Limbah Berbahaya dari Rumah Tangga

Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini, khususnya di kota, tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan, maka bahan tersebut akan menjadi limbah, yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya, termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat, tanung bekas pewangi ruangan. Bahan- bahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga, yaitu :

  • di dapur, seperti: pembersih saluran air, soda kaustik, semir, gas elpiji, minyak tanah, asam
  • cuka, kaporit atau desinfektan, spiritus / alkohol
  • di kamar mandi dan cuci, seperti : cairan setelah mencukur, obat-obatan, shampo anti ketombe, pembersih toilet, pembunuh kecoa
  • di kamar tidur, seperti : parfum, kosmetik, kamfer, obat-obatan, hairspray, air freshener, pembunuh nyamuk
  • di ruang keluarga, seperti : korek api, alkohol, batere, cairan pmbersih,
  • di garasi/taman, seperti : pestisida dan insektisida, pupuk, cat dan solven pengencer, perekat, oli mobil, aki bekas

Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri, penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari, seperti penggunaan biosida dalam kegiatan pertanian, yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah, namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan. Kegiatan agrowisata, seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya.

Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian, penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut, seperti kesulitan bernafas, kepala pusing, lamban, iritasi mata atau kulit. Oleh karenanya, pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan, misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak.

Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat.

Limbah berbahaya dari rumah tangga

Komponen Persen
Penggunaan untuk pembersih 40,0
Penggunaan untuk perawatan badan 16,4
Produk untuk otomotif 30,1
Cat dan sejenisnya 7,5
Penggunaan rumah tangga lain 6,0

Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas :

  1. Produk pembersih:
    • bubuk penggosok abrasif : korosif
    • pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif
    • pengelantang : toksik, korosif
    • pembersih saluran air : korosif
    • pengkilap mebel : mudah terbakar
    • pembersih kaca : Korosif (iritasi)
    • pembersih oven : korosif
    • semir sepatu : mudah terbakar
    • pengkilap logam (perak) : mudah terbakar
    • penghilang bintik noda : mudah terbakar
    • pembersih toilet dan lantai : korosif
    • pembersih karpet/kain : korosif, mudah terbakar
    • shampo (anti ketombe) : toksik
    • penghilang cat kuku                : toksik, mudah terbakar
    • minyak wangi : mudah terbakar
    • kosmetika : toksik
    • obat-obatan : toksik
    • cairan anti beku : toksik
    • oli : mudah terbakar
    • aki mobil : korosif
    • bensin, minyak tanah : mudah terbakar, toksik
    • Cat : mudah terbakar, toksik
    • pelarut / tiner : mudah terbakar
    • baterei : korosif dan toksik
    • khlorin kolam renang : korosif dan toksik
    • biosida anti insek : toksik, mudah terbakar
    • herbisida, pupuk : toksik
    • aerosol : mudah terbakar, mudah meledak
  1. Perawatan badan:
  1. Produk otomotif:
  1. Produk rumah tangga lain:

Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain, seperti timbulnya :

  • Gas toksik : bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang mengandung khlor
  • Ledakan : bila tabung sisa bahan yang digunakan secara penyemprotan terbakar di bak sampah

Hasil studi di Amerika Serikat oleh USEPA menyimpulkan bahwa 0,35-0,40 % sampah pemukiman yang dibuang ke lahan-urug kota termasuk kategori limbah B3. Di Indonesia agaknya bila didasarkan atas porsi limbah yang masuk ke landfill, nilai ini akan lebih tinggi mengingat bahwa yang masuk ke landfill bukan saja dari rumah tangga, tetapi dapat berasal dari kegiatan medis, termasuk limbah patologis, atau dari kegiatan industri lainnya.

Selain berasal dari pemukiman penduduk, limbah berkategori sampah kota yang berbahaya dapat pula berasal dari kegiatan komersial atau perkantoran. Limbah ini akan masuk ke dalam sistim pengelolaan sampah kota, seperti dari usaha binatu (laundry dan dry cleaning), sisa tinta dari usaha percetakan/ fotokopi, oli bekas dari bengkel dan sebagainya. Di Amerika Serikat dikenal konsep small-quantity generator, yang membatasi jumlah limbah minimum perbulan yang terkena aturan pengelolaan limbah B3.

Dengan aturan tersebut, penghasil limbah misalnya dari rumah tangga dapat membuang limbahnya bersama sampah kota bila jumlah per bulannya tidak melebihi nila i tersebut. Di bebarapa negara bagian di Amerika Serikat, dibolehkan membuang limbah jenis tersebut ke dalam sistem penyaluran limbah kota. Namun adanya bahan tersebut dalam sistem pengolahan limbah kota dapat menimbulkan terganggunya proses pengolahan yan g ada, misalnya :

  • Bila dibakar dalam insinerator, akan menghasilkan ledakan yang membahayakan akibat tabung pewadah, atau terlepasanya logam-logam berat toksik akibat terpapar dengan temperatur tinggi
  • Terganggunya proses biodegradasi sistem pengolahan air limbah atau pengolahan di landfilling
  • Terganggunya produk kompos bila bila tidak dilakukan pemilahan terlebih dahulu

Penanganan limbah berbahaya di rumah tangga sebetulnya mempunyai pendekatan yang sama dengan industri, yaitu minimasi dan daur ulang limbah. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah :

  • Pemilihan produk yang disertai penjelasan lengkap tentang komponen bahan yang digunakan, aturan penggunaan, penyimpanan dan cara pembuangan limbah atau wadah bekasnya
  • Penggunaan produk sesuai kebutuhan, disertai pengetahuan tentang seberapa lama suatu produk habis digunakan, dan apakah telah digunakan semestinya
  • Pembelian yang sesuai kebutuhan, walapun dengan membeli lebih banyak diperoleh biaya persatuannya yang lebih murah
  • Penggunaan produk yang biodegradabel atau terdaur-ulang
  • Pemanfaatan kembali limbah yang terbentuk, baik untuk digunakan sendiri, diberikan kepada yang membutuhkan, ditukarkan dengan produk lain, atau mungkin saja masih bernilai untuk dijual
  • Penanganan limbah atau wadah yang akan dibuang secara baik sesuai petunjuk yang diberikan

Sumber : Enri Damanhuri

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s