Pengelolaan B3 dalam PP 74/2001

Pada dasarnya pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2009 sebagai pengganti UU-23/1997 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 1 (21) UU-32/2009 mendefinisikan bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain.

Selanjutnya UU-32/2009 menggariskan dalam Ps 58 (1) bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, memanfaatkan, membuang, mengolah, dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3. Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya, maka Indonesia telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No.19 tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants (POPs). Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang, mengurangi, membatasi produksi dan penggunaan, serta mengelola timbunan bahan POPs yang berwawasan lingkungan.

Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur masalah bahan berbahaya, yaitu :

  • Peraturan Pemerintah No.7/1973 tentang pengawasan atas peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida
  • Peraturan Menteri Kesehatan No.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan berbahaya
  • Keputusan Menteri Perindustrian RI No.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri
  • Keputusan Menteri Pertanian No.724/Kpts/TP.270/9/1984 tentang larangan penggunaan pestisida EDB
  • Keputusan Menteri Pertanian No.536/Kpts/TP.270/7/1985 tentang pengawasan pestisida

Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No.33 Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan Keputusan Presiden No. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional. Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh Undang – undang No. 31 Tahun 1964 tentang Ketentuan – ketentuan pokok tenaga atom.

Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain:

  • Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap radiasi
  • Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi
  • Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif

Pengelolaan B3 Dalam PP 74/2001
PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. Kelima belas bab tersebut adalah :

  • Bab I (pasal 1 sampai 4) : Ketentuan U mum,
  • Bab II (pasal 5): Klasifikasi B3,
  • Bab III (pasal 6 sampai 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3,
  • Bab IV (pasal 21) : Komisi B3,
  • Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
  • Bab VI (pasal 24 sampai 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat,
  • Bab VII (pasal 28 sampai 31) : Pengawasan dan Pelaporan,
  • Bab VIII (pasal 32 sampai 34): Peningkatan Kesadaran Masyarakat,
  • Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat,
  • Bab X (pasal 37) : Pembiayaan,
  • Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi,
  • Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian,
  • Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana,
  • Bab XIV (pasal 41 dan 42) : Ketentuan Peralihan,
  • Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup.

Menurut PP 74/2001: ‘bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya’ (pasal 1 angka 1). Sedangkan sasaran pengelolaan B3 adalah ‘untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya’ (pasal 2).

Pengertian pengelolaan B3 adalah ‘kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan atau membuang B3’ (pasal 1 angka 2). Dalam kegiatan tersebut, terkait berbagai fihak yang merupakan mata rantai dalam pengelolaan B3. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan. Oleh karenanya, pasal-pasal berikutnya mengatur masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi (menghasilkan), mengimpor, mengeksport, mendistribusikan, men yimpan, menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan kembali. Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait, maka aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur dalam PP tersebut.

Tidak semua pengelolaan bahan yang berbahaya diatur oleh PP tersebut, antara lain karena telah diatur dalam PP lain, atau telah diatur oleh instansi lain berdasarkan konvesi internasional seperti bahan radioaktif. Bahan berbahaya yang tidak termasuk yang diatur adalah (pasal 3):

  • Bahan radioaktif
  • Bahan peledak
  • Hasil produksi tambang serta minyak gas dan gas bumi dan hasil olahannya
  • Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya
  • Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika
  • Bahan sediaan farmasi, narkotika, psikotropika dan prekursor lainnya
  • Bahan aditif lainnya
  • Senjata kimia dan senjata biologi

Untuk menentukan apakah sebuah bahan termasuk dalam kelompok B3, maka PP tersebut mengklasifikasikan B3 dalam 8 kelompok, yaitu (pasal 5):

