya daur-ulang (R2 dan R3) dalam sistem penanganan sampah kota adalah sebagai berikut:

  • Guna menentukan potensi daur-ulang, dibutuhkan adanya survei tentang persentase sampah pada masing-masing sumber, dan pada masing -masing tingkat penanganan sampah, sehingga dapat dibuat neraca alur sampah mulai dari sumber sampai ke TPA.
  • Contoh neraca persentase sampah dari mulai sumber sampai ke TPA adalah seperti terlihat dalam Gambar di bawah.
  • Langkah awal agar upaya kegiatan R2 dab R3 berhasil adalah melakukan pemilahan.
  • Pemilahan sampah di sumbernya paling tidak dilakukan dengan mengelompokkan sampah menjadi dua kelompok besar, yaitu sampah hayati (sampah organik) dan sampah non­hayati (sampah non-organik).
  • Pemilahan di sumbernya seperti di rumah tangga, di industri, di pasar, dsb, sangat membantu upaya R2 dab R3 karena akan memperoleh bahan dengan kondisi bersih.
  • Untuk memudahkan penggunaan, disamping kriteria yang terkait dengan fungsi, maka dibutuhkan pengaturan warna:
    • Sampah Organik: warna gelap
    • Sampah anorganik: warna terang
    • Sampah B3 rumah tangga: warna merah/(Standar Internasional)
  • Pemilahan sampah dikelompokkan menjadi beberapa jenis sampah seperti :
    • Sampah basah, yang akan digunakan misalnya sebagai bahan baku kompos
    • Sampah kering, yang digunakan sebagai bahan daur ulang
  • Teknik-teknik pengolahan dan pemanfaatan sampah antara lain adalah:
    • Pemotongan sampah
    • Pengomposan sampah baik dengan cara konvensional maupun dengan rekayasa
    • Pengomposan sampah secara vermi – kompos
    • Pemerosesan sampah sebagai sumber gas­bio
    • Pembakaran dalam Insinerator.

Dalam penanganan 3R diperlukan alat pengumpulan dan pengangkutan sebagai berikut:

Fungsi pemilahan dapat dilaksanakan dengan pengaturan:

  • Penyekatan sarana tersebut sesuai dengan jenis sampah
  • Penjadwalan waktu pengumpulan, dimana sampah mudah membusuk hendaknya diangkut paling lama 2 hari sekali, sedang sampah non-hayati (anorganik) diangkut dengan frekuensi seminggu sekali

Alat pengumpul sampah dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, seperti:

  • Alat pengumpul tradisional, seperti gerobak dan beca sampah
  • Alat pengumpul bermotor, seperti motor sampah

Contoh Neraca Persentase Sampah mulai Sumber sampai ke TPA

 Contoh Pengerjaan 3R pada Perumahan dan Fasilitas Sosial

Contoh Pengerjaan 3R pada Fasilitas Umum

Contoh Pengerjaan 3R pada Daerah Komersial

Peran Sektor Informal di Indonesia

Daur ulang sampah di Indonesia banyak dilakukan oleh sektor informal, terutama oleh pemulung, mulai dari rumah tangga sampai ke TPA. Tetapi metode daur ulang yang dilakukan oleh pemulung terbatas pada pemisahan atau pengelompokan. Berdasarkan komposisinya, sampah terbagi dalam dua kategori besar, yaitu sampah organic (atau sampah basah) dan sampah anorganik (atau sampah kering). Dari komposisi sampah tersebut, para pemulung memungut sampah anorganik yang masih bernilai ekonomis dan dapat didaur ulang sebagai bahan baku industri atau langsung diolah menjadi barang jadi yang dapat dijual. Barang-barang buangan yang dikumpulkan oleh para pemulung adalah yang dapat digunakan sebagai bahan baku primer maupun sekunder bagi industri tertentu. Bahan-bahan anorganik yang biasa dipungut oleh para pemulung mencakup jenis kertas, plastik, metal/logam, kaca/gelas, karet, dan lain-lain. Sampah yang dipisahkan umumnya adalah sampah yang dapat dimanfaatkan kembali secara langsung, misalnya sampah botol, kardus, koran, barang-barang plastik, dan sebagainya. Terdapat pula aktivitas pemilahan sampah sisa makanan dan/atau sampah dapur yang dapat digunakan sebagai makanan ternak, bahan kompos dan sebagainya, seperti terlihat di Denpasar.

