Penyimpanan, Pengumpulan, dan Pengangkutan B3

Penyimpanan dan Pengumpulan

Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No.01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya, sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya.

Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter), maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet, dan setiap palet mengalasi 4 drum. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik, maka harus dipergunakan rak. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m.

Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah, tidak dalam satu blok, dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain.

Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung.
  • Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki
  • Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.
  • Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung.

 Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah

  • Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis, karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan;
  • Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung;
  • Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan, serta memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan;
  • Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional atau inspeksi rutin. Jika menggunakan lampu, maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan, sakelar harus terpasang di sisi luar bangunan;
  • Dilengkapi dengan sistem penangkal petir;
  • Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku.
  • Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air, tidak bergelombang, kuat dan tidak retak. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan kemiringan maksimum 1%. Pada bagian luar bangunan, kemiringan lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan penyimpanan.

Pola penyimpanan kemasan drum

Pola penyimpanan kemasan drum dalam rak

Tangki penyimpanan limbah B3 jumlah besar

 

Contoh tata letak penyimpanan limbah B3

Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik limbah B3, mempunyai beberapa persyaratan:

  • Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan, dengan ketentuan bahwa setiap bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3, atau limbah – limbah B3 yang saling cocok.
  • Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke bagian lainnya.
  • Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai.
  • Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan.
  • Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran, pagar pengaman, pembangkit listrik cadangan, fasilitas pertolongan pertama, peralatan komunikasi, gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan, pintu darurat, dan alarm.

Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar:

  • Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api, berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal minimum 30 cm).
  • Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api.
  • Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain, maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter.
  • Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiang -tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik.
  • Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. Konstru ksi atap dibuat ringan, dan mudah hancur bila ada kebakaran, sehingga asap dan panas akan mudah keluar.
  • Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik
  • Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran, persediaan air untuk pemadam api, hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran.

Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak:

  • Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air.
  • Konstruksi lantai dan dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap, sehingga bila terjadi ledakan yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping.
  • Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal.
  • Desain bangunan sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang.

Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif, korosif dan beracun:

  • Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah dalam keadaan darurat.
  • Konstruksi atap, dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api.

Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki:

  • Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat penyimpanan limbah
  • Merupakan konstruksi tanpa dinding, memiliki atap pelindung dengan lantai yang kedap air
  • Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun tidak langsung

Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong, bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki:

  • Merupakan daerah bebas banjir, atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena banjir;
  • Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter.

Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi penghasil limbah B3, maka beberapa persyaratan adalah:

  • Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurang- ku rang nya 1 (satu) hektar;
  • Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan;
  • Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu.
  • Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan tol, (b) 50 meter dari jalan lainnya, (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, (d) 300 meter dari perairan, garis pasang tertinggi laut, sumber air, (e) 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam, hutan lindung, kawasan suaka
  • Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas, maka fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan.
  • Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa, fasilitas pencucian peralatan, fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di atas.

Contoh tata ruang pengumpulan limbah B3

 Pengangkutan

Di Amerika Serikat, aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih dari 30.000 jenis bahan berbahaya. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara, laut, darat (termasuk kereta api). Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai container seperti: vessel, tank car, tank truck, intermodal portable tank, cylinder, drum, barrel, can, box, botle dan cask . Dalam hal ini Research and Special Programs Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk mengembangkan aturan-aturan, acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu.

Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala jenis angkutan, seperti melalui darat, kereta api atau laut. Cargo tank merupakan sarana yang biasa digunakan di darat, dan biasanya terbuat dari baja atau campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium, nikel atau stainless steel . Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15 sampai 50 m3). Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80.000 pound (36 ton).

Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car yang mempunyai masa layan 30 – 40 tahun. Kapasitas tank car ini dibatasi 34.500 gallon (130 m3) dengan berat kotor 236.000 pound (107 ton). Perbedaan utama dari rail tank car ini adalah ada yang menggunkan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair). Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja, bahan berikutnya yang sering digunakan adalah alumunium. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia (sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar).

Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges , yang mencakup sekitar 91 %. Tank-barges berkapasitas antara 300.000-600.000 gallon (1135-2270 m3) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. Lebih dari 90 % (berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah. Sisanya adalah bahan kimia semacam asam sulfat, pupuk, NaOH, alkohol, benzene, toluene dan sebagainya. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. Secara statistik, cara ini adalah yang teraman, baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile, walaupun bila terjadi kecelakaan maka limpahannya akan menyebar secara luas. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya.

Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian, karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat langsung dengan kecelakaan. Peraturan-peraturan yang digunakan dalam transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Bila terjadi kecelakaan lalu-lintas, maka respon aparat terkait (polisi, pemadam kebakaran dan sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan itu, demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban semacam itu.

Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40.000 pound toluene diisocyan ate (TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya. Penanganannya adalah truk tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. Pada saat truk dibalikkan, limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin, mengkontaminasi daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang hangat, TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik. TDI masuk de dalam sel jaringan, mengiritasi mata, dan dapat merusak paru- paru. Kedua petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif bekerja. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. Demikian juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut.

Sumber : Enri Damanhuri

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s