  • Mudah meledak (explosisive)
  • Pengoksidasi (oxidizing)
  • Menyala:
    • sangat mudah sekali menyala (extremely flammable)
    • sangat mudah menyala (highly flammable)
    • mudah menyala (flammable)
  • Beracun:
    • amat sangat beracun (extremely toxic)
    • sangat beracun (highly toxic)
    • beracun (moderately toxic)
  • Berbahaya (harmful)
  • Korosif (coorosive)
  • Bersifat iritasi (irritant)
  • Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)
  • Toksik yang bersifat kronis:
    • karsinogenik (carcinogenic)
    • teratogenik (teratogenic)
    • mutagenik (metagenic)

Untuk mempermudah menentukan B3 yang diatur dalam PP ini, maka berdasarkan penggunaannya di lapangan, B3 dibagi menjadi 3 bagian, yaitu (pasal 5):

  • B3 yang dapat atau boleh dipergunakan di Indonesia (Lampiran I PP 74/2001)
  • B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia (Lampiran II Tabel 1, PP 74/2001)
  • B3 yang terbatas dipergunakan (Lampiran II Tabel 2, PP 74/2001)

Dengan demikian, bilamana sebuah bahan sudah terdapat dalam lampiran tersebut, maka bahan tersebut termasuk B3, dan penggunaannya di Indonesia disesuaikan dengan kelompok tabel yang berlaku, apakah diperbolehkan dipergunakan, atau terbatas penggunaannya, atau sama sekali dilarang dipergunakan.

Lampiran I PP 74/2001 mencantumkan 209 buah bahan kimia yang tergolong B3 yang dapat digunakan di Indonesia, 74 diantaranya dibatasi penggunaannya sampai tahun 2040, semuanya organik-berhalogen. Lampiran II – Tabel 1 mencantumkan 10 bahan B3 yang dilarang pengunaannya, dan Lampiran II -Tabel 2 mencantumkan 45 bahan B3 yang dibatasi pengunaannya di Indonesia. Setiap bahan kimia dalam daftar tersebut, disertai keterangan:

  • No. Reg. Chemical Abstract Sevice yang bersifat universal
  • Nama bahan kimia
  • Sinonim/nama dagang
  • Rumus molekul

Setiap produsen yang menghasilkan B3 baru yang termasuk diatur dalam PP ini, maka sebelum dipergunakan secara luas produsen tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu kepada yang berwenang, dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup (pasal 6). Sedang bahan berbahaya lain yang tidak diatur dalam PP ini, maka registrasinya harus diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab, misalnya Badan Tenaga Atom Nasional untuk bahan radioaktif. Demikian juga halnya unutk B3 yang diimport dari luar negeri, maka bahan tersebut terlebih dahulu harus didaftarkan oleh importirnya untuk diregistrasi sebelum secara rutin diimport. Bahan tersebut kemudian akan mendapat nomor registrasi sebagai alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia, sehingga dengan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan. Bila bahan yang akan dimpor adalah termasuk dalam daftar B3 yang terbatas dipergunakan, maka fihak otorita negara yang akan memasukkan bahan tersebut ke Indonesia terlebih dahulu harus menyampaikan notifikasi kepada fihak yang bertanggung jawab di Indonesia (pasal 8).

Contoh B3 (dapat digunakan) dalam Lampiran I PP 74/2001

No

No Reg Chemical
Abstract Service

Nama Bahan Kimia

Sinonim/Nama Dagang

Rumus
Molekul

7

7664-41-7

Amoniak Ammonia

NH3

14

64-19-7

Asam Asetat Acetic acid; Aci-jel

CH3COOH

16

7664-38-2

Asam Posfat Phosphoric acid; Orthophosphoric acid

H3PO4

17

7647-01-0

Asam Klorida Hydrochloric acid; Hydrogen chloride; Anhidrous hydrochloric acid

HCl

23

74-90-8

Asam Sianida Hydrogen cyanide; Hydrocyanic acid; Blausaure; Prussic acid

HCN

24

7664-93-9

Asam Sulfat Sulfuric Acid; Oil of Vitriol

H2SO4

31

71-43-2

Benzena Benzene; Benzol; Cyclo hexatriene

C6H6

52

108-95-2

Fenol Phenol; Carbolic acid; Phenic acid; Phenilic acid; Phenyl hydroxide; Hidroxybenzene; Oxybenzene