Berdasarkan cara kerja pemulung yang sebagian besar beroperasi di kawasan-kawasan pemukiman, pasar, perkantoran maupun di TPS sampai ke TPA, maka dapat dikatakan bahwa sampah anorganik yang diserap oleh pemulung merupakan sampah yang belum dapat tertanggulangi oleh Pemerintah Daerah. Hal ini di satu sisi menunjukkan bahwa kegiatan pemulungan memberikan kontribusi kepada Pemerintah Daerah dalam hal penanganan sampah. Namun di sisi yang lain, bantuan kegiatan pemulungan terhadap penaggulangan masalah sampah menjadi tidak nyata terasa manfaatnya, karena mungkin Pemerintah Daerah menganggap bahwa kegiatan pemulungan merupakan hal yang sudah semestinya terjadi, dengan mengabaikan segi bantuannya terhadap penanganan kebersihan kota.

Menurut prakiraan Agenda 21 Indonesia, potensi daur-ulang sampah kering adalah 15-25%, sedang potensi sampah basah yang dapat dikomposkan adalah 30-40%, sehingga potensi daur-ulang sampah diprakirakan sebesar 45-65 %. Namun tingkat daur-ulang di kota-kota di Indonesia baik melalui usaha pemulung maupun usaha daur-ulang di rumah tangga, dan pengomposan jumlahnya diprakirakan hanya sebesar 8,l %.

Kehadiran kelompok pemulung dalam sistem pengelolaan persampahan menimbulkan dua pendapat controversial yang berbeda, yaitu mereka yang menganggap bahwa aktivitas ini disamping memberikan kesempatan pada masyarakat tidak mampu untuk berusaha di sektor ini, juga akan membantu mengurangi sampah yang harus diangkut. Pendapat lain menganggap bahwa upaya ini dari sudut harga diri bangsa tidaklah baik. Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga akan berkurang beratnya sesuai dengan perjalanan sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir.

Sampah yang dipisahkan umumnya sudah tidak murni lagi (kotor, basah, dan sebagainya) karena sampah tersebut sudah tercampur dengan sampah lainnya dari berbagai sumber. Oleh karena itu, kondisi sampah yang dihasilkan oleh pemulung umumnya memiliki kualitas yang tidak begitu baik dibandingkan dengan yang dipisahkan di sumber sampah. Pemisahan sampah oleh pemulung ini relatif masih sedikitl, diprakirakan kurang dari 2% dari jumlah sampah yang terkumpul di TPS. Selain di TPS, pemulungan sampah juga terjadi di TPA. Seperti halnya pemulungan di TPS, hasil pemulungan sampah di TPA juga memiliki kualitas yang rendah atau bahkan lebih rendah dibandingkan di TPS. Tetapi bila dibandingkan dengan di TPS, pemulungan di TPA memiliki persentase yang lebih besar, yaitu kira-kira 5% dari sampah yang tiba di TPA.

Daur-ulang sampah kota sudah sejak tahun 1980-an yang lalu telah dirasakan pentingnya, dalam upaya pengurangan sampah yang harus diangkut. Aktivitas pemulung yang banyak dijumpai di kota – kota dalam mendaur-ulang sampah kering dinilai dapat membantu menurunkan jumlah sampah yang harus diangkut ke final disposal. Konsep kawasan industri sampah sudah diperkenalkan sejak tahun 1980-an oleh Proh. Hasan Poerbo melalui PPLH ITB dalam upaya membantu pengelola persampahan mengurangi sampah yang perlu diangkut. Sarana yang terletak di kawasan permukiman ini diproyeksikan menerima dan memilah sampah sesuai jenisnya untuk didaur-ulang. Residu sampah yang tidak terdaur-ulang akan diangkut ke pembuangan akhir. Secara bertahap konsep pengolahan sampah secara terpadu tersebut telah dicoba diterapkan dalam skala terbatas di beberapa kota di Indonesia, namun umumnya tidak berlangsung lama. Konsep ini kurang mendapatkan tanggapan yang positif dari pemerintah Indonesia, khususnya dari sebagian besar pengelola persampahan. Terdapat kehawatiran mereka bahwa upaya ini akan mengganggu sistem operasional yang telah baku yaitu dengan konsep “kumpul – angkut – buang”. Penyebab lain adalah karena pengelola sampah di kota-kota Indonesia belum secara penuh menganggap bahwa konsep ini sebagai bagian dari sistem penanganan sampah kota. Mereka lebih melihat sarana ini sebagai upaya untuk memperoleh penghargaan dari pemerintah, bahwa mereka telah memasukkan upaya daur-ulang dalam sistem pengelolaan persampahannya, khususnya dalam upaya memperoleh penghargaan kota terbaik yang secara rutin diberikan oleh pemerintah.

Sampah kering merupakan obyek daur-ulang yang paling banyak dijumpai di kota-kota besar di Indonesia, dengan melibatkan aktivitas sektor informal lainnya yaitu dari ibu rumah tangga, petugas kebersihan, penjual barang bekas, juga pemulung. Baju bekas, kertas koran, botol bekas, kartas bekas semen, dsb di sebagian rumah tangga dianggap bukan sampah tetapi barang yang dapat dijual kembali. Pedagang perantara hadir di pelosok-pelosok kampung di kota-kota di Indonesia untuk membeli barang-barang bekas ini langsung dari rumah ke rumah.