C6H5OH

54

50-00-0

Formalin (larutan) Formadehyde solution; Formalin; Formol; Morbicid; Veracur

CH2O

58

7783-06-4

Hidrogen Sulfida Hydrogen sulphide; Sulfurated hydrogen; Hydrosulfuric acid

H2S

76

124-38-9

Karbon dioxide Carbonic acid gas

CO2

78

7440-44-0

Karbon hitam Amorphous

C

79

630-08-0

Karbonmonoksida Carbon monoxide

CO

80

7782-50-5

Klor Chlorine

Cl2

81

67-66-3

Kloform Chloroform; Trichlorometthane

CHCl3

85

7487-97

Merkuri klorida Mercuric chloride; Mercury bichloride; Corrosive sublimate; Mercury perchloride; Corrosive mercury chloride

HgCl2

87

74-82-8

Methane

CH4

98

1310-73-2

Natrium Hidroksida Sodium hydroxide; Caustic soda; Soda lye; Sodium hydrate

NaOH

105

7727-37-9

Nitrogen Nitrogen

N2

106

10102-44-0

Nitrogen Dioksida Nitrogen dioxide

NO2

110

10028-15-6

Ozon Ozone; Triatomic oxygen

O3

112

87-86-5

Pentaklorofenol Penta; PCP; Penchloraol; Santhophene 20

C6HCl5O

114

7761-88-8

Perak nitrat -

AgNO3

122

7646-85-7

Seng Klorida Zinc chloride; Butter zinc

ZnCl2

127

7439-92-1

Timbal (timah hitam) Lead

Pb

209

-

CH2BrCl Bromochloroethane

-

B3 yang dilarang dalam Lampiran II – Tabel 1 PP 74/2001

No

No Reg Chemical
Abstract Service

Nama Bahan Kimia

Sinonim/Nama Dagang

Rumus
Molekul

1

309-00-2

Aldrin HHDN

C12H8Cl6

2

57-74-9

Chlordane CD68; Velsicol 1068; Toxichlor; Niran, Octachlor; Orthochlor; Synclor; Belt; Corodane;

C10H6Cl8

3

50-29-3

DDT Dichlorodiphenyltrichloroethane; D-58; Chlorophenothane; Clofenotane; Dicophane; p,p-DDT; Agritan; Gesapon; Gesarex; Gesarol; Guesapon; Necide

C14H9Cl5

4

60-57-1

Dieldrin Compound 497; ENT 16225; HEOD; Insecticide No.497; Octalox

C12H8Cl6OH

5

72-20-8

Endrin Compound 268; ENT 17251; Mendrin; Nendrin; Hexadrin

C12H8Cl6OH

6

76-44-8

Heptachlor E3314; Velsicol 104; Drinox; Heptamul

C10H5Cl7

7

2385-85-5

Mirex C6-1283; ENT 25719; Dechlorane; Hexachloropentadienedimer

C10Cl12

8

8001 -35-2

Toxaphene Hercules 3956: Polycholorcamphene; Chlorinatedcamphene; Campeclor; Altox; Geniphene; Motox; Penphene; Phenacide; Phenatox; Strobane-T; Toxakil

C10H10Cl8

9

118-74-1

Hexachlorobenzene Polychlorobenzene; Anticarie; Bunt-cure; Bunt-no-more; Julins carbon chloride

C6Cl6

10

1336-36-3

PCBs Polychlorinated Biphenyls; Chlorobiphenyls; Arocloc; Clophen; Fenclor; Kenachlor; Phenochlor; Pyralene; Santotherm

C12X

X=H or Cl

Contoh B3 (dibatasi) dalam Lampiran II – Tabel 2 PP 74/2001

No

No Reg Chemical
Abstract Service

Nama Bahan Kimia

Sinonim/Nama Dagang

Rumus
Molekul

1

93-76-5

2,4,5-T Esterone 245; Trioxone; Weedone

C8H5Cl3O3

2

2425 -98-3

Chlordimeform (CDM) CDM; Ciba-8514; Schering 36,268: Spanon; Fundal; Gulecton; Chlorophenamidine

C10H13ClN2

4

510-15-6

Chlorobenzilate Compound 338; G23922; Acarabene; Akar; Folbex; Ethyl 4,4-dichlorobenzilate; Ethyl 4,4-hydroxy-2,2bis(4-chlorophenil)acetate

C16H14Cl2O3

6

106-93-4

Ethylene Dibromida (EDB) EDB; Dowfume WW85; 1,2-dibromoethane; Ethylenebromide; Sym-dibromoethane

C12H4Br2

9

58-89-9

Lindane

C6H6Cl6

10

Senayawa merkuri, termasuk:- Anorganik merkuri -Alkyl merkuri -Alkyloxyalkyl merkuri -Aryl merkuri -

-

11

87-86-5

Pentaklorofenol* Penta; PCP; Penchloraol; Santhophene 20

C6HCl5O

21

7439-97-6

Mercury/Air raksa Liquid silver; Hydragyrum; Quicksilver

Hg

26

75-69-4

CFC-11 Trichloromonofluoromethane; Fluorotrichloromethane; Freo 11; Frigen 11; Areton 11

CCl3

27

75-71-12

CFC-12 Dichlorodifluoromethane; Areton 12; Freon 12; Frigen 12; Genetron 12; Halon; Isotron 2

CCl2F2

29

CFC-114 Dichlorotetrafluoroethane; Cryfluorane; Freon 114; Frigen 114; Areton 114

C2Cl2F2

43

Halon-2402 Dibromotetrafluoroethane

C2Rbr2F4

45

74-83-9

Metil bromida Bromomethane; Monobromomethane; Embafume

CH3Br

Jawaban boleh tidaknya barang tersebut masuk ke Indonesia harus diterima oleh otorita negara pengekspor dalam waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal diterimanya notifikasi tersebut. Prosedur ini adalah sesuai dengan Konvensi Basel yang mengatur lintas batas bahan dan limbah B3 antar negara.

Prosedur yang sama diberlakukan bagi B3 yang akan dieksport ke luar negeri (pasal 7). PP ini mewajibkan eksportir B3 tersebut untuk menyampaikan notivikasi ke otoritas negara tujuan ekspor, otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab di Indonesia terlebih dahulu. Sebelum ada persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor dan otoritas negara transit, serta dari instansi yang berwenang, maka ekspor B3 tersebut belum boleh dilaksanakan.

Salah satu informasi penting yang selalu harus disertakan dalam produksi B3 adalah Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet – MSDS). Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi B3 (pasal 11), juga harus muncul pada dokumen pengangkutan, penyimpanan, dan pengedaran B3 (pasal 12), dan juga pada kemasan bahan tersebut (pasal 14). Lembar MSDS paling tidak berisi:

  • Merek dagang
  • Rumus kimia B3
  • Jenis B3
  • Klasifikasi B3
  • Teknik penyimpanan, dan
  • Tata-cara penanganan bila terjadi kecelakaan

PP 74/2001 mengatur juga secara umum pengangkutan B3 (pasal 13), pengemasan B3 (pasal 15), pemberian label dan simbol (pasal 17), penyimpanna B3 (pasal 18). Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan B3 membutuhkan pengaturan tersendiri, agar tidak terjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam penyimpanan tersebut. Salah satu persyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3 (pasal 19). B3 yang dianggap kadaluwarsa, atau tidak memenuhi spesifikasi, atau bekas kemasan, yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang sembarangan, tetapi harus dikelola sebagai limbah B3 (pasal 20). B3 kadaluwarsa adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan spesifikasinya. Sedang B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah bahan yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang ditentukan.