Studi yang dilakukan di Bandung mengungkapkan bahwa sampah kering yang didaur ulang dari lingkungan permukiman besarnya antara 10,9% – 14,6% untuk permukiman kelas menegah ke atas, dan antara 21,9% – 26,5% untuk permukiman menengah ke bawah. Bahan yang didaur-ulang oleh aktivitas pemulung adalah plastik (PE, PS, PP, HOPE, LOPE, PVC dan drum), kertas (warna, duplex, arsip, cone, koran, HVS), logam (alumunium, tembaga, kuningan, seng, besi, drum), kain (majun, polyster, kapas), gelas/kaca (botol bir, botol kecap, botol obat), dan karet. Sedang sampah yang dinilai tidak terdaur-ulang oleh pemulung antara lain adalah sisa makanan, plastik kemasan makanan ringan, batu batere, lampu.

Pengomposan merupakan salah satu teknik pengolahan limbah yang mengandung bahan organik biodegradabel (dapat diuraikan oleh mikroorganisme). Fungsi kompos adalah selain sebagai pupuk organik, akan berfungsi pula untuk memperbaiki struktur tanah, memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air serta zat hara yang lain. Dilihat dari komposisi, maka sebagian sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati, atau secara umum dikenal sebagai sampah organik, atau sampah basah. Melihat komposisinya yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan, khususnya sampah dapur, maka jenis sampah ini akan cepat membusuk, atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini. Bila ini terjadi, massanya akan berkurang dengan besar. Cara inilah yang sebetulnya dikembangkan oleh manusia dalam bentuk pengomposan dan biogasifikasi. Namun bila mekanisme ini berlangsung secara alamiah, khususnya di lingkungan yang sudah jenuh daya dukungnya, maka akan timbullah masalah estetika serta gangguan lainnya terutama karena adanya bau, seperti terjadi di timbunan sampah yang tidak terurus dengan baik. Dengan kondisi kelembaban yang tinggi, serta temperatur yang relatif tinggi seperti di Indonesia ini, maka kecepatan mikroorganisme dalam menguraikan materi-materi sampah yang biodegradabel ini akan lebih baik pula. Cara-cara inilah yang mendorong misalnya untuk :

  • Pengembangan Composter  individual di rumah-rumah yang sudah diuji cobakan di beberapa permukiman di Indonesia,
  • Pembuatan kompos d i lingkungan permukiman atau di final disposal
  • Uji coba penggunaan cacing tanah sebagai pemusnah sampah basah

Pengomposan secara tradisional telah dikenal di Indonesia. Beberapa kota besar di Indonesia telah menerapkan cara ini. Namun permasalahan utama yang dijumpai adalah masalah pemasaran. Banyak usaha pengomposan tidak dapat berlanjut, karena tidak tersedianya pasar yang dapat menyerap produk yang dihasilkan. Disamping masalah harga yang perlu memperhitungkan ongkos pengangkutan, juga karena kualitas yang dihasilkan belum memenuhi keinginan pasar. Penelitian-penelitian skala laboratorium maupun lapangan terus berlanjut untuk meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan, misalnya mencampur dengan dedak, penggunaan enzim sellulase untuk mempercepat masa pengomposan. Uji coba individual composter telah menunjukkan hasil yang positif. Sebuah composter dengan kapasitas 60 m3 yang rata-rata menerima sampah dapur dari 5 orang perhari, dapat digunakan sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan akan dihasilkan kompos yang kualitasnya cukup baik. Beberapa kota di Indonesia telah mencoba cara ini di beberapa permukiman. Bila cara ini dapat diterapkan dan diterima oleh masyarakat, maka sebagian sampah dari permukiman akan dapat tertangani.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan sampah basah sebagai makanan cacing. Cacing yang digunakan umumnya dari jenis Lumbricus. Masalah utama yang perlu mendapat perhatian adalah pemisahan sampah di sumber, yaitu untuk memperoleh sampah yang cocok untuk makanan cacing. Sampah yang telah dipilah tersebut kemudian dikomposkan selama 2 minggu. Berdasarkan uji coba skala permukiman, maka sebanyak 40% sampah basah dari rumah tangga melalui pemilahan manual yang dapat dimanfaatkan untuk makanan cacing. Dari kegiatan ini akan diperoleh casting yaitu bahan sejenis kompos, dengan kualitas yang baik dan dengan ukuran butir yang sudah halus dan siap dijual. Disamping itu dihasilkan biomas cacing yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein, misalnya untuk pakan ternak dan ikan.

Alur aktivitas daur-ulang sector informal [modivikasi dari Manfred Oepen,1992]

Pengurangan sampah dari sumber ke final disposal

Sumber:
Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104 (2008)
Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s