PP 74/2001 mengatur juga masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi orang yang bekerja di bidang ini, yang menjadi tanggung jawab bagi pengusaha. Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala bagi pekerja, sekurang -kurangnya 1 kali dalam 1 tahun, denganmaksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut (pasal 23).

Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan B3 adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya. Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan, yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat (pasal 24). Bila terjadi kecelakaan, maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency). Langkah darurat yang harus dilakukan adalah (pasal 25):

  • Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan
  • Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur standar penanggulangan kecelakaan
  • Melaporkan kecelakaan atau keadaan darurat tersebut kepada aparat Kota/Kabupaten setempat
  • Memberikan informasi, bantuan dan melakukan evakuasi masyarakat sekitar lokasi kejadian.

Karakterisasi B3 Menurut PP 74/2001

Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut:

  1. Explosive (mudah meledak): adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25oC, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya. Pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan Diffrential Scanning Calorimetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA), sedang 2,4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida digunakan sebagai senyawa acuan. Dari hasil pengujian tersebut, akan diperoleh nilai temperatur pemanasan. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih tinggi dari senyawa acuan, maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak.
  2. Oxidizing (pengoksidasi): pengujian bahan padat dilakukan denganemtode uji pembakaan menggunakan ammonium persulfat sebagai senyawa standar. Sedang untuk bahan cair, senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. Suatu bahan dinyatakan sebagai pengoksidasi apabila waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa standar.
  3. Flammable (mudah menyala):
  • Extremely flammable: padatan atau cairan yang memiliki titik nyala (flash point)di bawah 0oC dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35 oC.
  • Hghly flammable: padatan atau cairanyang memiliki titik nyala 0oC- 21oC.
  • Flammable:
    • Bila cairan: bahan yang mengandung alkohol kurang dari 24% -volume, dan atau mempunyai titik nyala ≤ 60oC (140oF), akan menyala apabila terjadi kontak dengan api, percikan api, atau sumber nyala lainnya, pada tekanan 760 mmHg. Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-up test.
    • Bila padatan: bahan bukan cairan, pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan, dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus dalam 10 detik. Pengujian dapat pula dilakukan dengan Seta Closed -cup Flash Point Test, dengan titik nyala di bawah 40oC.
  1. Toxic (beracun): akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut.

Tingkat racun menurut PP 74/2001

Urutan

Kelompok

LD50 (mg/kg)

1

Extremely toxic (amat sangat beracun)

≤ 1

2

Highli toxic(sangat beracun)

1 –50

3

Moderately toxic (beracun)

51 – 500

4

Slighly toxic (agak beracun)

501 – 5.000

5

Practically non-toxic (praktis tidak beacun)

5001 –15.000

6

Relatively harmless (realtif tidak berbahaya)

> 15.000

  1. Harmful (berbahaya): padatan maupun cairan ataupun gas yang jika kontak atau melalui inhalasi (pernafasan) atau melalui oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.
  2. Corrosive (korosif): mempunyai sifat
  • Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit
  • Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE-1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6,35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC.
  • Mempunyai pH ≤ 2 untuk B3 bersifat asam, dan atau pH ≥ 12,5 untuk B3 bersifat basa.
  • Carcinogenic (karsinogen): sifat bahan penyebab sel kanker, yaitu sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh
  • Teratogenic: sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio
  • Mutagenic: sifat bahan yang dapat menyebabkan perubahan kromosom yang dapat merubah genetika.
  1. Irritant (bersifat iritasi): padatan maupun cairan yang bila terjadi kontak secara langsung, dan apabila terus menerus kontak dengan kulit atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan
  2. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan): seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC), persisten di lingkungan (misalnya PCBs), atau bahan tersebut dapat merusak lingkungan.
  3. Chronic toxic (toksik kronis)

Sumber : Enri Damanhuri

—-

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s